Cinta Dalam Pernikahan Kontrak

Cinta Dalam Pernikahan Kontrak
Cinta Dalam Pernikahan Kontrak bab 23


__ADS_3

"Yasmin, kamu mau ketemu Sinta gak?" tanya Galih pada Yasmin pagi itu.


Yasmin menatap Galih yang tiba-tiba merubah panggilannya padanya.


"Kenapa menangnya?" tanya Yasmin.


"Bisa gak, lo kalau ngomong yang sopan sedikit? Yasmin itu istri gue," ucap Gibran yang tak suka Galih menyebutkan nama Yasmin.


"Kenapa? Yasmin seumuran gue, gak enak aja didengarnya kalau gue manggil dia kakak."


"Biarpun Yasmin seumuran lo tapikan dia itu istri gue, Galih." Gibran mulai meninggikan suaranya.


"Udah-udah, jangan ribut. Mas, aku gak apa kok dipanggil nama sama adik kamu." Yasmin mencoba menjadi penengah antara dua laki-laki itu.


"Gak bisa gitu dong Yasmin, Galih harus menghormati kamu sebagai kakak kamu."


"Yasmin, setelah kontrak pernikahan kamu dengan Kak Gibran selesai, aku ingin kamu menikah denganku tapi bukan kontrak, aku mau kamu menjadi istriku yang sesungguhnya," ucap Galih.


"Jaga bicaramu Galih!" Gibran nampak marah sesaat setelah mendengar perkataan Galih pada Yasmin.


"Maksud kamu apa? Aku tidak mengerti," ucap Yasmin.


"Pernikahan kalian hanya sebatas kontrak kan? Dan hanya untuk satu tahun saja."


"Jangan asal bicara kamu Galih. Lama-lama kamu makin ngelunjak tahu gak," ucap Gibran.


"Aku bicara tentang fakta kak, kakak sengaja menikah kontrak dengan Yasmin hanya untuk menghindari perjodohan kakak dengan Ayesha kan."


"Galih!" Gibran berteriak karena tak terima Galih berkata seperti itu padanya.


"Aku cinta sama Yasmin, Kak! Aku jatuh cinta sama Yasmin!" Galih tak ingin kalah dari Gibran. Dia pun meninggikan nada bicaranya.


Yasmin hanya terdiam dengan tubuhnya yang terasa kaku, dirinya tak menyangka Galih bisa jatuh cinta padanya padahal tidak sedikit pun dirinya berpikir untuk mencuri hatinya.


"Jangan ngawur kamu Galih. Yasmin itu istriku, istri sah ku."


"Tapi itu hanya sementara kan? Setelah satu tahun semua akan berubah."


"Berhenti! Berhenti kalian!" Yasmin berteriak sekeras suaranya hingga membuat dua laki-laki yang sedang beradu omong itu menghentikan perdebatan mereka.


Galih dan Gibran menatap Yasmin yang ternyata sudah menangis deras.

__ADS_1


"Aku akan pergi dari sini. Aku tidak bisa hidup di rumah ini." Yasmin berlari ke kamarnya!


"Yasmin! Yasmin tunggu!" Gibran mengejar Yasmin ke kamarnya.


"Yasmin apa yang kamu lakukan?" tanya Gibran yang melihat Yasmin memasukkan pakaiannya kedalam tas nya.


"Aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita ini. Kita tidak cocok untuk bersama Gibran."


"Tapi Yasmin, aku tidak ingin kita mengakhiri hubungan kita ini."


"Aku tidak ingin menjadi penyebab rusaknya hubungan kamu dengan adikmu."


"Tidak Yasmin, Galih belum mengerti apa pun tentang cinta. Dia belum sadar sepenuhnya dengan apa yang dia ucapkan tadi."


"Maaf Gibran, aku pergi. Jika kamu ingin meminta uang ganti rugi, silahkan hubungi Ayahku dan mintalah uangmu padanya."


Galih hanya berdiri sambil menatap Yasmin yang berjalan menuruni anak tangga dengan tas besar yang ditentengnya, dibelakang Yasmin ada Gibran yang berusaha menghentikan langkah Yasmin!


"Yasmin, Yasmin kamu mau kemana?" tanya Galih dengan tanpa rasa bersalah samasekali.


Yasmin menghentikan langkahnya tepat dihadapan Galih lalu menatap wajah pemuda yang seusianya itu.


"Jika aku bisa menolak, aku pun tak ingin menikah kontrak seperti ini hanya untuk mendapatkan sejumlah uang. Aku ingin melanjutkan pendidikan ku seperti anak seusia ku tapi apalah dayaku yang hanya gadis biasa yang terlahir dari orang miskin dan hanya memiliki satu sayap saja. Satu sayap ku patah saat aku masih balita karena itulah aku tidak bisa terbang jauh seperti orang lain."


Yasmin pun langsung melanjutkan langkahnya untuk segera keluar dari rumah itu!


"Yasmin! Yasmin jangan pergi!" Gibran terus berusaha menghentikan Yasmin.


Saat Yasmin hendak membuka pintu, tiba-tiba ada yang membuka pintu itu dari luar.


"Yasmin," ucap Maria yang melihat Yasmin membawa tas besar.


Hari itu Maria dan Darwin akan pergi bertemu dengan teman-temannya namun ada sesuatu yang tertinggal di rumah, karena itulah Maria kembali untuk mengambilnya.


"Mama," ucap Yasmin dan Gibran secara bersamaan sedangkan Galih hanya berdiri di samping tangga sambil menatap mereka.


"Yasmin, kamu mau kemana? Bawa tas besar seperti ini dan kenapa kamu menangis?" tanya Maria.


"Mama, aku hanya sedang ingin menginap di rumah orang tuaku. Aku rindu pada Ibuku," ucap Yasmin.


"Tapi kenapa harus bawa tas sebesar ini?" Maria menatap Yasmin lalu menatap Gibran.

__ADS_1


"Ini ... ini pakaianku yang sudah tidak terpakai. Aku ingin memberikannya pada orang yang membutuhkan."


"Oh gitu. Kalau gitu silahkan pergi. Kalian mau pergi bareng kan?"


"Tidak Ma, aku pergi sendiri karena Mas Gibran akan mengurus urusan pekerjaan."


"Ini hari libur Gibran, kenapa kamu harus mengurus soal pekerjaan?"


"Mmm ... sebenarnya aku, ada keperluan penting dengan seseorang. Jadi aku tidak bisa mengantar Yasmin."


"Kalau gitu suruh Galih yang mengantar Yasmin."


"Tidak Ma, aku pergi sendiri saja. Mas Gibran aku pergi ya," ucap Yasmin.


Yasmin pun mencium punggung tangan Gibran lalu mencium punggung tangan Maria. Dia pun segera pergi meninggalkan rumah itu!


Saat ini, entah kemana dirinya harus pergi. Tidak mungkin dirinya pulang ke rumah orang tuanya karena dirinya tahu Ayahnya pasti marah padanya dan menyuruhnya kembali ke rumah orang tuanya Gibran.


Yasmin terus berjalan menyusuri jalanan yang nampak sepi itu!


"Aku harus kemana? Kalau aku pulang ke rumah Ibu, dia pasti akan sedih, belum lagi Ayah yang akan marah besar padaku," ucap Yasmin didalam hatinya.


Yasmin menghentikan angkutan kota yang kebetulan lewat di jalan itu, dia pun langsung menaiki mobil itu setelah mobil itu berhenti didepannya!


*******


Di rumah Darwin.


"Lihat! Lihat Galih. Semua ini gara-gara ulah lo! Lain kali berpikir dulu sebelum berucap!" Gibran berucap dengan nada tinggi.


Saat itu dirinya sedang diselimuti amarah yang besar.


"Aku hanya mengutarakan apa yang ada dalam hatiku dan aku juga berbicara tentang fakta. Apa salahnya jika aku ingin memiliki Yasmin? Toh kakak juga hanya menikahinya sementara saja kan."


"Gue gak nyangka, ternyata lo begitu bodoh, sangat bodoh!" Gibran segera pergi meninggalkan Galih di sana!


Secepatnya dirinya harus menemukan Yasmin sebelum orang tuanya tahu tentang yang sebenarnya dan sebelum hubungannya semakin memburuk!


Gibran langsung menyalakan mesin mobilnya dan segera melaju dengan kecepatan tinggi.


Galih hanya terdiam, sebenarnya dirinya tidak merasa begitu bersalah karena memang kenyataannya semua yang dirinya katakan adalah benar.

__ADS_1


"Aku tidak mengerti kenapa kalian tidak mau mengakuinya padahal aku hanya berkat yang sebenarnya," ucap Galih didalam hatinya.


Bersambung


__ADS_2