Cinta Dalam Pernikahan Kontrak

Cinta Dalam Pernikahan Kontrak
Cinta Dalam Pernikahan Kontrak bab 14


__ADS_3

"Ada apa ini?" tanya Galih yang baru tiba dari kantor polisi.


Tak ada yang menyahut, Galih melanjutkan langkahnya memasuki ruangan itu.


"Maaf Pak, di sini rumah sakit tolong jangan bikin keributan atau kalau tidak saya akan meminta petugas keamanan untuk mengusir Anda dari sini," sambung Galih.


Zafran melepaskan tangannya yang sedang mencengkram Gibran. "Kita bicara di luar," ucap Zafran sembari melangkah keluar dari ruangan itu.


"Nak, jangan. Biarkan saja Ayahnya Yasmin," ucap Dalina saat Gibran hendak menyusul Zafran.


"Tidak apa-apa Bu, wajar Ayah marah. Aku menang sudah gagal dalam melindungi Yasmin," ucap Gibran.


Gibran melanjutkan langkahnya untuk menyusul Zafran ke luar ruangan itu!


Galih, Maria dan Dalina menatap kepergian Gibran hingga sampai Gibran sudah tak terlihat lagi.


Dalina kembali menatap Yasmin, perlahan dia meraih pucuk kepala Yasmin lalu mengusapnya dengan lembut.


"Nak, ini Ibu. Kamu bisa dengar suara Ibu kan? Bangun Nak, sadarlah," ucap Dalina dengan suara lirih.


Air matanya terus mengalir, Dalina tak menyangka setelah Yasmin pulang dari tokonya, Yasmin mengalami kejadian ini.


"Bu, sabar ya. Adiknya Gibran sudah melaporkan kejadian ini pada polisi. Kita berdoa saja semoga Yasmin cepat sembuh dan pelaku tabrak lari nya bisa cepat ditemukan," ucap Maria.


*******


Di luar rumah sakit itu.


"Kamu kenapa gak jagain Yasmin hah? Gimana kalau dia mati?" ucap Zafran pada Gibran dengan suara tinggi.


"Kamu pikir ini kemauan saya? Saya juga tidak ingin ini terjadi. Kamu tahu gak, selain saya harus keluar banyak duit buat ngobatin Yasmin, saya juga dirugikan karena Yasmin sekarang tidak bisa lagi menjalani perannya sebagai istri saya," sahut Gibran.


"Semua ini gara-gara kamu. Coba kalau kamu melarang Yasmin menemui Ibunya atau kamu antar dia pergi dengan menggunakan mobil, mungkin ini semua tidak akan terjadi."


"Jadi kamu nyalahin saya?"


"Tentu saja. Emang benar kamu yang salah."


"Dengarkan saya baik-baik Pak Zafran. Kamu tidak bisa mengalahkan saya karena ini bukan salah saya dan satu lagi saat ini Yasmin masih terikat kontrak dengan saya jadi kamu tidak berhak atas Yasmin."


"Tapi tetap saja dia itu anak saya."


"Tapi sekarang dia sudah menjadi istri saya jadi hak atas diri Yasmin, sudah sepenuhnya menjadi milik saya."


Gibran mengambil beberapa lembar uang kertas dari dalam saku celananya lalu memberikannya pada Zafran.

__ADS_1


"Ini duit satu juta, sekarang kamu pergi karena saya gak mau lihat kamu di sini," ucap Gibran sembari menekan uang yang dia pegang di dada Zafran bagian sebelah kiri.


Zafran pun tak berucap lagi, dia segera mengambil uang itu lalu memadukannya kedalam saku celananya. Uang adalah kelemahan Zafran, sebesar apa pun masalah dengan Zafran, uang lah yang jadi penawar semua msalahnya.


Gibran langsung pergi setelah memberikan uang itu! Sementara Zafran masih berdiri di tempat semula sembari menatap punggung Gibran.


Dari kejauhan, Ayesha terus memperhatikan keadaan rumah sakit itu. Sejak tadi, dia melihat Galih keluar masuk rumah sakit itu dan dia juga melihat Gibran berasa di sana.


Melihat mereka yang terus bolak-balik di area rumah sakit itu, Ayesha sudah bisa menyimpulkan bahwa Yasmin sedang dirawat di sana.


"Semoga saja lo mati Yasmin. Lain kali jangan pernah merebut apa yang seharusnya menjadi milikku," ucap Ayesha didalam hatinya.


Meski Ayesha tahu Yasmin dirawat di rumah sakit tersebut tapi dirinya belum bisa yakin sepenuhnya sebelum dirinya melihat dengan langsung.


Ayesha pun berjalan ke arah rumah sakit itu! Rasa penasarannya yang begitu besar membuatnya harus memasuki rumah sakit dan mencari tahu tentang keadaan Yasmin.


Di ruangan rawat.


Gibran masuk ke dalam sana dengan langkah pelan dan dengan memasang raut wajahnya yang tenang!


"Apa dia sudah sadar?" tanya Gibran.


Dalina menggeleng, air mata tak hentinya keluar dari pelupuk nya.


"Mama sama kakak pulang aja biar aku yang jagain kak Yasmin di sini," ucap Galih.


"Gak bisa, kakak harus menunggu sampai Yasmin sadar," ucap Gibran.


"Kakak pasti capek karena seharian bekerja, Mama juga pasti lelah karena diusia segini Mama gak boleh terlalu lelah. Kalian berdua istirahat saja di rumah."


"Iya Bu, Nak. Di sini biar Ibu yang jagain Yasmin," ucap Dalina.


"Gak apa-apaBu, biar aku saja yang di sini Mama pulang saja sama Galih," ucap Gibran.


"Kamu yakin Nak?" tanya Maria.


"Iya Ma."


"Dalina! Ayo kita pulang," ucap Zafran yang berdiri di ambang pintu.


"Bang, aku mau nungguin Yasmin. Abang pulang saja duluan," ucap Dalina.


"Yasmin kan sudah ada Gibran yang jagain, Ibu kan harus istirahat setelah seharian bekerja di toko kita," ucap Zafran.


Tak mau berdebat, akhirnya Dalina memilih menuruti perkataan Zafran. Dia ikut pulang bersama sang suami.

__ADS_1


"Bu, saya pamit ya," ucap Dalina pada Maria.


"Nak, Ibu titip Yasmin ya, tolong jaga dia dengan baik," ucap Dalina kepada Gibran.


Gibran hanya mengangguk, mengiyakan perkataan ibu mertuanya.


Dalina dan Zafran pun mulai melangkah meninggalkan ruangan itu.


Dibalik tembok, Ates6 nampak mengintip apa yang sedang mereka lakukan di dalam ruangan itu.


Di dalam ruangan.


"Ma, ayo kita pulang. Setelah nganterin Mama pulang aku mau langsung ke sini lagi untuk menemani kakak," ucap Galih.


"Sayang, Mama pulang ya. Tolong jaga menantu Mama dengan baik."


Maria dan Galih pun mulai bergegas pergi dari ruangan itu!


Kini di ruangan itu hanya ada Yasmin dan Gibran.


Gibran terus menatap Yasmin dengan tatapan sendu. Dia duduk di kursi itu lalu mulai menggenggam tangan Yasmin.


Ayesha mengintip dari kaca yang terdapat pada pintu ruangan itu. Dia berdiri sambil terus menatap ke dalam ruangan itu dengan tatapan penuh kemenangan.


"Jadi Yasmin kritis. Baguslah, cepat-cepat aja lo mati," ucap Ayesha didalam hatinya.


Tak ingin ketahuan, Ayesha pun segera meninggalkan rumah sakit itu! Baginya saat ini mengetahui keadaan Yasmin terlebih dahulu saja sedangkan yang lainnya bisa dia rencanakan nanti setelah dirinya benar-benar melihat sosok Yasmin di rumah sakit itu.


Di dalam ruangan rawat.


Gibran tetap terjaga, pandangannya terus tertuju pada Yasmin yang terbaring lemah dengan keadaan mata yang tertutup.


Setelah sekian lama menatap Yasmin tiba-tiba dirinya merasakan sentuhan halus dari Yasmin.


Gibran langsung melihat tangan Yasmin yang sedari tadi digenggam nya.


Jari-jari Yasmin bergerak, Gibran pun langsung menatap wajah Yasmin dan dia melihat Yasmin yang hendak membuka matanya.


Gibran begitu bahagia melihat kondisi Yasmin yang mulai ada kemajuan.


"Dokter!" Gibran segera memanggil Dokter. Yasmin harus segera mendapatkan pemeriksaan dari tim dokter.


"Kamu pasti sembuh, aku yakin sebentar lagi kamu akan sembuh," ucap Gibran dengan senyum bahagia.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2