
Waktu terus berjalan, hari terus berganti. Satu minggu sudah Yasmin dirawat di rumah sakit, hari ini dia sudah diperbolehkan pulang oleh tim dokter yang menanganinya.
Di ruangan rawatnya, Yasmin sudah siap untuk pulang. Dia bahagia akhirnya dia bisa keluar dari tempat yang membosankan itu.
"Akhirnya aku pulang juga. Maaf ya Gibran, aku sudah merepotkan kamu," ucap Yasmin.
"Kamu kebiasaan deh. Minta maaf terus, ini tuh sudah menjadi kewajiban aku sebagai suami jadi kamu gak perlu berterimakasih apalagi merasa bersalah."
"Gibran, kemarin Ayahku sudah berbuat yang tidak pantas padamu. Maaf ya."
"Dia berhak marah karena semua orang tua juga pasti marah kalau tahu menantunya tidak bisa menjaga anaknya."
"Mulai sekarang stop ngasih uang sama dia. Aku gak mau kamu lebih banyak mengeluarkan uang untuk Ayahku itu."
"Kenapa? Kamu takut itu akan memperlama kontrak kita?"
"Aku tidak berpikir ke sana tapi aku hanya tidak enak sama keluarga kamu. Mereka akan berpikir buruk tentangku nanti, meski sebenarnya aku ini memang buruk."
"Tidak Yasmin, kamu tidak seburuk itu. Kamu sempurna."
"Bukan seperti itu. Aku yakin kamu pasti mengerti."
"Sudahlah, jangan bagas itu. Kamu baru aja sembuh, sekarang ayo kita pulang karena keluargaku sudah menunggumu."
"Baiklah." Yasmin mulai melangkah dengan langkah pelan, dirinya memang masih merasa lemas karena baru saja sembuh dari luka-luka yang dideritanya.
"Hati-hati. Mau aku gendong?"
"Tidak, terimakasih."
Di tempat yang lumayan jauh, Ayesha terus memperhatikan Gibran dan Yasmin yang sedang berjalan menghampiri mobil mereka.
"Rupanya Yasmin selamat. Kuat juga fisik gadis itu tapi aku gak akan berhenti untuk membuatmu menyingkir dari Gibran. Lihat saja Yasmin, aku tidak akan membuat hidupmu bahagia bersama Gibran," ucap Ayesha didalam hatinya.
"Lo lagi ngapain berdiri di sini?" tanya Rika kepada Ayesha.
"Eh, itu kan Gibran. Sama siapa dia?" tanya Cacha.
"Itu Yasmin, istrinya Gibran."
"Jadi itu saingan lo. Mau kita bantu?" ucap Rika.
"Enaknya diapain ya tuh cewek?" ucap Cacha.
"Lo pada serius mau bantuin gue?"
"Buat lo, apa sih yang nggak."
"Kita pikirkan rencananya dulu. Ayo kita pergi dari sini." Tiga gadis itu pun pergi meninggalkan tempat itu karena Yasmin dan Gibran pun sudah pergi dari sana!
*******
Di kediaman Zafran.
__ADS_1
"Dalina, aku dengar hari ini Yasmin pulang dari rumah sakit. Kamu tidak ingin menjemputnya?" ucap Dalina.
"Tidak, Bang. Biar Gibran saja yang menjemputnya."
"Mana uang keuntungan kemarin?"
"Untuk apa Bang? Bukannya kemarin kamu sudah mengambil uang?"
"Yang kemarin aku kasihkan ke Ibu dan juga Shaima."
"Kenapa kamu kasih semua. Kemarin kan Ibu juga sudah mengambil keperluan dapur dari toko kita dan lagi kemarin juga adikmu itu sudah aku kasih uang."
"Kamu ini pelit banget sih. Kalau bukan karena mereka, aku gak bakal hidup sampai saat ini."
"Tapi kalau kamu mau kasih uang sama ibu kamu, harusnya kamu kerja Bang. Bukan mengandalkan penghasilan dari toko."
"Rese banget jadi istri. Kamu mau, Yasmin benar-benar aku jual pada orang lain? Kalau Yasmin dijual kamu tidak akan pernah bisa menemuinya lagi."
"Astaghfirullah, Bang. Yasmin itu manusia bukan barang."
"Alah, banyak ngomong kamu." Zafran merebut dompet yang Dalina pegang lalu mengambil semua uangnya!
Setelah itu laki-laki paruh baya itu langsung pergi meninggalkan rumahnya.
Dalina hanya bisa pasrah, melawan pun dirinya tidak akan bisa menang dari Zafran.
Dalina pernah meminta perpisahan namun Zafran menolak dengan alasan sangat mencintai dirinya.
*******
"Alhamdulillah ya Pa, akhirnya Yasmin pulang juga."
"Iya Ma, Papa juga sudah kangen sama masakan dia."
"Gibran memang pintar cari istri, pantas saja dia menolak untuk dijodohkan dengan Ayesha ternyata dia sudah punya gadis yang jauh lebih baik daripada Ayesha."
Di dapur.
"Mbak Yasmin akhirnya pulang juga. Aku senang banget mendengarnya," ucap Arti.
"Aku juga senang. Mbak Yasmin orangnya baik gak pernah menganggap kita sebagai pembantu di rumah ini," sahut Wati.
"Kamu benar, gak kayak Mbak Ayesha, dia selalu memaki kita saat dia ke sini."
"Iya, padahal dia itu bukan siapa-siapanya Mas Gibran."
*******
Di tempat tongkrongannya, Galih membuka sosial media Facebook tak sengaja dia melihat foto Yasmin yang diunggah di salah satu grup yang melintas diberandanya.
Merasa penasaran, Galih pun membuka dan membaca detail postingan itu.
"Menerima kontrak nikah atau kencan?" gumam Galih.
__ADS_1
Dia melihat foto profil yang mengunggah foto Yasmin, Galih tak mengenali orang itu karena tak ada foto pemilik akun. Profilnya menggunakan foto model yang tak mengenakan pakaian.
Merasa penasaran, Galih pun menyimpan nomor telpon yang tertera pada paling bawah postingan itu. Dirinya akan menanyakan tentang kebenaran dari postingan itu setelah membeli kartu perdana yang baru, khusus untuk mencari tahu siapa sebenarnya Yasmin dan apa tujuannya memosting fotonya dengan hashtag yang terbilang tidak bermoral.
"Serius banget. Lagi lihatin apa lo?" tanya Sonny.
"Gak ada. Udah ya Bro, gue pergi duluan."
"Mau kemana lo?"
"Ada urusan lain selain nongkrong sama lo-lo pada."
"Gaya lo."
Galih pun terus melanjutkan langkahnya dan membiarkan teman-temannya menggerutu sendiri!
*******
"Selamat datang di rumah kita," ucap Maria saat setelah Yasmin turun dari mobilnya.
"Mama, Papa kalian sengaja menyambut ku?" ucap Yasmin.
"Iya dong. Menantu satu-satunya harus diistimewakan," ucap Darwin.
"Kalian berlebihan, aku jadi tidak enak."
"Biasa saja Yasmin. Mereka sangat sayang padamu, karena itulah mereka menyambut kepulangan kamu. Ayo kita masuk!"
Gibran memangku Yasmin karena tak tega membiarkannya berjalan sendiri dan lagi itu sengaja dilakukan agar kedua orang tuanya tidak merasa curiga padanya, pasalnya semenjak pernikahannya dengan Yasmin dirinya belum pernah bersikap romantis pada Yasmin.
Gibran berjalan memasuki rumahnya tanpa sedikitpun merasa malu pada Mama dan Papanya.
Maria dan Darwin menatap kepergian putranya dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
"Gibran begitu perhatian sama istrinya ya Pa, jadi ingat waktu kita awal menikah dulu."
"Memangnya sekarang, Papa tidak romantis lagi Ma?"
"Romantis tapi sekarang Papa gak pernah lagi memangku Mama kayak Gibran barusan."
"Oh Mama iri, ya udah ayo. Papa masih kuat kok angkat Mama."
"Ish Papa apa-apaan. Malu tahu, kita udah tua."
"Tadi kayanya pengen kayak Yasmin yang digendong sama Gibran, sekarang malah nolak."
"Ah Papa, ayo kita masuk!"
Darwin dan Maria tertawa renyah lalu mulai melangkahkan kakinya memasuki rumahnya!
Mereka berjalan bergandengan! Terlihat raut wajah bahagia terlukis pada keduanya.
Maria dan Darwin memang selalu romantis meski usia pernikahan mereka sudah menginjak tiga puluh tahun lebih.
__ADS_1
Bersambung