
Jangan Mudah Meletakkan Cinta
Usfi menatap Nafisa sambil menghapus air matanya yang terus mengalir.
“Ya! Ternyata nggak mudah menjalani hidup seperti Mbak Maisha ... Aku memang jadi yang ke dua, tapi aku nggak sanggup kalau harus diduakan juga! Hidup memang mengharuskan manusia percaya pada takdir, tapi ada yang bisa dilakukan sebelum takdir benar-benar menghampiri.”
“Ya, kamu benar, Fi! Aku pernah juga patah hati, terus ... kau tahu, kan, Ibuku juga pernah bercarai?”
“Ya!”
“Dia yang bilang padaku, jangan mudah meletakkan cinta ke dalam hati, pada seseorang hingga dia memenuhi dan menguasai hatimu itu, sebab dia tidak akan seindah yang kau bayangkan, kemungkinan dia belum tentu menjadi bahagiamu atau justru jadi luka yang akhirnya harus mati-matian kamu ikhlaskan!”
Nafisa berkata sambil mengusap air matanya dengan ujung jilbab, semua yang terjadi pada Usfi, menginginkan gadis itu pada luka lama.
“Maaf ya, Naf. Gara-gara aku kamu jadi ikut sedih.”
“Nggak apa, Fi. Memangnya siapa sih di dunia ini yang hatinya nggak pernah terluka, kalau ada ... mungkin dia bukan manusia!”
Usfi mengucapkan terima kasih atas bantuan Nafisa dan gadis itu pergi setelah yakin bila temannya akan baik-baik saja.
Jadi, di sinilah Usfi sekarang berada, dia menangis seorang diri, di kamar hotel yang disewanya sejak dua hari yang lalu. Dia menumpahkan segala rasa di hati hanya pada ilahirobbi, yang Maha Pendengar dan Maha Mengetahui segala sesuatu yang tersembunyi. Dia sadar bahwa segalanya sudah tertulis jauh sebelum bumi diciptakan, tapi, hati seorang wanita adalah satu dari sekian banyak benda yang, diciptakan Allah dengan segala kelemahannya.
__ADS_1
Kondisi hati manusia akan berpengaruh pada kehidupan seseorang, bukan? Bagaimana kehidupan orang yang hatinya mendengki, maka ia akan hidup dengan sikap kedengkiannya. Bagaimana orang yang hatinya sombong maka dia akan hidup dengan segala sikap kesombongannya. Demikian pula orang yang memiliki hati yang bersih, maka ia akan bersikap tulus, seikhlas hatinya.
Setelah puas menangis, gadis itu membersihkan diri dan mengganti pakaiannya. Dia menguatkan hati, untuk berbicara dengan Anwar. Pria yang sudah tiga tahun ini mendampingi, menyayangi dan memenuhi semua kebutuhan sehari-harinya.
“Mas, sekarang ada di mana?” Usfi bertanya pada Anwar melalui telepon seluler. Dia langsung menanyakan keberadaan suaminya itu setelah mengucapkan salam.
“Aku lagi kerja, sibuk di sini banyak barang datang harus dicek! Kamu tahu sendiri, kan, gimana kerjaan di pos?”
Mendengar ucapan Anwar, hati Usfi serasa diiris, dia kembali menitikkan air mata lagi.
“Oh, sibuk, ya?” suara Usfi mulai bergetar karena menahan gejolak di hatinya. Dia tahu kalau Anwar tengah berbohong padahal tidak ada kesibukan apa pun di sana. Dia melihat dengan mata kepalanya sendiri, beberapa saat yang lalu, di pos itu tidak ada kegiatan seperti yang dikatakan oleh Anwar. Hanya ada Anwar dan perempuan yang dia tidak tahu siapa namanya.
Usfi segera menyambar tas kecilnya dan melangkah keluar pintu, dengan telepon masih ada di telinganya.
“Oh, eh ... kemarin juga ke sana!” kata Anwar terdengar jelas ada kegugupan pada nada suaranya.
“Kalau memang kemarin ke sana, kok nggak mampir ke rumah? Udah lama loh, kita nggak ketemu.”
“Minggu kemarin juga kan aku ke sana, Fi!” kata Anwar membela diri.
‘Oh, jadi waktu itu habis dari tempat Mbak Mai? Berarti dia Cuma sebentar juga di sana, terus gimana anak-anak?’ pikir Usfi.
__ADS_1
“Mas ke rumah Cuma sejam aja, pamitan mau pergi lagi.”
“Lah, kan itu sama aja mampir namanya?”
“Ya nggak begitu juga, lah, Mas. Masa ketemu sama istri sendiri, kayak nengok orang sakit?”
“Ya. Bersyukur aku sudah ke sana, dari pada nggak!”
Hati Usfi semakin kesal, dengan ucapan Anwar yang dengan mudah meremehkan istrinya sendiri dan, menganggap pantas, pembagian waktu yang seperti itu. Tentu saja gadis itu tidak terima, karena sangat tidak adil baginya.
Kalau hanya pembagian waktu antara dirinya dan Maisha, Usfi sangat bisa memahaminya, dia maklum. Apalagi madunya itu sakit, sudah hampir satu bulan tidak ada perubahan. Sebentar sakit, sebentar sembuh, nanti sakit lagi.
Namun, kali ini berbeda, karena sudah menyangkut wanita lain lagi yang entah siapa, dan Usfi tidak Sudi. Dia memang wanita biasa yang hanya lulusan SMA, tumbuh di lingkungan agamis biasa, dan jarang bergaul ke sana ke mari, tapi bukan berarti dia bisa diperlakukan seperti ini. Apalagi tidak di hargai.
Justru wanita yang terjaga itulah yang harus di perlakukan istimewa menurut agama, tapi Anwar justru bersikap sebaliknya. Dia menganggap Usfi bisa diabaikan begitu saja, dan tidak akan berani marah atau bersikap kasar padanya.
Memang benar, Usfi tidak akan marah dan kasar, tapi dia punya caranya sendiri, bahkan Anwar tidak pernah menduganya sama sekali.
Sudah selama hampir dua bulan ini, Anwar jarang pulang baik ke rumah Maisha ataupun ke rumah Usfi, tapi, Noura—anaknya, tidak lagi mengusik ibu tirinya, setelah pertemuan mereka malam itu.
Gadis remaja itu mulai lelah, harus selalu bertanya pada Usfi tentang keberadaan papanya. Dia sudah merasa puas papanya datang walaupun hanya sebentar, karena kesibukannya. Apalagi mamanya masih sakit dan dia tidak mungkin menuntut pria itu untuk pergi jalan-jalan seperti biasanya.
__ADS_1
Noura berusaha mengerti keadaan kedua orang tuanya walaupun, tidak mudah. Mengingat remaja seusianya belum bisa berpikir dewasa untuk menerima kenyataan kalau ayahnya berbagi cinta. Bahkan, bagi sebagian remaja poligami adalah hal yang memalukan.