
Siapa Pria Itu
“Wah, Gani, kamu di sini?”
Sapaan seorang wanita paruh baya di belakangnya, membuat Gani terkejut, saat dia berdiri di depan sebuah rumah khas pedesaan yang tampak baru di cat dan di perbaiki.
Pria yang hanya membawa tas ransel lusuh itu menoleh dan segera menyalami wanita yang berjalan masuk rumah, sambil membawa kantong keresek, dengan khidmat. Dia adalah Lilis—ibu mertuanya.
“Apa kabar, Buk?” kata Gani ramah dan sopan.
“Baik. Alhamdulillah, kamu gimana? Kok nggak ngasih tahu dulu kalau mau ke sini?” suara Lilis terdengar gugup dan terkejut, karena Gani datang secara tiba-tiba seperti ada sesuatu yang dia tutupi.
“Baik, Buk. Alhamdulillah. Asma dan Azam mana, Buk?” Gani menanyakan keberadaan anak dan istrinya sambil duduk di ruang tamu, setelah dipersilahkan oleh Lilis. Dia tidak melihat kedua orang kesayangannya itu.
“Asma belum pulang kerja, dan Azam tadi di ajak sama Adit jalan-jalan, Ibu tadi baru saja pulang dari warung.” Lilis menjelaskan keberadaan keluarganya satu persatu.
Gani mengangguk-angguk sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah itu, padahal dia sangat merindukan anak laki-lakinya yang, sekarang dibawa oleh Adit, adik ipar Gani.
“Ini sudah sore loh, Buk. Masa Asma belum pulang? Sebentar lagi magrib!”
__ADS_1
“Memang seperti ini setiap hari ... dia biasa pulang malam, karena lembur, uangnya lumayan!”
“Apa Ibu bilang biasa pulang malam setiap hari?”
“Ya! Tapi kamu nggak usah khawatir, soalnya ada yang nganterin dia pakai mobil, jadi aman!”
“Oh ....” Gani berkata sambil memikirkan sesuatu, “Oh ya, katanya Ibu di sini tinggal sama Nenek?”
“Iya, ini kan rumah Ibu dulu waktu kecil sebelum diajak pergi merantau sama bapaknya Asma, tapi sekarang rumah ini seperti milik kami sendiri, Gan! Soalnya neneknya Asma sudah nggak ada sebulan, setelah kita tinggal rumah ini.”
“Oh,” kembali Gani mengangguk-angguk, dia merasa senang karena mereka bisa lebih leluasa, mengingat semua saudara Lilis yang kebetulan semuanya perempuan, sudah memiliki rumah sendiri-sendiri dan, hidup dengan mapan di daerah lain
“Buk, saya sengaja tidak mengabari Asma kalau saya mau datang ke sini, soalnya HP-nya tidak bisa di hubungi. Dia nggak ganti nomor kan, Buk?”
“Oh, soal itu, mungkin dia lupa nggak di cas! Oh iya, gimana motornya, kamu bisa jual berapa?” Lilis dengan cepat mengalihkan pembicaraan dan, dia menanyakan hasil penjualan motor peninggalann Anas, yang sudah mereka bicarakan semalam melalui telepon.
“Sudah terjual Buk ... Alhamdulillah, tapi, Cuma laku lima juta!” Gani berkata sambil mengeluarkan sebuah amplop dari dalam tasnya. Baik Lilis maupun Gani, cukup maklum kalau motor tua itu terjual dengan harga sejumlah itu.
“Ini, Buk. Semua uangnya ada di sini, kwitansinya juga, belum saya bongkar.”
__ADS_1
“Beneran, belum kamu bongkar?” kata Lilis sambil mengeluarkan isi amplop di atas meja, Gani mengangguk saat wanita itu menghitung uang dan memeriksa kwitansinya.
Semua uang masih utuh sesuai jumlah yang tertulis dalam kwitansi, membuat Lilis tersenyum puas.
“Kamu nggak mau minta bagian, kan?” kata Lilis setelah selesai menghitung.
“Ya! Semua terserah Ibu, motor itu warisan Bapak, hasil penjualan pun hak dari ahli warisnya. Kalau pun Ibu mau membaginya dengan saya, mungkin akan saya bayarkan utang saja.”
“Ibuk sudah dari awal bilang, nggak usah utang segala buat Bapak, kamu yang mau sendiri, kan, jadi kamu yang harus nanggung!”
“Iya, Buk. Saya tahu, semua utang itu atas kemauan saya sendiri, saya juga tidak mau membebani Ibu dan Asma,” kata Gani sambil bersandar dan menunggu istri dan anaknya datang.
Tak lama setelah Lilis menyimpan semua uang ke dalam kamar, Adit datang sambil menggendong Azam anak laki-lakinya. Gani pun melepas rindu pada anaknya yang baru berusia tiga bulan itu. Dia sudah tampak besar dan semakin lucu, Gani menciumi pipinya yang montok, dia melihat anak itu terakhir kali saat usianya baru menginjak satu bulan.
Tiba-tiba sebuah mobil terparkir di depan halaman rumah, saat keharuan antara ayah dan anak melepas rindu. Dari dalam mobil itu, Asma turun bersama seorang laki-laki.
“Buk! Siapa laki-laki itu?” tanya Gani pada Lilis yang terlibat cemas.
“Dia ....”
__ADS_1
Bersambung