Cinta Butuh Utang

Cinta Butuh Utang
Tukang Sayur


__ADS_3

Tukang Sayur


“Noura, tidak semua kebaikan dan ketulusan kita harus ada balasannya di dunia, kalau memang semua kebaikan kita dibalas di dunia, bagaimana kita bisa menikmati pahala dari perbuatan kita di surga-Nya? Jadi, maaf kalau Tante nggak bisa balas kasih sayang kamu sekarang tapi, Tante janji, mau sering-sering telepon kamu kalau sudah sampai di sana!”


Ketulusannya melahirkan kasih sayang, demikianlah agama mengajarkan tentang keikhlasan. Walaupun, pada akhirnya yang terjadi tidak sesuai dengan harapan, tapi, tetap berbekas pada hati yang rusak sekalipun, sebab kebaikan sebiji zarrah (sawi) tetap akan dinilai, secara adil di sisi-Nya, sungguh tidak ada yang sia-sia.


Tanaman kelapa sawit terhampar di sejauh mata memandang, matahari pagi menghiasinya dengan sinar keemasan yang baru muncul dan menemani aktivitas manusia di setiap belahan bumi ciptaan-Nya. Berbeda dengan Usfi, gadis itu masih tidak melakukan aktivitas apa pun selain duduk, sambil menikmati pemandangan dari bukit kecil tak jauh dari kediaman Edi, kakak Usfi yang kedua.


Dari bukit itu, banyak orang menikmati matahari terbit, sebuah momen yang sering ditunggu kebanyakan orang, selain saat matahari terbenam di tepi pantai.


Usfi di temani Ahmad, keponakan Edi dari Nina—istrinya, yang berusia dua tahun lebih muda darinya. Pria itulah yang menemani Usfi berkeliling atau sekedar menikmati matahari pagi di atas bukit Alif, demikian warga sekitar menamakan bukit yang tidak terlalu tinggi itu.


Sudah satu bulan Usfi berada di salah satu kampung yang terletak di kabupaten Paser Utara, di Pulau Borneo itu, dan berkat keadaan alam yang masih asri serta bertemu dengan banyak orang baru, membuat Usfi lebih mudah bangkit dari masalah masa lalunya.


Dia ingat betul nasehat seorang temannya yang lebih baik pelajaran agamanya, bahwa setiap orang adalah guru, setiap tempat adalah kelas dan setiap peristiwa yang dialami adalah ilmu. Hal ini sangat berguna ketika bertemu dengan banyak orang, dia akan bisa mengambil pelajaran darinya.


Keinginan Usfi untuk datang ke sana, sempat membuat Edi, kaget termasuk kabar perceraiannya. Namun, laki-laki itu tidak bertanya pada adiknya kecuali saat wanita itu sudah mulai bisa tersenyum ceria dan beradaptasi dengan baik.


Edi hanya mendengar kabar dan kejadian singkatnya satu sang ibu. Dan, saat dia menanyakan pada Usfi tentang penyebab perceraian itu, adiknya hanya menjawab datar saja seolah semua hanyalah masalah biasa.


“Untuk apa tetap mempertahankan ego, Kang! Pada akhirnya, ego hanya membuat pasangan kita terluka, lebih baik sudahi saja dari pada setiap detik perasaanku sakit, nggak ada di antara kami yang berusaha meluluhkan. Kalau memang perpisahan bisa membuat kami lebih dewasa dalam bersikap, ya mungkin memang sudah seharusnya pisah, Kang!”


“Ya, sudah kalau memang itu keputusan kamu dan suamimu, yang penting kalian tidak saling dendam dan saling mengikhlaskan.”


“Nah, itu masalahnya Kang, sulit untuk mengikhlaskan perpisahan dan kehilangan, sampai kapan pun orang akan mengenalku sebagai wanita yang pernah bercerai, rasanya untuk melupakan mantan suami juga nggak segampang jatuh cinta!”


Setelah menjeda ucapannya, untuk mengambil napas, Usfi kembali bicara.

__ADS_1


“Kalau jatuh cinta, kadang orang nggak perlu pake otak, tapi perceraian harus benar-benar memeras otak buat mutusinnya ... bener nggak, Kang?”


“Ya, ya, kamu yang sudah merasakan perceraian, pasti kamu bisa mengambil banyak hikmah sesudahnya, buat pelajaran hidupmu sendiri nanti, kalau kamu manikah lagi!”


“Ya, Kang!”


Usfi menghela napas dalam-dalam setelah matahari mulai merangkak naik dan terasa semakin panas di pipinya dia pun berdiri dan mengajak Ahmad untuk pergi dari tempat itu dan kembali ke rumah mereka masing-masing.


“Kak, hari ini jadi nggak mau ke tempat Aisi?” tanya Ahmad saat dalam perjalanan. Mereka selalu mengunjungi beberapa rumah setiap hari, guna menjalankan rencana Usfi di tempat itu untuk mendirikan sebuah taman Qur’an bagi anak-anak seusia taman kanak-kanak dan sekolah dasar.


Usfi mengangguk, langkahnya pasti menuruni bukit kecil, yang akhir -akhir ini menjadi sangat akrab dengan dia dan Ahmad. Gadis itu sangat bersyukur dengan bantuan Ahmad yang bisa diandalkan.


Alasan pria itu senang membantu Usfi adalah, karena dia pengangguran dan apa yang akan dilakukan Usfi, membuatnya memiliki aktivitas lebih banyak dan bermanfaat, selain menjadi buruh pengumpul kelapa sawit.


“Jam berapa nanti kamu pulang kerja?”


“Eh, tapi kemarin sudah selesai ngecet dindingnya, kan?”


“Beres kalau soal itu, Kak!”


Sesampainya di jalanan, tampak beberapa kendaraan yang mengangkut berbagai macam muatan, lewat di jalan yang dilalui oleh mereka.


Tiba-tiba, tak jauh dari arah depan mereka berjalan, ada sebuah mobil bermuatan sayur mayur, agak oleng dan berhenti mendadak di tengah jalan, lalu, tak lama setelah itu, tampak sopir mobil Cold L 300 itu turun sambil memegangi perut dan bagian belakangnya sambil berlari.


“Eh, Bang!” Pekik Usfi sambil berjalan cepat ke arah mobil, “kenapa tidak di pinggirkan, bahaya nih di tengah jalan!”


“Saya nggak kuat lagi!” katanya sambil menghilang di antara semak belukar.

__ADS_1


Jalanan yang mereka lalui memang tidak seramai jalan ibu kota, tapi, tetap saja tidak menghargai pengguna jalan lainnya.


Usfi melihat ke dalam dan ternyata sopir mobil itu pun meninggalkan kuncinya. Tanpa berpikir panjang, Usfi langsung naik sambil membenarkan letak kerudungnya yang memang miring karena tertiup angin.


“Kak! Mau ngapain?” tanya Ahmad, tapi, Usfi tidak menjawab dan dia menyalakan mesin, lalu menjalankan mobil sedikit lebih dekat ke arah orang yang sedang sakit perut tadi. Dia menepikan mobil itu lebih ke sisi, hingga pengendara lain tidak terganggu karenanya.


Ahmad tercengang, karena baru kali ini dia melihat wanita mengendarai mobil secara langsung, bukan di sinetron atau film-film.


Usfi langsung turun setelah mobil menepi dengan sempurna. Tak lama setelah itu, sopir pemilik mobil pun keluar dari persembunyiannya, entah bagaimana dia membersihkan dirinya, apakah seperti yang diajarkan dalam Islam atau tidak, dia tidak tahu, sebab keberagaman agama di tempat itu lebih tebal dari pada di kampungnya sendiri.


Usfi sengaja menunggu bukan untuk minta upah, tapi ingin bertanya dari mana sayuran itu berasal. Pemilik mobil pun mengatakan kalau kebutuhan pokok seperti sayuran dan bahan-bahan lainnya, akan lebih sulit di dapat terutama di daerah pelosok atau perbukitan. Penduduk setempat jarang sekali pergi ke pasar karena letaknya cukup jauh.


Oleh karena itu, dia menjadi penjual keliling, menjangkau daerah-daerah yang jauh itu, tapi dengan harga yang jauh lebih tinggi pula.


Usfi membicarakan bisnis yang pernah dijalaninya bersama Anwar, lalu menawarkan kerja sama dengan sang sopir yang bernama Karna itu. Kalau dia mau, maka mereka harus bekerja sama dengan para petani yang, menjadi langganannya. Memang hal ini membutuhkan armada, selain itu, pasar-pasar masih sangat berjauhan letaknya dan para petani sayuran jarang adanya, hanya ada di beberapa daerah subur yang lebih sedikit memiliki lahan gambut.


Untuk mewujudkan bisnis seperti itu sepertinya sulit.


“Jadi, Bang, kalau kita punya pos, dan punya armada, akan membantu para pedagang juga para ibu-ibu rumah tangga, karena harga sayuran tidak terlalu tinggi, nggak harus diangkut terlalu jauh, seperti Abang ini!” kata Usfi.


“Iya, Neng, tapi kayaknya nggak mudah, nanti lah, saya kontek-kentek lagi!”


Mereka kemudian saling bertukar nomor telepon.


Sejak saat itu, Usfi semakin giat mencari informasi tentang pembudidayaan berbagai macam sayuran secara hidroponik, dia mengembangkan sendiri di halaman rumah Edi. Dia seperti seorang yang tidak betah melihat tanah kosong, kalau ada tanah mengangkut, maka dia akan mencari tanah milik siapa, dan meminta izin pemilik tanah untuk menanam sayuran.


Hal itulah yang kemudian menjadi aktivitas Usfi sehari-hari, selain mengajar beberapa anak-anak kecil mengaji, di sebuah tempat bekas Pos ronda milik masyarakat setempat, yang kebetulan berdiri di atas tanah milik kakaknya sendiri.

__ADS_1


❤️❤️❤️🙏👍❤️❤️❤️


__ADS_2