
"Gimana Mas, Mbak? Cocok gak?" tanya sang pemilik rumah.
"Alhamdulillah, istri saya cocok jadi bagaimana dengan harganya?" tanya Gibran.
"Untuk harga, seperti yang sudah saya katakan tadi."
"Apa saya boleh melakukan penawaran."
"Tentu saja Mas, silahkan Mas mau menawar berapa?"
*******
"Assalamu'alaikum!" seru Darwin yang baru pulang bekerja itu.
"Waalaikumsalam!" Maria langsung membuka pintu rumahnya dan menyambut kedatangan sang suami dengan penuh rasa bahagia.
"Pa, kok pulangnya lama? Tumben banget pulang sampai sore seperti ini."
"Iya, tadi di kantor banyak kerjaan." Darwin berjalan menuju ruang keluarga!
"Duduk Pa, Mama buatkan minum dulu buat Papa." Maria langsung pergi ke dapur untuk membuat teh hangat untuk sang suami.
"Galih, mau kemana kamu?" tanya Darwin yang melihat Galih sudah berpakaian rapi dengan kunci mobil dalam genggamannya.
"Aku mau ketemu teman Pa, boleh kan?"
"Kamu ini, apa gak bisa perginya sehabis maghrib saja."
Galih menghentikan langkahnya lalu berjalan menghampiri Darwin!
"Iya deh, aku tunggu habis maghrib aja." Galih meletakkan kunci mobilnya di atas meja lalu menghempaskan bokongnya ke kursi.
"Akhir-akhir ini, Mama lihat kamu sering murung. Kamu kenapa Nak? Ada masalah?" tanya Maria dengan masih memegang cangkir berisi teh untuk sang suami.
"Nggak kok Ma, aku hanya kelelahan saja karena belakangan ini aku disibukkan oleh berbagai tugas dari dosen."
"Oh gitu, tapi jangan terlalu dipikirkan sayang. Bawa happy aja biar kamu tuh cerita dikit aja."
"Mama gak tahu aja, setiap hari otak aku muter kencang untuk mikirin jadi mahasiswa terbaik di Universitas ku itu."
"Sayang, jangan terlalu dipaksakan. Mama takut nanti kalau kamu gak kuat, nanti kamu sakit."
"Aku memang sudah sakit Ma, sakit karena aku jatuh cinta pada orang yang aku sendiri tidak yakin bisa memiliki dirinya atau tidak," ucap Galih didalam hatinya.
"Benar apa kata Mamamu, gak jadi mahasiswa terbaik juga tidak apa, yang penting kamu bisa menyelesaikan kuliah dengan nilai baik meski bukan yang terbaik."
Galih tersenyum tapi tidak berucap lagi.
*******
"Kalau gitu saya akan bawa sertifikat rumahnya besok ya Mas. Dimana kita bisa bertemu?"
"Terserah Bapak saja mau bertemu di mana."
"Baiklah kalau begitu. Besok saya share_lock ya lokasinya dimana."
"Baik. Baik Pak, saya tunggu ya."
__ADS_1
Mereka pun mulai meninggalkan rumah itu secara bersama-sama!
Laki-laki pemilik rumah itu sudah pergi lebih dahulu dengan menggunakan mobilnya sementara Yasmin dan Gibran masih berada di depan rumah itu dan mereka bersama-sama menatap rumah yang belum lama lagi akan ditempatinya.
"Mas Gibran, kamu yakin membeli rumah semahal ini?" tanya Yasmin.
"Gak mahal, harga pasarannya emang segitu," sahut Gibran.
"Ya kali aja ada yang lebih murah kan Mas."
"Udahlah, yang penting kita bisa bayar rumah ini dan kita bisa menempati rumah ini berdua. Hanya berdua saja."
"Kita pulang yuk! Pegel juga leher aku melihat ke atas mulu."
"Ya lagian siapa suruh kamu melihat ke atas terus."
"Gak ada yang nyuruh, aku suka aja sama disain rumahnya."
"Ayo masuk," ucap Gibran setelah membuka pintu mobilnya untuk Yasmin.
"Terimakasih." Yasmin pun segera masuk ke mobil itu dan mereka berdua pun langsung meninggalkan rumah itu!
"Kita pulang ke mana Yas? Ke rumah atau ke hotel lagi?"
"Kemana aja yang penting aku bisa istirahat."
"Kita ke rumah orang tua aku saja, aku mau bicara dengan Papa."
"Tapi di rumah ada Galih."
"Gak apa-apa, nanti aku akan membuat dia mengerti. Kamu jangan khawatir, aku sama Galih akan baik-baik saja."
*******
"Belum. Memangnya kenapa?"
"Nggak, aku cuma tanya aja. Pa, gimana nasib perusahaan kita yang sebentar lagi akan mengalami kebangkrutan."
"Siapa yang bilang, perusahaan kita bangkrut? Perusahaan kita baik-baik saja Ma."
"Modal dari mana Pa? Kok Papa gak bilang-bilang sama Mama."
"Dari Darwin dong, dari siapa lagi."
"Serius? Bukannya kalau Gibran dan Ayesha gak nikah, Darwin gak mau kasih suntikan dana buat perusahaan kita."
"Mereka tetap kasih uang itu pada Papa tapi Papa harus membayarnya dengan cara menyicil."
"Oh gitu. Kirain ngasih secara cuma-cuma."
"Ma, dipinjami saja Papa sudah bahagia."
*******
"Sha, kita jalan yuk. Nonton bioskop," ucap Cacha.
"Nggak bisa. Mobil gue disita sama bokap," sahut Ayesha.
__ADS_1
"Lah, kenapa?"
"Karena gue sering pulang larut malam akhirnya mobil gue disita sama Bokap."
"Lo sih kemarin kebanyakan galau gara-gara si Yasmin yang masih aja betah jadi istri si Gibran."
"Lo malah nyalahin gue. Pokoknya kalian harus bantu gue buat nyingkirin di Yasmin itu."
"Gimana caranya? Yang gue tahu tuh anak gak pernah keluar dari rumah bokapnya Gibran."
"Itu dia, gimana caranya membuat Yasmin keluar dari rumah itu."
"Sha, kamu kan sudah dekat dengan keluarga mereka, kenapa kamu gak berkunjung ke rumah itu dan mengajak Yasmin jalan berdua. Setelah lo ada di tempat yang jauh dari rumah itu. Gue dan Chaca yang akan melakukan tugas terakhir," ucap Rika.
"Maksud lo?" Ayesha menatap Rika dengan waktu yang lama.
"Gue akan suruh orang untuk menculik Yasmin dan lo harus juga harus ikut berperan menjadi korban penculikan itu."
"Jadi gue diculik juga?"
"Nggak. Lo cuma harus merelakan kulit mulus lo sedikit tergores dan juga kita buat luka lebam di wajah lo."
"Enak aja, gue gak mau. Nanti gue jadi jelek, yang ada gue makin susah mendapatkan Gibran."
"Ayesha, kita bikin luka itu dengan make_up. Lo gak bakal sakit dan gak bakal jadi jelek juga," ucap Chaca.
Ayesha tersenyum. Ide kedua temannya itu ternyata sangat membantu.
"Oke. Hari minggu kita lakukan rencana ini."
*******
Setibanya di rumah orang tuanya. Gibran dan Yasmin memasuki rumah itu!
Galih menatap Gibran dan Yasmin dari depan kamarnya sementara Yasmin mulai tak nyaman karena merasa sedang diperhatikan oleh Galih.
Gibran menatap Galih dengan tatapan tajam seolah mengisyaratkan agar Galih tak mengganggu Yasmin lagi.
"Mas," ucap Yasmin sembari menggenggam erat tangan Gibran.
"Gak apa-apa. Galih gak mungkin senekat itu." Gibran berusaha menenangkan Yasmin yang terlihat tidak tenang.
"Gibran, Yasmin, ada apa? Kalian terlihat sedang bermasalah," ucap Maria.
Galih turun dari lantai dua rumahnya dan langsung keluar dari rumah.
"Galih, mau kemana?" tanya Maria pada putra keduanya.
"Mau ketemu teman," sahut Galih singkat dengan tanpa menghentikan langkahnya.
"Gak ada apa-apa kok Ma, jangan khawatir. Kita hanya sedikit lelah," ucap Gibran.
"Gimana? Dapat gak rumahnya?"
"Ada, tapi belum dibayar. Besok ketemuan lagi sama pemilik rumahnya."
"Syukurlah. Kalian istirahat dulu deh, nanti kita ngobrol lagi."
__ADS_1
Bersambung