
Hari itu sekitar jam sembilan pagi, Ayesha menelpon Gibran dan meminta untuk bertemu.
Awalnya Gibran menolak tapi setelah Ayesha mengatakan bahwa dirinya tahu dimana Yasmin, Gibran langsung mengiyakan permintaan Ayesha.
Mereka pun bertemu di sebuah tempat yang sepi dari keramaian.
Satu jam setelah Ayesha menelpon, akhirnya Gibran dan Ayesha bertemu di tempat yang sudah mereka sepakati untuk bertemu.
"Dimana Yasmin?" tanya Gibran pada Ayesha.
"Dia bersamaku," sahut Ayesha santai.
"Sha, kamu serius? Terimakasih sudah membantu mencari Yasmin, sekarang dia dimana?" Gibran begitu bahagia saat tahu teman masa kecilnya itu sudah menemukan Yasmin.
Ayesha tersenyum sinis. "Ada syaratnya kalau kamu mau Yasmin selamat," ucapnya.
"Apa, apa maksudmu? Kenapa harus ada syaratnya?"
"Gibran, aku yang menyuruh orang untuk menculik Yasmin jadi kalau kamu mau dia selamat kamu harus menuruti permintaan aku."
"Apa, jadi kamu yang melakukan ini? Kenapa Sha, kenapa kamu setega itu sama aku?"
"Aku cinta sama kamu Gibran, kenapa kamu tidak mengerti juga? Kalau kamu mau Yasmin selamat kamu harus nikahin aku dan tinggalkan Yasmin."
"Kamu bercanda kan? Ayesha aku sedang tidak ingin bercanda."
"Aku serius Gibran. Kalau kamu gak mau nikahin aku, aku gak bisa menjamin keselamatan Yasmin."
"Jangan, jangan Ayesha. Jangan lakukan apa pun terhadap Yasmin, aku mohon."
"Kalau begitu cepat nikahi aku."
Gibran tak langsung menjawab perkataan Ayesha, dirinya tidak mungkin menikahi wanita yang tidak pernah dicintainya.
"Kamu mau aku menghilangkan nyawa Yasmin?" ucap Ayesha karena Gibran tak kunjung menjawab.
"Gila kamu ya Sha. Sadar Ayesha sadar, kita ini berteman sejak kita kecil. Kenapa kamu seperti ini?"
"Aku emang gila, aku seperti ini karena aku cinta sama kamu Gibran. Kamu yang membuat aku menjadi gila, gila karena cintamu."
"Ayesha, aku tidak menyangka kamu bisa senekat ini."
"Aku beri kamu waktu sampai besok untuk berpikir. Jika besok kamu tidak mau menikahi aku juga, terpaksa Yasmin akan lenyap di tanganku."
Ayesha meninggalkan Gibran setelah mengucapkan kata-kata terakhirnya!
Gibran hanya diam sembari menatap Ayesha, dirinya berpikir bahwa ancaman Ayesha tidak main-main. Dirinya harus berpikir untuk menyelamatkan Yasmin dari genggaman Ayesha.
Gibran langsung menaiki mobilnya dan mengemudi dengan kecepatan tinggi! Dirinya harus bertemu dengan Galih, untuk meminta maaf dan meminta bantuannya untuk menyelamatkan Yasmin.
*******
__ADS_1
"Yasmin belum ditemukan juga," ucap Zaina.
"Belum Bu, aku gak tahu harus bagaimana. Polisi juga belum memberitahu tentang perkembangan kasus ini," ucap Dalina.
"Teman-teman aku juga gak ada yang melihat Yasmin. Semoga saja hari ini suaminya Yasmin membawa kabar baik," ucap Shaima.
"Bagaimana ini, bagaimana jika terjadi sesuatu pada Yasmin?"
"Jangan berpikir buruk dulu, kita berdoa yang terbaik untuk Yasmin ya."
"Jadi anak itu belum ditemukan?" ucap Zafran yang baru tiba di rumah itu.
Semua orang tidak ada yang menjawab pertanyaan Zafran karena mereka yakin, Zafran sudah tahu dengan jawabannya.
"Aku akan tinggal di rumah ini karena sekarang aku sudah menikah dengan Mas Zafran," ucap Monik yang muncul dari belakang Zafran.
"Terserah kamu. Lakukan apa yang kamu mau," ucap Dalina yang tak ingin memusingkan tentang Zafran yang tidak pernah berubah itu.
"Apa, jadi kalian sudah menikah?" ucap Zaina.
"Sudah. Sekarang aku mau Dalina tetap di sini dan merawat Monik yang sedang hamil anakku."
"Tidak akan. Kak Dalina akan tinggal bersama aku dan Ibu di rumah Ibu," ucap Shaima.
"Jangan ikut campur kamu anak kecil."
"Semalam kamu sudah menceraikan aku kan? Jangan harap aku mau menuruti permintaan kamu lagi. Aku akan keluar dari rumah ini sekarang juga, aku ikhlas memberikan rumah ini padamu Bang."
"Dari dulu aku hidup sendiri Bang, justru kamu yang gak akan bisa hidup tanpa aku."
"Dalina, cepat kemasi pakaianmu dan ikutlah bersama Ibu."
"Oh, jadi sekarang Ibu lebih memilih Dalina dibandingkan aku, anak kandung Ibu," ucap Zafran.
"Perlu kamu Tahu Zafran, kamu bukanlah anak kandung Ibu. Kamu adalah anak yang terlahir dari istri simpanan Ayahmu," ucap Zaina pada Zafran.
"Shaima, Dalina, ayo kita pergi dari sini."
Zaina, Dalina dan Shaima pun langsung meninggalkan Zafran dan Monik di rumah yang sebenarnya adalah milik orang tua Dalina itu.
Zafran hanya diam sembari menatap kepergian tiga wanita itu. Dirinya baru mengetahui kenyataan bahwa dirinya bukanlah anak kandung Zaina.
Selama ini Zaina tidak pernah mengatakan hal itu padanya.
*******
"Galih!" seru Gibran dengan suara lantang.
"Ada apa?" tanya Galih yang berdiri di depan pintu kamarnya.
"Sini lo, kakak mau bicara."
__ADS_1
"Kalau lo mau menuduh gue yang nggak-nggak, lebih baik lo pulang aja karena gue lagi gak mau ribut."
"Gue mau minta maaf," ucap Gibran dengan suara pelan.
"Maaf, maaf untuk apa?"
"Kakak udah menuduh kamu yang menculik Yasmin, ternyata Ayesha yang menculik Yasmin."
"Apa, Ayesha? Tapi kenapa dia menculik Yasmin?"
"Dia ingin aku menikahinya besok atau lusa kalau tidak dia tidak segan untuk membunuh Yasmin."
"Apa, gak mungkin seorang Ayesha melakukan itu."
"Awalnya aku juga tidak percaya tapi ini kenyataannya. Gue mohon lo mau bantuin gue, gue gak mau kehilangan Yasmin."
"Kita tidak punya waktu. Ayo kita datangi polisi yang menangani kasus penculikan terhadap Yasmin sudah dan katakan bahwa kita tahu siapa yang menculik Yasmin, siapa tahu polisi akan cepat menemukan Yasmin."
"Ayesha melarang kita melaporkan ini ke Polisi."
"Lalu kita harus apa?"
"Kita harus mencari tahu dimana Ayesha menyembunyikan Yasmin."
"Nikahi saja dia agar Yasmin selamat dulu lalu setelah itu ceraikan lagi."
"Tidak mungkin, Ayesha adalah perempuan licik. Setelah aku menikahinya tidak menjamin bahwa dia akan melepaskan Yasmin."
"Kita pikirkan dulu cara yang terbaik. Kita masih punya waktu sampai besok."
"Galih, untuk saat ini cuma lo yang bisa gue mintai tolong. Jangan sampai Mama dan Papa tahu tentang ini."
"Lo tenang kak, gue akan buktiin kalau gue gak akan membiarkan lo terpisah dari Yasmin.
*******
Dua hari sudah, Yasmin berada dalam gudang itu. Tubuhnya semakin melemah karena kurangnya asupan makanan ke dalam tubuhnya.
Yasmin meringkuk di lantai yang kotor dan penuh dengan debu itu. Semua perkataan orang yang menyekapnya tak lagi dihiraukan olehnya, dalam batinnya dia berpikir bahwa saat itu adalah hari terakhirnya hidup di dunia.
Yasmin hanya bisa menangis dan berpasrah diri kepada Tuhannya. Tak ada lagi yang dia harapkan dari orang-orang disekitarnya, dirinya hanya meminta agar Tuhan membahagiakan orang-orang yang menyayanginya meski tanpa dirinya bersama mereka. Terlebih Gibran, Gibran yang pernah merasakan kehilangan orang yang dia sayangi dan sekarang laki-laki itu harus kehilangan orang yang dia sayangi untuk yang kedua kalinya.
Yasmin sendiri tidak yakin apakah Gibran dapat mencari penggantinya atau tidak, setahunnya Gibran adalah laki-laki yang sulit membuka hati untuk orang lain setelah dirinya kehilangan orang yang dicintainya.
"Ini orang hampir mati, kita apain dia?" ucap salah satu dari dia laki-laki yang menyekap Yasmin.
"Kita lapor Mbak Ayesha aja. Jangan sampai cewek ini mati, kalau dia mati bisa berabe urusannya."
"Cepat lo telpon Mbak Ayesha, cewek ini udah sekarat tuh."
"Iya-iya." Laki-laki berkulit coklat itu mengambil ponselnya yang ada didalam saku celananya lalu segera menelpon Ayesha.
__ADS_1
Bersambung