Cinta Butuh Utang

Cinta Butuh Utang
Istri Kedua


__ADS_3

Istri Kedua


Jasa Maisha bisa dikatakan sangat besar pada Sholeh di masa lalu, saat pria itu menghadapi sebuah cobaan di mana ibunya mendapatkan perlakuan kasar dari ayahnya yang melakukan kekerasan dalam rumah tangga.


Ibu Sholeh kemudian mengadukan perbuatan suaminya kepada pihak yang berwajib. Namun, karena tidak memiliki bukti yang kuat, akhirnya ayah Soleh justru mengadukan istrinya itu dengan tuduhan pencemaran nama baik, hingga kemudian ibunya pun dipenjara.


Maisya adalah sahabat baik dari Ima istri Soleh, mereka baru saja menikah kala itu. Meskipun, usia yang terpaut cukup jauh antara Ima dan Maisha tapi, mereka berteman seperti layaknya seorang saudara.


Maisha adalah orang yang memiliki kemampuan finansial yang bagus, dan dia memiliki banyak kenalan seorang pengacara dan polisi, yang bisa membantu ibu Sholeh lepas dari jeratan hukum yang mengekangnya.


Persahabatan antara Maisha dan Ima itulah yang menjadi dasar kemauannya membantu dengan Cuma-Cuma. Dia memberikan pengacara yang, bisa membebaskan ibu Soleh dari penjara.


Walaupun sekarang ibu Soleh sudah tiada tetapi, Meisha tetap menggunakan balas budi itu sebagai alat. Dia berpikir jika tidak menggunakannya, maka, Uafi kemungkinan besar akan menolak keinginannya untuk, menjadi istri kedua suaminya.


Suara telepon dari dalam tas, membuyarkan lamunan Usfi dan dia langsung mengambil benda canggih itu, seraya berkata, “Iya, nggak apa-apa, Mbak! Saya ngerti kok, semoga apa yang sudah saya lakukan ini, jadi amal ibadah dan bakti pada Abah dan Ambuk!”


Dia melihat pada layar ponselnya dan kemudian melihat pada masa sekilas.


“Mbak, ini Noura yang telepon!”


“Ya, sudah diterima saja!”


“Halo, Noura, assalamualaikum!”


Setelah mengucapkan salam itu usbi terdiam dan mendengarkan seseorang yang berkata dari balik ponselnya.


“Ya, ya, mungkin bisa kalau Tante sempat ya? Jangan lupa ingatkan lagi!”

__ADS_1


Setelah mengucapkan salam USB pun kembali menutup ponsel dan menyimpannya ke dalam tas.


“Kenapa Noura, Fi?”


“Ada rapat orang tua murid katanya Mbak besok, dia bilang kalau misalnya papanya nggak bisa ya dia minta tolong saya untuk mewakili Mbak yang lagi sakit!”


“Kamu bisa, kan, Fi?”


“Ya, kalau saya nggak sibuk, Mbak. Udah hampir sepuluh hari saya nggak datang ke pos.”


“Oh, ya sudah ... kalau sempat saja, aku minta tolong lagi sama kamu, ya, Fi ... titip Noura, buat rapat besok!”


Uafi menyanggupi permintaan Noura kalau memang dia bisa. Setelah itu dia pamit pulang, karena saudara Maisha yang akan menjaga dan membantunya di rumah sakit sudah datang.


Gadis itu datang ke pos tempat kerjanya setelah makan siang, para pekerja juga baru selesai makan siang di tempat itu, secara prasmanan yang memang disediakan sejak Usfi menjadi bos-nya.


Gani yang melihat hal itu, pun menjadi lega setelah melihat jika gadis itu baik-baik saja, setelah pulang dari rumah sakit.


“Iya, sakit typus dia, harus banyak istirahat dan nggak boleh banyak gerak!” sahut Usfi, sedangkan yang lain tidak berani bertanya dan hanya menyimak percakapan mereka saja.


Usfi memang bos di sana dan usianya masih muda, sedangkan para pekerja kebanyakan adalah orang yang lebih tua tapi, dia tetap menjaga kesopanan serta cukup berwibawa.


“Oh, Bu Usfi dari sana?” tanya Leni lagi.


“Iya, kenapa, gitu?”


“Akh, nggak Cuma heran saja sama Bu Usfi, bisa akur sama madunya, biasanya kan antara intri kedua dan pertama suka gak akur!”

__ADS_1


Usfi tersenyum, semua dia lakukan demi menjaga harga diri suami dan kedua orang tuanya, apalagi Meisya orang yang baik dan menerima diri apa adanya.


“Saya bukan pelakor Bu ... jadi, untuk apa bertengkar untuk merebut suami orang? Pak Anwar tetap menjadi milik Mbak Mai dan anak-anaknya, apalagi saya hidup tidak mau mencari musuh, buat apa bertengkar, yang akan menghabiskan energi.”


“Pertengkaran biasanya diawali dengan amarah, dan kemarahan itu membawa energi negatif pada semua orang, Bu. Makanya nabi kita melarang kita untuk marah.” Usfi berkata dengan suara cukup keras agar didengar oleh semua orang dan, bukan hanya Minan saja yang kebetulan saat itu bertanya.


“Iya ya, Bu!”


“Ya! Kalau kita terus emosi dan marah-marah itu susah mau bahagianya, Bu ...bisa jadi penyakit. Jadi, lebih baik bahagia, kan, Bu? Jalani semua yang sudah menjadi takdir kita dengan baik ... tapi, sesudah ikhtiar tentunya!”


“Apa Bu Usfi nggak cemburu gitu, lihat Pak Anwar sama Mbak Maisha dan keluarganya kalau lagi bersama? Kan, enakan jadi istri pertama!”


“Lebih enak mana, Bu ... jadi istri kedua tapi diutamakan, dari pada jadi istri pertama tapi diduakan!”


Usfi tertawa setelah itu, semua orang yang mendengar pun tersenyum kecut.


“Saya tahu, Bu ... Kenyataan kalau kehidupan syariat berpoligami di masyarakat memang di pandang sebelah mata, biasanya itu karena oknum pelakunya, Bu. Mereka memaksakan diri meskipun sadar tidak mampu berbuat adil. Hal inilah yang membuat banyaknya ketimpangan dalam kehidupan seperti saya ... aturan ini sebenarnya bisa membawa maslahat, tapi, terlihat aneh ya, Bu?”


“Iya, Bu.” Lagi-lagi Minan hanya bisa mengangguk.


“Mau akur atau tidak, mau menerima atau tidak, itu pilihan setiap orang, Bu ... tapi, saya milih yang aman-aman saja, Bu. Menjaga nama baik orang tua dan suami juga, pahala di sisi Allah itu bukan dilihat dari istri ke berapa, tapi dari kualitas keimanannya.”


“Wah, iya juga, Bu Usfi ... Saya jadi ingat, semua rukun ibadah haji dan umroh di Ka’bah saja, kebanyakan di ambil dari peristiwa yang dialami istri Nabi Ibrahim yang kedua, Situ Hajar, kan?” tiba-tiba Gani menyela pembicaraan mereka, membuat Uafi tersenyum manis, karena laki-laki itu, secara tidak langsung sudah menolongnya berbicara di hadapan ibu-ibu semua.


“Ini, membuktikan bahwa ajaran agama kita itu adil, karena berasal dari Allah yang Maha Adil!”


Usfi pun mengakhiri obrolan, karena dia kembali ke mejanya untuk memeriksa pembukuan yang, ditulis oleh Joko sebagai orang kepercayaannya. Dia punya pekerjaan lebih banyak, karena sudah ditinggalkan selama beberapa hari lamanya.

__ADS_1


❤️pesan author❤️


“Saya hanya mengingatkan sekali lagi, kalau novel ini ditulis dari sisi berbeda yaitu istri kedua/atau yang sering diistilahkan dengan pelakor. Saya pernah menulis kisah poligami tentang istri ke satu di novel pertama, saya tidak memaksa untuk menyukainya, kalau memang ada yang tidak setuju, tulis di kolom komentar, terima kasih!”


__ADS_2