
Gibran menghentikan mobilnya di depan rumah Zafran, dengan tergesa-gesa dia turun dari mobilnya dan berjalan sedikit berlari untuk sampai di rumah mertuanya itu.
"Yasmin! Yasmin!" teriak Gibran.
"Ada apa Gibran, kenapa kamu berteriak seperti itu?" tanya Dalina.
"Maaf Bu, Bu apa Yasmin ada di sini?"
"Tidak ada, dari pagi dia tidak ada ke sini."
"Dimana Ayahnya Yasmin? Jangan-jangan dia yang membawa Yasmin pergi dari rumah."
"Maksud kamu apa? Apa yang terjadi?".
"Saat aku pulang kerja, Yasmin sudah tidak ada di rumah."
"Mungkin dia pergi ke luar untuk membeli sesuatu."
"Tidak Bu, ada yang menculik Yasmin."
"Apa," Dalina melemas setelah mendengar pernyataan Gibran.
"Aku berpikir mungkin Ayahnya Yasmin yang menculik Yasmin dari rumah."
"Tidak mungkin, Ayahnya Yasmin belum pergi kemana pun sejak semalam."
"Dimana Ayah sekarang."
"Dia sedang ada urusan dengan Ibunya."
"Bu, tolong bantu untuk mencari Yasmin ya. Aku mau lapor polisi dulu."
Gibran langsung pergi dari sana, dia harus bergerak cepat sebelum terjadi sesuatu pada Yasmin.
*******
Di kantor polisi.
__ADS_1
Galih sedang melaporkan tentang kejadian yang menimpa Yasmin, meski dirinya sudah dituduh oleh Gibran namun dirinya tidak merasa sakit hati ataupun marah, baginya saat ini, menemukan Yasmin secepatnya adalah prioritas utama.
"Jadi bagaimana kejadiannya Pak?" tanya Polisi yang bertugas menerima laporan dari masyarakat.
"Saya tidak tahu kejadiannya seperti apa tapi menurut kakak saya, saat dia tiba di rumahnya setelah bekerja, rumahnya berantakan dan pintu rumahnya rusak, istrinya juga tidak ada di rumah." Galih menceritakan apa yang dia tahu dari Gibran.
"Alamat rumahnya di mana? Kami akan memeriksa tempat kejadian untuk mencari petunjuk dan bukti."
"Di xxx. Saya sendiri tidak pernah ke sana Pak, karena kakak saya baru menempati rumah itu beberapa hari yang lalu."
"Baiklah, laporannya kami terima dan kami akan segera memberi kabar jika ada informasi yang kami dapatkan."
"Terimakasih Pak."
*******
"Ya Allah sudah maghrib, dimana kamu Yasmin? Kamu pasti ketakutan di sana," batin Gibran.
Gibran sedang dalam perjalanan menuju kantor polisi namun karena dirinya mendengar adzan maghrib berkumandang, dia memilih menepikan mobilnya sejenak untuk melaksanakan kewajibannya sebagai umat muslim.
Setelah selesai shalat, saat Gibran baru mau naik ke mobilnya dia melihat Galih baru datang dan sedang memarkirkan mobilnya di sana. Gibran pun mengurungkan niatnya untuk segera pergi, dia berdiri di depan pintu mobilnya menunggu Galih turun dari mobilnya.
"Gue sudah lapor polisi, lo gak usah lapor lagi," ucap Galih.
Tanpa harus ditanya, Galih lebih dahulu memberitahu Gibran tentang laporannya pada Polisi, dia tahu saat ini Gibran sedang dalam amarah yang tinggi padanya. Gibran tak mungkin mau berbicara lebih dulu padanya.
"Lo gak usah lapor polisi segala, lebih baik langsung aja lo kasih tahu gue dimana Yasmin berada," ucap Gibran.
"Kak, kalau gue tahu gue gak akan lapor polisi. Gue memang cinta sama Yasmin tapi gue juga masih punya kewarasan. Gak mungkin gue mengambil dia dengan paksa dari lo."
"Sekarang lo pintar berbicara ya, pandai berbohong dan pandai mengarang cerita."
"Terserah kalau lo gak percaya. Yang penting gue udah melakukan yang terbaik untuk Yasmin. Gue akan tetap mencari Yasmin dan jika aku yang menemukan dia, kakak jangan lagi anggap dia sebagai istri kakak karena aku yang akan menggantikannya posisi kakak."
"Kurangajar."
"Aku mau shalat. Mau tanya dimana Yasmin berada biar nanti setelah ditemukan Yasmin jadi milik gue." Galih meninggalkan Gibran di parkiran itu!
__ADS_1
Gibran menatap kepergian Galih dengan tatapan penuh amarah, entah kenapa dirinya merasa bahwa Galih lah yang menculik Yasmin.
*******
Dalina mencari Yasmin dengan mendatangi setiap rumah temannya Yasmin yang dia ketahui.
Dia menanyakan Yasmin pada semua orang dengan memperlihatkan foto Yasmin pada orang yang dijumpai olehnya sepanjang perjalanan menuju rumah teman-temannya Yasmin.
Sudah menanyakan pada banyak orang dan sudah mendatangi beberapa rumah teman Yasmin namun tidak ada satupun dari mereka yang tahu dimana Yasmin berada.
"Ya Allah, dimana anakku? Tolong selamatkan dia," gumam Dalina sembari menangis.
"Kak Dalina, kakak sedang apa di sini?" tanya Shaima yang baru pulang bekerja.
"Shaima, apa kamu melihat Yasmin di sekitaran sini?" Tanpa menjawab apa yang ditanyakan oleh Shaima, Dalina malah langsung menanyakan Yasmin.
"Tidak, untuk apa Kakak mencari Yasmin sampai ke sini, bukannya dia tinggal sama suaminya dan rumah mereka bukan di daerah sini?"
"Yasmin hilang, ada yang menculik Yasmin dari rumah suaminya."
"Apa!" Shaima merasa terkejut.
"Kakak pulang saja, biar aku dan teman-temanku yang mencari Yasmin. Sekarang sudah malam kakak tunggu di rumah saja." Sebelumnya Shaima sangat membenci Dalina dan Yasmin tapi setelah mengetahui bahwa kakaknya tidak sebaik yang dia pikiran, Shaima berubah menjadi baik pada Dalina dan merasa sangat bersalah karena sudah berpikiran buruk terhadap Dalina dan Yasmin.
"Tapi kakak tidak bisa tenang sebelum Yasmin ditemukan. Bagaimana kalau Yasmin dicelakai oleh orang yang menculiknya?"
"Ssstt, jangan berprasangka buruk seperti itu. Tidak baik kak."
Shaima menghentikan ojek lalu meminta Abang ojek itu mengantarkan Dalina pulang.
"Kakak pulang saja ya dan katakan pada Ibu, aku pulang terlambat karena mau mencari Yasmin."
"Tapi Shaima."
"Pulanglah kak. Aku akan mencari Yasmin sampai ketemu."
Bersambung
__ADS_1