Cinta Dalam Pernikahan Kontrak

Cinta Dalam Pernikahan Kontrak
Cinta Dalam Pernikahan Kontrak bab 34


__ADS_3

"Guys, gue udah tahu dimana tempat tinggal Gibran dan Yasmin yang baru. Kalian siapkan tempat penyekapan untuk dia, gue mau cari orang yang mau nyulik tuh cewek," ucap Ayesha kepada Rika dan Chaca.


"Cepat banget lo tahu tempat tinggal dia," ucap Rika.


"Gue harus bertindak cepat sebelum Gibran benar-benar lupa sama gue."


"Sha, setelah lo menculik Yasmin, mau diapakan tuh anak?"


"Sekap dia jangan sampai dia kabur. Bila perlu biarkan dia sampai mati."


"Gila lo, kalau sampai mati gue gak mau ikut campur. Gue takut dipenjara."


"Lo penakut banget Cha, lagian siapa yang melaporkan lo ke polisi kalau gak ada yang tahu tentang ini."


"Gue cariin tempat yang aman buat menyembunyikan Yasmin. Nanti kalau udah dapat, gue kabarin ke lo ya Sha," ucap Rika.


"Cha, lo mau bantuin Ayesha gak? Kalau lo gak mau juga gak apa-apa asal lo simpan rapat-rapat rahasia ini aja."


"Gue bantu apa? Gue bantu doa aja ya, gue gak bisa melakukan penculikan karena gue gak bisa berantem nanti kalau rambut indah gue dijambak sama Yasmin gimana?"


"Yaelah, rambut gitu aja masih dipikirin. Kayak orang miskin aja lo."


*******


Gibran sedang dalam perjalanan pulang, dia sangat bersemangat hari itu karena paginya mendapatkan ciuman mesra dari Yasmin.


Seiring berjalannya waktu, ia mulai bisa melupakan Wanda dan menggantikan posisi Wanda dengan Yasmin.


Kebaikan, ketulusan dan keikhlasan Yasmin membuat Gibran yang tak pernah memberikan kesempatan pada wanita lain, akhirnya dirinya kalah dan lebih dahulu jatuh cinta pada Yasmin.


"Yasmin," gumam Gibran.


Sekarang ini Gibran sedang mabuk cintanya Yasmin, bagaimana tidak, tidak ada waktu yang dia lewatkan tanpa mengingat Yasmin.


Wajah Yasmin yang cantik dan senyumnya yang menggoda selalu menghiasi pelupuk matanya dan selalu mengganggu otaknya.


*******

__ADS_1


Di rumah Gibran.


Karena tak memiliki asisten rumah tangga, Yasmin harus mengurus rumahnya sendirian. Saat ini dia sedang memasak untuk makan malam.


Gadis berusia dua puluh tahun itu memang sudah terbiasa mengurus pekerjaan rumah termasuk memasak.


Pernah menjadi tukang kuli cuci di rumah tetangganya, membuat Yasmin menguasai semua pekerjaan rumah yang tidak mungkin bisa dilakukan oleh gadis seusianya.


Yasmin mengaduk sayur lodeh yang dia masak dan tak lupa dia mencicipi nya agar rasanya pas dan enak saat dimakan.


Grep!


Gibran memeluk Yasmin dari belakang hingga membuat Yasmin terkejut dan tanpa sengaja memukul orang yang memeluknya dengan sendok sayur yang dia pegang.


Buk!


Pukulan Yasmin mengenai kepala Gibraltar hingga laki-laki itu meringis kesakitan.


"Ahhh." Gibran meringis sembari memegangi kepalanya yang terasa sakit.


"Mas maaf aku tidak sengaja, aku pikir itu bukan kamu. Sini aku lihat, kamu terluka gak."


"Aduh, awh. Sakit Yas," ucap Gibran yang masih menutupi keningnya dengan tangan.


"Mas, maaf."


Gibran menurunkan tangannya yang dari tadi memegangi kepalanya itu dan memperlihatkan darah segar yang mengalir dari sudut alisnya.


"Astaghfirullah, Mas. Mas ada darah." Yasmin langsung tegang karena darah terus keluar dari luka itu.


"Gak apa-apa Yas, aku baik-baik aja kok."


"Nggak-nggak, ini harus diobati." Yasmin segera bergegas mengambil air dan kain untuk membersihkan lukanya.


Sementara Yasmin sibuk menyiapkan air untuk membersihkan lukanya, Gibran duduk di kursi makan sambil sesekali meringis kesakitan.


"Mas, aku bersihkan dulu ya luka kamu."

__ADS_1


Dengan hati-hati Yasmin membersihkan luka itu hingga darah tidak lagi keluar.


"Yaampun Mas, ini lukanya cukup dalam. Apa sebaiknya kita ke dokter aja."


"Nggak usah, dirawat sama kamu aja udah bisa sembuh."


"Tapi Mas, aku takut kamu kenapa-kenapa. Bagaimana kalau infeksi? Aku takut kamu–"


"Ssttt!" Gibran menempelkan hati telunjuknya di bibir Yasmin.


"Udah, aku gak apa-apa. Kamu jangan panik gini dong."


"Maaf ya Mas. Aku gak sengaja."


"Iya, aku tahu kamu gak sengaja. Gak mungkin kan kamu sengaja melukai aku."


"Mas," ucap Yasmin dengan nada lirih.


Terlihat jelas Yasmin merasa bersalah pada suaminya itu.


"Udah-udah. Kamu sedang masak?"


"Astaghfirullah, masakan ku!" Yasmin berlari menghampiri kompor lalu segera mematikannya.


"Untungnya tidak gosong," gumam Yasmin.


"Maaf ya sayang. Gara-gara aku masakanmu jadi kematangan."


"Apa? Apa katamu Mas?"


"Sayang, aku boleh kan manggil kamu dengan sebutan sayang?"


Yasmin tersenyum lebar lalu berjalan ke tempat duduknya!


"Kenapa tidak. Kamu suamiku kan."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2