Cinta Dalam Pernikahan Kontrak

Cinta Dalam Pernikahan Kontrak
Cinta Dalam Pernikahan Kontrak bab 37


__ADS_3

Pagi hari, Yasmin membuka matanya dan dia mendapati Gibran yang masih terbaring di sampingnya dengan sebelah tangannya yang diletakkan di atas perutnya.


"Mas Gibran, dia beneran tidur di sini? Bersamaku, berarti yang terjadi semalam itu bukan mimpi," batin Yasmin.


Yasmin masih pada posisinya, ingin sekali dirinya segera bangkit dari tempat tidurnya namun dirinya takut mengganggu tidur sang suami. Perutnya terasa sakit karena menahan ingin buang air kecil.


Yasmin tetap terdiam sembari memperhatikan wajah Gibran yang sedang tertidur.


"Lagi tidur aja, kamu terlihat tampan pantas aja aku jatuh cinta sama kamu padahal usia kita lumayan jauh berbeda. Kamu dua puluh lima tahun sedangkan aku baru dua puluh tahun tapi aku rasa usia bukan masalah, yang penting kamu cinta dan aku juga mencintai kamu," batin Yasmin lagi.


Karena tak tahan lagi, Yasmin memberanikan menyingkirkan tangan Gibran dari atas perutnya.


Perlahan dirinya mengangkat tangan itu lalu meletakkannya di sampingnya, setelah itu barulah Yasmin buru-buru masuk ke dalam kamar mandi!


*******


"Kalian ingat ya, lakukan tugas kalian dengan baik," ucap Ayesha pada dua orang preman jalanan yang sengaja dibayar nya untuk menculik Yasmin.


"Tenang saja, kami akan bekerja dengan hati-hati," ucap salah satu dari dua laki-laki itu.


"Ingat, jika terjadi sesuatu dalam misi kalian ini, jangan pernah kamu bawa-bawa nama saya."


"Tenang Mbak, kita akan melakukan pekerjaan ini sebaik mungkin, jadi tidak akan terjadi apa-apa."


"Aku harap begitu karena aku tidak ingin kalian ketahuan apalagi sampai tertangkap oleh polisi."


"Jangan takut Mbak."


"Saya tunggu kabar dari kalian. Jangan sampai salah alamat dan salah orang ya. Ini foto Yasmin dan di belakangnya tertulis alamat rumahnya."


"Tidak akan Mbak. Kami janji kami akan melakukan tugas ini dengan baik dan tertutup selama kamu membayar kami dengan harga yang setimpal."


"Kalian tidak usah khawatir, setelah kalian berhasil saya akan membayar kalian. Cepat kerjakan pekerjaan kalian."


*******


Di kediaman Dalina.


Pagi itu, Zafran baru pulang ke rumahnya. Saat itu dia masih dalam keadaan setengah mabuk.


"Dalina!"


"Dalina!" teriak Zafran sembari menggedor pintu rumahnya.


Dalina membukakan pintu rumahnya dan Zafran pun langsung menjatuhkan tubuhnya ke pangkuan Dalina.

__ADS_1


"Bang! Bang sadar." Dalina mencoba membantu Zafran untuk masuk ke dalam rumahnya, aroma bau minuman beralkohol masih tercium tajam dari mulut sang suami.


Dalina membantu Zafran berjalan lalu mendudukkan sang suami di sofa butut miliknya! Setelah itu Dalina meninggalkan Zafran di sana, Dalina membiarkan efek minuman beralkohol itu hilang dari diri sang suami dan setelah suaminya sadar, dirinya baru akan berbicara pada Zafran.


Biasanya memang saat Zafran pulang dalam keadaan mabu, Zafran akan tidur sejenak setelah itu barulah dirinya akan mendapatkan kesadaran penuh.


*******


"Yasmin, semalam aku belum melakukan apa pun ya. Kamu jangan mengira aku sudah melakukannya," ucap Gibran.


Yasmin yang sedang menyiapkan makanan untuk sarapan pun menghentikan pergerakan tangannya lalu menatap Gibran.


"Oh belum, aku pikir sudah," ucap Yasmin.


"Sudah, kapan? Semalam kan kamu menolak."


"Lupa. Soalnya tadi pas aku bangun ada tangan yang sepertinya nyaman banget tinggal di atas perut aku."


"Semalam kan aku cuma main-main. Yang seriusnya nanti malam ya."


Yasmin tersenyum sambil menatap Gibran. "Ya, terserah kamu aja."


"Nah gitu dong. Kamu udah siap jadi istri aku yang sesungguhnya ya."


"Gimana lagi, sebagai istri, aku gak bisa nolak suamiku untuk itu."


"Karena aku baru kepikiran barusan. Jangan bicara lagi, makanlah karena kamu harus bekerja bukan."


Gibran mengangguk lalu mulai menyentuh makanan yang sudah disiapkan untuknya oleh Yasmin.


*******


"Galih, bagaimana kuliahmu?" tanya Darwin saat setelah selesai sarapan.


"Baik-baik aja Pa. Kenapa memangnya?"


"Tidak, Papa lihat akhir-akhir ini sepertinya kamu sedang ada masalah. Masalah apa?"


"Iya, Mama juga merasa sekarang kamu berbeda dari bisanya," sambung Maria.


"Nggak ada apa-apa, mungkin itu hanya perasaan Mama sama Papa aja."


"Kalau ada masalah, cerita sama Papa atau kalau masalah tentang mata kuliah kamu bisa tanya sama kakak kamu."


"Semua baik-baik aja dan berjalan sebagaimana mestinya. Mama sama Papa gak usah khawatir, jika aku punya masalah, aku masih bisa mengatasi masalahku sendiri."

__ADS_1


"Iya Mama tahu kamu pasti bisa menyelesaikan masalah kamu sendiri. Anak siapa dulu dong, anak Mama."


"Kalau gitu Papa berangkat dulu deh. Assalamualaikum," ucap Darwin.


"Waalaikumsalam," sahut Maria dan Galih.


"Hey anak Mama, ada apa?" tanya Maria lagi.


Maria ingin memastikan sekali lagi bahwa putra keduanya itu memang baik-baik saja.


"Ada apa apanya? Aku sudah bilang kalau tidak apa-apa dan aku baik-baik saja," sahut Galih dengan nada sedikit kesal.


"Ya sudah kalau belum mau bicara, asal kamu ingat ya, Mama ini orang yang melahirkan kamu dan Mama adalah orang yang paling dekat sama kamu jadi saat ini Mama tahu kalau kamu sedang ada masalah. Mama tidak tahu apa yang sedang kamu hadapi dan apa yang sedang ada dalam pikiranmu tapi kalau kamu mau cerita, Mama siap menjadi pendengar yang baik."


"Terimakasih sudah mengertikan aku tapi jujur Ma, aku baik-baik saja. Aku pergi dulu ya." Galih mencium punggung tangan Maria dengan lembut dan mulai bersiap untuk berangkat ke kampusnya.


*******


"Siapa Monik?" tanya Dalina pada Zafran dengan tegas.


"Siapa? Mana aku tahu, kenapa kamu menanyakan orang itu padaku?" Zafran berpura-pura tidak tahu dan tidak kenal dengan wanita yang namanya disebutkan oleh Dalina.


"Jangan bohong kamu Bang. Wanita itu datang untuk meminta pertanggungjawaban darimu. Dia hamil dan katanya hamil anak kamu."


"Dalina, kamu jangan percaya pada omongan orang yang tidak kamu kenal. Bisa aja dia hanya menginginkan aku atau dia ingin menghancurkan rumah tangga kita."


"Jangan berbelit-belit, jawab saja dengan jujur, anak yang dalam kandungan Monik itu benar anak kamu atau bukan."


"Jelas bukan lah, mana mungkin aku menghamili wanita lain sementara aku masih punya kamu yang sudah sempurna."


"Stop, jangan katakan kata-kata indah yang penuh dengan kedustaan itu. Aku muak mendengarnya."


"Lalu kamu ingin apa Dalina? Kamu ingin aku memukulmu, kamu ingin aku membiarkan mu begitu saja?"


"Ceraikan aku dan nikahi wanita itu." Dalina berucap dengan tangisnya yang mulai deras.


Dalina tak kuasa menahan kesedihannya karena harus mengikhlaskan suaminya demi orang lain. Meski Zafran selalu bersikap kasar dan sering berkata buruk padanya tapi cinta tetaplah cinta.


Besarnya cintanya pada Zafran membuat dirinya tidak melihat sisi buruk sang suami.


Namun sekarang cinta itu harus musnah karena adanya orang ke tiga dalam rumah tangganya.


Sebenarnya Dalina tidak ingin berpisah dari Zafran, selain karena cintanya pada sang suami, Dalina juga tidak mempunyai tempat untuk pulang karena rumahnya sudah menjadi milik Zafran, laki-laki itu sudah mengganti nama kepemilikan rumah itu dengan menggunakan namanya.


Karena wanita itu sudah hamil mau tidak mau dirinya harus mengalah dan membiarkan wanita itu menikah dengan Zafran dan melahirkan bayinya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2