
Bertemu Mantan
Keesokan harinya, Usfi berangkat ke Tasik setelah sarapan pagi dan membawa bekal makanan yang cukup untuk di jalan, semua dikemas rapi oleh Ima sebagai bentuk dukungan untuk menantunya. Saat mereka pergi, Usfi yang mendapatkan giliran menjadi pengemudi.
Mungkin sikap seperti ini sangat jarang sekali terjadi, di mana seorang istri mengantarkan suami bertemu mantan istri. Namun, niat Gani adalah mengajari anaknya menyambung tali silaturahmi, apalagi perpisahannya memang dilakukan dengan cara baik-baik tanpa paksaan melainkan, penuh kesadaran. Oleh karena itu Usfi mendukung keputusan suaminya untuk, melihat Asma yang kemungkinan tidak memiliki waktu banyak walaupun, hanya sekedar menemui anaknya.
Kalau bukan karena sakit dan mengatakan jika Asma benar-benar merindukan Azam sambil menangis, mungkin Gani tidak akan berusaha payah gatang ke sana, mengingat ada Usfi yang kini lebih berhak atas dirinya.
“Azam sudah tidur, Bang?” tanya Usfi, tiba-tiba mengalihkan perhatian Gani yang menatapnya dengan takjub. Wanita yang berada di depan kemudi itu seperti mengisap kesadarannya.
“Iya,” sahut Gani sambil mengalihkan pandangannya ke depan. Dia membenarkan posisi duduk dengan yang tertidur dalam pangkuannya.
“Nggak usah malu lah, Bang! Aku kan, sudah halal ... Nggak dosa diliatin lama-lama juga, mau sambil dicium juga nggak apa-apa!” Usfi berkata sambil menyodorkan pipi kirinya untuk dicium oleh Gani.
“Mau dicium lagi, memang masih kurang yang semalam ciumannya, ya?”
Usfi menahan tawa sambil tetap fokus melihat ke jalanan yang ada di depannya. Mereka sudah berada di jarak yang cukup jauh dari rumah dan sudah melewati satu kabupaten kota.
“Nggak sih, Bang. Nggak kurang, tapi aku mau nambah!” Berkata sambil tertawa lagi. Sebenarnya dia merasa kasihan dengan Gani, karena sebagai seorang wanita yang sudah pengalaman berumah tangga, dia tahu bagaimana laki-laki itu selama ini menahan diri. Namun untuk sementara waktu mereka hanya bisa berciuman dan sebatas bercumbu rayu.
Gani pun semakin menyadari apabila hidup bersama Usfi, harus lebih banyak bersabar lagi. Tentu saja ujian yang diberikan Allah akan berbeda karena Allah memberikan seorang istri yang berbeda pula. Dia mungkin harus menyiapkan bahu yang lebih lebar untuk, tempat bersandar atau menyiapkan hati yang, lebih lapang untuk dijadikan tempat berkeluh kesah dan, tentu dia berharap Allah akan memberinya kaki yang lebih kuat sebagai penopang hidup yang mungkin tidak lebih mudah dari sebelumnya.
“Bang, ada yang bilang kalau sebenarnya dulu, Bang Gani itu suka sama aku, tapi aku terlanjur nikah! Kenapa suka sama aku, Bang?” tanya Usfi disela perjalanan mereka. Sementara Gani masih berpikir tentang apa yang mungkin akan terjadi kalau dirinya datang dengan seorang istri.
Gani memang belum mengatakan apapun pada Asma tentang pernikahannya. Selain karena merasa tidak perlu, dia juga enggan sekali membicarakan hal pribadi pada mantan istrinya itu, termasuk tentang pernikahannya dengan Usfi. Mereka sudah menempuh hidupnya sendiri-sendiri, bahkan Asma sudah lebih dulu menikah dengan Nara begitu masa iddahnya habis.
Lilis yang mengabarkan tentang pernikahan itu dan, Gani turut mendoakannya serta ikut berbahagia dengan pernikahan mereka.
“Ya, Bu. Saya ikut senang kalau mereka akhirnya resmi menikah, daripada lama-lama hanya menjalin hubungan yang tidak jelas, khawatir kalau jatuhnya dosa, karena mendekati zina.” Hanya itu yang dikatakan Gani ketika mantan ibu mertuanya menghubungi. Saat itu dia masih menjadi seorang petani.
“Kenapa sih, kamu ngomong begitu, kamu jangan iri atau cemburu sama anakku, soalnya kalian sudah resmi bercerai!”
__ADS_1
“Saya tidak iri tapi, justru mendukung karena itu lebih baik untuk mereka, saya memang cemburu dari dulu tapi, saya bisa menahannya karena berharap Asma bisa berubah, eh, ternyata asma tidak ... dia justru semakin mengabaikan saya dan tidak menghormati suaminya, makanya, saya menceraikannya, bukan karena iri!”
Lilis begitu riang gembira saat mengabarkannya, apalagi mengetahui keadaan Gani yang memang benar-benar hanya menjadi seorang petani. Dia merasa kalau anaknya, Asma, tidak salah dalam mengambil keputusan untuk bercerai, dan menikah dengan Nara.
Sementara Gani merasa bahwa perpisahan itu membuatnya semakin dewasa. Banyak sekali hikmah yang bisa dia petik setelahnya.
“Semakin kau rela melepaskan sesuatu yang sebelumnya kau genggam, maka, semakin ringan langkahmu untuk menemukan yang lebih baik dari hal yang kau lepaskan. Semakin engkau ikhlaskan kejadian yang menyakitkan, maka, semakin mudah pula kau melupakannya, apalagi sesuatu yang memang belum waktunya menjadi milikmu. Bisa jadi, Allah sudah menyiapkan sesuatu yang lain di waktu yang aku sendiri tidak tahu, kapan,” kata Gani dalam hati saat dia sudah berhasil melewati hari-hari tanpa istri yang, sudah mati-matian dia pertahankan.
Gani masih larut dalam pikirannya sendiri, ketika Usfi kembali memanggilnya.
“Abang! Jawab pertanyaanku!”
“Dari mana kamu tahu kalau aku suka sama kamu? Jangan ge er .... Aku pergi bukan karena kamu nikah, Fi!”
“Iya, kah?” kata Usfi, sambil menoleh pada Gani, “tapi ada yang bilang katanya seperti itu?”
“Siapa memangnya yang bilang begitu?”
Gani terdiam sambil menarik nafas panjang lalu dia berkata, “Oh anak itu ... di mana dia sekarang, ya?”
“Yah, dia udah gede, Bang! Udah kayak kita! Masa dibilang anak? Kali aja udah jenggotan! nggak kayak kamu, Bang. Aku pikir nggak bakal di cukur tuh jenggot, kan sunah!”
Gani kembali diam, dia mengingat saat pertemuan pertama mereka di pesawat, memang rambutnya sudah waktunya dicukur, dan dia memangkas rambutnya ketika hendak mengunjungi Usfi bersama Ami, dengan membawa banyak barang seserahan malam harinya. Saat itulah dia mencukur habis kumis dan jenggotnya yang sudah lebat.
Apalagi melihat penampilan Usfi yang ceria dan terkesan kebih muda bila dibandingkan dengan dirinya, maka, akan terlihat sangat jauh perbedaannya, karena itulah dia memutuskan untuk membersihkan bulu-bulu di wajahnya.
“Anak-anak atau bukan sama saja dia itu orang, bukan harimau!”
“Berarti bener ya apa kata Jundi soal Abang?”
“Iya, iya, Aku nyerah, awas kalo ketemu sama anak itu, sudah bongkar rahasia orang aja!”
__ADS_1
“Baguslah Bang dia jujur, aku jadi ngerti gimana perasaan Abang!”
“Ya! Aku sakit hati sama kamu, Fi. Apa kamu nggak bisa lihat apa, kalau aku suka sama kamu, masalahnya pasti, nggak boleh pacaran sama Abah, makanya aku simpan perasaanku, aku nunggu sampai cukup tambunganku, baru mau lamar kamu, Fi!”
Uafi tersenyum simpul sambil menoleh sebentar dan mengeringkan sebelah matanya.
“Jangan main mata kalau sama laki-laki lain, ya! Nggak boleh! Cuma sama suami saja boleh genit begitu!”
“Iya, iya, aku nggak akan genit sama laki-laki lain, Abang juga, nggak boleh genit sama perempuan lain! Boleh menikah lagi bukan berarti boleh semaunya sendiri, Bang!”
“Hmm ....”
Tiba-tiba mobil di depan Usfi berhenti secara mendadak, membuat Usfi pun melakukan hal yang sama.
“Astaghfirullah!” kata Gani dan Usfi bersamaan.
Kemacetan seketika terjadi dari kedua arah, saat itu mereka tengah berada di jalan lintas Nagrak dan jalanan di sana menanjak serta menikung. Keadaan itu membuat Gani, mengambil inisiatif untuk menggantikan posisi Usfi, dia menggendong Azam keluar dan membaringkaninya di kursi penumpang bagian belakang, lalu, kembali duduk di kursi kemudi. Sementara Usfi duduk di kursi penumpang depan, sambil menikmati makanan yang dibawakan oleh Ima.
“Ada apa yang Bang, kok macet begini?”
“Ada ini!” kata Gani sambil memiringkan tubuhnya dan mencium pipi istrinya. Seketika Usfi tersenyum malu-malu sambil membalas ciuman Gani.
“Lagi, Bang!” Usfi berkata sambil menunjuk sebelah pipinya yang belum di cium suaminya.
Cup!
Gani pun melakukan permintaan Usfi.
“Sekarang gimana, perasaan Abang? Kan, kita sudah menikah?”
❤️❤️❤️👍🙏❤️❤️❤️
__ADS_1