Cinta Butuh Utang

Cinta Butuh Utang
Duhai Belahan Jiwa


__ADS_3

Duhai Belahan Jiwa


“Siapa dia, Fi?” tanya Anwar sambil memasang sabuk pengaman. Dia melihat Usfi yang menatap pada pria dari balik jendela bis yang berhenti di sebelah mobilnya, secara intens, bahkan sampai tidak sadar kalau suaminya sudah masuk ke dalam.


Usfi menoleh ke arah Anwar sambil mengangkat bahunya. Sementara Anwar mulai menginjak pedal gas dan meninggalkan area pengisian bahan bakar itu.


“Kenapa dia melihat kamu begitu, kayaknya kalian saling kenal?”


“Mungkin!”


Tiba-tiba Anwar menjadi ragu, dan dia mempertanyakan penasarannya sejak tadi.


“Dari mana kamu tahu alamat posku?”


“Dari teman, namanya Nafisa dia polisi dan kenal sama Mas terus dia tanya apa Mas menikah lagi ... ya terus aku ke sana, nggak tahunya Mas selingkuh!”


“Aku nggak selingkuh! Aku berusaha jaga diri demi kalian?”


“Dengan percaya Ramlan itu? Terus meladeni Marini yang berusaha mengambil hati Mas Anwar? Iya!”


“Udah, udah deh! Nggak usah mulai lagi!”


“Mas yang mulai! Ah, nggak usah percaya sama ramalan dan prktik dukun ... itu syirik, Mas!”


“Siapa yang pergi ke dukun, sih?”


“Terus siapa itu Bapaknya atau Pamannya Marini kalau bukan dukun? Mas percaya gitu aja, banyak orang jaman sekarang lebih banyak percaya hal mistis, dari pada kitab agamanya sendiri! Mas, kita ini suami istri yang sudah seperti belahan jiwa. Jadi, duhai belahan jiwa ... mengertilah, aku seperti ini karena sayang sama kamu, Mas!"


Anwar diam dan tetap fokus melihat ke jalanan.


“Mas ... bisa jadi, lama kelamaan Mas akan jatuh hati sama perempuan itu kalau terus menerus bersama. Kayak kita dulu ... Kita nggak kenal sebelumnya, nggak punya perasaan cinta sedikit pun, bahkan banyak hal tidak baik aku dengar soal Mas Anwar, tapi akhirnya aku bisa menerima dan mencintai Mas seutuhnya sebagai suami.”

__ADS_1


Mobil terus melaju kencang.


“Satu hal lagi, Mas, kenapa aku mau menikah walau jadi yang kedua, aku yakin kalau Mas nggak akan tergoda lagi dengan wanita lain setelah memiliki istri selain Mbak Mai. Ternyata aku salah, masih saja kamu mau mesra-mesraan sama wanita itu padahal kamu tahu dia bukan hakmu!”


Anwar masih diam. Dia tidak ingin menyela ucapan Usfi meski giginya beradu menahan geram mendengar semua ucapan itu. Wajahnya pun mulai menggelap menandakan bagaimana suasana hatinya saat ini.


Kalau bukan berada di mobil mungkin sudah dia tinggalkan pergi atau dia sumpal mulut Usfi. Dia masih khawatir dengan keadaan Maisha, tapi istri keduanya itu terus saja menceramahinya soal Marini.


Tiba-tiba Anwar menghentikan mobilnya secara mendadak.


“Kamu mau ikut ke rumah sakit atau pulang ke rumah Abah?”


Usfi diam dan berfikir, sambil melihat ke sekitar di luar jendela. Mereka tengah berada di lampu merah, tempat persimpangan jalan, antara rumah ayahnya dan rumah sakit. Kalau dia ikut ke rumah sakit, dia khawatir Maisha cemburu melihat suaminya datang bersama dirinya.


Bisa jadi Maisha berpikir jika Anwar tidak pulang selama ini karena bersama Usfi, padahal apa yang dilihatnya tidak seperti yang terlihat.


“Aku turun di sini saja, biar cari taxi ke rumah Abah!”


“Ya udah sana, jangan pulang kalau belum aku jemput. Aku nggak enak sama Abah kalau kamu datang dan pulang sendiri!”


Setelah Usfi turun dari mobil dan menutup pintu, Anwar langsung melajukan kendaraan itu dengan kecepatan tinggi, sementara istrinya, tetap berdiri di trotoar untuk menunggu taxi.


Tidak terlalu lama Usfi menunggu, taxi yang ditunggu pun datang lalu, membawanya pergi ke rumah kedua orang tuanya. Namun, betapa terkejutnya saat masuk ke sana, dia melihat Gani tengah bercanda gurau dengan ayah dan ibunya.


Semua orang yang ada di sana menoleh saat mereka saling mengucap dan membalas salam. Ada Sholeh dan Halimah—istrinya, yang biasa dipanggil Ima, Gani, dan Dedah, pembantu sekaligus tetangga mereka yang bekerja selama beberapa tahun di sana.


“Wah, kebetulan kamu pulang, Fi! Lihat siapa yang datang!” kata Sholeh, ayah Usfi sambil melambaikan tangan. Pria tua yang rambutnya sudah memutih semua itu, duduk di sofa tunggal di antara sofa yang ada di ruang tamu rumahnya.


Gani dan Usfi saling melempar pandangan sekilas, mereka sempat bertemu di balik kaca tadi, siapa yang menyangka kalau akan bertemu kembali.


Gani pikir Usfi pasti pulang dengan Anwar yang jelas-jelas dia lihat sedang bersama dalam satu mobil. Sementara Usfi pikir Gani pasti pulang ke rumah emaknya.

__ADS_1


“Tumben kamu pulang sore-sore, Fi? Biasanya kalau sore kan sibuk-sibuknya bungkus sayuran karena malam mau di kirim ke pasar?” kata Ima—ibunya.


“Hari ini, saya libur kerja, Ambuk!” sahut Usfi sambil menyalami dan mencium punggung tangan kedua orang tuanya.


“Kamu sendiri, Fi? Nggak sama Anwar?” kata Sholeh—ayahnya.


“Mas Anwar ke rumah sakit, Abah. Mbak Mai sakit katanya!” sahut Usfi sambil duduk di dekat ibunya. Dia tidak melihat pada Gani lagi, menganggapnya sebagai angin yang bertiup dan pergi.


Sementara Dedah, pembantunya pamit undur diri setelah bersalaman dengan Usfi. Meskipun wanita itu hanya sebagai pembantu, tapi, Usfi tetap menghormatinya karena lebih tua.


“Maasya Allah, Mai sakit? Sakit apa dia, Fi? Sudah lama di rumah sakit?” kata Ima terlihat begitu kuatir.


“Baru hari ini, saya juga belum tahu, Ambuk. Nanti saya telepon Mas Anwar lagi kalau mau tahu apa penyakitnya.”


Kedua orang tua Usfi itu mengangguk.


“Eh, iya, Fi. Kamu masih ingat sama Gani, kan? Dia nggak berubah ya, masih seperti dulu!” kata Ima lagi, sambil tersenyum, begitu pula dengan Usfi.


“Oh iya, Nak Gani, kapan-kapan bawa istri dan anaknya ke sini, biar kenal sama Abah sama Ambuk!” kata Sholeh tenang sambil menyeruput teh hangat yang dihidangkan Dadah di meja.


“Iya, Abah. Mereka jauh, ada di Tasik, ikut Ibu mertua saya! Apalagi dia juga kerja, jadi, nggak bisa diajak begitu saja.” Gani menyahut ramah, sudah dari dulu mereka akrab seperti itu dan sudah tiga tahun ini mereka tidak bertemu.


Usfi sempat heran bagaimana Gani bisa lebih cepat sampai di rumahnya padahal tadi, Anwar selesai mengisi bahan bakar lebih cepat, dari pada bis yang dinaiki Gani.


Saat melihat Usfi di mobil bersama Anwar tadi, Gani langsung turun dari bis yang ditumpanginya dan naik ojek, hingga dia lebih cepat sampai ke rumah Sholeh. Dia begitu penasaran dengan apa yang melatarbelakangi pernikahan Usfi, seperti yang pernah dikatakan wanita itu kepadanya sebulan yang lalu.


Namun sayang, belum sempat dia menanyakan hal yang ingin diketahui, gadis itu muncul secara tiba-tiba membuat Gani hanya bisa menghela napasnya dalam-dalam, karena harus membatalkan niatnya.


Bahkan, saat ini dia begitu terkesima dengan Ima dan Sholeh yang, tampak begitu panik mendengar kabar jika Maisha sakit. Orang lain akan heran melihatnya, bukan hanya Gani, sebab Maisha adalah istri lain dari menantu mereka.


“Terus, kamu sekarang kerja di mana, Gan?” tanya Sholeh.

__ADS_1


“Dia kerja sama saya, Abah. Jadi, anak buah Usfi!” Gadis itu menyahut pertanyaan kedua orang tuanya tanpa beban.


“Apa?” kata Sholeh dan Ima secara bersamaan dengan wajah penuh tanda tanya.


__ADS_2