
Gala Dinner Bertemu Andi
Selain Irena, memang tidak ada lagi pelayan atau pegawai wanita lain yang suka mencari perhatian Gani. Di setiap tempat, keadaan dan suasana, selalu saja ada orang-orang yang mencari kesempatan dalam kesempitan seperti itu, karena pikiran mereka pun sempit.
Sebagian pegawai mungkin menganggap remeh Usfi yang berpenampilan sederhana dan berwajah biasa, tidak secantik para istri bos pada umumnya. Namun, bagi yang sudah pernah berinteraksi dengannya, maka mereka akan menilai bahwa Usfi adalah wanita baik dan hangat. Dia pantas mendapatkan kasih sayang berlimpah dari sang atasan karena kelebihannya itu.
Usfi memang wanita yang tidak mencolok. Meskipun begitu, dia cukup menawan kalau sedikit bersolek dan sangat pantas dibanggakan untuk mendampingi suaminya.
Seperti acara malam itu, saat Andi mengundang Gani dalam acara gala dinner yang diadakan dalam rangka pertunangan sekaligus pertemuan semua manajer, direktur perusahaan yang dimilikinya dan juga mitra kerja di rumah pribadinya. Sepasang kekasih itu datang dengan pakaian berwarna senada dan menunjukkan keserasian mereta.
Andi yang tahu kabar pernikahan orang kepercayaannya melalui sambungan telepon, beberapa bulan yang lalu, kini bisa melihat sendiri wanita yang menjadi pilihan Gani. Tentu saja dia tahu bagaimana perjalanan cinta sahabatnya itu, hingga saat melihat mereka bersatu kembali tanpa adanya pihak yang disakiti, membuat pria itu tersenyum lega.
Dia memeluk dan menyalami Gani dengan eratnya.
“Selamat, akhirnya kalian bisa bersama setelah melewati cobaan yang nggak gampang!” katanya, di sela-sela acara, di mana banyak orang yang semuanya adalah kalangan atas perusahaan, berkumpul dalam satu ruangan mewah.
“Terima kasih, semua atas bantuanmu juga, kalau aku nggak kerja sama kamu, mungkin aku nggak akan pernah ketemu sama dia lagi!” sahut Gani sambil melirik istrinya yang berpenampilan sangat anggun, dengan pakaian yang dipilihnya sendiri.
“Bukan karena aku, semua karena Allah ....!” Andi kini menoleh pada Usfi, dia mulai bercerita.
“Ya! Dulu, aku datang ke perkebunan tanpa sengaja, cuma pengen ikut temanku yang mau ninjau lokasi tanahnya, ternyata justru aku dipertemukan dengan Gani, padahal aku lagi butuh orang banget waktu itu. Manager hotelku sebelumnya bermasalah dan Allah membantuku lewat suamimu!”
__ADS_1
“Alhamdulillah, takdir selalu punya cara untuk mempertemukan kita, bukan? Jadi, nggak masalah kalau kita saling mengungkapkan kebaikan orang lain walaupun, pada dasarnya kebaikan itu berasal dari Allah!” kata Usfi.
“Kamu seharusnya tahu, Fi! Dia sabar banget ngurusin anaknya sambil kerja, jarang banget ada bapak-bapak kerja kantoran sambil momong anak kayak dia, aku pikir banyak perempuan yang suka, soalnya dia tipe laki-laki idaman wanita!”
“Wah, aku tahu banget soal itu, tapi ... masih ada juga yang bisa kita syukuri sekaligus menghargai kebaikan orang lain ..., termasuk anak-anak, aku bersyukur pernah ngasuh anak Bang Gani juga, Azam memang enak diatur anaknya!”
“Ya! Istrimu benar, pada dasarnya nggak ada orang yang benar-benar berjasa dalam kehidupan seseorang, sebab tanpa campur tangan Allah maka kebaikan tidak akan pernah sampai pada kita!” kata Andi.
“Ya! Kau benar juga!” sahut Gani.
“Ayo! Nikmati makanannya!” pinta Gani sambil mempersilahkan tamu yang lainnya juga untuk menikmati pesta.
“Oke, kita nikah bulan depan! Soalnya butuh persiapan buat resepsinya. Dan aku tunggu kabar bagus dari kalian!” kata Andi lagi sambil tertawa lebar dan merangkul pinggang wanita cantik disebelahnya.
Baik Gani maupun Usfi, tahu, kabar apa yang di maksud oleh sahabat mereka itu. Seketika wajah kedua orang itu menjadi merona merah dan terasa hangat karena malu.
“Tenang saja, kita masih usaha dengan giat bikin anak kok, sampai sekarang!” ujar Gani sambil tertawa.
“Hus! Abang!” Usfi menimpali candaan suaminya.
“Haha! Sepertinya aku harus belajar banyak dari pengalaman kalian! Oh iya, Gan! Kamu benar-benar sudah maafin istrimu?” kata Andi.
__ADS_1
“Ya, kenapa nggak? Toh, semua orang punya kesalahan, aku juga, tapi, dia sekarang sudah bisa mengambil hikmah dan mengerti kesalahannya, benar kalau kita tidak seharusnya menilai orang hanya dari penampilan luarnya saja!” kata Gani dan beberapa orang di sekitar mereka pun mengangguk.
“Kak, aku doakan mudah-mudahan cepat hamil ya, Kak, tapi datang lagi nanti kalau acara pernikahan kami!” kata gadis cantik yang tampaknya keturunan Dayak, kalau dilihat dari wajah, cara bicara dan kulitnya yang putih bersih. Dia tersenyum manis pada Usfi.
“Aku beri sedikit hadiah buat kalian berdua!” kata Andi sambil memberikan kotak kecil pada Gani.
“Apa sih, An? Kamu yang pesta kok, malah kami yang dapat hadiah?”
“Ya, kan, kalian pengantin juga!” sahut Andi sambil tertawa.
Setelah di buka, ternyata kotak itu berisi sepasang jam tangan merek terkenal yang berlapis emas dan berharga fantastis. Baik Usfi maupun Gani mengucapkan terima kasih yang sangat tulus pada sahabatnya itu, disertai rasa syukur.
Sepulang dari acara gala dinner, Usfi merasakan hal yang berbeda pada tubuhnya hingga dia langsung masuk ke kamar dan merebahkan diri tanpa melepaskan atribut yang melekat di tubuhnya. Gani yang dengan telaten, melepaskan kerudung, sepatu dan kaus kaki, serta perhiasan yang dikenakannya.
Semua perhiasan yang dipakai Usfi adalah pemberian Gani setelah mereka tinggal bersama.
“Uuh!” gumam Usfi saat Gani menyelimuti sampai dada.
“Kamu kenapa?”
❤️❤️❤️👍🙏❤️❤️❤️
__ADS_1