
Sebuah Solusi
Dia sudah mempercayakan sekolahnya itu kepada Ahmad tetapi laki-laki itu tidak mau dan menolak secara halus, dengan alasan jika dirinya kurang pantas. Padahal ketika Usfi mendirikan sekolah dan yayasan juga mengepalai tempat pendidikan itu, dia tidak memiliki ijazah sarjana yang memadai dan dia hanya bermodal tekad, kemampuan dan ilmu yang dia miliki.
Saat itu juga, Gani mminta Usfi menemui Ahmad untuk bicara.
“Kenalkan, saya Gani!” kata Gani, setelah Ahmad datang dan mereka mengobrol di salah satu kelas yang sudah kosong karena proses belajar mengajar sudah selesai hari ini.
“Saya kira pernah bertemu, Bapak sebelumnya tapi, saya nggak ingat di mana, ya?”
“Mungkin cuma mirip.” Gani berkata agar Ahmad tidak memperpanjang masalah pertemuan mereka.
Gani memberi saran agar menerima permintaan Usfi untuk, menjadi penanggung jawab sekolah selama istrinya itu tinggal bersamanya. Ada pun masalah biaya kuliah akan dia tanggung sepenuhnya karena baginya, membiayai pendidikan yang bermanfaat bagi banyak orang adalah sebuah amal kebaikan juga. Sementara untuk pengurus yayasan tentu masih menjadi hak Usfi sebagai pemiliknya.
“Jadi, kamu tetap bisa menabung kalau memang kamu mau menikah, kamu juga bisa mengajak istrimu bergabung dan mengajarkan bagaimana menjadi guru taman kanak-kanak padanya. Lebih baik dan lebih terhormat ketika kamu menikah, dengan menyandang gelar sarjana dari pada hanya menyandang sebagai buruh angkut kelapa sawit biasa,” kata Gani setelah dia selesai memaparkan solusinya.
“Sebuah kepantasan harus dicapai dengan usaha walaupun, semua kesuksesan tidak akan terwujud tanpa adanya dukungan dari orang lain. Jadi, lakukanlah, sebelum aku berubah pikiran.” Kata Gani.
Akhirnya Ahamad mau mengikuti solusi yang diberikan Gani, hingga Usfi merasa lega karenanya, sedangkan untuk urusan seperti pengalihan jabatan atau urusan tanam dan panen sayur Usfi masih akan terlibat di dalamnya, karena dia tentu tidak akan melepaskan yayasannya begitu saja.
Tanpa pikir panjang dan menghemat waktu, maka Usfi segera membereskan beberapa barang yang dia miliki di rumah Edi, untuk dibawanya ke apartemen. Itu pun tidak semuanya karena masih ada beberapa helai pakaian yang sengaja dia tinggalkan di sana.
Hari itu, menjadi hari yang tersibuk bagi Usfi, karena dia memutuskan untuk pindah tempat tinggal saat itu juga. Tentu saja keinginan itu membuat Edi terkejut dan pria itu langsung pulang demi mendengar kabar yang disampaikan Lia padanya.
“Kamu serius mau pindah sekarang, Di?” kata Edi, setelah tiba di rumah. Ada nada keberatan dalam suaranya, karena itu artinya dia akan kembali berjauhan dengan sanga adik yang disayanginya itu.
“Saya juga nggak nyangka, Kang, kalau Usfi mau pindah sekarang juga, biar hemat waktu, jadi, sekalian katanya!” Gani yang menyahut. Mereka sudah saling mengenal sebaliknya hingga tidak terlalu banyak basa basi setelah dua pri itu bertemu hari ini.
__ADS_1
Keputusan Usfi yang tiba-tiba, tentu saja mengejutkan Edi, karena sebelumnya gadis selalu punya keinginan agar Gani yang mengalah dan ikut dengannya. Lagi pula dia begitu kesulitan untuk mencari orang yang bisa dia percaya mengelola sekolahnya.
Namun, dia mendengar sendiri jika Gani ikut terlibat dalam menyelesaikan masalah adiknya, hingga dia bersyukur, karena adiknya menikah dengan pria yang mampu menjalankan fungsinya sebagai suami, dengan baik.
Walaupun, Edi merasa jika ada sesuatu yang menjadi pemicu, hingga adiknya begitu terburu-buru ingin segera pindah mengikuti suaminya. Namun, laki-laki itu tetap menutupi perasaan dan kecurigaannya sebab apa pun yang, melatarbelakangi keputusan Usfi, tindakannya itu tetaplah lebih baik. Dari pada mereka terpisah secara berjauhan, sementara mereka sudah sah menjadi pasangan suami istri.
$$$$$$$
Usfi mulai menikmati perannya sebagai ibu rumah tangga yang baik bagi suaminya, di sela-sela pekerjaan dan rutinitas sehari hari, dia selalu menyempatkan diri untuk mengontrol keadaan sekolah dan juga beberapa kebun sayurannya.
Setiap hari dia masih rutin meminum vitamin dan obat penyubur kandungan yang diberikan oleh dokter, tapi, dia masih mendapatkan haid setiap bulannya. Dia pernah meminta suaminya untuk mengantarnya kembali ke rumah sakit dan melakukan pemeriksaan, tapi Gani selalu menolak dengan alasan bahwa, Usfi hanya perlu bersabar sebab ikhtiar sudah mereka lakukan.
“Apa hal yang paling Abang sesali di masa lalu?” tanya Usfi suatu ketika saat mereka tengah duduk berdua menikmati makan malam di rumah.
Sejak ada istrinya, Gani rutin berangkat pagi dan, pulang di siang hari hanya untuk makan masakan Usfi begitu pun malam harinya. Dia kembali ke restoran kalau memang ada sesuatu yang harus dia bereskan, tapi kalau tidak maka, dia lebih senang menghabiskan waktunya di rumah.
“Oh.”
“Kenapa memangnya?”
“Nggak apa?”
“Ada yang kamu sesali sekarang?”
“Ada, kenapa aku menuruti keinginan Mas Anwar!”
Gani cerita saat Usfi menyebut nama laki-laki lain apalagi itu mantan suami istrinya.
__ADS_1
“Kalau kamu terus menyesali itu, kita nggak akan bahagia dan sulit untuk bersyukur, kamu belum hamil siapa tahu bukan karena hal itu, berpikirlah positif, Fi!”
“Nggak tahu aku ini kalau soal anak, rasanya belum jadi ibu yang sempirna.”
“Eh, aku tidak setuju dengan pemahaman yang mengukur kesempurnaan seorang wanita dari saat dia bisa melahirkan seorang anak bagi suaminya!”
“Tapi, kan aku iri kalau Abang ngobrol sama Azam sama Asma, aku juga pengen kita punya kedekatan seperti itu, aku juga pengen meluk anak yang lahir dari rahimku sendiri, Bang!”
“Ooooh ... jadi, soal itu? Astaghfirullah ... Sayang ....” Gani mengerti sekarang bagaimana perasaan istrinya, hingga dia mempunyai dengan erat, lalu, mencium kedua pipinya kuat-kuat.
“Ih, sakit tahu, Bang!”
Gani mengabaikan ucapan Usfi dan mengusap perut istrinya sambil berkata, “Hai, benihku yang ada di sana, kamu harus berjuang ya lebih keras ya, biar istriku ini cepat hamil ... dia pengen perutnya cepet gendut!”
“Abang!”
“Apa! Salah lagi, nih?”
“Hehe!”
Gani selama ini rutin menerima panggilan video dari anaknya sepekan sekali, melalui ponsel Asma. Azam kini sudah mulai sekolah dan tampak lebih gemuk. Dia bersyukur Asma dan Nara merawat anaknya dengan baik, meski sepanjang hari lebih banyak bersama sang nenek karena ibunya bekerja. Wanita itu sudah bisa memulai aktivitas seperti biasanya, setelah berhasil menjalani operasi pengangkatan rahim.
Dalam hati Usfi bersyukur karena Gani tidak pernah menuntut apa pun sebagai bukti cinta dan kesetiaannya. Bahkan, suaminya itu melarangnya terlalu lelah bekerja kalau ingin segera memiliki anak.
Namun, dia justru bosan kalau tidak melakukan apa-apa di rumah. Oleh karena itu dia sering mengikutinya ke restoran walaupun di sana pun dia tetap jadi pengangguran karena kerjaannya hanya berkeliling dan melihat-lihat atau lebih banyak menghabiskan waktunya di kantor.
Selain demi mengusir kebosanan, dia mengawasi Irena, agar perempuan itu tidak macam-macam dengan suaminya. Sekarang semua karyawan tahu kalau Gani sudah menikah, dan istrinya adalah wanita yang sering ikut bos mereka ke kantor. Oleh karena itu, mereka tidak berani melakukan perbuatan yang sekiranya bisa membuat nyonya Gani marah.
__ADS_1
❤️❤️❤️🙏👍❤️❤️❤️