
Pas! Tidak Salah Pilih
“Aku lagi libur sholatnya, Bang. Nanti aku ke sini lagi, tempat Mas Anwar sudah dekat kok, tuh kelihatan dari sini!” kata Usfi sambil menunjukkan sebuah tempat.
Gani mengangguk sambil melihat jam di pergelangan tangan dan turun dari mobil untuk mengambil air wudhu, masih ada waktu beberapa menit lagi sebelum melakukan kewajiban itu, hingga dia tidak perlu terburu-buru. Sementara Usfi kembali menjalankan mobilnya guna mencari makan siang. Dia lebih memilih menikmati makan siang di pelataran masjid yang tenang dan, memang disediakan tempat lesehan untuk para musafir yang lalu lalang.
Usfi menyimpan makan siangnya di salah satu gazebo yang ada di pelataran masjid, ada dua kotak makan siang, dua botol air mineral dan dua macam camilan manis. Dia membuka kotak makanan itu, setelah Gani keluar dari masjid karena sudah selesai melaksanakan sholat berjamaah.
“Aku pesan makanan ini, Bang. Suka nggak? Soalnya aku belum tahu kesukaan Abang!” tanya Usfi sambil menyerahkan sendok pada Gani.
“Ya, aku makan apa yang kamu makan, insyaallah aku nggak cerewet kalau soal makan, aku cerewet cuman soal kamu, Fi!”
“Hmm ... gitu, ya?” Usfi menyahut sambil mnyendok nasi ke mulutnya.
“Ya! Gitu!”
“Makanya kamu pas, Bang! Aku nggak salah pilih, pasti Abang cerewet buat ngomong sama Mas Anwar!”
Gani melihat Usfi yang terus mengunyah dengan tatapan intens, dia sedikit kesal, tapi, tidak tahu harus berbuat apalagi dengan gadis itu, ingin di cium pun sekarang mereka tengah berada di tempat umum.
Akhirnya dia hanya bisa mengikuti istrinya, tanpa penolakan sama sekali, bahkan saat diajak berjalan kaki, menyusuri jalanan sambil bergandengan tangan. Sudah lama sekali Gani maupun Usfi tidak berjalan seperti itu dengan pasangan mereka masing-masing, hingga mereka seperti baru pertama kali melakukannya. Walaupun bukan hal baru, tapi, tetap saja mendebarkan, bagai orang yang baru pacaran.
Sesampainya di pos sayuran, tampak ramai sekali oleh para petani atau tengkulak sayur yang menyetor barang mereka. Usfi menghentikan langkah sambil mencari keberadaan Anwar. Dia melihat pria itu masih duduk santai sambil menatap layar ponselnya, karena sudah ada dua orang asisten yang, mengerjakan semua tugasnya. Tugas itu yang biasa dikerjakan Usfi dulu saat masih bekerja di pos miliknya.
“Mas! Aku mau bicara!” Usfi berkata tanpa basa-basi, setelah berdiri tepat di hadapan Anwar tanpa melepas genggamannya dari pergelangan tangan Gani.
Anwar mendongak, dia tercengang karena tidak menyangka akan melihat Usfi kembali di tempat itu, setelah sekian tahun lamanya. Dia pun melihat kedua tangan Gani dan mantan istrinya yang saling berpegangan, membuatnya tersenyum dan memalingkan muka seperti meremehkan diri sendiri.
“Jadi, dia yang sudah melamarmu, Fi? Hah!” tanya Anwar sambil berdiri, laki-laki itu pun bicara tanpa basa basi, dia melihat Gani dari ujung rambut sampai ujung kaki, “Apa yang mau kalian bicarakan? Soal anakku? Sudahlah, kamu nggak punya hak mengaturku!”
Sontak saja, bentakan Anwar itu membuat atensi beberapa orang yang berada di sekitar beralih pada mereka yang, dengan jelas terlihat beradu ketegangan.
“Aku memang nggak berhak sebagai orang yang bukan keluargamu, Mas! Tapi, aku berhak karena anak-anak! Aku berhak mengingatkan sebagai sesama muslim! Mbak Mai pernah menitipkan anaknya padaku, makanya aku ke sini mau bicara langsung, kamu harus mengurus mereka dan jangan percaya begitu saja dengan Marini, Mas!”
“Apa salahnya Marini? Dan, kalau kamu memang pernah di amanahi sama Maisha soal anak-anak, kenapa kamu minta cerai dariku, Fi?”
“Mas, jangan mengungkit masa lalu, kalau soal alasanku waktu itu sudah jelas! Aku cuman datang untuk mengingatkan soal anak-anak! Bukan membahas perceraian!”
__ADS_1
Sementara dua orang itu berbicara, Gani masih diam di samping Usfi, untuk melihat bagaimana perkembangan masalah mereka.
“Jadi, mau kamu apa? Aku sibuk!” Akhirnya Anwar mulai mengendurkan hati dan mencari celah agar masalah segera selesai. Dia enggan membicarakan anak-anak dengan Usfi di tempat itu.
Padahal maksud Usfi yang sengaja menemui Anwar di sana adalah untuk, menekan laki-laki itu agar segera menyelesaikan masalah, apalagi memang mereka tidak memiliki banyak waktu dan mereka akan kembali ke Kalimantan dalam waktu dekat.
“Kamu sibuk, Mas? Dari tadi aku lihat kamu cuman main hp di sini, sudah ada asisten yang mengerjakan semuanya! Jadi, bukankah kamu lebih baik menemani dan menghabiskan waktu dengan anak-anak? Tahu nggak, mereka sering pergi kalau kamu nggak ada di rumah, Mas! Soalnya mereka kena marah terus!”
“Tahu dari mana kamu?”
“Aku lihat dan tahu sendiri, soalnya mereka ada di rumah aku sekarang!”
“Apa?”
“Ya! Mereka ada di rumah aku, Mas! Kalau Mas nggak mau berubah, aku mau bawa mereka ke Kalimantan!”
“Apa?” tanya Gani lirih dekat kepala Usfi. Kali ini Gani yang terkejut, dia tidak bisa mencerna ke mana arah pembicaraan Usfi sebenarnya. Namun, dia tidak ikut campur selama Usfi belum membutuhkan dukungannya.
“Hai! Jangan macam-macam, dia anak-anakku, bukan urusanmu lagi, Usfi!”
“Kalau memang kamu merasa mereka anak-anak adalah urusanmu, makanya bersikaplah sebagai orang tuanya, Mas! Orang tua bukan berarti orang yang tua umurnya saja, tapi, orang yang memang lebih dewasa dan layak dituakan oleh anak-anaknya! Mereka butuh perhatian dan aku serius mau bawa mereka ke Kalimantan, aku sudah punya suami dan bisa adopsi mereka semuanya!”
“Cukup, Pak. Saya melihat anak-anak Pak Anwar di rumah Usfi, dan itu benar ... mereka masih menangis waktu istri saya datang! Jadi, kalau Bapak memang mau berubah, kami tidak akan mengadopsi mereka, tapi kalau tidak ada perubahan apa pun dan Anda masih percaya dengan istri Anda itu, saya sendiri yang akan mengambil tindakannya!”
Setelah berkata seperti itu, Gani hendak melangkah, saat Usfi kembali berbalik pada Anwar.
“Ingat, Mas! Aku memang bukan bagian dari keluargamu, tapi aku, pernah menjadi ibu sambung bagi mereka, aku sudah memberikan rumah pemberianmu pada Noura sebagai kasih sayangku padanya, jadi aku melakukan ini murni karena menyayangi mereka seperti anakku sendiri! Jadi, kalau Mas Anwar tidak mau peduli dengan mereka lagi, aku siap menjadi ibu angkatnya!”
“Memangnya kalian bisa menjamin kehidupan anak-anakku? Siapa kalian berani menantangku?”
Gani yang memunggungi Anwar, seketika berbalik dan mengeluarkan dompetnya, lalu memberikan satu kartu nama padanya.
“Anda bisa hubungi saya kapan saja, lewat nomor yang ada di kartu ini!” kata Gani tegas.
Tindakan itu pun membuat Usfi mengerutkan alisnya sambil tersenyum, sedangkan Anwar melihat kartu nama itu dengan tatapan datar, dia sedikit meremehkan Gani, tapi dari kartu nama itu, jelas apa dan bagaimana kedudukannya yang pasti, mampu kalau untuk membiayai hidup dan menyekolahkan ketiga anaknya.
Setelah Gani memasukkan dompetnya kembali ke saku celana, Usfi segera menarik tangannya dan bergelayut manja sambil berjalan meninggalkan Pos. Dia berpikir positif kalau usahanya demi anak-anak akan berhasil dan, dia tidak perlu khawatir pada Noura dan adik-adiknya lagi.
__ADS_1
“Bang, kita nginap di hotel saja malam ini, aku capek kalau harus bolak balik bawa mobil!”
“Pulang saja, biar aku kali ini yang bawa mobilnya!”
Usfi tercengang, dia pikir Gani hanya petani sawit dan pria itu memang belum bercerita banyak tentang dirinya, dia tahu Gani sudah bercerai pun dari Ami. Namun, hal itu pula yang membuat gadis itu kesal, dia melepaskan pegangan tangannya dan menatap Gani sambil cemberut.
“Jadi, Abang bisa bawa mobil? Kenapa dari tadi Aku yang nyetir, Abang diam saja? Dasar!” katanya sambil mencubit lengan Gani.
Gani meringis sambil mengusap-usap bekas cubitan Usfi yang terasa panas, dan berkata, “Kan kamu juga yang nggak minta!”
“Nggak peka!”
“Siapa yang nggak peka, kamu tuh nuduh sembarangan lagi, aku cuman mau lihat selihai apa kamu bawa mobilnya, On!”
Cup!
Tiba-tiba Usfi mencium bibir Gani, membuat pria itu salah tingkah, karena mereka masih ada di tempat umum walaupun, tidak banyak orang, dan hanya kendaraan di jalanan yang lalu lalang menemani mereka, tapi tetap saja malu jadinya.
“Kamu ini, cium-cium di tempat umum, malu! Tahu?”
“Malu ya, Bang di cium, apa karena aku nggak cantik?”
“Bukan itu alasannya, On! Tap—“
Cup!
Gani belum sempat melanjutkan ucapannya saat Usfi kembali membungkam bibirnya, dengan ciuman singkat. Wajahnya merona dan dia kini mengerti jika Usfi akan bertindak seperti tadi, kalau dirinya memanggil Oon pada sang istri.
“Ya, ya, aku nggak mau manggil kamu O—pokoknya yang itulah!”
Usfi tertawa lebar, tapi ditutupi dengan kerudungnya dan dia berkata, “Awas kalau panggil aku Oon, pasti aku akan cium Abang di mana pun! Nggak peduli pokonya!”
Saat itu, mereka sudah kembali di pelataran masjid, di mana kendaraan mereka terparkir.
“Terus, kita sekarang ... Jadi pulang, kan?”
“Ke hotel saja, Bang!”
__ADS_1
Gani yang sudah hendak membuka pintu mobil, pun menoleh pada istrinya, dengan tatapan kesal, sepertinya, perdebatan antara dua orang itu akan kembali di mulai.
❤️❤️❤️👍🙏❤️❤️❤️