Cinta Butuh Utang

Cinta Butuh Utang
Serahkan Azam Padaku


__ADS_3

Serahkan Azam Padaku


Usfi membatalkan niat untuk memarkirkan mobil di sisi jalan, dan hanya memutar posisinya saja lalu, turun sambil melambaikan tangan pada Azam. Dia berjongkok saat anak laki-laki itu menghampirinya.


“Udah, sana masuk dulu! Kasian Ibumu sakit, Umma tunggu di sini saja, nanti jemput Azam lagi, kok!”


“Benar, ya! Jangan pergi!”


Usfi mengangguk sambil mengusap kepala anak itu lembut. Lalu, berdiri, sambil tersenyum pada Lilis yang sudah berada di dekatnya dan menatap penuh tanda tanya.


Disaat yang bersamaan Asma keluar dari dalam rumahnya dan melihat semua pemandangan yang menusuk hatinya. Dia sudah bisa menebak jika wanita itu pasti istri baru Gani.


“Mampir dulu, Teh!” kata Lilis dengan ramah, “Ayo masuk! Jangan sungkan!”


Usfi menoleh pada Gani sebelum menjawab untuk meminta persetujuan, setelah mendapat isyarat suaminya yang mengangguk, dia pun ikut mengangguk dan berkunjung bersama ke rumah itu.


Semua orang duduk di ruang tamu, hingga hampir semua kursi terisi.


Gani memperkenalkan Usfi sebagai istrinya yang belum sepekan ini dia nikahi. Tentu saja tanpa menceritakan latar belakang pernikahan mereka. Akhirnya Asma mengerti kenapa Azam memanggilnya Umma dan terlihat begitu dekat dengannya. Bahkan, anak laki-laki itu memilih duduk dipangkuannya.


Lilis menghidangkan beberapa camilan dan teh manis, sambil menceritakan perkembangan tanaman hias dan ternak ikan lele mereka yang semakin banyak, membuat Adit ikut mendapatkan tugas untuk memberi makan setiap harinya.


Setelah dirasa basa basi dan ramah tamah cukup, Gani minta undur diri dan meminta izin untuk pergi mencari penginapan, untuk bermalam. Sementara Azam akan tinggal sementara dengan ibunya sebelum mereka jemput kembali keesokan harinya.


Namun, sebelum Gani dan Usfi beranjak, Asma menahan mereka.

__ADS_1


“Bang, sebenarnya aku ingin Azam tetap di sini saja, nggak usah ikut pulang. Tolong jangan jemput Azam besok ...! Apalagi sekarang kamu sudah menikah, Bang. Jadi, bisa punya anak lagi dari teh Usfi!” kata Asma dengan suara bergetar, wajahnya masih pucat.


“Apa maksud kamu, Asma? Kamu ngomong gitu, hanya karena aku sudah nikah lagi?”


“Bukan begitu, Bang?”


“Terus kenapa? Anak itu tanggung jawabku, sampai di hari kiamat nanti, makanya, sekalian aku urus biar lebih gampang biayanya!”


“Aku tahu, Bang! Aku tahu! Tapi, aku nggak bisa punya anak lagi, sekarang, Bang! Makanya, aku minta Azam tetap di sini, aku nggak akan minta tanggung jawab Abang soal biaya, yang akan tanggung semuanya!”


“Kamu bisa bilang sekarang ... nggak akan minta tanggung jawab! Memangnya siapa kita yang cuman manusia biasa, Asma? Gimana kalau Allah yang minta pertanggung jawabanku, apa kamu bisa jawab begitu, nanti?”


“Bang, aku janji, kalau soal biaya aku akan tanggung jawab, Abang boleh nelepon atau ketemu dia kapan saja!”


“Kenapa?”


Ucapan itu membuat Gani terkejut, dalam hati dia langsung prihatin dengan nasib Asma yang mendapatkan cobaan seperti itu, justru setelah berpisah dengannya.


“Mungkin, sudah bagian dia sekarang begitu, dan sudah bagian ku dulu hidup bersamanya pun mengalami hal yang demikian” ujarnya dalam hati.


Asma melorot ke lantai dari duduknya dan bersimpuh di hadapan Gani, sambil menangis. Dia baru mengetahui penyakitnya setelah sakit parah dan melakukan cek up menyeluruh pada tubuhnya sebulan yang lalu, dan sampai sekarang belum sembuh juga. Awalnya dia hanya mengira sakit perut biasa, tapi, dia tidak menyangka akan mendapatkan penyakit yang harus kehilangan rahimnya.


“Maafkan semua kesalahanku, Bang! Aku banyak dosa, banyak salah, sama Abang. Waktu kita pisah juga aku belum sempat minta maaf secara langsung! Maafkan aku, Bang!”


Semua yang ada di ruangan itu, Usfi, Lilis dan Adit yang menguping di ruang makan, terdiam. Mereka sama-sama takjub dengan pemandangan yang ada. Sementara Azam sibuk menikmati makanan, padahal dirinyalah yang menjadi topik pembicaraan orang dewasa di sekitarnya.

__ADS_1


“Asma! Berdiri, kamu nggak perlu seperti itu!”


“Pokoknya aku minta kerelaannu, Bang. Berikan Azam padaku!”


“Kamu tahu, kan itu artinya menyalahi ketentuan yang sudah kita sepakati di pengadilan agama?”


“Iya, Bang! Makanya aku mohon ... Bang!”


“Bang!” Usfi tiba-tiba menyela,.dia memegang tangan Gani untuk menyadarkannya kalau seorang ibu tetap punya hak atas anaknya walaupun, pengadilan agama membatalkan hak asuh atas dirinya. Dia tidak tahan dengan tangisan dan permohonan Asma yang begitu memilukan. Namun, dia juga tidak ini ngin ikut campur dalam urusan suami dan mantan istrinya.


Gani menoleh pada Usfi dengan wajah yang cemberut. Kalau Azam tinggal dengan Asma, maka dirinyalah yang akan merindukan anak itu. Dia tidak ingin mengalami hal seperti dulu, saat merindukan ayahnya dan dia tidak bisa kembali karena terlibat banyaj utang. Namun, saat dia sudah punya kesempatan untuk pulang, dia tidak bisa menemui ayahnya karena sudah tiada.


Namun, dia juga tidak bisa membiarkan Asma terus memohon seperti itu, sangat riskan melihat ada orang memohon padahal dirinya hanyalah manusia biasa.


Tiba-tiba ada seorang pria yang masuk, sambil mengucapkan salam, setelah terdengar suara mobil berhenti di depan rumah.


“Asma! Ngapain kamu berlutut seperti itu di hadapan laki-laki ini? Hah! Bangun! Memalukan saja!” Dia adalah Nara. Pria itu baru pulang dari rumah orang tuanya untuk mencari bahan herbal alami yang bisa dan dipercaya mampu mengobati penyakit istrinya.


Usfi melihat pria tinggi tegap yang berdiri sambil menarik tangan Asma agar berdiri. Dia memang memiliki perawakan yang menarik dan bisa dikatakan lebih baik dari Gani, pantas saja Asma tergoda dan mengabaikannya. Apalagi dari segi kekayaan mungkin Gani dulu, pun tidak lebih baik dari Nara.


“Kak!” kata Asma sambil berdiri mengikuti perintah suaminya, sedangkan air mata masih memenuhi pipinya.


“Aku Cuma ingin meminta Azam tinggal dengan kita di sini!” kata Asma lirih penuh permohonan.


Sementara Gani heran, dia mengira jika Asma dan keluarga akan pindah setelah menikah dengan Nara, tapi nyatanya mereka tetap tinggal di rumah yang sama. Jadi, mana kekayaan yang dulu mereka banggakan darinya.

__ADS_1


Saat Asma menelpon untuk mengobrol dengan Azam, Gani tidak pernah sekalipun penanyakan tentang masalah pribadi mantan istrinya. Terlalu sakit hingga dia tidak lagi peduli, terlalu kecewa hingga dia tidak mau tahu tentang kehidupannya.


❤️❤️❤️👍🙏❤️❤️❤️


__ADS_2