
"Kania, hati ini kamu ada acara gak?" tanya Galih.
"Gak ada, hari ini aku gak ada kegiatan sama sekali."
"Mau jalan bareng aku?"
Kania tak langsung menjawab, dia menatap Galih dengan tatapan tak percaya.
"Kalau kamu gak mau juga gak apa-apa, aku gak akan maksa kok," sambung Galih lagi.
Kania tersenyum lebar, "nggak-nggak, aku bersedia kok jalan sama kamu."
"Yakin? Kalau mau ajak teman-teman kamu yang lain boleh kok."
"Yakin lah, kenapa enggak. Kamu orangnya baik kok."
"Gimana kalau ternyata aku nakal? Gimana kalau ternyata aku ini cowok brengsek?"
Kania menatap Galih lagi tapi kali ini dengan menautkan kedua alisnya.
"Emang laki-laki brengsek dan nakal suka mengakui kenakalannya ya?"
"Gak tahu juga, aku rasa aku tidak termasuk dalam golongan mereka yang brengsek dan nakal."
"Oh ya? Aku harap ucapan kamu ini benar. Jadi kita mau jalan ke mana?"
"Ke mana aja yang penting gak berdiam diri di sini terus."
**********
Setibanya di dekat makam Ayahnya, Yasmin melihat ada seseorang yang sedang berziarah di sana.
Dia terlihat seperti seorang perempuan karena mengenakan kerudung sebagai penutup kepalanya.
Yasmin menatap orang itu dengan seksama, dalam pikirnya mungkin itu adalah keluarga dari Ayahnya.
"Mas sepertinya ada yang sedang berziarah juga ke makam Ayahku," ucap Yasmin pada Gibran.
"Memangnya yang mana makam Ayah?" tanya Gibran sembari mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat pemakaman itu.
"Itu di sana." Yasmin mengarahkan jari telunjuknya pada makam Ayahnya.
Gibran mengikuti arah yang ditunjuk oleh Yasmin dan dia melihatmu memang ada seseorang yang sedang berziarah ke makam itu.
"Ayo kita ke sana, siapa tahu kamu kenal sama orang itu."
"Ayo Mas."
Yasmin dan Gibran pun langsung berjalan menghampiri wanita itu.
**********
Di kediaman Alan.
Ponsel Maya berdering tanda adanya telpon masuk. Maya meraih ponselnya yang terletak di atas meja lalu segera melihat siapa yang menelponnya dan alangkah bahagianya dirinya saat tahu Ayesha yang menelponnya.
"Ayesha, akhirnya anak itu menelpon juga," gumam Maya.
Maya berjalan ke halaman belakang rumahnya untuk berbicara dengan putri satu-satunya itu.
"Semoga Papa gak dengar pembicaraan aku dengan Ayesha ini," gumam Maya sembari memastikan bahwa suaminya tidak akan mendengar setiap perkataannya.
__ADS_1
Setelah memastikan bahwa suaminya tidak ada di sana, Maya langsung menerima telpon dari Ayesha.
[Halo Ayesha.] ucap Maya setelah menerima telponnya.
[Ma, lama banget angkat telponnya?]
[Mama abis cari tempat yang aman dulu biar Papa kamu gak dengar pembicaraan kita.]
[Memangnya Papa gak ke kantor hari ini?]
"Sekarang kan hari minggu, jadi Papa mu gak ke kantor." ucap Maya dengan sedikit berbisik.
[Ma, aku harus gimana ini? Aku takut Gibran pasti melaporkan aku ke penjara.]
[Kamu bersembunyi saja dulu sampai beberapa hari atau paling lama satu bulan.]
[Gila ya Ma, lama banget terus aku harus ngapain di sini di tempat sekecil ini?]
[Sekarang kamu dimana?]
[Gak tahu, mereka bilang disini adalah kota kecil yang jarang sekali dikunjungi oleh orang-orang.]
[Kalau di sana aman, bersembunyi saja dulu di sana karena sekarang Mama gak bisa pergi ke mana-mana karena sekarang penyakit Papa kambuh lagi.]
[Apa, Papa sakit?]
[Iya, semua ini karena ulah Galih yang berhasil melepaskan Yasmin dan akhirnya Papa tahu semua tentang kamu. Udah dulu ya,Mama takut Papa kamu tahu kalau kita telponan, hati-hati di sana ya sayang.]
Maya langsung mematikan sambungan teleponnya lalu menghapus riwayat telpon yang masuk dalam ponselnya.
*******
"Ibu, aku pikir siapa," ucap Yasmin setelah tiba di makam Ayahnya.
"Aku ingin berziarah ke makan Ayah, aku kangen sama Ayah Bu."
"Kamu kan bisa ke sini lain kali saja, tidak harus hari ini. Memangnya kamu sudah sembuh total?"
"Bu, tadi sebelum berangkat aku sudah coba peringatkan Yasmin tapi dia kukuh pengen ke sini," ucap Gibran.
"Aku udah gak apa-apa kok Bu. Lihat saja aku, aku berdiri dengan tegak dan berbicara seperti biasanya."
"Kamu memang keras kepala, ayo berdoa bersama untuk Ayah."
Yasmin dan Gibran pun mulai berdoa di samping makam Ayahnya Yasmin.
*******
"Wati, kamu ke rumah Gibran ya," ucap Maria pada Wati~asisten rumah tangganya.
"Iya, mau apa Bu?"
"Yasmin kan lagi sakit, kamu ke sana dulu buat ngerjain tugas rumah di sana."
"Baik Bu, saya siap-siap dulu."
"Yakin kamu mau ke sana? Kalau kamu keberatan boleh Arti aja yang ke sana."
"Gak apa-apa Bu, saya saja. Saya juga kangen sama Mbak Yasmin."
"Bukan cuma kamu yang kangen sama mbak Yasmin, aku juga kangen sama dia," ucap Arti.
__ADS_1
"Kalau gitu kalian ke sana sama-sama saja."
"Nanti siapa yang di sini Bu?"
"Kalian berdua beresin pekerjaan kalian dulu di sini setelah itu pergi ke rumah Gibran dan Yasmin. Kalian boleh menginap di sana tapi satu malam saja."
"Siap Bu, terimakasih udah memberikan waktu libur pada kami."
"Gak ada libur ya, di sana kalian kerjakan tugas rumah karena Gibran dan Yasmin gak punya asisten rumah tangga."
"Iya Bu, kami paham. Maksud kami dikasih waktu untuk bertemu dengan Mbak Yasmin."
"Kalian ada-ada aja padahal Yasmin bukan artis tapi kalian ngefans sama dia."
Wati dan Arti tidak berucap lagi, mereka hanya nyengir lalu segera kembali melanjutkan pekerjaan mereka.
*******
Di sebuah taman di perkotaan.
Tak sengaja Galih bertemu dengan Sinta dan Sonny di sana.
Mereka bertemu dan saling menyapa.
"Lo tahu aja gue ada di sini," ucap Sonny.
"Lo pikir gue ke sini buat nyariin lo? Nggak ya, gue ke sini cuma mau menghilangkan rasa jenuh aja," ucap Galih.
"Hai Kania, lo ke sini sama siapa?" tanya Sinta.
"Sama gue, kenapa? Gak boleh teman lo jalan bareng gue?" ucap Galih.
"Oh, gimana ceritanya kalian bisa sampai jalan berduaan kayak gini?"
"Lo mau tahu aja atau tahu banget?"
"Udah-udah, gak penting gimana caranya aku dan Galih bisa jalan berdua, sekarang kita udah ketemu jadi kita jalan berempat," ucap Kania.
"Nggak lah, gue sama Sinta mau pacaran berdua aja, kalian gak boleh ikut dan gak boleh ngintip. Ingat orang yang masih jomblo gak boleh ngintip orang yang lagi pacaran karena takutnya nanti mau sayang-sayangan eh ayang nya gak punya."
Sonny tergelak tapi Galih dan dua gadis itu hanya diam tak bersuara.
"Awas lo ya berdua-duaan di tempat yang sepi nanti muncul orang ke tiga."
"Iya, orang ketiga nya lo," ucap Sonny.
"Bukan gue tapi bayi dalam kandungan Sinta," celetuk Galih.
"Enak aja, lo pikir gue kebo yang gak memerlukan sertifikat untuk melakukan hal semacam itu," ucap Sinta.
Sonny meninju perut Galih namun pelan, tak sampai menyisakan luka dan sakit yang terlalu.
"Lo pikir gue se_berengsek itu?" ketus Sonny.
"Ya kali aja kan. Gue sebagai teman mungkin gak tahu semua yang ada dalam diri kamu."
"Ya tapi gak gitu juga dong pikiran lo. Gak mungkin ada bayi tanpa adanya pergulatan lebih dulu."
"Mereka kok jadi ngebahas yang gitu. Mending kita pergi aja yuk dari sini," ucap Sinta pada Kania.
Kania mengangguk lalu dua gadis itu langsung pergi meninggalkan Galih dan Sonny di sana!"
__ADS_1
Bersambung