Cinta Butuh Utang

Cinta Butuh Utang
Sebuah Pertengkaran


__ADS_3

Sebuah Pertengkaran


“Sudah, Mak. Sekarang aku mulai nabung buat sekolah Azam.”


“Rumah kalian dekat nggak?” tanya Ami lagi, sementara Usfi dan Gani tidak tahu ke mana arah pembicaraan wanita tua yang sudah memiliki empat orang cucu itu.


“Rumah Abang, di mana gitu?” tanya Usfi yang duduk di sisi tempat tidur.


“Di Panajam Kota, bagian Utara.”


“Oh, berarti kita satu kecamatan, Bang!” kata Usfi.


“Masa?” sahut Gani.


“Kalau begitu, kalian nikah saja sebelum kembali ke sana!”


“Apa?” kata Usfi, Gani dan Altiana secara bersamaan, membuat Azam dan Ami menatap mereka saling bergantian.


Tentu saja Gani tercengang, saat mendengar ucapan itu dari ibunya, karena dia tidak pernah berpikir untuk, kembali menikah dalam waktu dekat. Sakit hati dan juga traumanya dalam menjalani hubungan rumah tangga, masih terasa. Bahkan, saat Usfi menceritakan tentang perceraiannya pun dia kembali merasakan kecewa oleh wanita yang dia sayangi.


Apalagi kalau harus menikah dengan Usfi, biar bagaimanapun gadis itu adalah salah satu orang yang sudah ikut menyakiti hatinya juga.


Gani keluar ruangan tanpa permisi sambil mengusap kepalanya dengan kasar, seketika rambutnya yang tebal dan sudah waktunya untuk dicukur itu pun lebih acak-acakan. Azam mengikutinya dari belakang, takut ditinggalkan ayahnya.


Suasana di dalam ruangan menjadi sedikit kaku, sehingga Usfi mendekati Ami dan menggamit tangannya lalu, menepuk-nepuknya dengan lembut.


“Sekarang ... yang penting pulihkan kesehatan Emak lebih dulu, saya dan Bang Gani masih beberapa hari lagi di sini, kita masih punya waktu buat bicara soal pernikahan lain waktu ... kalau saya, belum berpikir untuk menikah lagi Mak, trauma rasanya jadi madu dan kemudian dimadu lagi! Kalau memang Usfi mau menikah, harus mikir sampai beberapa kali, mungkin Bang Gani juga,” kata Usfi dengan lemah lembut hingga tidak menyakiti perasaan wanita tua yang ada di hadapannya itu.


“Iya, maafkan Emak, Fi! Mak cuman senang aja lihat kalian bersama, siapa tahu bisa jadi suami istri ... Emak tahu, dulu kalian pernah punya perasaan suka, kan?”


“Emak benar, tapi perasaan orang bisa berubah, Mak, saya nggak tahu apa Bang Gani masih punya perasaan itu? Kalau saya, terus terang saja, sebagai perempuan yang sudah menikah tidak boleh mencintai laki-laki lain selain suami dan setelah bercerai, belum pernah ada laki-laki yang membuat saya jatuh cinta lagi.” Usfi berkata sambil melihat ke arah pintu dan Altiana yang juga masih menyimak.


“Maaf, Mak. Saya nggak bisa lama-lama ... saya pamit pulang dulu, belum ketemu sama Abah dan Ambuk! Syafakillah, laa ba’sta thohuruun ... Mak, semoga cepat sembuh, jadi bisa datang tasyakuran ke madrasah besok!” Usfi berkata sambil cipika-cipiki dengan Ami lalu, mencium punggung tangannya khidmat. Dan, wanita yang masih sakit itu hanya mengangguk sambil tersenyum. Begitu juga dengan Altiana gadis itu tidak bisa berkata apa-apa.


Setelah pamit dan keluar ruangan, Usfi kembali bertemu dengan Gani di koridor.


“Bang, aku pulang dulu, terima kasih sudah ngasih tumpangan, berapa yang harus aku bayar?”


“Nggak usah bayar, pulang aja sana!”

__ADS_1


“Ih, Abang ini kelihatan banget kalau memang nggak suka sama aku dari dulu. Oh iya, Bang. Kalau nggak setuju sama permintaan Emak nggak usah pergi kayak gitu nyinggung perasaan orang tua, tahu? Tinggal dialihkan ke hal lainnya, atau terus terang kalau memang nggak mau!”


“Iya, aku emang gak setuju dikirain nikah itu gampang apa?”


“Iya, aku juga tahu nikah itu nggak gampang tapi, jangan nyinggung perasaan orang tua juga, Bang!”


“Udahlah ... siapa juga yang nyinggung perasaan orang tua? Kamu aja ngomongnya sembarangan!”


“Lah, terus kenapa tadi kabur begitu aja?”


“Siapa yang kabur? Habisnya Emak, sih, ngapain juga ngomongin soal pernikahan?”


“Yah ... kenapa jadi marah, Bang?”


“Siapa juga yang marah!”


“Abang!”


“Nuduh sembarangan!”


“Emang bener, tuh lihat mukanya cemberut!”


“Oh, jadi gitu pendapat Bang Gani? Kalau orang cemberut bukan berarti marah?”


“Ya iyalah!”


Usfi senyuman-senyum sendiri dan hal itu tak luput dari perhatian Gani.


“Kenapa senyum, ada yang lucu?”


“Ada!”


“Mana?”


“Kamu, Bang!” kata Usfi sambil melangkah, tapi kemudian dia kembali berbalik sambil mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya.


Sementara Gani masih tersenyum samar menyembunyikan rasa geli atas jawaban Usfi, lagi-lagi mereka bertengkar untuk sesuatu yang tidak penting. Wanita itu kemudian meminta nomor telepon, sedangkan laki-laki itu terlihat enggan memberikan apa yang diinginkan Usfi.


“Buat apa?” tanyanya, dia pikir Usfi dan dirinya bukanlah orang yang akan membutuhkan nomor telepon untuk sebuah keperluan.

__ADS_1


“Buat koleksi!” Jawab Usfi kesal.


“Nggak usah kalau gitu! Nanti suamimu marah, kalau kamu telepon aku!” Gani mengingat sikap Asma, saat bicara pada Usfi.


Usfi terdiam sambil mengerutkan rekeningnya mencoba mencerna ucapan pria di hadapannya, karena khawatir dia salah dengar saja.


“Suami yang mana, Bang?”


“Eh, bukannya waktu kamu makan di restoran sama laki-laki, itu suami kamu, kan?”


“Oh! Abang sekarang gantian nuduh sembarangan ... itu Ahmad, salah satu guru ngaji di sekolah, bukan suami!”


“Aku nggak nuduh, cuman tanya aja, apa salahnya?”


“Kalau tanya, nggak begitu caranya!”


“Astaghfirullah, kenapa sih aku nggak pernah bener di mata kamu, Musfironah Hanum binti Muhammad Sholeh! Terus gimana caranya? Hah!”


Usfi tercekat untuk sejenak kemudian tersenyum sambil berkata, “Nah, gitu dong kalau manggil nama orang itu yang bener, Bang ... jangan oon, oon, emangnya aku oon apa?”


Gani tersenyum lebar, menyadari panggilannya yang keliru.


“Nggak! Kamu pinter kok!” kata Gani pasrah, lalu, mengeluarkan telepon genggam dari saku celana, untuk memberikan nomor ponsel pada perempuan yang ada di depannya.


Mereka saling melempar senyum, lalu Usfi benar-benar pamit, setelah mendapatkan nomor ponsel Gani.


Sementara itu di dalam ruangan, Altiana mengintip kedua orang yang bertengkar untuk sesuatu yang tidak penting itu, sambil menarik napas panjang di sisi pintu.


“Apa mereka bertengkar lagi?” tanya Ami.


Altiana pun mengangguk.


“Semoga mereka benar-benar berjodoh, coba kamu telepon Ceu Ima, biar Emak yang ngomong sama dia!” kata Ami dengan wajah yang berbinar.


“Emak, nggak usah ikut campur urusan Bang Gani!” kata Altiana dengan heran, karena ibunya mau menjodohkan orang yang selalu bertengkar setiap kali bertemu.


“Udah, kamu tenang aja!”


Mau tidak mau, Altiana memberikan telepon genggam pada ibunya, setelah tersambung dengan nomor milik Ima, kedua wanita yang berteman baik itu, kemudian membicarakan sebuah rencana dan Altiana menyimak pembicaraan ibunya sambil sesekali melihat keluar, dia berjaga kalau-kalau Gani tiba-tiba masuk dengan anaknya.

__ADS_1


❤️❤️❤️👍🙏❤️❤️❤️


__ADS_2