
Masa Lalu
Juna melihat Gani, dengan tatapan tajam, dia tersinggung pada ucapan yang seolah merendahkan.
“Gak ada maksud apa-apa, aku cuma bilang tentang kebenaran, benar kan, kamu punya utang?” kata Juna lagi.
“Siapa yang bilang?” Gani mencoba membela diri, walaupun, pada kenyataannya memang benar dirinya memiliki utang, tapi, tidak sepantasnya orang lain membesarkan masalah yang sama sekali bukan urusannya. Apalagi, dia mau bertanggung jawab.
“Udahlah, kamu gak perlu tahu siapa yang ngasih tahu, tapi, kamu perlu tahu kalau kamu harus melunasi utangmu!” Juna tertawa, “Kau sendiri bilang sama aku, kalau kau punya utang, kan? Makanya kamu pulang dan jual empang!”
Gani sangat tidak menyangka kalau Juna akan menyebar aibnya di depan semua orang, yang menjadi teman-teman barunya saat ini.
“Iya! Memangnya kenapa kalau aku punya utang? Kan, yang penting aku mau tanggung jawab! Apalagi aku tidak berutang sama Pak Juna!”
“Nah, baguslah kau mengaku, jangan-jangan kau mau menarik hati Bu Usfi biar bisa bayar utang!” Juna setengah berbisik saat mengatakannya.
“Aataghfirullah! Pak, aku memang punya utang, tapi aku bukan orang miskin yang meminta-minta, aku sama sekali nggak punya niat seperti itu! Jangan menuduh, Pak! Tuduhan yang tidak benar itu bisa fitnah!”
Gani benar-benar tidak menyangka kalau Juna, ternyata memiliki mulut yang cerewet. Dia pun heran, kenapa ada laki-laki yang cerewetnya seperti Juna.
“Aku kasih tahu, ya Gan. Kalau kamu gak miskin, gak mungkin punya utang!”
“Banyak orang kaya juga yang berutang!”
“Aku kaya, aku nggak punya utang! Gak kayak kamu, udah punya utang, gak mau dibilang miskin!”
“Dengar ya, Pak Juna. Anda bisa menghina orang seenaknya karena Anda kaya! Nasib orang bisa berubah, Pak! Kekayaan itu milik Allah, dan kemiskinan itu tidak hina, agama saja menyuruh umatnya untuk bersedekah pada orang miskin, kalau miskin itu hina kenapa agama menyuruh demikian? Yang hina itu bukan kemiskinan tapi, kesombongan!” kata Gani sambil menahan geram.
“Sudah, Gan! Ayo! Kerja lagi sana ....!” kata Joko melerai dua orang dewasa yang tengah beradu mulut itu, dan menarik Gani kembali ke posisinya semula.
Gani meneruskan pekerjaannya dengan perasaan galau antara malu dan terpaksa berada di sana. Bagaimana tidak malu, kalau semua orang tahu bahwa dirinya memiliki hutang dan pulang karena mau jual empang.
__ADS_1
Sementara Juna sudah pergi dengan kendaraannya, dengan perasaan menyesal karena tidak menyangka akan membuat Gani begitu marah. Padahal sejak awal dia hanya berniat bercanda saja.
Usfi melihat semuanya dan tiba-tiba dia merasa kasihan pada Gani, yang secara langsung dibuka aibnya oleh Juna. Namun dia berpikir, bahwa apa yang terjadi hari ini adalah kehendak Allah juga, entah apa hikmah yang bisa Gani petik setelah mendapat cobaan seperti sekarang.
Sampai jam kerja selesai, akhirnya Gani pulang dengan berjalan kaki seperti saat dia berangkat tadi. Dia sudah tidak melihat Usfi di tempat kerjanya, entah kapan wanita itu pergi pun dia tidak tahu.
Namun saat sampai di tengah jalan antara pos dan rumahnya, Gani melihat mobil Usfi yang terparkir di sisi jalan. Wanita itu terlihat tengah berbincang dengan seorang perempuan yang masih remaja. Tampak dua wanita berdiri di belakang mobil sambil melihat satu sama lain.
“Jadi, mulai saat ini jangan pernah menuduh Tante lagi. Sebenarnya Tante nggak mau ngomong soal ini, tapi Kakak selalu menuduh Tante!” kata Usfi, suaranya bergetar seperti menahan tangis.
“Tante juga sih, salah! Kan, udah janji sama Mama buat jagain Papah!”
“Noura ... kan, udah Tante jelasin dari awal, setiap orang punya kelemahan, Tante sudah berusaha sebaik mungkin, kalaupun pada akhirnya Papah tetap cari perempuan lain, terus Tante bisa apa?”
“Ya, cegah kek, cari tahu kek, gitu?”
“Noura! Foto yang Tante kasih itu, salah satu bukti juga, Tente nggak diam saja, tahu Papa sama perempuan lain. Alhamdulillah ada orang yang ngasih tahu Tante. Jadi, nggak harus repot-repot memata-matai suami dengan rasa curiga, itu nggak boleh dalam agama, apalagi Tante percaya sama Papa.”
“Kenapa juga Tante percaya begitu saja?”
“Salah Tante pokoknya, kenapa dibiarin, kan akhirnya Papa keenakan!”
“Ah, sudahlah! Kalau tahu akhirnya terjadi seperti ini, seharusnya jangan cuma Tante yang disalahin, tapi, Mama kamu juga!”
“Tante! Kenapa jadi Mamah yang disalahin, sih? Tau kayak gini, mendingan Mama nggak usah setuju tante nikahin Papa sekalian, percuma!”
“Kamu seharusnya ngomongnya sama Mama dong jangan terus-terus nyalahin Tante kayak gini!”
“Nggak, kalau Mamah sudah berbuat yang terbaik!”
Usfi diam.
“Mama masih sakit sampai sekarang, bisa jadi karena mikirin Papah.”
__ADS_1
“Loh, Mbak Mai masih sakit?” tanya Usfi heran.
“Iya. Soalnya mungkin Mama tahu soal Papa, tapi dipendam sendiri kayak dulu, jadi aja sakit terus nggak sembuh-sembuh.”
“Kakak yang sabar ngurusin Mama ... Ya udah, sana pulang nanti mama bingung cariin Kakak.”
“Gak, tadi udah bilang mau nemuin Tante!”
“Ya udah, sekarang udah puas ketemunya?”
“Belum, masih heran sama Tante, apa sih yang sudah Tante lakuin selama ini. Semua fasilitas terbaik Papah kasih, Mama juga lebih banyak diam, eh nggak tahunya bikin aku kecewa!”
Usfi diam, dia sudah tidak tahu lagi harus bagaimana menghadapi dan bicara dengan gadis remaja ini. Sepertinya sebanyak apa pun dia bicara, Naura tidak akan mampu memahami apa yang diucapkan Usfi. Apa yang di pahami Nora, tidak sama dengan apa yang dipikirkan Usfi.
Berulang kali dia memberi penjelasan tentang semua hal yang sudah dia lakukan pada Anwar selama ini, agar pria itu tidak lagi mengumbar hawa napsunya, tapi, sepertinya tidak berhasil. Atau, kali ini Allah sedang mengujinya.
Anwar sudah lama tidak pulang ke rumah Maisha istri pertamanya, tidak juga pulang ke rumah Usfi sebagai istri keduanya. Para wanita itu tidak tahu apa yang dilakukan Anwar di luar sana, karena setiap kali dihubungi dia selalu mengatakan jika sedang bekerja.
Jika soal waktu, Usfi tidak pernah menuntut lebih, semua terserah suaminya. Kalau Anwar datang, maka akan dia layani dengan baik, kalau tidak maka dia tidak pernah protes.
Suaminya itu memang membagi waktu bersama dengan dirinya lebih sedikit, dengan alasan dia tidak memiliki anak dan beberapa alasan lain. Meskipun jika sesuai sunah, maka suami yang berpoligami harus membagi malam-malam dengan adil. Namun, Usfi tahu diri, bahwa dirinya berada dalam keluarga itu, hanyalah sebagai penyela agar Anwar tidak lagi main mata.
Wanita itu tidak memiliki anak pun, atas keinginan Anwar dan dia hanya menurutinya, sehingga dia menggunakan alat kontrasepsi setelah menikah. Anwar ingin agar istri keduanya tidak hamil dan repot mengurus bayi. Dia ingin bebas mengajak ke mana pun, setiap kali dibutuhkan untuk pergi mengantar barang yang, sering memakan waktu berhari-hari.
Namun nyatanya Usfi sering diajak pergi oleh Anwar mengantarkan barang ke berbagai daerah itu, hanya selama setahun setelah pernikahan mereka. Setahun kedua Usfi hanya di rumah saja dan sering sendiri. Baru di tahun ketiga Anwar memberikan pos sayuran, untuk dikelolanya, karena beralasan dia akan membuka cabang di luar kota.
Sejak saat itu Anwar sering tidak pulang. Kecuali di hari Sabtu dan Minggu di mana dia harus menghabiskan waktu dengan anak-anaknya. Baru sepekan kemarin, untuk pertama kalinya Anwar tidak memenuhi hak anak-anak di mana dia harus bersama mereka.
Usfi kembali mengingat masa lalunya ketika dia baru saja menyetujui keinginan Maisa, untuk menjadi istri kedua suaminya. Saat itu juga Usfi mengadu kepada satu-satunya sahabat yang, dia percaya bisa menyimpan rahasianya.
“Jangan percaya begitu saja, Fi,” kata temannya, “Laki-laki itu, sekali tidak setia maka dia akan selamanya tidak setia kecuali ada kesadaran sendiri untuk menghentikan kebiasaannya!”
__ADS_1
Bersambung