
Suami Pengangguran
Asma tampak terkejut dengan jawaban Gani yang mengatakan jika dirinya akan mencari pekerjaan dan menetap. Dia bukannya tidak suka, hanya saja tidak ingin banyak masalah terjadi, kalau harus hidup bersama lagi.
Pertemanannya dengan Nara sangat baik sebagai bentuk penghargaan atas pertolongannya. Oleh karena itu Asma membiarkan Nara bersikap senyamannya, karena dia tidak tega kalau harus menolak. Apalagi pria itu tidak memiliki pasangan hidup, hingga tidak harus kuatir kalau ada yang cemburu.
“Kenapa, apa kamu nggak suka kalau aku tinggal di sini karena rumah ini milik keluarga Ibu?”
“Bukan begitu, Bang ... aku senang kalau Abang mau tinggal di sini ... aku cuma kuatir kalau nanti, Abang terus-terusan cemburu ngeliat aku sama Nara pulang pergi bareng!”
Gani mengangguk-angguk, seraya berkata, “Oh, jadi soal itu .... jangan matikan hp kalau kamu ada di luar! Kayak kemarin-kemarin!” hanya itu ucapan yang keluar dari mulut Gani, walau dalam hati, dia begitu ingin marah.
Lalu, dia menghampiri Azam yang merengek karena baru bangun tidur.
Gani memandikan Azam sesudah itu, dan kembali bercanda dengannya setelah selesai. Sementara Asma lebih banyak diam, karena berpikir tentang Gani dan dirinya sendiri.
Keberadaan suaminya di sana, membuatnya tidak leluasa dalam bergaul. Bukannya dia tidak tahu apa yang menjadi kewajiban seorang istri, yang harus pandai menjaga diri saat suaminya tidak ada, tapi, dia tidak bisa menolak kebiasaan atau pun, gaya hidup teman-temannya di kantor kalau tidak ingin dikucilkan.
Setelah beberapa pekan Gani tinggal di rumah itu, Asma bisa menjaga dirinya dengan baik, dia tidak sering di antar jemput oleh Nara, sedangkan Gani masih sibuk mencari pekerjaan ke sana kemari.
Sementara menunggu hasil lamaran kerjanya, dia merawat halaman rumah yang dia tanami macam-macam sayuran, membuat kolam ikan dengan tehnik minimalis dari kayu dan terpal tebal, serta membudidayakan tanaman hias dalam kaleng bekas, hingga kini rumah itu penuh dengan aneka pepohonan yang, masih bertumbuh.
Pada semua kegiatan bercocok tanam dan hasilnya, Gani tayangkan sebagai video life streaming pada tiga akun media sosialnya hingga menuai banyak like dan komentar. Sedangkan di dunia nyata, para tetangga terkagum-kagum dengan hasil dari ketekunannya.
Seperti saat itu, dia sedang memberi makan ikan lele di kolam plastik buatannya, yang mulai besar tapi, ada tingkah Azam yang membuat suasana semakin lucu, hingga komentar beragam tentang suami idaman pun membanjiri tayangannya.
“Sudah, Gan! Jangan bikin video terus, ngabisin kuota! Mendingan nulis surat lamaran lagi sana, dari pada di sini terus cuman ngasuh anak, kayak perempuan saja!” kata Lilis yang tiba-tiba muncul di dekat kolam.
Wanita itu melanjutkan bicara saat sudah berada di sisi Gani.
“Kamu jadi suami itu, nggak boleh ngandelin istri, tenang-tenang di rumah, tapi istrinya yang sibuk cari uang buat menghidupi keluarganya, kebalik, Gan?” kata Lilis terlihat geram.
Dia sebenarnya mengikuti akun menantunya itu, tapi tidak suka saat ada yang mengomentarinya sebagai suami idaman wanita.
“Apanya yang idaman wanita, orang dia itu cuman pengangguran!” gumam Lilis.
“Siapa yang mengandalkan Asma, Bu? Uang gaji terakhir saya juga buat dia, kok. Memang tidak banyak, dan sekarang saya belum punya uang lagi, tapi saya masih berusaha, Bu, masih nunggu panggilan kerja. Saya nggak akan minta uang yang sudah saya berikan untuk istri.”
__ADS_1
“Kalau kamu nunggu terus, mau sampai kapan berhasilnya, cari setiap hari sana!”
Gani diam sambil berpikir apa yang bisa dia lakukan lagi, sebagai bukti kesungguhannya. Dia sudah mencoba setiap hari mengirimkan lamaran pekerjaan dan mencari lowongan kerja di internet, namun belum ada panggilan, sampai hari ini.
Dia yakin Allah masih menguji kesabarannya. Asalkan dia tidak berhenti berusaha dan berdoa, suatu saat pasti akan dia dapatkan juga hasilnya.
Namun, kebanyakan manusia tidak sabar menunggu hasil, di mana dirinya kemudian menyerah, bahkan sebelum perjuangan sampai di batas akhir.
Suatu ketika ada orang yang tertarik membeli tanaman hias yang dibudidayakan oleh Gani, dan beberapa hasil sayuran yang kebetulan sudah layak panen bulan ini pun, hampir habis terjual.
Gani memberikan uang hasil kebunnya pada Asma saat istrinya itu pulang di antar Nara, kebetulan hari sudah hampir malam, hingga dengan terpaksa, pria itu mengantarnya sampai rumah.
Namun, Gani hanya diam karena dia percaya dan berprasangka baik pada apa yang dilihatnya. Meskipun, hatinya sempat berkedut saat melihat Nara dengan senyum penuh arti membukakan pintu mobil untuk Asma—istrinya.
“Memangnya kamu nggak bisa ya, buka pintu mobil sendiri?” tanya Gani hati-hati saat mereka tengah makan malam.
“Apa maksud, Abang?”
“Nggak ada maksud apa-apa, aku cuman nanya aja, apa harus Nara yang buka pintu mobil?”
“Buk, setahu saya romantis itu hanya boleh ditunjukkan pada pasangan halal, bukan pada pacar, selingkuhan, apalagi pada istri orang!”
“Sudahlah, Bang! Aku capek, aku nggak mau ada perdebatan soal Nara lagi. Oh ya, Abang nggak usah merasa bangga hanya karena bisa ngasih uang hasil jual bayam dan bunga, itu masih jauh dari kebutuhan membeli susu Azam, jangankan sebulan, seminggu juga nggak cukup, Bang!”
Deg.
Gani begitu terkejut dengan ucapan Asma, dia merasa istrinya itu kini sudah banyak berubah. Dahulu gadis itu begitu bisa mensyukuri berapa pun uang yang dia beri. Dia merasa terluka, bukan hanya harga dirinya tapi, juga atas nama agama.
Namun, sekali lagi dia masih bersabar, karena dia tidak ingin menyia-nyiakan perjuangan selama bertahun-tahun. Dia sudah menjalin hubungan baik dengan Asma dan keluarganya, hingga bermuara pada pernikahan. Jatuh bangun mencari nafkah, jauh dekat dia jalani, sayang rasanya kalau harus hancur hanya karena kesalahpahaman belaka.
Apalagi hanya soal keromantisan dan laki-laki yang, membukakan pintu mobilnya untuk sang istri, rasnya bukan alasan tepat hingga mudah menjatuhkan talaq.
$$$$$$$
Di belahan bumi yang berbeda, saat itu Usfi tengah menangis sambil memegangi tangan Anwar di pos baru, yang dia dirikan di kota Antapani, di mana kota ini punya lebih banyak pasar dan swalayan yang menjadi langganannya. Bahkan beberapa restoran besar pun mengandalkan pasokan sayur darinya.
Usfi menangis karena melihat Anwar kembali bermesraan dengan wanita yang ternyata kini tengah hamil muda.
__ADS_1
Dia sengaja mendatangi pos baru itu seperti yang pernah dilakukannya dulu. Setelah dia beberapa kali memergoki Anwar berbicara di telepon entah dengan siapa, dengan nada lemah lembut dan, menyebut sayang pada orang yang diajaknya bicara.
Bahkan, beberapa bulan terakhir Anwar jarang sekali pulang. Walaupun untuk acara weekend bersama anak-anak, Usfi yang menggantikannya.
Selama itu pula Anwar berbohong, karena dia benar-benar menikahi wanita yang pernah dilihat Usfi dulu, dengan alasan yang sama agar usahanya berjalan sempurna.
Sudah banyak dalil agama yang Usfi katakan agar suaminya itu tidak percaya, dengan ramalan manusia yang banyak dosa, tapi rupanya sang suami lebih percaya pada hatinya sendiri dari pada firman sang pencipta.
“Kenapa, Mas? Kenapa kamu bohong terus selama ini sama aku? Apa aku nggak ada harganya di hadapan kamu, gimana kalau kamu sendiri yang diperlakukan seperti ini, Mas?” kata Usfi dengan terengah-engah, karena napsnya begitu sesak oleh tangis.
Dia sudah lama menahan sabar. Namun, kali ini dia tidak bisa menahannya lagi, hingga dia singkirkan harga diri, mengabaikan sikap tenang dan dewasa yang biasa dia tunjukkan.
Setiap manusia punya sisi lemah dan saat kelemahannya itu muncul, maka dia tidak akan peduli hal lainnya.
“Aku bukan Pela cur, Mas! Aku bukan wanita malam yang setelah kamu puas terus kamu tinggal pergi, sambil melempar uang!”
“Akh! Mana pernah aku melempar uang sama kamu? Semua uang penghasilan dari pos kamu yang pegang, kamu bisa beli apa saja yang kamu mau, bahkan beli mobil baru juga bisa! Kenapa kamu masih tidak terima? Hah!”
Usfi diam, rasanya tak ada gunanya menyahut meski sekedar pembelaan, bahwa hak istri bukan hanya di kasih uang lalu ditiduri. Bukan hanya dinikahi hanya untuk menjadi pemantas diri. Lalu, dengan seenak hati menikah lagi, dengan alasan itu adalah hak pribadi.
“Aku tidak menyangka kalau selama ini Mas tega bohongin aku hanya untuk wanita seperti dia!”
Dia sudah memberikan apa yang menjadi hak suami secara utuh, merawat anak-anak sambungnya meski tak sekalipun Anwar berterima kasih, mengelola bisnisnya walau tidak mendapatkan penghargaan apa pun dari suaminya.
Anwar memang merasa bahwa apa yang dilakukannya sudah benar, meminta istrinya mengelola bisnis karena penghasilannya toh untuk istrinya juga. Kalau pun Usfi mau mengurus anak madunya toh, pahalanya untuk Usfi sendiri juga. Dan soal urusan ranjang pun, istrinya mendapat kepuasan yang sama, lantas di mana kurangnya dia sebagai suami. Oleh karena itu, saat Usfi marah di hadapannya, dia tidak terima.
“Wanita seperti apa maksudmu?” kata wanita yang tengah hamil itu mendekati Usfi, tapi diabaikannya, sebab urusannya hanya dengan sang suami.
“Kami menikah dan sudah halal, kami bukan pasangan zinah, kenapa kamu harus marah? Kalau kamu memang ahli agama, kenapa kamu menolak hubungan kami?” kata wanita itu lagi.
Usfi tidak melihatnya sama sekali, tatapannya hanya tertuju pada Anwar yang tidak merasa bersalah sama sekali.
“Mas, soal poligami bukan hanya soal agama, tapi soal hati. Mana ada amalan ibadah yang tidak melibatkan jiwa dan raga? Tidak ada amalan sempurna tanpa hadirnya hati di sana!”
“Terus, apa maumu, Fi?”
❤️❤️❤️👍🙏❤️❤️❤️
__ADS_1