
Jangan Cemburu
Asma dan Nara diam, karena sudah tertangkap basah. Mereka tidak menduga kalau akan ada Gani di sana, dan mereka memang menjadi semakin dekat akhir-akhir ini. Semua karena hasrat Nara yang ingin menyayangi dan melindungi. Sementara Asma memang membutuhkan kasih sayang seorang laki-laki.
Gayung pun bersambut. Apa perasaan mereka salah?
“Bang! Jangan bicara lagi, aku mau ke kantor sekarang, kerjaan belum beres, ayo! Ra,” kata Asma sambil berdiri dan menyelempangkan tasnya.
“Ayo! Semua balik kantor kalau sudah selesai!” Nara menimpali ajakan Asma sambil melirik Gani sebal.
“Asma, kamu nggak perlu balik ke kantor, ayo! Pulang bareng aku aja, aku belum selesai bicara!” Gani berkata sambil menggamit tangan Asma.
“Bang! Pulang aja sendiri, aku nggak bisa pulang sekarang.” Asma berkata sambil menepis tangan suaminya.
“Asma ....”
“Kalau Abang nggak mau pulang sendiri, dan mau ribut di sini, berarti Abang sudah bikin malu aku di depan semua temen-temen aku sekarang!”
“Kamu yang membuat malu dirimu sendiri, dan kalau aku marah itu wajar, aku suamimu, Asma, kenapa justru menyalahkan aku?”
“Ya! Terus Abang mau apa? Malu, Bang ... ini tempat umum!” Asma berkata setengah berbisik, sambil menarik tangan Gani menjauh dari kerumunan temannya.
“Dan kamu, jelas-jelas nggak malu menerima kemesraan di tempat umum, dari laki-laki lain yang bukan suamimu?”
“Oh, jadi kamu masih punya suami, Asma?” kata seseorang di antara teman Asma.
“Apa? Jadi kamu ngaku ke semua teman kamu kalau kamu nggak punya suami, Asma?” Gani semakin tidak terima dengan kelakuan istrinya.
Asma diam, wajahnya menunjukkan kepanikan. Ada aura ketegangan dalam kedai es yang tidak terlalu luas itu.
“Astagfirullah, jadi aku nggak ada harganya di hadapan kamu Asma, karena itu kamu nggak mau mengaku kalau masih bersuami? Pantas saja sejak tadi aku lihat kalian biasa aja rangkul-rangkulan begitu?”
Gani berkata sambil menggelengkan kepalanya, lalu, melangkah pergi, dia masih waras untuk membuat keributan dan, memilih pulang untuk mengadukan semua pada ibu mertuanya.
Sesampainya di rumah ibu mertuanya, Gani bersikap biasa saja, beramah tamah dengan Lilis dan adik iparnya, mengasuh Azam demi memanfaatkan waktu yang tidak banyak, karena tidak bisa setiap hari bisa bersama. Tentu saja anak itu lebih dekat dengan Lilis dan Adit, karena merekalah yang mengasuh dan menjaga Azam setiap hari, sementara ibunya harus bekerja.
__ADS_1
Setelah Azam tertidur, dan Lilis terlihat santai, barulah Gani mengatakan semua yang sudah dia lihat di dekat terminal tadi. Tak lupa dia pun mengatakan perasaannya dan, juga harapan serta rencananya untuk pulang kali ini. Dia sungguh kecewa, perasaan bahagia dan harapannya seakan dihancurkan begitu saja oleh istrinya sendiri.
“Apa mereka sering bersama, kalau saya tidak ada, Buk?” kata Gani setelah selesai bercerita.
Lilis terdiam, dia bingung apakah harus jujur atau tidak, sebab selama ini justru dia mendukung hubungan antara Nara dan Asma. Baginya, teman kerja anaknya itu lebih menjanjikan, bagi masa depan putrinya dari pada Gani.
Nara, lebih tampan dan mapan apalagi jabatan di kantor sangat mengesankan, bahkan hampir setiap bulan dia mendapatkan bonus, karena kerja keras serta dedikasi yang tinggi pada perusahaan.
“Mungkin, apa yang kamu lihat tidak seperti yang kamu sangka, Gan. Jangan berpikir buruk pada istrimu ... dia sudah bekerja keras membanting tulang untuk mencari nafkah, memenuhi kebutuhan keluarga menggantikan posisimu. Jadi jangan seenaknya menuduh sembarangan!”
Lilis tentu berpikir waras, dia tidak akan membuka penilaiannya selama ini pada Nara secara jujur pada Gani, hingga bisa menghancurkan harga diri anaknya sendiri. Kemudian dia memutuskan untuk, menutupi kedekatan hubungan antara Asma dan Nara selama ini ketika Gani tidak ada.
“Sebenarnya siapa yang menuduh sih, Buk?” Gani berkata setelah menarik nafas panjang, “Saya cuman bertannya tentang kedekatan Asma sama laki-laki itu, saya tidak bersama setiap hari ... Ibu, kan yang sering ketemu mereka? Makanya saya bertanya sama ibu!”
“Ya ... nggak ada hubungan apa-apa, kok, mereka cuman teman kantor biasa.”
“Memang, mereka cuman teman kantor, tapi kalau menurut saya sikap mereka berdua terlalu mesra kalau hanya untuk sekedar teman biasa!”
“Mungkin kamu salah lihat, Gan. Sudah sana, pergi mandi terus makan, nggak enak lihat kamu kusut begitu!”
Tak lama setelah Lilis masuk ke kamarnya, pintu ruang tamu yang terbuka setengah kini terbuka lebar, Asma masuk sambil mengucapkan salam. Namun, wajahnya cemberut.
“Abang mau sampai kapan, di sini?” katanya tiba-tiba sambil duduk di hadapan Gani dan melepas kerudungnya.
Gani menatap Asma tidak suka, dia merasa diabaikan, karena istrinya itu menunjukkan sikap tidak hormat padanya.
“Maksud kamu apa, sih? Suaminya datang bukannya disambut atau disalami, malah ditanya pertanyaan aneh gitu?”
“Memangnya bawa apa kamu pulang, Bang? Nggak bawa apa-apa, kan?” Asma berkata sambil memalingkan wajahnya.
Begitu terlukanya hati Gani mendengar ucapan istrinya yang, dengan sangat lugas menunjukkan ketidakmampuannya sebagai suami. Hal itu yang membuatnya tidak berharga di mata Asma.
Dia memang tidak membawa oleh-oleh atau makanan dan semacamnya, tapi, dia tidak membebani istrinya dengan macam-macam tuntutan. Dia tidak meminta apa pun dan tidak mengeluh atas semua tanggungan yang menjadi kewajibannya, tidak!
Namun, bila saat ini istrinya meminta sesuatu yang dia tidak mampu, maka, dia tidak menuntut istrinya untuk mengerti, dia maklum. Dan, hanya bisa bertekad merubah nasib, serta yakin suatu saat nanti pasti akan berubah.
__ADS_1
“Asma, apa maksud kamu aku nggak bawa oleh-oleh, buat kamu gitu? Maaf, maaf ... Aku memang nggak bawa apa-apa ... kamu mau apa, nanti aku beliin!”
“Dah, nggak usah! Paling juga kamu nggak punya duit, kan, Bang?”
“Maasya Allah ... Apa karena aku nggak bawa uang dan oleh-oleh, lantas kamu boleh menghina suami? Apa karena kamu sudah bekerja lantas aku gak berhak kamu hargai, gitu?”
“Ya, bukan gitu juga, sih, Bang! Habisnya aku kesel sama Abang, sudah bikin malu aku di depan umum!”
“Bikin malu gimana, Asma? Aku nggak marah-marah, nggak menghina orang lain juga, di sana! Apa yang bikin kamu malu?”
Asma terdiam, tapi, dia memang sangat malu hari ini di hadapan teman-temannya, karena kehadiran Gani.
“Abang, sih, datang-datang makan dipiring orang, aku malu sama Nara, Abang kayak orang yang nggak pernah makan enak?”
Gani mengambil napas dalam, memikirkan sikapnya tadi, dia hanya bersikap refleks saat melihat es krim di meja dan istrinya makan dalam satu wadah yang sama dengan pria yang bukan dirinya.
“Coba bayangin, kalau kamu yang ada di posisi aku, Asma! Mungkin kamu akan lebih senewen, lebih emosi dibanding aku, kalau ada perempuan lain duduk di samping aku!”
Asma kembali diam, lalu dia berdiri dengan wajah yang cemberut. Dia memang tidak bisa membayangkan jika dirinya melihat Gani bersama wanita lain.
“Ingat, Bang! Aku nggak punya hubungan apa-apa sama Nara, kami cuman berteman biasa saja. Jadi, kalau kapan-kapan Abang lihat aku sama dia jalan berdua, nggak usah cemburu!”
Asma pergi ke kamarnya untuk mengganti pakaian, saat Gani masuk dan duduk di sisi tempat tidur.
“Ya, aku tahu kita nggak bisa gegabah, kalau kamu memang nggak punya perasaan apa-apa sama laki-laki itu, tapi aku nggak bisa jamin perasaan dia sama kamu, Asma!”
“Ya nggak mungkinlah, Bang. Dia bisa jaga diri, kok?”
“Oh, gitu ... baik, kita lihat saja nanti!” Gani berkata sambil kembali berdiri dan keluar kamar, karena terdengar suara tangis Azam dari kamar Lilis.
“Dan, kalau kamu mau tahu kapan aku pulang ke kampung, aku nggak akan pulang, karena aku mau cari kerjaan di sini.”
“Apa, Bang?”
❤️❤️❤️🙏👍❤️❤️❤️
__ADS_1