
"Yas, aku badanku sakit semua gara-gara tidur di sofa. Kamu bagi aku tempat tidur dong," ucap Gibran.
"Tempat tidur, terus kita tidur dalam satu tempat tidur gitu?"
"Iya, dalam kontrak perjanjiannya kan gak ada larangan kita tidur bareng dan gak ada larangan untuk kita melakukan–"
"Stop." Yasmin memotong perkataan Gibran.
"Yaudah, kita tidur bersama tapi untuk melakukan itu, aku belum siap. Aku minta waktu."
"Kita nikah sah secara agama dan negara. Apa salahnya kalau nyobain satu kali saja."
"Gibran, yang aku tahu kita tidak akan mungkin melakukan hubungan itu dengan orang yang tidak kita cintai. Apa kamu serius mau melakukannya meski tak ada cinta diantara kita? Aku masih ingat dengan baik saat kamu mengatakan bahwa kamu masih mencintai Wanda dan kamu tidak akan pernah menggantikan posisi Wanda di hati kamu oleh siapa pun dan wanita mana pun."
Gibran terdiam, memang baru tadi siang dirinya mengatakan hal itu pada Yasmin tapi sebagai seorang laki-laki, dirinya juga tidak bisa pungkiri kalau dirinya merasakan sesuatu yang aneh saat bersama dengan perempuan apalagi dalam satu kamar yang sama.
Sebagai laki-laki dewasa yang normal, tentunya Gibran merasakan adanya sesuatu yang diinginkan saat sedang bersama dengan seorang wanita terlebih wanita itu adalah istrinya.
"Tidurlah Gibran. Meski aku ini istrimu tapi aku tidak akan memberikan hak kamu sebagai suamiku selama masih ada Wanda di hatimu. Aku tidak memaksamu untuk melupakan gadis yang sangat kamu sayangi itu tapi untuk melakukan itu, aku tidak mau kamu melihat Wanda dalam diriku, aku ingin kamu melihat diriku saja saat melakukan itu. Pernikahan kita hanya sebatas kontak, setelah waktunya habis kita akan berpisah lalu menjalani hidup masing-masing."
"Yasmin, aku tidak yakin kita akan berpisah. Orang tuaku sudah sangat menyayangi dirimu."
"Kita baru memulai semuanya beberapa hari. Kita jalani saja dulu dan kita ikuti saja kemana arah hubungan kita."
*******
Di kamar Galih.
__ADS_1
Galih terbaring dalam posisi terlentang, matanya menatap langit-langit kamarnya.
Entah kenapa dia terus terbayang pada kejadian yang dia alami tadi sore. Yasmin terlihat begitu cantik saat wanita itu mengobati lukanya. Wajah khawatirnya dan senyuman nya sangat sulit untuk dilupakan.
"Apa gue jatuh cinta sama Yasmin?" gumam Galih.
"Astaga Galih, sadar. Dia itu kakak ipar mu," sambung Galih.
Selama ini Galih belum pernah merasakan rasa yang dia rasakan saat sedang menata Yasmin, dia juga belum pernah dihantui oleh senyuman seorang gadis. Ini kali pertamanya dirinya merasa ada yang berbeda saat menatap seorang wanita.
"Gak mungkin gue suka sama Yasmin, secara kenal aja nggak dan lagi ... Aaah! Kenapa aku jadi mikirin istri orang sih?"
Galih menyibukkan selimutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya, dirinya merasa frustasi dibuat oleh senyuman Yasmin itu.
*******
"Bang, kamu mau kemana malam-malam gini?" tanya Dalina.
"Mau ke tempat Pak Dedi."
"Bang, tolong hentikan kebiasaan buruk mu ini. Mau sampai kapan kamu terus-terusan berjudi seperti ini?"
"Yang penting kamu tercukupi. Jangan pernah lagi kamu melarang ku."
"Tercukupi apa? Semua ini karena kamu yang sudah menjual anakku pada laki-laki itu."
"Aaah! Diam kamu. Kita tidak punya barang yang bisa dijual selain Yasmin."
__ADS_1
Zafran pun pergi meninggalkan Dalina di rumahnya!
*******
Di tempat yang Pak Dedi yang dimaksud oleh Zafran.
Beberapa laki-laki sedang berkumpul, mereka duduk dengan bentuk melingkar dan di tengah-tengah mereka ada tumpukan kartu dan juga uang kertas.
Zafran langsung berjalan menghampiri mereka dan ikut bergabung bersama mereka dan permainan pun dimulai. Rupanya mereka akan berjudi kartu di sana.
Seorang wanita yang usianya kira-kira tiga puluh tahun itu berjalan menghampiri Zafran dan langsung duduk di pangkuannya!
"Mas Zafran, udah berapa hari gak kesini?" ucap Monik.
Janda anak satu itu menang sudah langganan nongkrong di tempat itu untuk mencari uang. Tak jarang Monik menerima jasa pijat plus-plus demi mendapatkan uang untuk biaya hidupnya.
"Monik sayang, akhir-akhir ini Mas sibuk. Makanya Mas baru kesini sekarang," ucap Zafran sembari mengelus-elus lengan Monik.
"Bayarannya biasa ya Mas."
"Iya, yang penting Mas bisa nyolek-nyolek sedikit."
Monik tersenyum manis sambil menatap Zafran tak lupa sesekali wanita itu menyodorkan minuman beralkohol pada Zafran.
Mereka pun berjudi sambil minum-minuman di tempat itu.
Bersambung
__ADS_1