
Menginap
Setelah dua orang itu duduk dengan nyaman, Gani menghujani Usfi dengan ciuman di pipi kiri dan kanan, sedangkan wanita itu hanya diam, tidak merespon atau membalas perbuatan suaminya yang begitu mesra.
“Marah? Kalau marah kok, ke sini?” kata Gani, sambil memegang dagu Usfi.
“Ya sudah kalau gitu aku pulang lagi!”
“Eh, kenapa, sih? Dari tadi ditanya kok, diem aja!” tanya Gani sambil memegang tangan istrinya yang sudah mulai berdiri dan hendak beranjak pergi.
Usfi duduk kembali, tentu saja dia semalam sangat kecewa, dengan merasa riasan wajahnya sia-sia, karena suaminya tidak melihat walaupun, hanya sekedar lewat layar kaca dari telepon genggam mereka.
“Aku kesal sama kamu, Bang! Nggak pengertian, kita ini pengantin baru, tapi aku dicuekin tadi malam!”
“Kamu ini yang nggak ngerti! Kamu itu semalam cantik banget! Aku nggak mau kecantikan kamu itu dilihat sama laki-laki lain yang, nggak berhak sama kamu! Besok-besok lagi, kirim pesan dulu kalau mau panggilan video, jadi, aku bisa pilih tempat buat terima telepon kamu.”
Usfi seketika terdiam lalu, tersenyum lebar. Ternyata dia sudah salah paham dan memang mereka masih membutuhkan banyak waktu untuk, saling memahami dan juga mengerti satu sama lain.
“Aku bersyukur kamu datang lebih cepat,” kata Gani sambil memeluk istrinya itu dengan erat.
“Kenapa memangnya?” Usfie jawab saat pelukan mereka sudah terlepas.
“Aku mau ke sana nanti, habis jam istirahat makan siang! Kalau aku ... di jam-jam orang lain istirahat justru akan lebih sibuk, termasuk hari-hari libur ... di saat orang-orang lain menikmati liburan justru aku bekerja lebih banyak! Jadi, ada perbedaan yang sangat jauh antara waktu kerja, juga waktu kita bersantai dan beristirahat.”
“Ya! Sekarang aku tahu, jadi, kita pergi saja nanti siang, atau aku nginap malam ini di hotel Abang?”
“Menginap saja, di sini, tapi, ini bukan hotelku, aku biasany tetap bayar kalau mau tidur di sini sama Azam!”
“Masa?”
“Ya, aku sangat menghargai Andi, dia sudah baik memberiku apartemen lama yang sudah nggak dia tempati, ngasih mobil bekas dia juga, masa aku masih menggunakan fasilitas hotel dengan gratis, aku bukan orang yang nggak tahu malu, Fi! Jadi, ya aku bayar!”
“Berapa, tarip hotel di sini, Bang?”
__ADS_1
“Tergantung kamar yang kamu pesan. Kamu mau pesan kamar tipe apa, atau kamar yang biasa aku sewa kalau ada Azam?”
Usfi mengangguk-angguk dan berpikir, sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan pribadi suaminya itu. Wajah cemberutnya sudah mulai menghilang, disertai dengan keceriaan dan rona merah karena malu.
“Di kamar yang biasa di tempati Abang saja!”
“Baik!”
Usfi memutuskan untuk tetap berada di ruang itu, untuk menunggu suaminya sampai selesai bekerja. Waktu makan siang tiba, dia memilih makan di restoran seorang diri sambil menikmati pemandangan yang tersaji di luar jendela. Dia layaknya pengunjung biasa dan menikmati kesendirian, sambil mengisi waktu selama Gani bekerja. Sesekali dia memperhatikan kesibukan Gani menjadi kasir, menggantikan pegawainya.
Aneh, begitu pikir Usfi, karena sudah seharusnya seorang atasan menikmati makan siang dan pegawainya yang bekerja, tapi Gani justru membiarkan pegawainya beristirahat dan sholat, sementara dirinya yang menggantikan pekerjaan mereka.
Berada di meja kasir, adalah, satu pekerjaan yang tidak bisa ditinggal pada saat jam makan siang, selain chef dan koki di dapur restoran.
Tak terasa sudah lebih dari satu jam Usfi duduk di salah satu sisi paling sudut restoran. Dia masih menatap ke arah Gani yang baru saja selesai melakukan tugasnya sementara seorang pegawai menggantikan posisinya dengan penuh kesopanan.
Dia kagum dalam diam melihat bagaimana suaminya yang tampak lebih keren berkali-kali lipat saat sibuk bekerja. Apalagi saat laki-laki itu mendekatinya sambil menggulung lengan kemeja putihnya sampai siku.
“Eh, apa, Bang?”
“Kamu sudah kenyang belum?”
“Pertanyaanmu aneh, sih, Bang?”
“Aneh gimana?”
“Biasanya kan kalo tanya itu, udah makan belum, bukan udah kenyang belum?”
“Yaa, kan aku sudah tahu kamu makan tadi di sini, buat apa tanya itu? Kamu yang aneh, On!”
Cup!
Gani gelagapan saat Usfi tiba-tiba mencium pipinya. Oh, rupanya wanita itu belum lupa dengan janji yang akan mencium di mana pun dan kapan pun jika suaminya itu memanggilnya Oon.
__ADS_1
“Eh, kamu ini ... Aku, kan nggak manggil o-on, sih! Lagian, aku cuma nawarin makan lagi kalau kamu belum kenyang, soalnya aku baru mau makan sekarang!” Kata Gani dan Usfi hanya tersenyum.
Sebenarnya dia juga malu mencium di tempat umum, khawatir ada yang salah paham, tapi, ini demi efek jera pada Gani agar tidak memanggilnya sembarangan lagi.
“Kenapa memangnya, malu? Atau mau di cium lagi, nih!” kata Usfi sambil menyeringai.
“Mau, tapi nggak di sini, kita ke kamar saja, yuk!” ajak Gani.
“Katanya mau makan?”
“Ya! Bawa makanya ke kamar!”
Gani mengajak Usfi ke kamar yang biasa di sewa bersama Azam, kamar itu berada di lantai teratas gedung itu dan paling ujung. Itu kamar yang paling jarang di sewa kecuali, pengunjung sangat padat seperti libur tahun baru atau saat hari raya tiba.
Gani membawa sendiri makanan yang akan dia makan bersama istrinya di dalam kamar itu, dia meletakkannya dengan sangat rapi dan teratur layaknya pelayan profesional. Dia sudah mengikuti pelatihan sebelumnya hingga mahir dalam banyak hal yang berhubungan dengan perhotelan dan restoran.
Mereka kembali menikmati makan siang romantis dengan saling menyuapi makan, tapi lebih banyak Gani yang menghabiskan, karena Usfi sudah kenyang sebelumnya. Setelah itu, mereka mengulang kembali kehangatan seperti yang pernah mereka lakukan di hotel saat mengantar Azam beberapa hari yang lalu.
Gani sudah selesai dan baru saja hendak memejamkan mata saat telepon genggamnya berbunyi. Demi melihat siapa yang menghubungi melalui layar ponsel, dia segera berpakaian dan duduk di dekat jendela. Menjawab panggilan itu dengan lembut, membuat Usfi ikut bangkit dan duduk sambil berpakaian juga.
“Ayah!” terdengar suara Azam dari balik telepon.
Kini Usfi terlihat lega. Dia hanya menyaksikan interaksi antara Ayah dan anak melalui telepon, dari atas tempat tidur.
Setelah itu, tatapannya menerawang jauh, sambil mengusap perutnya yang rata. Tiba-tiba dia ingat nasihat Asih, kakak iparnya yang memintanya untuk konsultasi dulu ke dokter kandungan sebelum menikah, karena Usfi memakai alat kontrasepsi padahal belum pernah hamil sama sekali, dan dia memakai obat-obatan itu dengan teratur serta terus menerus, dalam kurun waktu tiga tahun atau selama menikah dengan Anwar.
Dia memang sudah menjanda selama hampir empat tahun dan tidak menggunakan obat-obatan hormonal itu lagi, tapi, dia belum pernah memeriksakan diri secara khusus tentang kesehatan reproduksinya.
“Kenapa melamun?” tanya Gani, sambil memeluk istrinya dari belakang. Rupanya dia sudah selesai menelepon anaknya.
“Bang, gimana kalau aku nggak bisa punya anak?”
❤️❤️❤️👍🙏❤️❤️❤️
__ADS_1