Cinta Butuh Utang

Cinta Butuh Utang
Kita Nikah


__ADS_3

Kita Nikah


“Usfi! Ini benar kamu, kan, Fi?” terdengar suara Anwar yang begitu riang dari ujung telepon, “Kenapa tiba-tiba kamu nelpon aku, Fi? Apa kamu kangen? Mau ya, kamu jadi istri aku lagi?”


Serentetan pertanyaan dari Anwar membuat Usfi menjauhkan ponselnya barang sejenak dari telinga, disaat yang sama, jendela kaca mobilnya diketuk seseorang dari luar.


Usfi menoleh dan terkejut melihat Gani yang lagi-lagi memergokinya parkir sembarangan, karena gugup dia pun mematikan telepon dan menurunkan kaca Jendela, tanpa berkata apa-apa.


“Ngapain kamu di sini, On? Malem-malem keluyuran, nggak bisa jaga diri ... sudah tahu jadi janda!”


“Astaghfirullah ... Bang Gani!”


Ya Allah ... rasanya Usfi ingin sekali meremmat mulut laki-laki itu dengan tangannya sendiri. Kenapa sih, dia nggak berubah dari dulu, suka sekali mengganggu gadis yang pernah memenuhi hatinya itu.


“Apa? Aku benar, kan? Ingat pikiran laki-laki kalo ada janda lewat, apalagi janda tajir kayak kamu, Fi!”


Usfi mulai kesal. Dia membuka pintu mobil dengan kasar dan keluar, dia tidak peduli apa kata orang pada dirinya dan Gani. Dia berdiri di sisi mobil setelah membanting pintu depan kuat.


“Ya! Terus Abang mau apa? Hah! Siapa yang jelas-jelas yang bikin masalah di sini! Nggak usah bawa-bawa status janda, Bang! Status orang itu tergantung siapa yang memakainya, banyak laki-laki berstatus suami yang senang mela cur tanpa memikirkan harga diri! Banyak perempuan yang berstatus istri tapi masih cari gigolo tanpa mikirin suami, terus apa salahnya orang yang berstatus janda kayak aku ini, Bang? Aku masih bisa jaga diri! Lihat, nggak ada laki-laki lain di mobilku, kan?”


“Kenapa kamu marah, sih? Aku cuman ingetin kamu, kok!”


“Terus, apa maksudnya tadi bilang aku Janda nggak bisa jaga diri? Kalau memang kuatir sama aku, Bang. Ayo! Kita nikah!”


Setelah berkata begitu, Usfi kembali ke mobil, karena ponselnya berbunyi dan begitu dia melihat nama pemanggil pada layar, dia cepat-cepat menutup panggilan, karena Gani masih berdiri di dekatnya.


Sementara Gani yang sempat melihat nomor ID pemanggil pada layar telepon Usfi, pun memalingkan muka sambil tersenyum kecut.


“Kamu ini, Fi!” dia berkata sambil melipat kedua tangannya di depan dada, “Ngajakin orang nikah, tapi masih suka menghubungi suami orang!”


Lagi-lagi Gani teringat dengan sikap Asma pada dirinya.


Usfi menoleh dan berkata, “Bukan aku yang nelepon, Bang! Tapi orang itu dan aku nggak ada hubungan apa-apa lagi sama dia!”


“Apa bedanya! Toh nggak ada orang yang tahu kamu masih punya hubungan atau nggak!”


“Terserah! Bukan urusan, Abang, aku mau telepon siapa! Dan aku serius ngajak Abang Nikah!”


Usfi hendak menutup pintu mobil saat tangan Gani menahannya, membuat Usfi cemberut.


“Ya Allah!” batin Usfi sambil mengepalkan tangan dan memejamkan matanya.


“Awas!” kata Usfi.


“Kamu nggak boleh bawa mobil kalau lagi emosi!” Gani berkata dengan tangan masih berada di pintu mobil.

__ADS_1


“Kenapa?” tanya Usfi tegas.


Gani diam. Gemas rasanya melihat perempuan itu.


Sementara Usfi, menunggu keputusan atas permintaannya tadi, kalau memang Gani tidak bisa memutuskan malam ini, maka dia akan sangat bingung dalam menyelesaikan masalah anak-anak Maisha, dia butuh seorang pria yang siap melindungi dirinya untuk menghadapi Anwar, atau ... dia harus menikah lagi dengan mantan suaminya itu, demi anak-anak dan mengusir Marini dari rumah mereka.


Waktunya tidak banyak, karena dia harus mengurus sekolahnya, ini bukan waktunya libur!


Dia tidak punya cara, untuk membuat dunia anak-anak itu kembali, melihat Noura dan Imad berurai air mata karena habis dimarahi ibu sambungnya, seakan hatinya teriris.


Dia sibuk mengurus banyak anak-anak di luar sana hingga mereka bahagia. Sementara ada anak-anak Maisha yang pernah di titipkan padanya, justru bersimbah air mata.


Dunia memang akan selalu dipenuhi dengan ketimpangan sebelum benar-benar dihancurkan penciptanya, sebab bumi adalah bumi, ia bukan surga yang hanya ada ketenangan di dalamnya.


“Awas, Bang!” kata Usfi sambil kembali memutuskan panggilan Anwar dari ponselnya.


“Kenapa nggak diangkat?” tanya Gani.


Usfi diam sejurus, sambil melihat antara Gani dan telepon yang menampilkan nama Anwar, secara bergantian.


“Abang mau aku jawab panggilan ini?”


“Ya! Buktikan seperti yang kamu bilang kalau kalian nggak punya hubungan apa-apa!”


Gani diam, dia melepas pegangan di pintu mobil Usfi.


“Bang! Mas Anwar itu, mau ngajak aku nikah lagi!” tiba-tiba Usfi menitikkan air mata, sambil memperbaiki posisi duduk di kursi kemudi, dia mengusap pipinya kasar.


“Yang bener, On!”


Usfi melirik Gani kesal, sambil menyalakan mesin lalu, menangis sambil menelungkupkan wajahnya pada setir mobil. Tentu saja sikap gadis itu membuat Gani bingung, dia tidak tahu harus berbuat apa, hingga kemudian nekat masuk ke dalam dan duduk di kursi samping kemudi.


Tanpa diminta akhirnya laki-laki itu pun berkata, “Ya sudah ... ayo! Kita menikah ....” dengan suara yang gemetar, dia tidak mengerti dengan tindakannya sendiri, dan heran dengan semua sikap Usfi, “kapan kamu mau di lamar dan ngomong sama Abah? Bulan depan, Minggu depan?” Gani memberi pilihan yang kira-kira masuk akal.


Usfi mengangkat wajahnya basah dan melihat Gani sambi tersenyum.


Dia pun berkata, “Sekarang, Bang!” sambil memposisikan diri siap mengemudi.


“Apa? Terus terang aku nggak ada persiapan apa-apa! Aku juga nggak punya niat nikahin kamu, Musfironah Hanum!”


“Nggak usah pake persiapan, mulai sekarang aja niatnya Bang!” Usfi berkata sambil menekan pedal gas dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


“Abang tadi nggak bawa motor, kan?” Usfi bertanya setelah kendaraannya bergerak lincah di jalanan.


“Nggak, lagi cari angin tadi nggak kerasa kok nyampe depan rumah kamu!”

__ADS_1


“Oh, aku kira sengaja mau ke rumah, Bang!” Usfi berkata sambil menahan tawa.


“Aku nggak punya apa-apa! Ngapain juga mau nikah sama orang kayak aku, On?”


“Abang nggak punya apa-apa, tapi kan, aku yang Abang bilang tajir ini mau jadi istri Abang!”


Gani diam, baginya, Usfi tudak berubah, dia hanya terlihat kalem dan menjaga diri saat menjadi istri Anwar.


Usfi membawa Gani langsung ke rumah orang tuanya, yang tampak ramai karena ada beberapa tamu berkumpul di ruang tamu yang cukup luas itu. Ruangan yang sengaja di buat untuk menampung orang dalam jumlah banyak.


Sholeh memperkenalkan anak perempuannya dengan penuh kebanggaan. Usfi menyalami satu persatu tamu perempuan setelah mengucapkan salam.


Gani menyusul masuk beberapa saat kemudian, dia sangat menjaga nama baik Sholeh, hingga tidak bersama dengan Usfi ketika mereka datang tadi, dia khawatir orang akan berpikir jika mereka sedang berdua. Padahal jujur saja lebih baik.


Usfi dan Gani duduk agak berjauhan, karena tamu laki-laki dan tamu perempuan, dipisahkan oleh tabir setinggi dada yang terbuat dari ukiran kayu jati tua. Namun, mereka tetap berkomunikasi melalui pesan pribadi.


“Bang!”


Beberapa saat menunggu, barulah Gani mengangkat ponsel dan menjawab pesan dari wanita yang sengaja dia beri nama Oon-ku.


“Ya, ada apa?” Jawab Gani singkat.


“Abang bawa piti, tak?”


“Buat apa piti malam-malam begini, On? Kalau kamu mau jajan, kenapa nggak tadi aja mumpung masih di jalan?”


“Bukan buat jajan-lah Bang, tapi buat mahar!”


“Apa kamu bercanda, On? Kita nggak mau nikah sekarang, kan?”


“Abang, tadi waktu kita di jalan sudah niat belum, kalau mau nikahin aku?”


“Sudah.”


“Ya sudah, yang penting Abang bawa uang! Kalau tidak ada, sarung yang Abang pake pun jadi buat mahar aku nanti!”


Gani tak menjawab, hatinya berkedut sambil melihat Usfi dari kejauhan. Lalu menulis pesan setelah berpikir beberapa saat.


“Sebuah pernikahan bukanlah permainan, bukan asal sah saja sudah cukup! Bukan ... bukan seperti itu .... Walaupun, pernikahan para nabi dan sahabat itu sederhana, tapi mereka memberi mahar yang bagus dan pantas, karena mahar mencirikan harga diri seorang pria!”


“Contohnya, Nabi Muhammad ketika menikahi Asyah, maharnya hanya sebuah bejana, tapi bejana itu terbuat dari perunggu yang apabila dijual dengan harga saat ini, maka jumlahnya bisa mencapai ratusan juta, atau mahar Ali bin Abi Thalib saat menikahi Fatimah, hanya baju besi saja yang dia punya, tapi kalau baju besi itu dijual, harganya bahkan mencapai miliyaran!”


“Terus, Bang Gani mau ngasih aku mahar apa? Kan, mahar bisa di bayar dengan cara mencicil?”


❤️❤️❤️👍🙏❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2