
Jadilah Mama Kami
Keesokan harinya, Ami yang sudah sembuh dari sakitnya, datang bersama keluarganya pada acara tasyakuran yayasan madrasah milik Sholeh, yang diisi dengan ceramah dari seorang kyiai yang cukup terkenal, hingga acara itu berlangsung meriah tanpa meninggalkan kesan khidmat. Dalam suasana yang penuh rasa syukur atas segala karunia dari Allah limpahkan, hingga Yayasan pendidikan agama itu memiliki banyak murid.
Setelah acara tasyakuran selesai, Usfi dan Ima serta Dedah asisten rumah tangga mereka, membereskan rumahnya yang digunakan sebagai tempat dilangsungkannya acara syukuran.
Rumah besar itu memang berada di sekitar kantor yayasan, beberapa tetangga, serta para murid pun ikut membantu membersihkan tempat itu. Gani dan adik iparnya, Alpin, turut serta membantu. Hari sudah menjelang sore saat acara itu selesai.
Usfi mendekati Gani yang masih menumpuk beberapa piring kotor dan berkata, “Sudah, Bang! Nggak usah bantuin udah banyak yang ngerjainnya, kasihan Azam kayaknya ngantuk tuh apalagi emak baru saja sembuh!”
“Terus, kamu nyuruh aku cepat pulang, gitu? Eh, sama aja itu ngusir, tahu?”
“Ya, aku kan, cuman mikirin Azam sama Emak, Bang! Terserah kalau dianggap ngusir!”
“Cuman mikirin Emak sama Azam, nggak mikirin aku?”
Astaghfirullah. Usfi beristighfar di dalam hati, dia tidak tahu harus menjawab apa pada laki-laki ini. Kalau diteruskan, kemungkinan mereka akan bertengkar lagi dan itu memalukan, karena masih banyak orang di sekitar mereka, sehingga akhirnya Usfi meninggalkannya pergi.
Gani kesel dengan sikap Usfi yang tiba-tiba meninggalkannya begitu saja, tanpa menjawab apa pun, padahal dia ingin tahu apakah perempuan itu memikirkannya atau tidak.
Sementara itu, semua yang dilakukan Usfi serta Gani, tidak luput dari perhatian Ima dan Ami yang saling berbisik, kemudian mengangguk dan mereka kemudian membicarakan sesuatu dengan Sholeh, laki-laki itu duduk sendiri, sambil menikmati kopinya yang belum habis.
Ketiga orang tua itu berbicara secara intens untuk beberapa saat dan, mereka baru berhenti setelah Gani mendekat. Dia mengajak Ami—ibunya, untuk pulang karena tempat itu sudah terlihat lebih rapi dan bersih.
Ami dan keluarganya pulang setelah berpamitan dengan keluarga Sholeh, di saat yang sama, Gani dan Usfi hanya bersikap seolah mereka tidak saling mengenal, bahkan tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut mereka walaupun hanya sekedar basa basi sebelum pergi.
Malam harinya, Usfi mengeluarkan mobilnya yang sudah sekian lama dalam garasi, walaupun mobil itu dirawat dengan baik oleh Soleh dan pembantunya, tapi sangat jarang digunakan. Saat saudara Usfi pulang mengunjungi orang tua mereka pun, tidak berani menggunakan mobil itu.
Usfi pergi ke rumahnya setelah berpamitan dengan kedua orang tuanya, Soleh dan juga Ima pun mengatakan jika rumah itu sering terlihat ada penghuninya, menandakan bila Naura sering pula berada di sana. Benar saja ketika Usfi menghentikan mobilnya tepat di depan bangunan sederhana miliknya dulu,, tampak lampu bagian dalamnya menyala.
Usfi dengan cepat mengetuk pintu rumah itu setelah turun dari mobilnya, lalu, mengucapkan salam. Begitu terkejutnya dia ketika pintu terbuka, ada Imad berdiri sambil berurai air mata. Remaja laki-laki itu terkejut untuk sesaat dan langsung memeluk Usfi dengan erat, bukan hanya Imad, tapi juga Fadil dan Noura pun muncul dengan ekspresi wajah yang sama.
__ADS_1
Selama empat tahun berada di perantauan, sebanyak empat kali pula Usfi pulang ke rumah orang tuanya. Selain karena kesibukannya, tiket pesawat yang cukup mahal pun membuatnya terpaksa harus pulang hanya setahun sekali saja, saat lebaran tiba. Namun, sekali pun dia tidak pernah menengok rumah itu, karena dia sibuk membantu kedua orang tuanya yang kedatangan banyak sekali tamu. Selain itu dia tidak bisa meninggalkan tanaman sayurannya terlalu lama.
“Ada apa dengan kalian?” Usfi bertanya setelah pelukan dua anak terlepas. Dan, dia merapikan kembali kerudungnya yang basah oleh air mata. Sementara Fadil yang sudah cukup dewasa, hanya melihat saudaranya sambil duduk di sofa ruang tamu rumah itu.
“Tante tega! Nggak pernah datang ke sini!” kata Noura sambil memukul bahu Usfi.
“Maaf, ayo cerita kenapa kalian menangis?” tanya Usfi sambil mengusap kepala Imad dengan lembut, mengabaikan sakit di bahunya karena pukulan Noura.
“Tante duduk dulu, deh!” kata laki-laki yang kini sudah duduk di kelas dua SMA. Imad adiknya, kini sudah SMP dan Noura sudah kuliah memasuki semester akhir.
Usfi duduk saling berdekatan dengan anak-anak mantan suaminya itu. Selama ini, dia pikir anak-anak itu tidak mempunyai masalah sebab setiap kali dia menghubungi Naura, anak perempuan itu selalu mengatakan kalau dia baik-baik saja.
Noura tidak pernah bercerita apa pun, tentang keluarga Anwar. Justru Usfi yang lebih banyak bercerita tentang sekolah, tanaman dan perjuangannya. Setiap kali berbagi pengalaman itu, Noura terlihat antusias, juga menanggapi secara positif, sehingga dia tidak mempunyai pikiran buruk dengan rumah tangga mantan suaminya.
Sementara yang dia lihat sekarang adalah sesuatu yang berbeda, melihat anak-anak itu menangis, membuat hati Usfi ikut teriris. Mereka kemudian bercerita bagaimana sikap Marini yang, suka sewenang-wenang dan juga tidak memikirkan bagaimana kebutuhan anak-anak sambungnya.
“Kalian sudah bilang, sama Papa?”
“Sudah!” kata ketiga anak itu secara bersamaan.
“Terus, kalian sering ke sini?”
“Ya!” jawab mereka secara bersamaan.
“Papa kalian tahu?”
“Nggqk! Papa sibuk terus, masih kayak dulu!” kata Fadil.
“Tapi, kalau kalian minta uang sama Pak Joko, di kasih nggak?”
“Di kasih, Tante. Kalau Tante nggak bilang minta uang ke Pak Joko, kami nggak tahu harus memenuhi kebutuhan kami dari mana.” Kata Noura.
__ADS_1
Anak-anak itu kembali bercerita jika mereka menggunakan rumah itu sebagai pelarian, bila Anwar tidak ada di rumah sehingga mereka bebas dari kemarahan atau omelan Marini, yang sibuk mengurus anaknya sendiri.
“Biasanya kalian di sini sampai berapa hari?”
“Sampai Papa pulang, Tante, paling dua hari.”
Dari pembicaraan mereka itu Usfi pun mengerti jika Anwar masih sering pulang, walaupun tetap sibuk, tidak seperti saat dia masih menjadi istrinya, mantan suaminya itu pulang hanya sepekan sekali dan hanya sehari saja berada di rumah.
“Kalian punya kekuatan dan pemikiran yang bagus, Tante salut, kalian memang anak-anak baik, pasti Mama bangga punya anak yang sabar seperti kalian!” Usfi memberi support dan memuji kepribadian mereka.
Dia tahu bagaimana perasaan anak-anak yang mengalami nasib harus di tinggal sang ibu, tapi, tak lama kemudian harus kembali menelan kenyataan pahit kalau sang ayah memiliki istri baru. Tidak akan ada masalah kalau istri baru itu ikut menyayangi anak suaminya dengan tulus.
“Tante, jangan pergi lagi, tolong nikah sama Papa dan jadi Mama kami lagi, Tante mau kan?”
Usfi terdiam demi mendengar permintaan Noura yang tiba-tiba dan diluar dugaan sebab dahulu, anak perempuan itu paling keras bermusuhan dengannya. Walaupun, kasihan pada mereka tetapi, Usfi tetap tidak bisa langsung menyetujui. Keputusan untuk menikah kembali, adalah hal yang tidak semudah memintanya. Dia harus terlebih dahulu memastikan bahwa, cerita anak-anak itu benar.
Dan, jika Marini benar-benar tidak perduli atau Anwar tidak mengerti, dia sebisa mungkin akan mencoba menyelesaikan, tanpa memasuki ranah kehidupan rumah tangga mantan suaminya. Sebab dia hanyalah orang luar yang perduli dengan anak-anak Maisha saja, sesuai pesan terakhirnya melalui telepon selulernya waktu itu.
Setelah berpesan agar mereka menjaga diri, Usfi berpamitan tanpa menjawab permintaan Noura, dia hanya menasihati anak-anak remaja itu agar membicarakan semuanya, di hadapan Papa dan juga Marini, secara terbuka untuk mengurai kesalah pahaman, dengan demikian masalah bisa diselesaikan dengan mudah.
“Jadi, ini juga sebagai bekal kalian kalau sudah dewasa tentang, bagaimana menyelesaikan masalah ... Sebelum melakukan sesuatu, kalian harus melihat apa yang menjadi persoalannya, lalu mencari apa yang menyebabkannya, setelah itu, berusahalah mendapatkan apa yang bisa menyelesaikannya, terus ... barulah kalian memutuskan apa yang akan menjadi solusinya.”
“Ya Tante! Terima kasih.”
Setelah itu, Usfi kembali mengendarai mobil untuk pulang dengan perasaan kesal, hingga terpikir untuk menghubungi Anwar yang nomor teleponnya masih tersimpan, bahkan namanya pun belum berubah, masih tertera tulisan Mas Anwar di sana.
Dia menepikan kendaraan roda empatnya ke sisi jalan, sambil menempelkan benda canggih itu ke telinga.
“Halo, Mas!” kata Usfi begitu teleponnya tersambung.
“Usfi! Ini benar kamu, kan, Fi?” terengar suara Anwar yang begitu riang dari ujung telepon, “Kenapa tiba-tiba kamu nelpon aku, Fi? Apa kamu kangen? Mau ya, kamu jadi istri aku lagi?”
__ADS_1
Serentetan pertanyaan dari Anwar membuat Usfi menjauhkan ponselnya barang sejenak dari telinga, di saat yang sama, jendela kaca mobilnya diketuk seseorang dari luar.
❤️❤️❤️🙏👍❤️❤️❤️