Cinta Butuh Utang

Cinta Butuh Utang
Utang Mahar


__ADS_3

Utang Mahar \= Utang Cinta


Gani kembali diam, mengatakan mencicil mahar pun akan menjatuhkan harga dirinya. Sebenarnya dia punya sebuah gelang emas yang dia beli secara tidak sengaja, di pusat lelang beberapa pekan yang lalu, dia pun tidak menyangka jika dirinyalah penawar terakhir, hingga dia menjadi pemilik gelang secara sah. Dia belum tahu akan diberikan pada siapa gelang itu nanti dan, dia menyimpan gelang itu di apartemennya. Dia tidak menyangka jika Usfi-lah yang akan menjadi pemiliknya.


Dia bukannya orang berada yang mampu menyewa helikopter hanya untuk, mengambil sebuah gelang di pulau yang berbeda. Lalu, dia menceritakan secara jujur tentang mahar yang akan diberikan kepada calon istrinya itu.


“Kalau begitu, bilang saja, maharnya ada di rumah,.Bang!”


“Akh, ribet kamu, On! Udah, pake uang ini aja aku bawa setengah juta!”


“Oke, itu saja cukup, calon suamiku.”


Tiba-tiba hati Gani berbunga-bunga saat membaca balasan pesannya. Namun, dia bingung saat ada pesan lain dari adiknya yang memberitahu bila Azzam rewel dan mencari ayahnya karena sudah mengantuk.


“Astagfirullah, kayaknya kita bakal batal nikah malam ini, On! Soalnya Azam nangis!”


“Ya sudah, lamar saja aku sekarang Bang, sebelum pulang, biar aku punya alasan sama Mas Anwar.”


Gani tidak menjawab lagi dan langsung berdiri hendak pamit pada Sholeh. Saat dia akan bersalaman, Usfi berdiri dekat pembatas, sambil memanggil Sholeh dengan penuh kesopanan.


Sholeh pun menoleh dan menyahut sambil tersenyum.


“Abah .... Abang Gani pamit mau ke mana, gitu?” Usfi berkata dengan wajah malu-malu dan lemah lembut, dia tetap menundukkan pandangan di antara para tamu yang kebanyakan adalah kaum pria.

__ADS_1


“Gani, mau pamit pulang ... katanya Azam nangis! Kenapa, kamu mau ikut?” tanya Sholeh sambil tersenyum lebar dan para tamu yang ada pun ikut tersenyum-senyum. Mereka sepertinya bisa menebak mana orang yang bernama Gani yang dimaksud oleh Sholeh.


“Apa boleh saya ikut Bang Gani pulang, Abah? Tapi, kami belum halal, belum nikah ... ngelamar aja belum!”


Semua orang yang ada di sana tertegun saling berpandangan, termasuk Gani, dia pun khawatir kalau Usfi di cap menjadi wanita yang terlalu bernapsu. Mana ada di antara mereka yang tahu pasti apa alasan Usfi, meminta Gani melamarnya dengan begitu terus terang seperti itu.


“Terus, kamu maunya gimana?” kata Sholeh.


“Bang, katanya mau lamar ... saya nggak masalah kok, kalau Abang bilang sama Abah sekarang juga ....” Usfi langsung pergi dari ruangan itu sekarang juga.


“Ustadz, kalau udah begini, nggak usah ditanya lagi, bagaimana keinginan anak gadisnya soalnya dia yang minta!” kata seseorang yang sebaya dengan Sholeh, mereka adalah teman seperjuangan, dalam membuat Yayasan dan tadi saat acara syukuran, dia beserta rombongan terlambat datang.


Semua pun setuju, dan saling memberi semangat untuk segera melanjutkan lamaran dengan sebuah pernikahan karena sudah sama-sama cocok.


“Halo, Mas! Ada apa?” Usfi bertanya setelah telepon selularnya menempel di telinga.


“Harusnya aku yang tanya sama kamu, Fi! Kenapa kamu nelepon aku?”


“Aku cuman mau ngomong soal anak-anak, Mas! Aku tadi sempet ketemu Noura dan dia bilang Marini galak sama dia!”


“Jangan di percaya, kalau anak-anak kan, biasa suka ngadu yang nggak-nggak! Aku kalau ada di rumah itu Marini baik banget, jauh lebih baik dari kamu, Fi!”


“Benarkah? Tapi, kenapa Imad, anak itu juga nangis, Mas! Apa itu juga bohong? Mas juga jangan terlalu percaya sama Marini, siapa tahu dia yang tukang ngadu di sini, bukan anak-anak!”

__ADS_1


“Kenapa juga kamu ikut campur?”


“Mas, aku cuman perduli sama mereka, aku


“Mas, aku cuman perduli sama mereka, aku pernah jadi anak kecil, Mas juga, kan? Kasian mereka-lah kalau setiap hari harus di marahi orang yang bukan ibunya sendiri dan bahkan nggak berhak marah sama sekali!”


“Jangan sembarangan kalo ngomong kamu! Marini sudah jadi ibunya, udah ngurusin mereka ya pastinya berhak marah kalau mereka salah!”


“Terus, kalau mereka nggak salah gimana? Apa mau di marahin juga?”


Anwar diam dan hanya keheningan yang terdengar dari ujung telepon.


“Mas!”


“Kalau memang kamu mau ngurusin mereka, kamu nggak berhak kalau nggak jadi istri aku!”


“Aku berhak atas sesama muslim, Mas. Berhak untuk mengingatkan kesalahan!”


“Sudah aku bilang kamu nggak berhak kalau bukan istri aku, Fi!”


“Maaf, Mas. Aku sudah di lamar!”


❤️❤️❤️🙏👍❤️🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2