
"Sekarang ya. Lagian jujur aja ni ya, sebenarnya aku cinta sama kamu. Ya, aku sudah mulai jatuh cinta sama kamu," ucap Gibran.
"Gak mau. Cepat pergi atau aku teriak," ucap Yasmin.
"Teriak aja, rumah ini rumah orang tuaku kalau pun kamu berteriak gak bakal ada orang yang perduli sama kamu terlebih kita ini pengantin baru, mereka pasti menyangka kalau kita sedang ... ya kamu pasti ngerti lah."
"Apa sih, kok kamu nyebelin banget. Jadi ini gimana? Kamu mau gimana?"
"Ya, aku sudah bilang kalau aku mau itu."
"Aku gak mau tepatnya belum siap."
"Ya siap gak siap harus siap Yas, kan aku ini suamimu."
Merasa kesal karena terus diganggu oleh Gibran, Yasmin tak berucap lagi, dia menatap Gibran dengan tatapan tajamnya.
Gibran pun menatap Yasmin, dirinya tak ingin kalah dari gadis didepannya itu.
Perlahan Yasmin membuka kancing bajunya dan mulai memperlihatkan sedikit bagian dadanya.
Gibran terus menatap Yasmin, sesekali dirinya meneguk ludahnya untuk membasahi kerongkongan nya yang tiba-tiba terasa kering.
Yasmin melanjutkan pergerakan tangannya setelah beberapa detik berhenti.
"Y_Yasmin, kamu mau ngapain?" tanya Gibran sembari terus menatap area dada Yasmin yang mulai terlihat sepenuhnya.
Yasmin tetap diam, dia terus membuka kancing bajunya hingga terlepas semua lalu dia membuka bajunya dengan perlahan!
"Jangan Yasmin," ucap Gibran.
Yasmin menghentikan tangannya dengan mata yang terus menatap Gibran, sebenarnya dirinya sendiri merasa takut dengan perbuatan yang sedang dilakukannya tapi dirinya ingin mengetahui sebesar apa Gibran menyayanginya.
"Yasmin, hentikan."
"Kenapa? Kamu yang memintanya kan?" sahut Yasmin.
"I_iya, tapi aku tidak mau dengan cara seperti ini. Aku tidak ingin kamu memberikannya dengan terpaksa."
Yasmin tersenyum, lalu mendorong Gibran agar keluar dari kamar mandi!
Tak ada penolakan dari Gibran, dia melangkah mundur sambil terus menatap pemandangan yang tidak pernah ia lihat itu!
"Keluarlah, aku mau mandi kalau kamu mau mandi bareng. Bareng sama kucing saja sana, aku belum siap melepas keperawanan ku ini."
__ADS_1
Brugh!
Yasmin segera menutup pintu itu dengan sedikit kerasa hingga membuat Gibran sedikit terkejut.
Gibran tersenyum tipis sambil terus menatap pintu yang sudah tertutup rapat itu.
"Setidaknya aku udah melihat meski sedikit. Kamu menang beda Yasmin, aku merasa tertantang," ucap Gibran.
Di kamar Galih.
Galih berdiri di balkon kamarnya. Dalam pikirannya hanya ada wajah Yasmin seorang, ini kali pertamanya dirinya jatuh cinta kepada seorang wanita dan sialnya dirinya malah jatuh cinta pada orang yang salah.
Meski begitu, Galih tak perduli dengan siapa Yasmin saat ini, yang ada dalam pikirannya hanya satu yaitu ingin memiliki Yasmin seutuhnya.
"Gimana caranya gue nembak Yasmin? Masa iya gue langsung bilang kalau gue cinta sama dia, ya gak mungkin lah. Yang ada nanti kak Gibran marah sama gue."
Galih mengambil ponselnya lalu menatap foto Yasmin yang dia ambil dari postingan milik Ayahnya Yasmin.
"Yasmin, kamu cantik dan juga baik. Kenapa kamu harus nikah sama kak Gibran? Kenapa kamu harus menikah kontrak dengannya?" Galih mengelus layar ponselnya.
Seorang insan yang sedang dimabuk cinta itu tidak memperdulikan apa dan siapa yang yang ada didekatnya, dia juga tak memikirkan tentang akibat dari rasa cintanya itu.
"Setelah kamu sembuh total, aku akan mengatakan yang sebenarnya pada kak Gibran tapi sebelum itu aku akan memastikannya terlebih dahulu."
*******
"Ayesha," ucap Alan.
"Ya Pa," sahut Ayesha yang baru tiba di rumahnya itu.
"Dari mana kamu? Anak gadis sering sekali pulang malam."
"Aku abis jalan sama Rika, sama Chaca juga. Kenapa sih Pa?"
"Kamu itu anak gadis. Bahaya kalau keluyuran malam."
"Pa udah, jangan marahi Ayesha lagipula sekarang baru jam berapa? Belum sampai jam sepuluh malam kan," ucap Maya.
"Mama selalu saja membela anak itu."
Ayesha memalingkan wajahnya malas lalu segera masuk ke dalam kamarnya karena tak ingin berdebat dengan Papanya!
Alan menang sering menegur Ayesha saat Ayesha pulang lewat maghrib, meski Ayesha adalah putri satu-satunya tapi Alan tak pernah terlalu memanjakannya karena tak ingin Ayesha selalu bergantung pada orang lain terlebih pada orang tuanya.
__ADS_1
Tapi cara mendidik Alan dan Maya sangat jauh berbeda, jika Alan mengajarkan dan mendukung sesuatu yang baik saja lain halnya dengan Maya yang selalu memanjakan Ayesha dengan segala yang dirinya miliki, bahkan untuk berbuat jahat pun, Maya tidak pernah melarang putrinya malah dia membantu Ayesha untuk mencapai keinginannya meski dengan cara apa pun.
"Ma, Mama lihat tuh Ayesha. Sama orang tuanya saja gak ada sopan-sopannya, orang tua lagi bicara, dia malah pergi."
"Pa, mungkin anak kita lagi capek. Kamu jangan membesar-besarkan masalah sepele kayak gini dong.
"Ini karena Mama selalu membela dia, makanya Ayesha jadi seperti itu." Alan bangkit dari duduknya lalu meninggalkan Maya di ruang keluarga.
*******
"Cinta jangan terburu-buru, kenali dan pahami aku dulu sebelum kamu memutuskan sesuatu hal yang besar. Kita baru bertemu beberapa bulan lalu dan menikah tiga bulan lalu pikirkan apa kamu benar-benar siap menjadikan aku sebagai istrimu, sebagai pendamping hidupmu yang akan menemani kamu seumur hidupmu, sampai maut yang memisahkan kita," ucap Yasmin panjang lebar.
"Tiga bulan. Selama tiga bulan itu, aku sudah cukup banyak mengenal dan cukup tahu tentang dirimu. Aku mantap dengan keputusan aku ingin, Yasmin."
"Kamu tahu? Aku tidak pernah membayangkan akan menikah diusia dua puluh tahun, aku tidak pernah membayangkan kalau aku akan menikah kontrak dengan seseorang. Aku sudah cukup menderita Gibran, jadi aku tidak ingin menambah beban penderitaan ku dengan menerima cinta kamu yang secepat ini. Aku takut kamu menemukan gadis lain yang lebih dari aku dan akhirnya kamu meninggalkan aku dan melupakan aku."
"Kamu tuh kebanyakan nonton sinetron makanya kamu dewasa sebelum waktunya dan pola berpikir kamu itu terlalu rumit tahu gak."
"Maksud kamu apa?"
"Katanya usia kamu dua puluh tahun tapi kok kayak seusia aku. Pemikiran kamu begitu dewasa dan cara kamu bertindak juga berbeda dengan gadis pada umumnya yang seusia kamu."
"Apa sih, sebenarnya kita lagi bahas apa? Perasaan dari tadi kita membahas sesuatu yang gak seharusnya dibahas deh. Aku lapar, kamu mau makan gak?"
"Cukup melihat senyuman kamu, lapar yang melanda pun langsung hilang," ucap Gibran.
"Ya udah, aku lapar karena bicara sama orang dewasa itu melelahkan." Yasmin beranjak dari duduknya lalu keluar dari kamarnya!
*******
"Bang, tadi Ibumu meminjam uang tapi gak aku kasih," ucap Dalina kepada Zafran.
Zafran yang sedang terbaring sambil memainkan ponselnya itu pun menoleh ke arah Dalina.
"Kenapa? Kamu pelit sekali pada ibuku," ucap Zafran.
"Bukan begitu Bang, tadi uangnya kan sudah aku pakai buat belanja lagi. Kalau gak belanja lagi, aku mau jual apa di toko. Kamu tahu kan, toko kita itu sudah mulai habis modal sementara kontrak Yasmin masih lama, jangan sampai uangnya keburu habis sebelum Yasmin selesai kontrak. Kasihan dia Bang, dia yang bekerja tapu tidak sempat menikmati uang hasilnya."
"Mikirin Yasmin. Dia itu udah bahagia hidup bersama orang kaya. Hidupnya tercukupi, dia tidak pernah kekurangan di sana."
"Tapi itu kan beda Bang, lagian kalau toko kita bangkrut kita mau makan dari mana? Aku tidak bisa kuli cuci lagi karena tenagaku sudah mulai berkurang."
"Alasan. Kamu dan anak kamu itu memang selalu menjadi beban ku." Zafran langsung beranjak dari tempat tidurnya dan memilih menonton televisi.
__ADS_1
Dalina hanya bisa menangis menerima perkataan sang suami yang selalu menusuk hatinya.
Bersambung