Cinta Dalam Pernikahan Kontrak

Cinta Dalam Pernikahan Kontrak
Cinta Dalam Pernikahan Kontrak bab 6


__ADS_3

Semua keluarga sudah duduk di kursi masing-masing untuk sarapan bersama.


Dengan telaten Yasmin mengisi piring kosong milik Gibran!


"Mas, kamu mau lauk apa? Ada ayam dan ikan," ucap Yasmin.


"Ayam aja," sahut Gibran.


Yasmin pun langsung mengisi piring itu dengan ayam goreng dan tak lupa dia memberikan sayurnya juga.


"Silahkan Mas."


Maria dan Darwin tersenyum melihat Yasmin yang begitu telaten melayani suaminya.


Mereka pun mulai menyantap makanan itu.


"Mbak Wati, ini siapa yang masak?" tanya Galih setelah melakukan suapan pertamanya.


"Kenapa sayang?" ucap Maria.


"Kalian cobain deh."


Maria pun merasa penasaran, akhirnya dia menyuap makanannya yang susah tersedia dalam piringnya.


"Mmmm. Rasanya beda, siapa yang masak?"


"Aku yang masak. Makanan gak enak ya Ma?" ucap Yasmin.


"Ini gak enak tapi ...." Maria menggantung ucapannya.


Yasmin tak berani memakan makanan yang sudah tersedia dalam piringnya, dia terus menatap ke arah Maria. Gugup dan tegang sudah pasti dia rasakan, ini kali pertamanya memasak di rumah keluarga barunya.


"Ini enak sekali. Gibran memang pintar cari istri," sambung Maria.


Yasmin pun tersenyum lebar ke arah Maria. "Alhamdulillah kalau Mama suka, aku pikir Mama tidak menyukai masakan ku ini."


"Ini enak sekali. Boleh lah kakak setiap hari masakin buat kita," ucap Galih.


"Terimakasih sudah menyiapkan yang terbaik untuk aku dan keluargaku," ucap Gibran sambil menggenggam dan mengelus punggung tangan Yasmin dengan ibu jarinya.


Yasmin hanya tersenyum menanggapi perkataan Gibran, sebenarnya dia masih merasa canggung terhadap laki-laki yang baru menikahinya itu.


"Ehem!" Galih berdeham, memberikan kode pada Yasmin dan Gibran.


Gibran pun melepaskan tangan Yasmin lalu mulai makan.


"Ayo kita makan."


Mereka pun langsung makan bersama pagi itu.


*******


Di kediaman Zafran.


"Bang, kamu tahu tidak rumahnya Gibran?"


"Ya nggak tahu lah. Kenal saja enggak, tahu dari mana rumah dia," sahut Zafran.


"Lalu bagaimana kalau aku ingin menemuinya? Berapa lama dia akan menjalani sandiwara pernikahannya? Aku takut Gibran tidak memperlakukannya dengan baik."

__ADS_1


"Yasmin itu sudah dewasa, kalaupun Gibran menyiksanya, dia pasti lapor polisi setidaknya dia lapor pada keluarganya. Kelihatannya orang tuanya Gibran orang baik."


"Bang, berapa lama mereka akan menjalin pernikahan itu?"


"Untuk satu tahun. Aku harap Gibran memperpanjang kontraknya agar kita bisa dapat uang lagi dari dia."


"Astaghfirullah Bang, tega sekali kamu sama Yasmin. Dia itu anakku Bang bukan barang."


"Ah diam kamu! Mending sekarang kamu siap-siap untuk pergi ke toko kita."


Dengan uang yang diberikan oleh Gibran, Zafran bisa membuka toko sembako dan mulai hari ini mereka harus mengelola tokonya dengan baik agar mempunyai pendapatnya perharinya.


Yasmin sudah tak bisa membantu mereka mencari uang karena itulah Zafran berinisiatif untuk membuka toko untuk mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari.


*******


"Mam, Pa, aku berangkat kuliah dulu ya," ucap Galih pada orang tuanya.


"Papa juga mau ke kantor," ucap Darwin.


"Yasudah, pergi sana. Kalian hati-hati di jalan."


"Kakak gak ke kantor?"


"Nggak. Gue kan baru aja nikah, masa langsung kerja," ucap Gibran.


"Mentang-mentang baru nikah, kan masih bisa ketemu sama kak Yasmin setelah pulang dari kantor."


"Udah-udah. Galih, berangkat sana! Udah jam berapa ini."


Galih pun tersenyum lalu segera menyalami Maria dan Darwin.


"Assalamu'alaikum."


"Maksud Papa?"


"Galih masih harus berjuang dengan kuliahnya habis itu mencari kerja terus langsung berjuang mencari menantu buat kita."


"Papa ini gimana, Galih itu masih perlu banyak waktu untuk mencari menantu buat kita mending kita minta cucu aja sama Gibran biar rumah ini jadi ramai karena ada tangisan bayi."


Gibran yang masih duduk di tempat makannya pun menatap Yasmin dan berpura-pura seolah dirinya tidak mendengar pembicaraan Mama dan Papanya.


"Gibran! Kode keras ini dari Mama," ucap Darwin.


Yasmin yang tak ingin mendengar pembicaraan itu pun langsung pergi dari tempat itu setelah membereskan piring kotor bekas mereka sarapan.


"Kalian ini, aku baru nikah udah sibuk minta cucu. Yasmin jadi malu kan, tuh dia pergi."


"Gibran, kamu itu sudah dewasa sudah waktunya punya anak."


"Ma, Pa, aku nyusul Yasmin dulu ya. Maklum pengantin baru, maunya dekat-dekatan terus," ucap Gibran sambil berjalan meninggalkan kedua orang tuanya!


Untuk menghindari pembicaraan seputar anak, Gibran memilih pergi dan membiarkan kedua orang tuanya di sana.


Di kamar Gibran.


Yasmin duduk di tepi ranjang sambil menatap foto Ayah kandungnya dan Ibunya.


"Ayah, lihatlah. Aku sudah menikah, aku sudah memiliki keluarga sendiri. Aku harap Ayah bahagia melihatku meski pernikahanku ini palsu," ucap Yasmin didalam hatinya.

__ADS_1


Yasmin terus menatap foto itu sambil sesekali mengusapnya dengan ibu jarinya.


Gibran datang dan berjalan menghampiri Yasmin!


"Lagi liatin apa?" tanya Gibran.


"Tidak ada," sahut Yasmin.


"Itu apa? Foto kekasihmu ya?"


"Iya, dia cinta pertamaku."


Gibran menghentikan langkahnya dan berdiri di tempat itu sambil menatap Yasmin.


"Kamu punya pacar?"


Yasmin tersenyum tipis lalu berdiri dan mulai berjalan mendekati Gibran.


"Tidak punya," ucap Yasmin setelah dirinya berdiri tepat di hadapan Gibran.


"Kalau pun kamu punya pacar kalau kamu ingin melanjutkan hubungan kalian, silahkan saja."


"Kontak pernikahan kita satu tahun. Selama satu tahun ini pula aku akan menjalankan peranku sebagai istri kamu. Aku gak mungkin memiliki kekasih karena itu akan membuat masalah dalam keluarga aku dan kamu."


"Lalu itu foto siapa?"


Yasmin memperlihatkan foto yang dari tadi dipegangnya!


"Ayah dan Ibuku. Ini foto Ayah kandungku."


Gibran tersenyum lalu duduk di bibir ranjang.


"Bersiaplah, kita akan pergi jalan-jalan."


"Ke mana?"


"Kemana aja yang penting gak diam di rumah."


"Baiklah, istri yang baik harus menuruti semua perkataan suami kan."


"Terimakasih sudah menjadi istriku."


"Pergilah dulu dari sini, aku mau mengganti pakaianku."


"Hey Yasmin, aku kan suamimu apa aku tidak boleh melihatmu mengganti pakaian?"


"Gibran, tolonglah."


"Sedikit saja." Gibran tersenyum jahil sambil menyipitkan matanya.


"Gibran, kamu mau aku pukul dengan bantal ini."


"Nggak-nggak. Baiklah aku keluar dulu."


"Padahal dalam perjanjiannya gak ada larangan untuk aku melihatnya bahkan meminta hak aku sebagai suami," ucap Gibran sambil terus berjalan meninggalkan Yasmin didalam kamarnya!


Yasmin menatap kepergian Gibran hingga sampai punggung laki-laki itu tak terlihat lagi karena sudah berada di luar ruangan kamarnya.


"Maaf Gibran, dalam perjanjian kontrak itu memang tidak ada larangan untuk kamu mengambil hak kamu tapi saat ini aku belum siap, aku takut jika aku hamil, bagaimana nanti nasib anak aku yang harus hidup tanpa Ayah kandungnya. Aku tidak ingin kehidupanku terulang pada diri anakku nanti."

__ADS_1


Yasmin yang sudah mengalami bagaimana rasanya hidup bersama dengan Ayah tiri, membuatnya takut untuk melakukan hal sejauh itu. Dia takut jika dirinya hamil karena sudah bisa dipastikan pernikahannya akan selesai dalam waktu yang sudah mereka tentukan dan disepakati bersama.


Bersambung


__ADS_2