Cinta Butuh Utang

Cinta Butuh Utang
Antara Aku Kau Dan Dia


__ADS_3

Antara Aku Kau Dan Dia 1


Tiba-tiba sebuah mobil terparkir di depan halaman rumah, saat keharuan antara ayah dan anak melepas rindu. Dari dalam mobil itu, Asma turun bersama seorang laki-laki.


“Buk! Siapa laki-laki itu?” tanya Gani pada Lilis yang terlibat cemas.


“Dia ....”


“Dia siapa, Buk?” Gani mengulangi pertanyaannya karena Lilis ragu-ragu menjawab.


“Assalamu’alaikum!—“ kata Asma saat memasuki pintu rumah, seraya terkejut melihat keberadaan Gani, yang sedang menggendong Azam—anaknya, sambil menatap dengan tatapan tajam ke arahnya.


Gani, Lilis dan Adit menjawab salam secara bersamaan.


Lilis merasa terselamatkan dengan kedatangan Asma, hingga dia tidak perlu menjawab pertanyaan Gani.


“Bang Gani?” kata Asma, setengah gugup dan langsung menghampiri sambil menjabat tangan suaminya itu, senyumnya sedikit ragu. Setelah itu, dia membawa Azam dalam gendongannya.


“Kapan Bang Gani sampai?” tanya Asma.


“Belum lama.”

__ADS_1


“Oh.”


Sementara seorang pria yang cukup tampan, dengan pakaian dan wajah yang jauh lebih baik dari Gani, berdiri mematung di pintu. Tatapan tajam mereka sempat beradu sejenak.


Suasana canggung pun seketika terjadi dalam ruangan itu.


Tak lama setelah itu, Asma meminta Adit untuk membawa Azam masuk ke kamarnya dan memberinya mainan, adik ipar Gani itu sepertinya cukup pengertian, memberi ruang kepada orang dewasa yang ada di sekitarnya untuk berbicara satu sama lain tanpa harus diganggu dengan kelincahan si kecil.


Sementara Lilis masuk ke dapur dengan membawa kantong belanjaannya yang tadi dibiarkan begitu saja.


Asma kemudian mengenalkan Gani—suaminya, pada rekan kerjanya yang bernama Nara. Dia menceritakan pekerjaan yang mengharuskan mereka pergi berdua, dengan antusias.


Tentu saja mereka sering bersama menghadapi berbagai masalah yang, ditugaskan atasan mereka. Inti dari pembicaraan itu adalah agar Gani tidak mencurigai kebersamaan Asma dan Nara, dalam artian yang berbeda.


Asma sangat bersyukur memiliki teman seperti Nara, yang bisa membuatnya bekerja dengan posisi yang bagus, dan gaji yang lumayan besar pula.


Semua orang juga tahu, baik di dunia nyata maupun, dunia pernovelan, selalu ada persaingan yang ketat. Tidak mudah untuk dapat posisi bagus di zaman modern yang serba canggih ini. Apalagi wanita yang hanya lulusan SMA seperti Asma.


“Jadi, begitu Bang. Kalau bukan karena Nara, mungkin aku tidak bisa mendapatkan pekerjaan ini!” kata Asma.


“Aku kerja sungguh-sungguh di sini, Bang! Sebab Tuhan nggak akan merubah suatu kaum kalau kaum itu tidak mau merubahnya sendiri, jadi salah satu maksud aku kerja keras begini, biar bisa berubah, Bang! Nggak gitu-gitu saja, nasib kita!”

__ADS_1


Gani menarik napas dalam, sebagai suami dan laki-laki yang harus bertanggungjawab pada keluarganya, dia merasa tersinggung dengan ucapan Asma yang jelas sangat menyudutkan dirinya.


“Ya, ya aku mengerti!” sahut Gani, setelah Asma selesai menceritakan bagaimana keletihannya dalam mencari nafkah untuk keluarga.


“Alhamdulillah kalau Abang mengerti, jadi jangan salah sangka kalau selama Abang di sini, aku sering di antar jemput sama Nara!” Asma berkata lagi, dia terus meyakinkan Gani untuk memahami sikap dan pekerjaannya.


“Sebenarnya, dari tadi kamu ngomong seolah-olah aku menuduh kalian memiliki hubungan, padahal aku nggak ngomong apa-apa soal kalian, kan?”


“Ya, siapa tahu Abang cemburu, lihat kami berdua, makanya, sebelum terjadi kesalah pahaman, maka lebih baik kami mengatakan secara jujur tentang pekerjaan kami ini!” kata Nara ikut berbicara setelah sekian lama hanya diam.


“Aku tidak menuduh kalian seperti itu, atau memang kalian yang sudah memiliki hubungan lain, makanya buru-buru memberi penjelasan padahal, aku sama sekali tidak berpikir buruk soal kalian?” kata Gani.


“Ya, soalnya tadi, Abang liatin aku kayak marah gitu!” Asma kembali membela diri.


“Asma, aku suamimu yang juga punya tanggung jawab, kamu ini amanah dari bapak ... selama tiga bulan ini kita berjauhan dan sekarang aku lihat kamu sama laki-laki lain ... kalau aku heran, aku cemburu, itu wajar, kan, aku suamimu! Aku sayang sama kamu, nggak mau terjadi apa-apa sama kamu, Asma, tapi aku tidak berpikir buruk sejauh itu!” Gani menjelaskan dirinya agar bisa saling memahami dan menerima kenyataan yang ada pada perasaan masing-masing.


“Iya, iya, Bang. Maaf ...” kata Nara, dia merasa tidak enak kalau dikira ikut campur urusan rumah tangga teman masa kecilnya itu, hingga kemudian dia pamit undur diri. Walaupun, dia masih ingin bersama wanita yang telah membuatnya nyaman selama tiga bulan ini.


“Apa kamu setiap hari selalu bareng sama Nara selama tiga bulan ini?” tanya Gani masih belum beranjak dan merubah posisi duduknya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2