Cinta Butuh Utang

Cinta Butuh Utang
Ada Anak Di Antara Kita


__ADS_3

Ada Anak Di Antara Kita


 


 


“Aku nggak mau, nanti Azam lama nunggunya, kasian!” Gani menolak ajakan Usfi, membuat gadis itu cemberut.


“Sepertinya nanti di antara kita pasti ada alasan demi anak, iya nggak sih, Bang?”


“Iya, karena memang sudah ada anak. Apa kamu nggak mikir itu waktu ngajak nikah? Kalau aku mikir banget ... waktu tahu kamu udah sendiri, jujur aku juga mau kamu jadi istriku, tapi aku nggak gegabah, sudah ada Azam di sampingku, aku nggak tahu kamu nanti bisa menerima dia apa nggak. Eh, kamu langsung saja ma—“


“Oh, jadi ceritanya kamu menyesal, Bang?”


Gani berusaha memosisikan dirinya sebagai suami yang baik, dia sedikit heran dengan dirinya sendiri karena selalu saja tidak dewasa saat berhadapan dengan Usfi. Dia cenderung menjadi kekanakan sejak dulu dan senang mencandai gadis itu, intinya, dia bisa jadi dirinya sendiri saat bersama Usfi.


Gani menutup pintu mobil, lalu, merengkuh bahu istrinya, sambil berjalan ke teras masjid dan, duduk di sana.


“Bukan begitu ...” kata Gani setelah dia dan Usfi duduk saling berhadapan.


“Dengar ... aku nggak menyesal melamarmu dan sekarang kita sudah menjadi suami istri, tapi, kita belum bicara dari hati-ke hati. Aku cuman ngajak memikirkan masa depan kita mulai sekarang. Kamu tahu, kan? Aku sudah punya Azam karena anak itu memang tanggung jawabku, sesuai syariat sebagai ayahnya ....” Gani berhenti sesaat untuk mengambil napas, sementara Usfi masih diam mendengarkan. Mereka memang belum pernah bicara secara baik-baik sejak perpisahan mereka empat tahun yang lalu.


“Yaa .... aku yakin, kamu bukan wanita yang tega menyakiti anak-anak hanya karena bukan darah dagingmu, buktinya kamu berhasil membimbing banyak anak di sekolahmu sampai berhasil, itu luar biasa dan aku kagum padamu!” Gani berkata sambil mencolek kecil hidung Usfi.


“Apa yang Abang kasih ke Mas Anwar tadi? Kartu nama? Coba aku lihat!”


“Nggak ada lagi, cuman satu itu yang masih ada di dompet tadi! Buat apa kamu mau lihat?”


“Ya mau tahu aja kerjaan Abang sekarang apa?”


“Kerjaanku sekarang jadi suamimu, itu pekerjaan terberat bagi laki-laki!”

__ADS_1


“Eh, mana ada kerjaan jadi suami, Bang?”


“Lalu, apa? Cuma status, apa sebuah status nggak butuh konsekuensi dan tanggung jawab? Apa tanggung jawab nggak menuntut sebuah upaya? Terus, upaya suami itu apa namanya kalau bukan kerja?  Nah, jadi suami itu sebenarnya pekerjaan terberat bagi laki-laki, Fi! Tanggung jawab dunia akhirat ... tahu kan, kerjaannya apa?”


“Apa?”


“Sesuai surat At Tahrim ayat 6, kerjaan suami itu menjaga diri dan keluarganya dari api neraka, yang bahan bakarnya manusia dan batu, bayangkan saja kita jadi bahan bakar di sana, bagi Allah manusia yang ada di neraka itu derajatnya sama rendah dengan batu!”


Usfi kembali diam, hal itulah yang dia sukai dari Gani selama ini, di balik sikap konyol dan apa adanya, suaminya itu selalu menampakkan sisi lain yang membuatnya kagum. Dia terlihat biasa saja, tidak religius atau alim, tapi banyak sekali amalan sunah nabi yang dia terapkan dalam kesehariannya, tanpa banyak bicara.


Gani meraih tangan Usfi dan menuntunnya masuk ke mobil, setelah itu dia pun duduk di belakang kemudi.


“Kapan-kapan lagi kita ke hotel, kamu bisa nginep di sana tanpa harus bayar, sepuas kamu mau berapa malam, asal jangan lama-lama!” kata Gani, sambil memutar kemudi mobil Usfi keluar pelataran, setelah berinfak di kotak amal parkir masjid itu dalam jumlah yang tidak sedikit.


“Hotel yang dulu aku pernah lihat Azam, bukan?”


“Ya!”


Dia mengatakan secara jujur dari awal dia pergi meninggalkan kampung halaman dan rasa sakit hatinya pada Usfi, tapi, justru mempunyai utang setelah menikah dengan Asma. Lalu, dia pun mengalami perpisahan dengan istrinya yang dulu, karena terpaksa, padahal dia ingin hidup rukun seperti Emak Bapaknya yang terpisah hanya karena usia.


Setelah mengakhiri semuanya, dia memutuskan untuk membantu Algizali bertani kelapa sawit sekaligus menata hati. Lalu, atas kehendak Allah dia bertemu sahabatnya, Andi, yang kemudian memintanya menjadi asisten untuk mengelola hotel dan restorannya sampai sekarang.


“Maaf ya, Bang. Aku nggak tahu, soalnya Abang ngeledek terus jadi nggak keliatan kalau suka sama aku!”


“Ya! Aku juga minta maaf kalau dulu aku begitu, sebenarnya itu cuman alasanku aja biar bisa ngomong terus sama kamu, tapi kamu nggak peka!”


“Bang! Biasanya kalau laki-laki suka sama perempuan itu justru menunjukkan perasaannya dengan ngasih perhatian, ngasih pujian, mana ada kayak Abang begini, justru bikin sakit hati?”


“Loh, kan aku justru jaga hati, dari pada sok dekat ngasih perhatian ke perempuan yang belum halal terus kebablasan melakukan perzinahan, dengan alasan saling sayang!”


“Iya, iya, caranya Abang memang aneh!”

__ADS_1


“Itu kamu tahu!”


“Jadi ... kita mau tinggal bersama atau nggak nanti, Bang?”


“Terserah kamu, aku punya apartemen sendiri, kalau kamu mau tinggal bareng aku ya ayo! Aku senang, tapi kalau kamu masih belum ikhlas ninggalin sekolah yang sudah kamu dirikan dengan susah payah, yaa ... Aku ngerti, nggak masalah kalau kamu masih mau tinggal sama Kang Edi! Aku bisa ke sana kapan-kapan!”


Usfi diam, dia menarik napas dalam-dalam, pada akhirnya di antara mereka harus ada yang mau mengalah, karena pada dasarnya seperti itulah sebuah ikatan suami istri, yang hanya akan berjalan lancar kalau ada pengertian di dalamnya. Pernikahan bukan tentang siapa yang paling mencintai tapi, sedalam apa dua pasangan saling menghargai.


Seandainya dia memaksa agar Gani tinggal bersamanya sedangkan dia masih menumpang di rumah Edi, rasanya tidak mungkin. Oleh karena itu dia harus segera membereskan masalah, melatih Aisi atau Ahmad untuk menjadi kepala sekolah, menggantikan dirinya. Sementara dia tetap menjadi pemilik yayasan sesuai akta notaris yang tidak bisa dirubah begitu saja, lalu, memantapkan hati untuk sepenuhnya berbakti pada suaminya.


Sesampainya di rumah Sholeh, hari sudah sore dan, suasana rumah itu kembali ramai oleh beberapa orang ibu-ibu yang tampak mengobrol dengan Ima dan Dedah di ruang tamu. Saat mereka melihat Usfi yang datang sendirian, mereka pun mengalami keheranan.


“Loh, kok kamu sendiri, Fi? Mana Gani?” tanya Ima setelah Usfi mendekati dan menyalami semua tamu satu persatu, dia pun heran, banyak kado warna-warni tersusun dengan rapi di atas meja dekat televisi.


“Bang Gani pulang, Ambuk ..., bawa mobil Usfi. Mau jemput Azam dulu baru ke sini.” Usfi menyahut sambil duduk di salah satu kursi kosong di antara para tamu.


Para tamu itu mengucapkan doa selamat dan memohon keberkatan baginya, sebagai pengantin baru. Usfi mengamini semua doa itu dengan penuh rasa syukur.


“Oh, dikirain nggak mau ke sini, soalnya nanti malam mau Kenduri syukuran sudah ada akad nikah lagi di rumah ini, Teh Asih juga datang, tuh, dengar kamu nikah!”


“Oh ya?” Usfi langsung pergi mencari salah satu kakak ipar yang baginya paling Sholehah dan paling dekat dengannya, di antara para menantu ayahnya. Keempat kakak Usfi semuanya laki-laki, dialah satu-satunya anak perempuan dari pasangan Sholeh dan Ima.


Sesampainya di dapur, dia mendapati perempuan bercadar itu tengah memasak untuk keluarganya.


“Teh Asih!” kata Usfi menyapa sambil memeluk kakak iparnya itu dari belakang.


 


❤️❤️❤️🙏👍❤️❤️❤️


 

__ADS_1


 


__ADS_2