Cinta Butuh Utang

Cinta Butuh Utang
Kabar Dari Maisha


__ADS_3

Kabar Dari Maisha


 


Sudah hampir semalaman Usfi tidak bisa tidur walaupun, tubuhnya lelah menjalani aktivitas seperti biasa sepanjang hari. Dia terus menerus memikirkan tentang keputusan, apakah akan menyampaikan kebenaran atau tidak, tentang Anwar yang, terhasut oleh ramalan.


Gadis itu terbangun keesokan hari setelah sempat memejamkan mata tidak lebih dari dua jam saja, sebelum subuh. Dia bangkit untuk menggosok gigi dan mengambil air wudhu, lalu sholat subuh.


Dia akan datang ke sekolah Noura untuk mewakili Maisha sebagai orang tuanya, hari ini.


Jadi, di sanalah dia sekarang berada di antara beberapa orang tua murid yang mengikuti rapat akhir tahun, yang menjadi ajang pertemuan antara para guru dan orang tua wali, serta pengadaan perpisahan bagi siswa siswi kelas tiga, yang akan meninggalkan sekolah mereka.


Namun, saat acara masih berjalan, baik Usfi maupun Noura mendapatkan pesan yang sama, dari Maisha. Wanita itu segera keluar ruangan tanpa permisi dengan perasaan bingung, dia pergi mencari keberadaan Noura.


“Kamu lihat Noura, nggak?” tanya Usfi pada salah seorang temannya.


“Noura yang mana, Buk? Di sini ada tiga anak yang namanya sama!” sahut anak laki-laki itu.


“Astgafirullah!” Naura tampak gelisah.


“Ibu ini Tantenya apa Ibunya, kok masih muda amat?” komentar anak itu pada Noura, yang tidak cocok bila memiliki anak seusia Noura, dia naik kelas tiga SMA tahun ini.


“Tante Fi!” teriak Noura dari arah belakang, Usfi pun seketika menoleh, anak laki-laki yang ada di depannya langsung berkomentar mendengar teriakan Naura yang begitu lantang.


“Oh, tantenya, pantesan masih muda!”


Noura langsung menghampiri Usfi dan mereka berjalan menjauhi dua teman Noura yang masih saja tersenyum-senyum, memperhatikan anak dan ibu sambungnya itu.


“Tante nyariin aku, kan? Tante dapat pesan nggak dari Mamah?”


“Iya, kenapa Mbak Mai ngomong seperti ini apa maksudnya?”

__ADS_1


“Mana aku tahu, Tante, Mamah juga ngomong kayak gini!” Naura berkata sambil menunjukkan ponselnya, sehingga Usfi, pun bisa membaca dengan jelas kata-kata yang terdapat di dalam pesan itu, sama persis seperti yang ada dalam pesan chatnya.


“Kalian harus baik-baik saja dan hiduplah dengan akur, baik sekarang maupun di masa depan, kalian harus bahagia, semoga kita bisa  bertemu di surga.”


Demikian bunyi pesan itu seolah-olah menandakan jika Maisha akan meninggalkan mereka untuk waktu yang cukup lama.


“Naura dengerin Tante sekarang ... nggak bisa nerusin ikut rapat di sekolah, Tante mau nengok Mamah di rumah sakit! Enggak apa-apa, kan?”


“Tante, Noura ikut! Tante bawa mobil?”


“Iya!”


“Tunggu, Noura mau ambil tas dulu, Tante tunggu di sini ya? Pokoknya Naura mau ikut pulang!”


Seketika gadis remaja itu segera pergi ke kelasnya dan tak lama kemudian, dia sudah kembali menemui Usfi dengan terengah-engah, karena ia setengah berlari. Dia hanya berpesan kepada ketua kelasnya, kalau ingin segera pulang karena ibunya sakit.


“Apa nggak apa kamu keluar kelas, padahal belum waktunya pulang?


“Nggak papa Tante, melihat Mama sekarang lebih penting, gurunya juga banyak yang nggak masuk karena hari ini rapat.”


Setelah itu, mereka pun diam sepanjang perjalanan, tenggelam dalam pikirannya masing-masing yang kacau.


Sesampainya di rumah sakit dan memarkirkan kendaraan, Usfi dan Noura segera berjalan ke kamar VIP yang biasa ditempati Maisha. Saat mereka tiba, masih ada dokter dan dua perawat yang tengah melakukan pemeriksaan di kamar itu. Namun, Maisha tidak bisa merespon ataupun membuka matanya.


Usfi dan Noura melihat dari luar pintu yang tertutup, karena tidak ada yang diizinkan masuk. Seorang kerabat yang diminta untuk menjaga Maisha, menceritakan apa yang terjadi sebelum wanita itu terlihat sesak napas.


Maisha, sebenarnya terlihat cukup stabil hati ini, dia makan minum dan menelan obat dari dokter seperti biasanya, tidak ada yang aneh, hingga dia menghubungi Anwar, setelah selesai melakukan panggilan telepon yang cukup lama, Maisha menangis cukup lama, lalu tertidur.


Namun, saat tiba waktunya makan obat, dan saudaranya itu membangunkan Maisha, dia tidak terbangun juga, walaupun, tubuhnya sudah diguncangkan beberapa kali. Keadaan ibunya Noura itu membuat saudara yang menjaganya panik dan langsung mencari dokter.


Saat dia dan dokter kembali ke kamar, istri pertama Anwar itu terlihat memegangi dadanya, karena kesusahan bernapas. Lalu, dokter segera melakukan tindakan, hingga Usfi dan Noura datang, mereka belum juga selesai. Baik Noura maupun penjaga tidak dapat melihat apa yang dilakukan dokter, karena pandangan mereka terhalang pintu.

__ADS_1


Tak lama setelah itu, pintu kamar pun terbuka dan betapa terkejutnya Noura melihat ibunya ditutupi selimut putih yang selama ini dipakainya.


“Mama!” teriaknya sambil berlari menghampiri Maisha yang, sudah terbujur kaku di atas tempat tidur, dia menyibakkan selimutnya kasar.


Tiba-tiba Noura berbalik menghampiri dokter yang masih bicara dengan Usfi, di dekat pintu. Gadis itu memegangi jas dokter di depannya, dengan tatapan membara.


“Kalian apakan, Mamaku? Hah!” Noura berkata, dengan suara gemetar, menahan tangis dan kemarahan.


“Katakan apa yang terjadi pada Mama? Kalian jahat! Kenapa kalian tidak menolongnya, percuma ada kalian, percuma dirawat di sini! Percuma kalau akhirnya Mama pergi juga! Kembalikan Mamaku!”


Dokter hanya diam melihat sikap Noura kemudian pergi setelah gadis itu melepaskan kerah bajunya. Dia sudah mengatakan apa yang harus dikatakan, sebagai tenaga medis kepada Usfi dan wanita yang menjaga Maisha.


Para dokter sudah biasa menghadapi kematian seorang pasien, hingga mereka terlihat begitu biasa saja, saat mengabarkan penyebab kematian, secara ilmiah kedokteran pada keluarga pasien.


Maisha mengalami sesak, bukan karena penyakit yang dideritanya, melainkan karena kegagalan pernapasan pada paru-paru untuk menghirup oksigen, permukaannya tidak bisa terbuka secara sempurna,  bersamaan dengan melemahnya detak jantung yang, pada saat seperti itu membutuhkan banyak oksigen.


Noura berteriak keras sambil menangis walaupun, Usfi memeluknya. Gadis remaja itu, begitu terpukul dengan kenyataan yang harus dihadapi. Dia memang dekat dengan sang ayah, tapi kehilangan seorang ibu bagai kehilangan separuh kesadaran. Bagi anak remaja seperti Noura, jiwanya masih terlalu rapuh melihat kehilangan sebesar itu dalam hidupnya.


Usfi tidak bisa berbuat apa-apa selain mengusap punggungnya dengan lembut, gadis remaja itu tengah bersedih karena kehilangan ibunya. Dalam keadaan seperti itu, dihibur bagaimanapun juga tidak akan mempan. Jadi, Usfi hanya membiarkannya menangis menumpahkan apa yang dirasakan.


Noura kemudian memeluk mayat Maisha yang mulai terasa dingin di atas brankar, dia menangis sejadi-jadinya di sana.


Sementara Usfi langsung mengabarkan berita tentang kepergian Maisha pada Anwar dan semua anak buahnya di pos, termasuk ayah dan ibunya. Seketika kabar kepergian wanita itu tersebar. Beberapa sanak saudara dan kerabat Maisha, banyak yang berdatangan ke rumah sakit untuk memastikan kebenaran berita, yang sudah disebarkan oleh Usfi.


Beberapa orang berkumpul untuk melihat bagaimana proses jenazah dipulangkan dengan ambulans ke rumah duka. Sementara Usfi menyelesaikan administrasi rumah sakit sampai selesai.


Melihat tubuh ibunya dibawa dengan ambulans, Noura melirik Usfi dengan sinis, sambil menyeka sisa air mata di pipinya.


“Semua gara-gara Tante, pasti Tante ngomong macem-macem sama Mama kemarin! Jadinya Mama sedih, iya, kan?”


Usfi melotot pada Noura karena ucapannya menyinggung perasaan. Dia sama sekali tidak mengatakan keburukan, bahkan menahan sekuat hati untuk, tidak mengatakan apa pun pada Maisha, demi menjaga hati istri pertama suaminya itu.

__ADS_1


 


__ADS_2