Cinta Butuh Utang

Cinta Butuh Utang
Rela Datang Setiap Hari


__ADS_3

Rela Datang Setiap Hari


“Mas tahu, kan jawabanku masih sama seperti dulu, kalau memang Mas terbukti selingkuh dan menikah lagi di belakangku, aku mau mundur, aku nggak akan kuat seperti Mbak Mai!”


“Kamu tega, Fi! Gimana anak-anak kalau kamu tinggal?”


Usfi diam, dia benar-benar sudah mengabaikan harga dirinya demi Anwar selama ini. Dia rela setiap hari datang hanya untuk memastikan semua kebutuhan anak-anak terpenuhi, walaupun Noura, masih saja memandangnya sebelah mata.


Dia memang tidak menginap di rumah Maisha itu, karena Anwar tidak juga melakukan apa yang Usfi inginkan, hingga dia rela setiap hari melakukan hal demikian. Semakin hari, semua kebutuhan rumah itu Usfi yang memenuhi.


Walaupun pendapat Anwar benar, bahwa penghasilan dari pos sayuran, semua menjadi milik Usfi, tapi tidak seharusnya Anwar kemudian menyerahkan begitu saja, urusan rumah tangganya sedangkan dia sendiri jarang pulang dengan alasan kesibukan.


“Soal anak-anak sebenarnya adalah urusan orang tuanya, Mas. Aku hanya ibu sambung yang tanpa kehadiran kamu di rumah, aku bukanlah siapa-siapa di sana. Kamu tahu, Mas, hal yang paling bikin aku sakit, dia bisa hamil anak dari kamu, Mas! Kenapa aku nggak?” hati Usfi benar-benar patah karena hal ini. Memang anak-anak Maisha semua manis dan sopan, tapi, sebagai wanita normal, dia juga ingin punya bayi, merasakan nikmatnya menimang buah hatinya sendiri.


“Oh, soal itu? Anak dari Fania akan memperlancar usahaku dua kali lipat, dan itu benar, lihat aku sekarang ... sudah ada 22 restoran yang jadi langganan sayuranku, Fi!”


“Astahfirullah, Mas! Itu bukan karena Fania atau anak yang dikandungnya! Itu dari Allah!”


“Eh, Fi! Dengar ya, aku percaya ramalan Pak Sanusi bukan karena aku nggak percaya agama, tapi karena ramalan dia selalu benar, sudah banyak yang membuktikannya!”


“Iatighfar, Mas! Istighfar! Itulah yang dinamakan syirik, Mas. Masih percaya ucapan manusia di samping percaya pada firman Allah. Dan kalau manusia itu benar-benar keluar dari keyakinannya, itulah yang kemudian di sebut kafir!” Usfi menghentikan ucapannya hanya sekedar menarik napas.


“Kalau kamu nggak mau ninggalin kepercayaan ini, Mas! Aku nggak ragu minta cerai ... soalnya, perbuatan kamu ini sangat dimaklumi untuk membatalkan pernikahan! Kalau pasangan sudah berbuat batil dan tidak bisa diluruskan lagi, atau melakukan hal keji lainnya, kayak kamu ini, Mas! Jadi, ceraikan aku, Mas!”


“Usfi!”


“Apa? Gimana kamu bisa menjadi pemimpin keluarga, Mas, kalau sikap kamu saja nggak bisa jadi panutan! Dan, kalau aku tetap meneruskan hubungan kita yang sudah sakit, lama-lama jadi penyakit kronis!”

__ADS_1


Setelah itu, Usfi pergi begitu saja, dia sudah bertekad untuk berpisah dari Anwar begitu dia melangkahkan kaki dari sana.


Usfi langsung mencari pengacara yang bisa membantunya mengurus perceraian, hingga dia tidak harus repot bolak balik ke pengadilan untuk mengajukan gugatan atau sidang demi menyelesaikan segala urusan, termasuk menghubungi Anwar dan mendapatkan tanda tangannya.


Sampailah pada sidang terakhirnya, yaitu pembacaan talaq yang disaksikan dari masing-masing pihak dan juga hakim, serta penyerahan uang masa Iddah sesuai kesepakatan. Mereka bertemu untuk terakhir kali sebelum semuanya benar-benar berakhir antara Usfi dan Anwar.


Semua proses berjalan kurang lebih selama empat bulan lamanya. Pada kurun waktu itu, Usfi tidak mengatakan apa pun pada semua anak-anak Maisha, dia bersikap seolah tidak ada yang terjadi apa-apa, dia tetap melakukan kewajiban seperti biasanya di rumah itu.


Namun, bedanya dia tidak melayani Anwar di tempat tidur lagi, bila secara kebetulan Anwar pulang. Dia pun meminta pada Anwar untuk tidak mengatakan tentang perceraian mereka pada ketiga buah hatinya.


Berulang kali Anwar membujuk Usfi dengan alasan anak-anak, berulang kali pula Usfi meminta agar Anwar melepas segala pernak pernik perdukunan di posnya, tapi, dia menolak.


Kedua orang itu sama-sama keras kepala, hingga tidak menemukan titik temu sebagai benang merah yang bisa menyatukan mereka berdua.


“Kenapa harus aku yang memaklumi perbuatanmu, Mas? Kenapa bukan kamu yang memaklumi keinginanku? Kenapa?” kata Usfi suatu ketika, tapi Anwar bergeming dan diam, dia tidak mampu tegas pada dirinya sendiri.


Alasan Anwar mempertahankan rumah tangga sangat jelas, karena anak-anaknya. Usfi pun memiliki alasan jelas meminta cerai, karena perbuatan suaminya yang melanggar agama.


Sungguh alasan Anwar tidak masuk akal bagi Usfi, hingga dia memantapkan hati untuk menyudahi rumah tangganya cukup sampai di sini saja. Bukannya dia tidak tahu hadis yang mengatakan tentang perceraian, sebuah aturan yang dibolehkan tapi dibenci. Sebuah penyelesaian yang ada syari’atnya tapi tidak dianjurkan untuk terus menerus melakukannya.


‘Aku juga tahu bahwa, istri yang meminta cerai dari suaminya tidak akan mencium baunya surga. Namun, mempertahankan hubungan karena sebuah kesirikan, juga menimbulkan dosa yang jauh lebih besar' pikirnya.


Setelah menyelesaikan semua urusan perceraian di kantor pengadilan agama, Usfi kembali ke rumah kedua orang tuanya.


Usfi membicarakan sikapnya yang memutuskan untuk bercerai dari Anwar pada kedua orang tuanya itu. Saat itu mereka tengah duduk di ruang tamu, sambil menunjukkan surat perceraian dirinya.


“Jadi, kalau alasannya karena melindungi diri dari api neraka, apakah tetap akan mengguncang arsy-Nya, Bah?” kata Usfi yang mengambil posisi di hadapan ayah dan ibunya.

__ADS_1


“Apa kamu yakin dan Anwar nggak marah sama kamu, Fi?”


“Usfi nggak tahu, Mas Anwar marah atau nggak, tapi dia setuju kok, Bah.”


Sholeh menganggukkan kepalanya.


“Kalau kamu tanya soal Arsy Allah tidak akan berguncang karena alasan perceraian, maka manusia akan seenaknya saja bercerai hanya karena alasan yang dia anggap benar! Jadi, Arsy berguncang bukan karena sebuah alasan tapi, karena perbuatan manusianya!”


“Terus, kamu mau ke mana sekarang, Fi?” tanya Imma.


“Di rumah dulu, Ambuk, sampai masa idahku habis.”


“Kenapa harus nunggu masa idah kalau mau keluar mah keluar aja sana, ke warung Mak Entim!” sahut Sholeh.


“Ye! Abah, kalau Cuma mau ke warung Mak Entim mah, gak harus nunggu habis masa Idah, atuh! Kan, maksud Usfi ... kalo keluar rumah yang jauh, dan bisa bikin laki-laki tertarik, nah, itu baru nunggu masa Iddah habis.”


“Pinter anak Ambuk, semua aturan dalam agama dibuat karena ada alasannya, seperti aturan masa idah, kenapa harus menunggu masa waktu sampai tiga bulan, karena sesudah lewat tiga bulan ... biasanya sidik jari suamimu atau bekas benihnya, sudah hilang dari tubuh dan rahimmu.”


“Gitu, ya Ambuk? Karena itu baru boleh menikah lagi!”


“Iya. Apa kamu mau punya suami lagi setelah semua ini, Fi?” tanya Sholeh.


“Iya, atuh Abah ... Usfi pengen punya anak, dan jadi istri satu-satunya bagi suami Usfi nanti.”


Ima mengangguk begitu pula dengan Sholeh, mereka tahu bagaimana kisah perjalanan anak perempuannya dalam hubungan dengan laki-laki, hingga kedua orang itu pun hanya berdoa kebaikan untuk Usfi. Apalagi Maisha sudah tiada, tidak ada lagi orang yang harus merasa berkewajiban menanggung balas budinya.


Usfi mengatakan rencananya ingin pergi meninggalkan kampung halaman, dan meyusul Kakak keduanya yang berada di Kalimantan, membagi ilmu agama dan bisnisnya di sana. Semua akan dia lakukan sebagai pelarian juga mencari pengalaman baru.

__ADS_1


Berada di kampung dengan menyandang status janda rasanya tidak enak, apalagi dia masih sangat muda dengan usianya yang baru menginjak 25 tahun, masih banyak yang bisa dia lakukan selain menjadi seorang istri, masih banyak ilmu yang bisa dia tekuni.


❤️❤️❤️🙏👍❤️❤️❤️


__ADS_2