Cinta Butuh Utang

Cinta Butuh Utang
Harus Tega


__ADS_3

Harus Tega


Usfi tertegun sejenak di depan pintu rumah yang dahulu diberikan Anwar padanya, dia baru saja membereskan rumah itu sebelum pergi jauh.


Dia melihat Noura yang juga berdiri di samping motor matic miliknya. Gadis remaja itu mengusap pipinya yang basah oleh air mata.


“Tante tega!” pekiknya, membuat Noura terkejut, karena baru hari ini gadis itu memarahinya.


‘’Apa Mas Anwar baru bilang kalau bercerai dariku? Tapi, ini sudah lewat empat bulan dari perceraian kami!’ kata Usfi dalam hati.


Ternyata selama ini, Anwar benar-benar menutup diri dari anak-anak tentang perceraiannya dengan Usfi. Dia selalu datang dan pergi seperti biasa, seolah tidak memiliki beban dalam keluarga. Semua biaya kebutuhan rumah dan anak-anaknya, sudah dia serahkan pada saudara Maisha yang dia percaya dan ada asisten rumah tangganya untuk menangani mereka.


Setiap kali anak-anak bertanya tentang Usfi, maka Anwar selalu memberi jawaban, kalau ibu sambungnya itu mungkin lelah dan bosan. Tentu saja mereka kecewa dengan ucapan Anwar. Oleh karena itu Noura semakin kesal padanya, dan mengira jika Usfi sudah mengambil semua harta ayahnya lalu, menghilang begitu saja.


Namun, beberapa hari ini, Noura justru lebih kesal lagi dengan kehadiran seorang wanita yang hamil tua bersama ayahnya, di rumah mereka. Apalagi ayahnya mengakui kalau wanita itu adalah istrinya. Noura pun marah besar, hingga Anwar mengurungnya di kamar. Baru hari ini dia bisa kabur, karena laki-laki itu pergi ke rumah sakit umum untuk memeriksakan kandungan.


Usfi tidak tega melihat gadis remaja itu menangis di hadapannya, semengesalkan apa pun, dia tetaplah anak Maisha, wanita yang luar biasa baik di matanya dan menyayanginya.


‘’Maaf, Mbak Mai, aku nggak bisa menjaga anak-anak karena sikap Mas Anwar menyakitiku!” lirihnya.


“Kenapa kamu nangis, Ra?” tanya Usfi sambil melangkah mendekati anak itu dan memeluknya.


Noura memukul punggung Usfi, tapi membalas pelukannya dan menangis cukup di bahunya.


“Kenapa, Tante? Kenapa?” katanya terbata-bata, setelah melepaskan pelukannya, tapi tetap menangis, “Kenapa Tante bercerai dari Papa? Apa kurangnya Papa, Tante? Papa sudah kasih semua hartanya untuk Tante, kan?”


Usfi diam dan hanya menatap gadis itu dengan penuh kasih sayang. Mendengarkan semua keluh kesah dan membiarkannya melepaskan amarah.


“Ayo! Masuk dulu dan duduklah! Kita bicara di dalam.”


“Nggak perlu, Tante!” Noura berkata sambil menepis tangan Usfi, kasar.

__ADS_1


“Apa kamu baru tahu kalau Tante bercerai? Ini sudah lebih dari tiga bulan!”


“Ya! Papa nggak pernah bilang kalau sudah pisah dari Tante, Si Marini itu yang bilang ke aku kalau Papa sudah menceraikan Tante!”


“Siapa? Marini? Jadi, Mas Anwar bawa perempuan itu ke rumah Mbak Mai? Sejak kapan?”


Usfi bertanya sambil menggelengkan kepala, dia merasa tidak salah dalam mengambil keputusan untuk bercerai, karena bila dia tetap bertahan, maka justru dirinyalah yang akan terus menerus terluka karena sikap suaminya.


Bukankah setiap orang hanya perlu menjadi dirinya sendiri untuk bahagia, dia tidak perlu menjadi orang lain untuk menciptakan gembira, bagi seseorang yang belum tentu bisa menjaga hatinya.


‘Mungkin wanita kuat seperti Mbak Mai akan memilih untuk bertahan karena dia punya banyak alasan untuk melakukannya, tapi, aku lebih memilih bercerai karena alasan yang berbeda’ batin Usfi.


“Ya! Dan, Tante tahu soal wanita itu? Kenapa nggak bilang sama Noura? Kenapa? Biar aku bunuh saja perempuan itu!”


Tangisan gadis itu semakin keras dan kecewanya semakin dalam pada semua orang dewasa di sekitanya.


“Nah, ini yang nggak baik ... Tante memang sudah lama tahu Sola perempuan itu, tapi, sengaja nggak ngasih tahu, karena kamu bisa bersikap gegabah ... Orang tuamu pasti nggak mau, anaknya jadi pembunuh! Masa depanmu masih panjang, kamu harus jadi anak yang baik demi membanggakan Mama!”


Noura menangis lagi lebih keras, sambil berjongkok di dekat motor, Usfi ikut berjongkok di depannya, air mata menetes juga.


Perpisahannya dengan suaminya, memang menyisakan kesedihan yang dalam, tapi, melihat gadis remaja ini begitu terpukul, lebih menyedihkan lagi. Dia membayangkan jika dirinya berada di posisi Noura, mungkin hatinya akan merasakan sakit yang sama.


“Tante tahu, kamu kecewa dan sedih, sebab tidak ada perpisahan yang menggembirakan, tapi ingat, semua sudah menjadi takdir dan keputusan yang diambil oleh Papa. Jadi, percuma saja kamu menangis terus menerus, karena Papa dan Marini tetap akan tunggal di rumah itu, kan?”


“Makanya, aku bilang Tante tega! Apa Tante nggak sayang sama aku, sama Fadil dan Imad? Padahal kami juga sayang sama Tante!”


Ucapan Noura kembali membuat Usfi menitikkan air mata. Dia terharu walau sikap gadis itu selama ini padanya sangat ketus dan cuek, tapi, nyatanya kasih sayang sudah bersemayam tanpa mereka sadari. Walaupun, akhirnya dia akan pergi, tapi harapannya adalah agar kasih sayang tetap ada di hati mereka.


Usfi menggamit bahu Noura untuk berdiri dan merangkulnya, lalu, berjalan masuk ke dalam rumah yang sudah bersih, bahkan semua perabot sudah ditutupi dengan kain putih.


Melihat suasana rumah itu, Noura menghentikan langkahnya. Lalu, melihat Usfi penuh tanda tanya.

__ADS_1


“Apa Tante mau pergi?”


“Duduklah, Tante memang mau pergi dari sini!”


“Tante jahat! Jahat, apa Tante mau jual rumah ini? Harusnya Tante tahu, rumah ini dulu atas permintaan Mama ke Papa buat Tante!”


“Ya! Tapi, Tante nggak akan menjualnya!” Usfi berkata sambil mengeluarkan kunci rumah itu dan memberikan pada Noura.


“Tadinya, rumah ini mau Tante titipkan ke Abah dan Ambuk, tapi, sepertinya, kamu lebih membutuhkan rumah ini, jadi, ambilah ... eum ... tapi mobilnya mau Tante tinggalin di rumah Abah, biar ada yang merawat!”


“Apa maksud Tante?”


“Papamu memberi rumah ini atas inisiatif Mbak Mai, sekarang Tante sudah bercerai dari Papamu dan rumah serta mobil dijadikan mut’ah untuk Tante. Tapi, sekarang Tante mau berikan rumah ini buat kamu, jadi ... pakai rumah ini buat pelarian kalau kamu ingin pergi dari rumahmu! Ingat, jangan bilang sama Papa, oke? Semua surat rumah ada di laci kamar Tante.”


Noura seketika menatap Usfi dengan sorot mata berbinar.


“Noura sudah punya KTP? Kalau sudah, kamu bisa membalik namakan rumah ini atas namamu, simpan semua foto kenangan Tante, Papa dan Mamamu yang ada di sini.”


Noura melihat ke dalam rumah, ada juga foto Maisha dan Usfi di sana. Sementara Usfi, tahu benar apa yang dirasakan gadis itu, dengan keadaan keluarganya sekarang.


“Tapi, tolong jangan pergi sekarang, Tante! Gimana kalau istri Papa jahat sama Noura?” Noura kembali menangis sambil memeluk erat wanita itu.


Usfi menggelengkan kepalanya, “Makanya, Tante kasih rumah ini buat kamu ... Kalau seandainya nggak dikasih uang jajan, kamu bisa minta sama Pak Joko, dia yang ngurusin pos sejak Tante cerai sama Papamu. Dan, jangan berpikir buruk, mudah-mudahan dia perempuan yang baik,” kata Usfi, sambil mengusap kepala remaja itu dengan lembut.


“Maaf, tidak bisa ... Tante sudah pesan pesawat dan sudah buat janji dengan orang yang akan jemput Tante, besok!”


Mendengar hal itu, Noura sangat sedih, tapi seteguh apa pun pertahanan, sepertinya perpisahan tetap akan terjadi.


“Tante tega!”


❤️❤️❤️👍🙏❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2