Cinta Dalam Pernikahan Kontrak

Cinta Dalam Pernikahan Kontrak
Cinta Dalam Pernikahan Kontrak bab 28


__ADS_3

"Mas, kamu udah izin sama Papa kamu kalau kamu mau cuti hari ini?" tanya Yasmin sebelum akhirnya dia menyuap makan sarapannya.


Gibran yang sedang sibuk menyendok makanannya itu pun menatap Yasmin sekilas lalu berkata, "sudah," sahutnya lalu kembali fokus pada makanannya.


Yasmin mengangguk pelan lalu hanya fokus menakan makanannya.


Setelah beberapa menit akhirnya mereka sarapan namun mereka tak langsung pergi dari tempat itu. Mereka masih duduk pada tempat semula.


"Sebelum kita ke mana-mana, kita ke rumah orang tua kamu dulu," ucap Yasmin.


"Mau apa?"


"Katakan pada Mama yang sebenarnya terjadi pada kita."


"Gak mungkin Yasmin, aku tidak ingin mereka memandang kamu buruk karena biar bagaimana pun aku rasa wanita yang melakukan pekerjaan itu sangatlah tidak baik."


"Semua harus aku hadapi, daripada nanti mereka tahu dari orang lain lebih baik mereka tahu darimu, dari kita berdua tentang bagaimana reaksi mereka kita terima saja karena memang awalnya kita hanya berniat menikah hanya untuk sementara saja."


"Kalau mereka membenci kamu bagaimana? Aku tidak ingin kamu kecewa."


"Aku sudah siap dengan semua keputusan orang tuamu. Jika memang mereka tak mengizinkan kita bersama, pergilah Gibran, cari gadis lain yang lebih baik dari aku."


"Tidak mungkin, aku sudah terlanjur jatuh cinta sama kamu."


"Ayo kita temui Mamamu dulu dan beritahukan tentang semuanya, jika dia tidak marah baru kita katakan kalau kita ingin tinggal berdua saja di rumah kita sendiri."


"Yasudah, aku nurut saja sama kamu. Ayo kita pulang dulu."


Yasmin tersenyum lalu meminum minuman nya, setelah itu baru dia beranjak dari duduknya.


Yasmin tak langsung berjalan, dia terdiam sejenak dalam posisi berdiri lalu mengucapkan kata basmalah dengan sedikit bergumam. Dia pun mulai mengayunkan kakinya untuk meninggalkan tempat itu.


Gibran yang selalu memperhatikan setiap gerak-gerik Yasmin, tersenyum tipis dengan tatapan mata yang masih tertuju pada istrinya itu.


"Itu yang membuat aku jatuh cinta sama kamu Yasmin, kamu selalu mengawali semuanya dengan bismillah. Kamu memang memiliki banyak kesamaan dengan Wanda tapi ini yang membedakan kamu dengan dia dan yang membuat aku yakin padamu kalau kamu adalah wanita yang Allah ciptakan untukku sebagai pengganti Wanda," ucap Gibran didalam hatinya.


"Mas, kok kamu hanya bengong?" tanya Yasmin yang sudah beberapa langkah berada didepan Gibran.


"Eh Yasmin." Gibran tersadar dari lamunannya.


"Iya, ayo kita pergi," sambung Gibran.


Mereka pun mulai melakukan perjalanan mereka menuju rumah orang tuanya Gibran!

__ADS_1


*******


Di halaman kampus Galih.


"Woy! Mikirin apa sih? Perasaan lo sering banget melamun," ucap Sonny.


"Son, menurut lo kalau kita jatuh cinta sama kakak ipar atau istri dari saudara kita. Salah gak sih?" ucap Galih.


Selain Gibran, Galih tak memiliki tempat curhat karena untuk masalah ini dia, gak bisa curi pada Gibran, akhirnya dirinya bicara pada temannya.


"Menurut gue sih salah, salah banget malah. Emang kenapa? Lo suka ya sama istrinya kakak lo?"


"Gila lo kalau ngomong, ya nggak lah! Masa gue suka sama kakak ipar gue."


"Lah terus ngapain lo tanya gitu ke gue?"


"Gue cuma heran aja suka ada orang yang selingkuh dengan kakak ipar atau adik ipar."


"Gak usah heran, sekarang kan zaman edan."


"Kayak lo yang suka sama Tante lo ya?" Galih tertawa renyah.


"Apaan sih lo. Jangan bahas itu, lo kalau melihat Tante gue itu, gue pastikan lo juga pasti cinta sama dia."


Dibelakang Sinta ada Kania yang juga berjalan menuju ke arah mereka.


"Kania, kamu tumben gabung sama kita?" tanya Sonny.


Kania tersenyum lalu duduk di samping Sonny!


"Kenapa? Gak boleh?" ucapnya.


"Boleh dong, masa gak boleh sih."


"Galih, aku boleh tanya sesuatu?" tanya Kania pada Galih.


"Tanya apa, seputar apa?" sahut Galih.


"Soal materi mata kuliah kemarin. Aku kurang paham, apa kamu bisa membantu aku?"


Galih menang salah satu mahasiswa yang pintar dan berbakat di sana, tak jarang teman-temannya meminta penjelasan dari Galih seputar mata kuliah yang mereka tidak terlalu pahami.


"Boleh, nanti ya setelah selesai kuliah."

__ADS_1


Kania tersenyum lebar, ternyata untuk mendekati Galih tidak terlalu sulit.


*******


"Yasmin, gimana keadaan Ibu kamu?" tanya Maria saat mereka sudah duduk bersama di ruang keluarga.


"Dia baik-baik saja, Ma. Alhamdulillah," sahut Yasmin.


"Eumm. Ma, sebenarnya ada yang mau aku bicarakan sama Mama," ucap Gibran.


"Apa? Katakan saja."


"Sebenarnya aku menikahi Yasmin bukan karena kami saling mencintai."


"Maksud kamu apa Gibran?" Maria mulai tak tenang mendengar pembukaan percakapan mereka yang keluar dari mulut Gibran.


"Ma, tapi sekarang aku sudah sangat mencintai Yasmin. Awalnya aku menikahi Yasmin hanya berstatus kontrak saja. Aku membayar pada Ayahnya Yasmin untuk kontrak pernikahan selama satu tahun."


"Kenapa kamu melakukan ini? Yasmin sudah sama siapa saja kamu melakukan pekerjaan tidak baik itu?"


"Ma, dengar dulu penjelasan aku. Jadi begini aku gak mau dijodohkan dengan Ayesha dan disaat bersamaan aku melihat sebuah postingan di sosial media yang memasang foto Yasmin dengan hashtag menerima kencan, pacar dan juga nikah kontrak. Karena aku suka dengan wajahnya Yasmin yang cantik itu akhirnya aku menelpon orang itu dan akhirnya pernikahan ini dan aku juga baru tahu kalau ternyata Yasmin tidak tahu tentang postingan yang dibuat oleh Ayahnya itu, Ibunya Yasmin juga gak tahu. Singkatnya aja ya Ma, sekarang aku cinta sama Yasmin dan aku gak mau pisah dengan dia."


"Kamu gak bisa memutuskan sendiri untuk hal itu, Yasmin juga harus ikut berperan dalam hal ini. Yasmin nya mau gak sama kamu?"


"Ma, aku baru pertama kenal dengan laki-laki dan laki-laki itu adalah Mas Gibran. Aku bersedia menjadi istrinya."


"Kalau sudah sama-sama mau kenapa kalian harus bilang Mama? Kalian jalani saja hidup kalian."


"Aku mau pindah dari rumah ini," ucap Gibran.


"Kenapa?"


"Kami ingin hidup mandiri Ma, aku rasa selama ini Mas Gibran meski dia udah dewasa tapi sepertinya dia kurang mengerti dengan urusan rumah tangga. Kami ingin belajar bersama-sama dalam menata rumah tangga dan membangun keluarga bahagiakan," ucap Yasmin.


Maria menarik nafasnya perlahan lalu menghembuskannya perlahan.


"Apa mau dikata, kalian sudah sama-sama dewasa jadi lakukan apa yang kalian mau meski sebenarnya Mama ingin kalian tetap di sini. Cari saja rumah yang nyaman untuk kalian, nanti Mama akan minta Papa yang membayarnya untuk kalian."


"Terimakasih Ma, Mama memang selalu mengertikan aku."


Gibran tersenyum bahagia lalu memeluk Maria.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2