
Hubungan Mencurigakan
“Kamu mau turun di mana, On? Mau di rumah Abah apa di rumahmu sendiri?” Gani bertanya pada Usfi, setelah jarak yang mereka tempuh dari bandara sudah lebih dekat ke rumah mereka.
Usfi menoleh ke kanan dan ke kiri, sambil menggeliat, dia baru saja membuka mata saat Gani bertanya demikian. Sudah lebih dari satu jam dia tertidur dalam mobil travel yang dia tumpangi bersama Gani.
Usfi tersenyum malu pada Gani yang duduk di kursi bagian depan sambil memangku anaknya yang masih tertidur pulas.
Setelah puas menumpahkan uneg-uneg yang tidak menentu dalam hatinya, Usfi tertidur nyenyak sampai tidak sadar kalau mereka sudah hampir sampai ke rumah mereka masing-masing, dengan tujuan yang berbeda.
Gani akan menengok ibunya di rumah sakit, sedangkan Usfi akan mendatangi acara tasyakuran atas permintaan ibunya. Seorang ibu, adalah alasan yang sama dari kedatangan mereka kembali ke kampung halaman.
“Bang Gani mau langsung ke rumah Emak? Kalau gitu saya di perempatan depan aja, kan beda arah, Bang!”
“Nggak, aku mau langsung ke rumah sakit!”
“Ke rumah sakit? Siapa yang sakit, Bang?”
“Emak.”
Tiba-tiba Usfi sangat merasa bersalah dan malu, karena dia selama perjalanan yang memakan waktu sekian jam itu, tidak sedikit pun menanyakan kabar Ami, ibu Gani.
Begitu egoisnya hati, sampai hanya ingin di dengar atas keluhannya sendiri, tanpa perduli kalau orang lain pun merasakan kesusahan. Hanya saja beberapa orang memang bisa bersikap seperti Gani, yang tidak mengungkapkan kesedihan atau kemalangan yang di alaminya, demi menghargai orang lain yang dia pikir lebih membutuhkan bahunya untuk bersandar.
“Maaf, ya, Bang. Aku nggak tahu, Emak sakit apa?”
“Nggak sakit apa-apa. Kata Alti Emak pingsan, jatuh dari kamar mandi.”
“MaasyaAllah, ya sudah aku ikut ke sana juga kalau begitu!”
Akhirnya mobil tidak jadi berbelok dan langsung menuju ke rumah sakit, Gani membiarkan keinginan Usfi karena dia tidak ingin membahas atau melarangnya, padahal dalam hatinya ada kekhawatiran akan komentar orang lain tentang dirinya.
Mereka sudah berada di lobby rumah sakit, saat kembali bercakap-cakap, sementara Azam berjalan di tengah, sambil memegang tangan kedua orang dewasa di sisinya. Orang yang tidak kenal siapa mereka, tentu akan menilai bahwa ketiga orang itu adalah keluarga kecil yang bahagia.
__ADS_1
“Sudah berapa hari Emak di rawat, Bang?”
“Dari kemarin.”
“Kenapa Abang nggak bilang?”
“Kamu nggak nanya!”
Usfi diam, menyadari kesalahannya dan dia terus mengikuti langkah Gani yang, pasti sudah tahu kamar tempat ibunya di rawat.
Sampailah mereka di ruang pasien kelas dua dengan Altiana yang bertugas menungggu ibunya. Wajah perempuan itu sedikit lelah, sedangkan Ami tampak tertidur di atas brankar, dengan selang infus menempel di kulit tangannya.
“Bang Gani, kok bisa bareng Kak Usfi, sih?” Itu adalah pertanyaan Altiana yang keluar pertama kali dari bibinya. Sebab dia begitu terkejut dengan kedatangan dua orang yang, pernah menjadi teman dekat itu, secara bersamaan. Baginya terlihat sangat mencurigakan.
Memang, mereka memiliki masa lalu sebagai teman yang saling mencintai dalam diam, hingga kemudian membiarkan kehidupan mengombang-ambingkan mereka, dalam perpisahan yang menyisakan utang karena cinta.
Altiana tahu persis apa yang terjadi pada pernikahan Usfi, juga apa yang terjadi dengan Abangnya. Mereka sama-sama sudah bercerai dengan pasangan masing-masing dan kini ketika melihat mereka sama-sama menengok ibunya seperti ini, membuatnya memikirkan hal lain, tentang kehidupan dua orang itu selanjutnya. Apalagi Azam yang terlihat menggandeng tangan Usfi seperti sudah akrab saja.
“Jadi, sejak kapan mereka mulai bersama? Apa mereka bareng sejak dari Kalimantan atau dari kapan?” pikir Altiana.
“Azam ...” gumam Ima Lirih.
Melihat ibunya bangun, Gani mendekat dan duduk di kursi yang tadi di duduki Atuana—adiknya.
“Emak ... Gimana, kenapa sampe jatuh sih?” kata Gani menunjukkan kekhawatiran yang dalam.
“Emak nggak apa-apa, Alti aja yang berlebihan, kamu nggak usah kuatir gitu! Sekarang aja mau pulang, biar bisa ngobrol sama cucu!”
Saat berkata, pandangan Ami tertuju pada Usfi dan juga Azam yang masih merengek.
“Mak, cepat sembuh ya!” kata Usfi begitu tatapan mereka bertemu, dia menyalami tangan wanita tua itu dengan hormat, dan tersenyum malu-malu.
“Alhamdulillah ini juga sehat, Mak udah nggak betah mau pulang aja, sekarang!”
__ADS_1
“Ya. Nggak bisa sembarangan pulang atuh, Mak. Kan, harus nunggu hasil pemeriksaan gimana, kalau baik baru boleh pulang.” Usfi menyahut dengan lemah lembut, dia berdiri di samping Gani.
Altiana cukup pengertian, hingga dia mengajak Azam pergi keluar mencari jajanan yang bisa membuatnya tenang. Walaupun, banyak tertidur, anak kecil itu kelelahan setelah beberapa jam lamanya melakukan perjalanan, apalagi suasana rumah sakit yang memang tidak nyaman.
Ami yang keheranan dengan Usfi dan Gani pun bertanya, “Gimana kalian bisa bareng begini? Apa kalian janjian dari sana?”
Kabar kepergian dua orang itu ke Kalimantan, diketahui banyak orang termasuk Ami dan keluarganya. Keadaan keluarga Anwar pun sudah menjadi rahasia umum di masyarakat, hingga kemunculan Usfi dan Gani di ruang perawatan itu, menyebarkan suasana canggung yang tak biasa.
“Aku kebetulan ketemu dia di pesawat,” sahut Gani datar dan singkat, tanpa melirik Usfi sedikit pun.
Kemudian Usfi pun menceritakan tentang latar belakang kepulangannya. Dia berniat tidak akan pulang terlalu lama dan hanya satu pekan karena tidak bisa meninggalkan sekolahnya. Dia baru tahu kalau Gani pun berada di Kalimantan, oleh karena itu dia sangat terkejut ketika mereka bertemu di pesawat.
“Oh, jadi begitu ... Apa kamu sering pulang, Fi, sejak ada di Kalimantan?” tanya Ami.
Kini percakapan mereka hanya seputaran keberadaan Usfi dan Gani. Mereka berada dalam suasana akrab seolah satu keluarga yang baru saja berkumpul kembali. Ami duduk sambil bersandar, karena kesehatannya mulai pulih, dia pingsan karena gejala gegar otak, tapi, setelah sehari semalam di rawat dan diinfus, keadaannya sekarang sudah jauh lebih baik. Sementara Azam dan Altiana sudah bersama mereka, dengan aneka makanan yang cukup banyak, hingga anak itu sibuk menikmati makanan dan mainan barunya.
Dari percakapan itu, Usfi pun akhirnya tahu bila Gani berada di Kalimantan sudah setahun yang lalu, sejak perpisahannya dengan istrinya setelah lima tahun menikah. Hal inilah yang membuatnya begitu terkejut, karena Gani mengatakan jika istrinya baik-baik saja di rumah. Apabila laki-laki itu berada di Kalimantan lebih lama, mungkin mereka akan lebih sering bertemu.
Gani meninggalkan Usfi, karena patah hati kemudian menikah dengan wanita lain. Dia pulang karena utang, kemudian pergi meninggalkan kampung halaman untuk ketiga kalinya pun karena utang lagi, hingga bertemu dengan Usfi kembali.
“Maasyaa Allah, kamu beliin jajan buat Azam banyak banget, Al? Makanan apa coba itu?” kata Usfi setelah melihat apa yang di makan Azam. Dia berjongkok di hadapan anak kecil itu sambil mengajarkan sebuah doa.
“Kalau makan sesuatu yang nggak biasa, baca basmalah seperti biasa, terus lanjutkan dengan membaca ... bismillaahi ladzii laa yadhurru ma’as mihii syai un Fil ardhii walaa fis samaa’i wahuas samii ul’aliim ...” kata Usfi secara perlahan, hingga Azam menirukannya.
“Apa fadhilah dari bacaan itu, Kak?” Tanya Altiana.
“Itu do’a untuk menjaga diri dari keburukan atau sesuatu yang kita tidak tahu akibatnya, dari makanan yang kita makan. Sebaiknya dibaca tiga kali di waktu subuh, dan tiga kali di waktu magrib.” Usfi berkata sambil mengusap kepala Azam.
“Oh!” kata Altiana sambil mengangguk.
Ami dan Gani yang melihat pun tersenyum.
“Gan, utangmu sudah selesai, kan?” Ami tiba-tiba bertanya tentang sesuatu yang sebenarnya sangat pribadi.
__ADS_1
❤️❤️❤️🙏👍❤️❤️❤️