Cinta Dalam Pernikahan Kontrak

Cinta Dalam Pernikahan Kontrak
Cinta Dalam Pernikahan Kontrak bab 35


__ADS_3

"Mas maaf ya. Ini lukanya lumayan parah," ucap Yasmin sembari mengelus kening Gibran.


"Udah gak apa-apa."


"Lagian kamu ngapain datang-datang main meluk aja. Aku pikir orang jahat tadi."


"Aku udah ucapin salam tapi kamu tidak menyahut dan karena pintu gak dikunci, jadi aku masuk aja. Pas aku masuk aku mencium aroma masakan yang enak jadinya aku langsung menuju sumber harum masakan itu dan pas aku tiba di dapur, eh ada bidadari yang sedang masak yang membuat aku ngebet pengen meluk. Ya udah aku peluk aja langsung ternyata tanpa aku sadari bidadari itu sedang memegang senjata dan akhirnya aku terluka deh."


"Udah cerita nya? Kok ceritanya kayak yang ada di novel online yang suka aku baca."


Gibran tersenyum sambil terus menatap Yasmin.


"Mas, kamu jangan menatap aku seperti itu. Nanti aku bisa lari."


"Lari saja kalau bisa. Kamu tidak akan pernah aku lepaskan."


*******


"Kak Zafran! Kak!" teriak Shaima sembari terus mengetuk pintu rumah Dalina dan Zafran.


"Ada apa? Kenapa kamu teriak-teriak?" tanya Dalina yang baru membukakan pintu rumahnya.


"Bukan urusan kak Dalina. Aku mau ketemu sama kak Zafran, dimana dia?" ucap Shaima dengan nada judes.


"Kakakmu sedang tidak di rumah, dia baru saja pergi bersama temannya."


"Kemana?"


"Tidak tahu. Kakakmu selalu marah kalau ditanya mau ke mana."


"Jadi istri kok gak guna banget. Masa suami pergi istrinya gak tahu perginya ke mana."


"Kamu kan tahu kakakmu itu seperti apa. Memangnya kamu mau apa nyari kakakmu?"


"Di rumah ada wanita hamil dan mengaku sebagai kekasihnya kak Zafran, dia minta pertanggungjawaban kak Zafran atas bayi yang dikandungnya."


Deg! Bagai disambar petir di siang bolong, Dalina merasa sakit dan sesak di hatinya saat mendengar perkataan Shaima.


"Apa! Apa kamu tidak salah bicara? Jangan sembarangan bicara kamu."


"Aku serius. Sekarang ayo kakak ikut aku kalau gak percaya dan katakan pada dia kalau kak Zafran tidak ada."


Dalina masih menangis di tempat dia berdiri, rasanya kakinya sudah tak bertulang sehingga dirinya kesulitan untuk berjalan.


"Kak Dalina ayo! Nanti keburu wanita itu melaporkan Kak Zafran ke polisi." Shaima menarik tangan Dalina dan membawanya berjalan menuju rumah orang tuanya.


Dalina masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh adik iparnya itu. Dipaksa bekerja sendiri untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari bahkan Zafran sampai menjual Yasmin pada orang lain demi membayar hutangnya pada rentenir tak membuat dirinya membenci Zafran tapi saat mendengar ada wanita lain dan ternyata wanita itu sedang hamil anak dari suaminya, membuat Dalina hancur sehancur-hancurnya.


*******


"Galih, tumben kamu di sini sampai jam segini? Biasanya juga jam tujuh kamu udah pulang," ucap Kania yang baru tiba di kafe tempat anak muda nongkrong itu.


"Kania, kamu sama siapa ke sini?" tanya Galih.

__ADS_1


"Sendiri. Aku mau ketemu sama Sinta katanya dia sedang di sini."


"Oh Sinta. Dia lagi ke toilet, kamu tunggu aja di sini sebentar. Ayo duduk."


Kania tersenyum lalu duduk di kursi yang berhadapan dengan Galih.


"Sonny gak ada ya?" tanya Kania lagi.


"Ada, dia juga lagi ke toilet."


"Mereka kompak banget, ke toilet aja harus barengan."


*******


"Ma mana alamat rumah Gibran," ucap Ayesha pada Maya.


"Sabar dong sayang. Ada Papa, nanti aja kalau Papa kamu udah masuk kamar," sahut Maria.


"Ya udah, jangan lama-lama ya. Aku udah gak sabar."


"Nanti Mama ke kamar kamu deh, kamu tunggu aja sana."


Ayesha pun langsung berjalan menuju kamarnya tanpa berucap lagi!


"Ada apa, bisik-bisik?" tanya Alan yang melihat istri dan anaknya bicara dengan sedikit berbisik.


Maya menoleh ke arah Alan lalu tersenyum tipis. "Nggak. Nggak ada apa-apa kok Pa, urusan anak gadis, Papa gak perlu tahu."


"Kalau gitu Papa ke kamar duluan ya Ma, Papa capek nih."


Alan pun langsung berjalan meninggalkan Maya yang masih berdiri didepan pintu kamar Ayesha itu.


Setelah memastikan Alan sudah benar-benar masuk ke dalam kamarnya dan laki-laki itu sudah beristirahat, Maya segera masuk ke dalam kamar Ayesha!


"Sayang, sini Mama tulis aja alamat rumahnya," ucap Maya setelah berada di dalam kamar Ayesha.


"Mama yakin kan kalau alamat ini benar-benar alamat rumah Gibran?"


"Iya dong sayang, selama ini Mama gak pernah salah kan. Orang suruhan Mama adalah orang terpercaya."


"Aku kangen sama Gibran, semenjak dia nikah dia gak pernah lagi mau menemui aku bahkan menelpon ku."


"Kamu datang aja ke kantornya, apa susunya sih. Pura-pura aja kamu kebetulan lewat sana dan ajak Gibran makan siang bersama."


"Mama gampang ngomong gitu, aku yang merasakannya sudah Ma."


"Jadi cewek yang pintar sedikit dong Nak. Kamu pikir dulu Mama gak sulit apa buat dapetin Papa kamu."


"Maksud Mama?"


"Semua butuh udah dan pengorbanan Ayesha, jadi perjuangan cintamu dan dapatkan Gibran dengan cara apa pun."


*******

__ADS_1


Selesai makan malam, Gibran dan Yasmin menonton televisi bersama.


Mereka duduk dalam satu sofa yang sama dengan posisi kepala Gibran yang diletakkan di atas paha Yasmin.


Dengan hati-hati, Yasmin mengelus kening Gibran hingga ke kepalanya.


"Masih sakit ya Mas?" tanya Yasmin.


"Sedikit," sahut Gibran.


"Lain kali jangan gitu lagi ya. Aku bisa lebih berbahaya dari itu saat sedang merasa terancam."


"Iya, aku janji gak gitu lagi. Gara-gara perbuatan aku kita gak jadi dengan belah duren."


"Maksud kamu?" Yasmin menghentikan pergerakan tangannya yang sedang mengelus-elus kepala Gibran.


"Ya kan rencananya, aku pulang cepat karena mau ngumpulin tenaga buat kita bertempur, eh tahunya gak jadi karena aku terluka seperti ini."


"Ih kamu kok pikirannya ke sana terus."


"Apa salahnya? Kita sudah menikah dan sekarang kita sudah sama-sama saling mencintai.".


"Mmm, gak ada salahnya sih sebenarnya. Kalau aku belum siap gimana?"


"Sebenarnya kalau belum siap tinggal disiapin aja. Misalnya kamu masih malu tinggal beranikan diri untuk tampil beda didepan aku. Kalau kamu tidak tahu bagaimana cara dan gayanya aku juga belum tahu karena aku juga belum pernah. Kita belajar sama-sama aja, nanti juga bisa sendiri."


"Mas, kamu apa-apaan bicara seperti itu." Yasmin menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Gadis itu merasa malu karena Gibran mengatakan sesuatu yang menurutnya sangat sensitif.


"Gitu aja malu, gimana kalau beneran di bugilin."


"Udah ah, jangan bahas itu. Kita bahas yang lain aja."


"Aku gak mau bahas yang serius karena unung-ujungnya kamu suka nangis."


*******


"Siapa kamu?" tanya Dalina pada wanita cantik dan seksi meski perutnya terlihat buncit.


Wanita itu menatap Dalina yang sedang berdiri didepan pintu rumah mertuanya itu.


"Kamu siapa?" Bukannya menjawab pertanyaan Dalina, wanita itu malah bertanya balik.


"Dia ini istrinya kak Zafran jadi kamu jangan mengada-ada tentang siapa ayah dari bayi yang kamu kandung itu," ucap Shaima.


"Kamu jujur saja, kamu hanya ingin memanfaatkan Zafran kan?" ucap Zaina.


"Saya Monik dan bayi yang dalam kandung saya ini benar-benar anaknya Mas Zafran.


'Tidak mungkin, Bang Zafran tidak mungkin setega itu mengkhianati aku," ucap Dalina tak percaya.


"Bu, Ibu bilang saya mau memanfaatkan Zafran! Memanfaatkan apanya? Untuk makan dan judi dia sehari-hari saja masih harus minta istrinya. Kalau bukan karena saya sudah terlanjur hamil sama dia, saya juga tidak mau menikah dengan laki-laki yang hobinya judi bahkan sampai tega menjual anak tirinya untuk berjudi dan mabuk-mabukan," ucap Monik dengan suara lantang.

__ADS_1


Zaina tak dapat berkata-kata lagi setelah diserang oleh perkataan buruk tentang putranya. Selama ini dirinya selalu menganggap putranya adalah orang baik dan sangat patuh padanya dan sangat menyayangi istri dan anaknya.


Bersambung


__ADS_2