Cinta Dalam Pernikahan Kontrak

Cinta Dalam Pernikahan Kontrak
Cinta Dalam Pernikahan Kontrak bab 38


__ADS_3

Siang itu di kediaman Gibran dan Yasmin.


Brak!


Seseorang mendorong pintu rumah Yasmin dengan sangat kencang hingga menimbulkan suara yang begitu keras.


Yasmin yang sedang mencuci piring merasa terkejut karena suara gebrakan yang terdengar sangat keras itu. Yasmin segera memeriksa suara apa itu.


"Suara apa itu?" gumam Yasmin.


Yasmin terus berjalan menuju setiap ruangan di rumahnya. Saat dia hendak memasuki ruang tamu tiba-tiba dia melihat dua orang yang sedang berkeliaran di dalam rumahnya.


"Siapa kalian dan mau apa di rumahku?" tanya Yasmin dengan suara keras.


Dua orang yang memakai penutup kepala dan wajah itu menatap Yasmin sembari berjalan menghampiri Yasmin!


"Siapa kalian? Pergi dari rumahku!" Yasmin berteriak pada dua orang itu.


Merasa dirinya terancam, Yasmin melempari dua orang itu dengan benda-benda yang ada di dekatnya.


"Kamu tidak bisa lari dari kami. Lebih baik kamu menyerahkan diri pada kami," ucap laki-laki itu sembari terus berjalan mendekati Yasmin.


"Mau apa kalian? Pergi dari sini, pergi!"


Yasmin melemparkan gelas yang ada di atas meja makan hingga mengenai kepala salah satu dari dua laki-laki itu!


Laki-laki itu meraung kesakitan sembari memegangi kepalanya sedangkan yang satu lagi terus berusaha menangkap Yasmin.


"Tolong!"


"Tolong!" Yasmin berteriak meminta tolong sembari menangis.


Kini dirinya benar-benar tidak bisa lari dari mereka karena dua laki-laki itu sudah berhasil menangkapnya.


"Siapa kalian? Kalian mau apa?"


Yasmin terus meronta karena ingin terlepas dari cengkraman mereka.


"Diam! Diam kamu!" Dua laki-laki itu menyeret Yasmin dan memaksanya agar masuk ke dalam mobilnya.


Setelah Yasmin berada di dalam mobil mereka, mereka mengikat tangan dan kaki Yasmin dan tak lupa mereka juga menutup mata Yasmin agar Yasmin tidak mengingat jalan yang mereka lewati.


Dua laki-laki itu pun mulai menyalakan mesin mobilnya lalu mulai melaju dengan kecepatan tinggi!


*******


Di kantor tempat Gibran bekerja.


Prang!


Tanpa sengaja Gibran menjatuhkan gelas minumnya yang terletak di atas meja kerjanya hingga membuat gelas kaca itu hancur berkeping-keping.


"Astaghfirullah," gumam Gibran.


Perasaannya menjadi tidak enak dengan kejadian itu.

__ADS_1


"Ada apa ini? Perasaan ku jadi tidak enak."


Gibran segera menepis prasangka buruknya, dia lalu memanggil cleaning servis untuk membersihkan pecahan kaca itu.


"Semoga Yasmin baik-baik saja dan semoga semua orang terdekatku baik-baik saja," batin Gibran.


*******


"Ma hari ini aku menyuruh orang untuk menculik Yasmin dan aku akan menyekap dia di bekas gudang penyimpanan barang-barang kantornya Papa yang ada di belakang pabrik kita," ucap Ayesha pada Maya.


"Apa! Kamu sudah gila hah. Kalau nanti Papamu tahu atau karyawan pabrik itu mengetahui keberadaan Yasmin, bisa bahaya buat kamu," ucap Maya dengan nada bicaranya yang sedikit marah.


"Gak mungkin Ma, gudang itu sudah lama tidak dipakai dan sudah lama tidak dikunjungi orang."


"Tapi Ayesha, bisa aja kan sewaktu-waktu Papamu atau karyawannya datang ke sana untuk mencari sesuatu. Mama gak mau ya kalau nanti ada sesuatu yang terjadi yang bukan bagian dari rencana kamu."


"Ma, mau bagaimana lagi? Aku tidak punya tempat lain selain tempat itu."


"Kenapa kamu tidak membayar orang itu untuk menghabisi Yasmin sekalian?"


"Mereka gak mau Ma. Mereka cuma mau menculik Yasmin dan setelah itu sudah. Mereka tidak berani katanya."


"Dasar. Preman macam apa yang sudah kamu bayar itu."


"Sekarang tugas Mama adalah mengawasi Papa dan kalau Papa mau ke gudang itu, Mama cegah Papa agar aku bisa memindahkan Yasmin terlebih dahulu."


"Astaga, kenapa seribet ini sih hidup kamu."


*******


"Kalian mau bawa aku kemana?"


"Diam! Ikuti saja apa yang kami minta."


Setibanya di dalam gudang yang sempit dan kotor karena memang tempat itu sudah lama tidak dijumpai manusia. Dua laki-laki itu melepaskan tali yang mengikat tangan dan kaki Yasmin, mereka juga melepaskan penutup mata yang menutupi mata Yasmin.


"Untuk sementara lo ada dibawah penguasaan kami jadi lo jangan coba-coba kabur dari sini."


"Lepas aku. Siapa kalian, apa yang kalian inginkan dari aku?" Yasmin terus menangis, dia sangat takut pada mereka, dia takut mereka menyakiti dirinya.


Tanpa menjawab, dua laki-laki itu menutup pintu gudang itu lalu menguncinya dari luar.


"Buka pintunya! Buka!"


"Tolong! Tolong saya takut di sini!" Yasmin berteriak pada dua orang itu sembari menggedor pintu itu.


"Tolong keluarkan saya dari sini, tolong." Yasmin terus meminta agar dua orang itu melepaskannya namun sepertinya dua orang yang menculiknya itu tidak menghiraukan permintaannya.


Capek berteriak, Yasmin mulai pasrah dengan apa yang akan terjadi selanjutnya padanya, kini dia duduk di sudut ruangan itu sambil terus menangis.


"Mas Gibran tolong aku, Mas aku takut."


*******


"Kami sudah berhasil menculiknya dan kami juga sudah melakukan apa yang Mbak minta," ucap salah satu dari dua laki-laki itu.

__ADS_1


"Bagus. Kalian yakin gak salah orang?"


"Yakin. Kalau gak percaya periksa saja sendiri. Dia ada di dalam gudang itu."


"Nggak-nggak. Saya percaya sama kalian, oh ya jangan pernah sebut nama saya didepan dia. Saya tidak ingin dia tahu kalau saya yang menyuruh kalian menculiknya."


"Baik Mbak, lalu sekarang apa lagi yang harus kami lakukan?"


"Ini uang buat pembayaran kalian." Ayesha memberikan uang pada dua laki-laki itu.


Salah satu dari dua laki-laki itu meraih uang itu dari tangan Ayesha dengan cepat!


"Sekarang tugas kalian, beri makan sehari satu kali saja dan minumnya satu botol saja agar wanita itu tetap hidup."


"Baik, akan kami kerjakan tapi apa ada bayaran lagi untuk pekerjaan ringan ini?"


"Jika tidak ada uang kami tidak akan melakukannya," sambung laki-laki itu yang satunya.


"Ada, kalian tenang saja. Setiap pekerjaan yang dilakukan atas perintah saya pasti ada rupiah nya."


*******


Di kediaman Zafran.


"Dimana Zafran?" tanya Zaina pada Dalina.


Untuk pertama kalinya, Zaina berucap dengan nada lembut pada Dalina tanpa adanya tatapan sinis dan penuh kebencian.


"Dia sedang tidur Bu," sahut Dalina.


"Kamu jadi perempuan jangan kalah sama laki-laki, kalau suamimu bersalah lakukan sesuai, ingatkan dia atau marahi saja dia."


Zaina berjalan menuju kamar mereka dengan dibuntuti oleh Dalina dibelakangnya!


Setelah kejadian semalam, Zaina ingin sekali menampar Zafran. Betapa dirinya merasa malu kepada Dalina atas perbuatannya selama ini.


"Bangun! Bangun Zafran!" Zaina menarik bantal yang digunakan oleh Zafran lalu memukuli putranya dengan bantal itu.


"Bu, sudah Bu. Jangan seperti itu," ucap Dalina.


"Kamu diam Dalina, ini urusan Ibu sama Zafran. Kamu jangan ikut campur."


Zafran duduk di atas tempat tidurnya dengan mata merah dan masih mengantuk.


"Apa sih Bu, teriak-teriak seperti itu?" ucap Zafran.


"Siapa wanita yang bernama Monik? Ibu malu pada semua tetangga karena perempuan itu? Kamu pengecut jadi laki-laki tidak bertanggungjawab. Selama ini Ibu selalu membenci Dalina karena Ibu kasihan padamu karena harus bekerja keras untuk menghidupi mereka tapi sekarang apa? Ternyata selama ini kamu yang menumpang hidup pada Dalina dan Yasmin."


"Ssst. Berisik Bu, aku capek, aku mengantuk. Kalau mau bicara nanti saja ya."


Zaina menggelengkan kepalanya, dalam hatinya dia sangat kesal pada Zafran. Selama ini dirinya baru mengetahui sifat Zafran yang sebenarnya.


Sebelumnya dia tahu karena Zafran selalu bersikap baik di depannya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2