Cinta Dalam Pernikahan Kontrak

Cinta Dalam Pernikahan Kontrak
Cinta Dalam Pernikahan Kontrak Bab 54


__ADS_3

"Ibu ke sini naik apa?" tanya Gibran pada Dalina.


"Ibu naik angkot," sahut Dalina.


Setelah selesai berziarah, mereka berjalan bersama meninggalkan area pemakaman umum itu.


"Sekarang Ibu pulang bareng kita aja. Biar aku dan Yasmin anterin Ibu pulang dulu," ucap Gibran.


"Tapi apa tidak merepotkan kalian?"


"Bu hari ini Mas Gibran libur kerja, jadi hari ini Mas Gibran gak punya kegiatan selain menuruti keinginan aku," ucap Yasmin.


"Jangan gitu Nak, sama suami kamu."


"Gak apa-apa Bu lagian gak setiap hari Yasmin meminta sesuatu padaku."


"Nak, Yasmin belum cukup dewasa untuk membina rumah tangga, Ibu harap kamu bisa bersikap sabar dalam menghadapi sikap Yasmin yang keras kepala dan kadang selalu ingin menang sendiri."


"Bu, aku sudah siap dengan segala kemungkinan terburuk yang akan aku terima setelah aku menikah dan memutuskan untuk menjadikan Yasmin sebagai istri sungguhan."


"Itu memang harus kamu lakukan Mas karena sebenarnya dalam kasus cinta kita ini, kamulah yang paling beruntung karena mendapatkan istri cantik baik dan masih sangat muda seperti aku," ucap Yasmin membanggakan dirinya.


"Iya kah? Aku tidak tahu tuh kalau ternyata aku yang paling diuntungkan bukannya kamu yang paling beruntung karena bisa mendapatkan aku yang tampan, dan baik hati selain itu aku ini penyayang dan juga penyabar."


"Apa kalian bahagia?" tanya Dalina sembari terus berjalan untuk sampai di mobil Gibran yang terparkir lumayan jauh dari makam Ayahnya Yasmin.


"Bu, kalau aku gak bahagia, aku gak akan mau jadi istrinya Mas Gibran."


Setelah tiba di dekat mobilnya, Gibran langsung membuka pintu mobilnya untuk istri dan ibu mertuanya itu!


"Silahkan," ucap Gibran.


Dalina dan Yasmin pun segera masuk ke dalam mobil itu! Mereka pun mulai melakukan perjalanan menuju rumah Dalina.


Setelah berkendara hampir lima belas menit, akhirnya mobil yang dikemudikan oleh Gibran itu mulai memasuki area tempat tinggal Dalina.


Saat sedang melewati jalan yang lumayan sempit, tak sengaja Yasmin melihat Zafran yang sedang berjalan bergandengan dengan seorang wanita yang kelihatannya sedang hamil itu.


"Bu, apa ibu tidak melihat mereka?" tanya Yasmin.


"Mereka siapa?" tanya Dalina.


"Ayah."


"Eh iya itu Ayah kamu lagi jalan sama siapa?" ucap Gibran.


"Oh itu istrinya," ucap Dalina dengan santainya.


"Istri? Ibu kok izinkan dia buat nikah lagi?" Gibran terkejut saat mendengar perkataan Dalina.

__ADS_1


"Kok Ibu mau dimadu? Bu untuk mencukupi kebutuhan Ibu aja laki-laki itu gak punya apalagi harus menghidupi dua istri sekaligus."


"Kurangajar emang tuh orang. Biar aku kasih pelajaran."


Gibran yang merasa kesal pada Zafran langsung menghentikan mobilnya lalu membuka pintu mobilnya.


"Jangan Nak, biarkan saja mereka lagipula Ibu sudah tidak menjadi istrinya lagi," ucap Dalina sembari mencegah Gibran agar tidak keluar dari mobilnya.


"Pasti Ibu bercanda kan?" Yasmin tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Ibunya itu.


Setahunya Ibunya itu sangat mencintai Zafran meski dirinya harus berkorban, berkorban tenaga untuk bekerja karena dirinya harus menghidupi keluarganya seorang diri tanpa bantuan dari Zafran.


"Setelah dia memperlakukan Ibu dengan tidak baik, dia menceraikan Ibu begitu saja? Aku tidak masalah jika aku dijual bahkan di buang sekalipun oleh laki-laki itu tapi aku gak terima kalau Ibu dicampakkan seperti ini."


"Yasmin, Ibu ikhlas kok. Udah ya, jangan marah-marah kamu kan baru aja sembuh."


"Tapi Bu, laki-laki itu."


*********


Di toko milik Dalina.


"Kak Dalina lama banget, udah hampir setengah hari dia gak kembali juga, aku khawatir terjadi sesuatu padanya," gumam Shaima.


Saat itu Shaima duduk di kursi kasir sambil mencatat barang apa saja yang sudah dia jual hari itu, namun pikirannya terganggu karena Dalina belum juga kembali padahal Dalina pergi dari pagi.


"Kakak, kakak dari mana saja? Aku khawatir padamu," ucap Shaima setelah Dalina masuk ke tokonya.


"Tadi kan kakak sudah bilang kalau kakak mau ziarah, kenapa kamu bertanya lagi?"


"Kenapa sampai setengah hari begini, bukannya tadi kakak bilang cuma dua jam saja."


"Maaf Tante, tadi aku ketemu sama Ibu di makan Ayah, jadinya kami ngobrol lama sampai lupa pulang," jelas Yasmin.


"Kamu sudah sembuh? Ngapain kamu udah keluyuran?"


"Udah sembuh kok, kalian kenapa khawatir nya berlebihan seperti ini? Aku baik-baik saja."


"Apa aku boleh numpang ke kamar mandi? Di dalam ada kamar mandi gak?" tanya Gibran.


"Ada, masuk aja," ucap Dalina pada Gibran.


"Yasmin, masuklah istirahat dulu di dalam," ucap Shaima pada Yasmin.


"Baik tante."


Mereka pun masuk ke dalam satu ruangan yang sengaja diperuntukkan untuk istirahat di sana!


**********

__ADS_1


Ayesha tak berani keluar dari tempat penginapan itu, dirinya takut ketahuan dan akhirnya ditangkap polisi, dirinya tahu bahwa Gibran tidak akan melepaskannya begitu saja sebelum menghukum dirinya seberat mungkin.


"Kalau sudah gini aku harus gimana? Mama tidak bisa membantuku karena sedang merawat Papa yang sedang sakit. Mau gak mau aku harus berjuang sendiri demi keselamatan ku."


Di sana, di kota kecil itu tidak ada satu orangpun yang dikenali oleh Ayesha, setelah lama tidak terpisah dari keluarganya, kini Ayesha harus tinggal jauh dari orang-orang yang dia sayangi karena ulahnya sendiri.


Meski begitu tidak ada sedikit pun penyesalan dalam diri Ayesha. Menurutnya yang dia lakukan itu bukanlah sebuah kesalahan melainkan suatu perjuangan untuk mendapatkan cintanya.


*******


"Ma, itu Wati sama Arti mau pada kemana? Tumben pada cakep-cakep," ucap Darwin.


"Mereka mau ke rumah Gibran."


"Mau ngapain?"


"Mama sengaja menyuruh mereka ke sana untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Yasmin dan Gibran kan gak punya asisten rumah tangga karena sekarang Yasmin lagi sakit, untuk sementara sampai Yasmin benar-benar pulih, Wati dan Arti yang akan mengerjakan tugas rumah."


"Kalau mereka berdua ke sana terus siapa yang di sini?"


"Papa kok khawatir gitu. Kan ada Mama, Mama bisa melakukan semuanya sendiri."


"Tapi Ma, Mama udah gak muda lagi lho."


"Cuma satu hari kok Pa, tenang aja."


*******


"Kania, gue sama Sonny pulang duluan ya," ucap Sinta.


"Oh, ya udah, hati-hati ya kalian," ucap Kania.


"Udah pada pulang aja sana, gue sama Kania pulang belakangan," ucap Galih.


"Kalau gitu gue cabut duluan ya."


Sonny dan Sinta mulai pergi meninggalkan Kania dan Galih di sana kini tinggal ada Galih dan Kania saja di sana.


"Galih, kamu gak bosan apa hampir seharian kita di sini," ucap Kania.


"Kalau ada temannya kenapa harus bosan."


"Sekarang kan temannya udah pada pergi."


"Kamu belum, kamu masih mau kan nemenin aku di sini?"


"Aku ke sini sama kamu, itu artinya aku akan pulang sama kamu lagi jadi aku akan menunggu sampai kamu mau pulang."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2