Cinta Butuh Utang

Cinta Butuh Utang
Keputusan Yang Bagus


__ADS_3

Keputusan Yang Bagus


 


Setelah kepergian Marini, Usfi pergi ke dapur dan beberapa ruangan lain untuk mencari Gani serta Azam untuk mengabarkan berita baik tentang perubahan istri Anwar yang akan mengurus anak-anak Maisha dengan baik. Dia hanya berharap jika keinginan Marini bukan karena ancaman Anwar tapi, karena kesadaran dirinya sendiri.


Usfi sudah mengatakan apa yang memang seharusnya dia katakan tanpa perlu ikut campur lebih jauh lagi, apalagi sekarang dia sudah punya keluarga sendiri dengan Gani.


Dia bertanya pada Sholeh dan Ima, tentang keberadaan suaminya, tapi, dua orang tua itu tidak tahu.


“Siapa tamu tadi, Fi?” tanya Sholeh yang duduk di samping Ima sambil menutup Al Qur’an yang baru saja dia baca bersama istrinya itu.


Usfi mendekat dan duduk di samping, sambil memeluk tangan ayahnya.


“Dia Marini, istrinya Mas Anwar,” sahut Usfi datar, “Dia tanya soal anak-anak Mbak Mai dan makanan kesukaan mereka.”


“Loh, kenapa dia tanya soal itu sama kamu, Fi?” tanya Ima.


“Jadi, kalau Abah sama Ambuk lihat ada orang di rumah Usfi, itu sebenarnya anak-anak Mbak Mai yang kabur dari rumah dan sembunyi di sana, aku yang ngasih rumah itu buat mereka.”


“Apa, jadi rumah itu sudah kamu kasihin ke Noura?” tanya Ima.


“Iya, kenapa, Ambuk?”


“Nggaka apa, cuman heran saja, tapi, ya sudah ... itu hak kamu, mau kamu kasihin siapa pun juga!” kata Ima tak percaya.


“Kenapa kamu nggak bilang masalah ini sama Abah, mungkin Abah bisa bantu, kasian anak-anak di sana pasti ngurusin apa-apa sendiri! Apa ibu barunya itu galak?”


“Ya! Abah mungkin memang bisa bantu, tapi, masalah bukan hanya pada anak-anak saja ... sama Mas Anwar juga ... kalau soal Noura, dia sudah tahu apa yang harus dia lakukan di rumah itu. Apalagi mereka nggak pernah ada masalah kekurangan keuangan Bah. Mereka cuman butuh kasih sayang, tapi, Marini suka kasar sama mereka, jadi mereka nggak betah terus kabur kalau Papanya nggak ada.”


“Oh, jadi, ujung-ujungnya masalah kasih sayang, seperti kebanyakan mesalah poligami pada umumnya begitu!” Kata Ima.


“Iya, rumah itu dari Mas Anwar, sebagai kasih sayang Usfi untuk anak Mas Anwar juga ... Mudah-mudahan Allah akan memberi pahala sebagai gantinya jauh lebih baik dari rumah itu, Ambuk!”

__ADS_1


“Iya, siapa tahu kamu dapat rumah dari Gani jauh lebih bagus lagi!” kata Sholeh.


“Abah ... Saya nggak menuntut lebih banyak pada Bang Gani. Ada rumah Alhamdulillah tak ada rumah pun nggak masalah, kita bisa ngontrak, ambil KPR terus nyicil dari uang gaji, susah senang kami  tanggung sama-sama.”


“Iya ... itu keputusan kamu, pada dasarnya tugas orang tua adalah mengantarkan anak-anaknya agar mampu menghadapi tantangan dalam hidup dan bisa bersikap  dewasa dalam menjalani masa depannya. Apa pun yang akan kalian putuskan, sama sekali bukan hak Abah dan Ambuk untuk ikut campur. Tugas kami mendidik dan mengantarkan kamu sudah selesai, tinggal kalian sekarang yang akan menjalani, tanggung jawab sudah Abah serahkan pada Gani, dalam membimbingmu, dan kalau kamu merasa keputusan itu bagus, maka lakukanlah!”


Setelah mengobrol dengan kedua orang tuanya Usfi melanjutkan mencari suaminya. Ternyata, dua laki-laki yang kini menjadi keluarganya itu, berada di dekat kolam ikan nila. Mereka sedang duduk melihat ikan yang berenang sambil menikmati makanan yang disebar oleh Azam ke atas permukaan air.


Tidak hanya itu ternyata Gani, di sana sedang melakukan panggilan video dengan seorang wanita yang tampak di layar ponsel sedang bicara pada Azam penuh kelembutan. Uafi menduga jika wanita itu adalah mantan istri suaminya atau ibu kandung Azam.


Usfi berjalan mendekati mereka dari arah yang tidak tertangkap oleh kamera, tentu kemunculannya yang tiba-tiba, membuat Gani terkejut dan salah tingkah. Dia tersenyum tipis pada istrinya.


Tak lama, dia menyelesaikan panggilan video itu setelah mengucapkan salam dan mendoakan kebaikan untuk wanita yang terlihat pucat di layar ponsel. Sedangkan Azam terlihat melambaikan tangan pada ibunya tanpa tersenyum, lalu, kembali memainkan kayu di air kolam.


“Jadi, kita sama-sama menemui mantan, apa kamu mau balas dendam padaku, Bang?” tanya Usfi setelah Gani menyimpan telepon genggam ke dalam saku celana.


“Kamu ini ngomong apa? Nggak ada yang membuat kita harus saling balas dendam!”


“Ada, misalnya karena kemarin aku juga bertemu dengan mantan!”


Usfi diam.


“Sebenarnya, Asma sering telepon anaknya setiap pekan sekali atau dua kali, terserah dia. Aku nggak pernah memulai duluan!”


“Oh! Terus?”


“Aku cuman ngasih tahu kamu, nggak ada salahnya, kan? Kita sudah jadi keluarga, baik aku maupun kamu sama-sama punya masa lalu, bahkan kita akan hidup bersama, kalau kita nggak memulainya dengan saling jujur ... itu akan susah untuk kedepannya. Apa kamu keberatan? Kalau memang kamu keberatan aku akan ganti nomor, atau aku akan melarang dia untuk menghubungi anaknya!”


Usfi diam lagi sambil berpikir, bahwa dia tidak mungkin melarang kebiasaan suami dan anaknya, yang memang sudah ada sebelum mereka bersama.


Gani hendak mengajak Usfi, untuk berbicara secara realistis dengan apa yang dilihat dan, tidak mengedepankan perasaannya. Dia sadar betul bahwa, seorang wanita akan terus berada dalam kebengkokan dan, laki-laki yang bersamanya harus mampu berjalan dan tetap memposisikan diri dalam kebengkokan itu, tanpa mengurangi fitrah mereka masing-masing, dalam kehidupan berumah tangga.


Apalagi pengalamannya berpisah pada perkawinan sebelumnya, mengajarkan bahwa sekeras apapun dia meluruskan, itu akan sulit kecuali ikut berjalan dalam kebengkokannya.

__ADS_1


Wanita dan fitrohnya yang diistilahkan dengan bengkok, tetap akan demikian adanya. Oleh karena itulah, seorang wanita memerlukan laki-laki sebagai pimpinan agar ketika berjalan dalam kebengkokan pun dia tidak salah arah dan tidak kehilangan cahaya.


“Asma tadi telepon, dia pengen lihat Azam soalnya kangen pengen ketemu, kalau bisa aku harus ke sana, soalnya dia sakit.”


“Oh. Terus mau ke sana nggak Bang?”


“Nggak tahu, aku nggak janji apa-apa, sekarang aku sudah nikah lagi jadi nggak bisa ambil keputusan sendiri, semua harus aku omongin sama kamu, Fi!”


Usfi merasa senang karena Gani begitu menghargai posisinya sebagai istri, yang dimintai persetujuan sebelum dia mengambil sebuah keputusan. Bukankah istri bukan hanya sekedar pendamping tapi, dia adalah mitra dan juga kekasih, maka, wajar kalau seorang wanita yang sudah sah berdiri di sisi seorang laki-laki harus dihargai.


“Kalau Bang Gani memang mau mempertemukan Azzam sama ibunya, ya ... ayo Kita harus secepatnya ke sana, sebelum kita pulang ke Kalimantan!”


“Jadi, boleh nih aku ke sana?”


“Boleh, aku ikut pakai mobil aku aja nanti kita gantian bawanya, gimana?”


“Beneran, kamu nggak capek?”


“Waktu kemarin kita ke kota aja berapa jam aku bawa mobil sendiri bang? Apalagi kan kita nanti bisa gantian!”


“Ya sudah, kita perginya besok saja!”


“Ya, sudah terserah Abang! Semoga kita semua sehat dan kuat bisa sampai ke sana!”


“Aamiin.”


Gani begitu bahagia karena Usfi sangat mendukung apa yang ingin dilakukannya.


 


❤️❤️❤️🙏👍❤️❤️❤️


 

__ADS_1


 


__ADS_2