
"Nih makan. Dari pagi lo belum makan kan," ucap salah satu dari dua laki-laki yang menyekap Yasmin.
Laki-laki itu menaruh piring yang hanya berisi nasi dan telur ceplok saja di samping piring itu, mereka juga memberikan air mineral dalam botol yang ukurannya tidak sampai satu liter itu.
"Aku tidak mau makan. Lepaskan aku dari sini, aku mau pulang," ucap Yasmin lirih.
"Terserah kalau lo gak mau makan yang penting kita udah siapin makanan buat lo. Jangan mencoba kabur dari sini kalau lo masih mau hidup."
Dua laki-laki itu keluar dari gudang dan langsung menutup pintunya lagi, tak lupa mereka juga mengunci pintunya.
Yasmin sudah mulai lemas karena memang dari pagi sampai malam dirinya tidak memakan apapun atau minum sedikitpun.
Sekarang didepannya ada makanan dan juga air minum namun dirinya tak merasa lapar ataupun haus meski dirinya sudah merasa lemas. Yang ada dalam pikirannya saat ini adalah bagaimana keluar dari gudang itu.
Yasmin juga teringat dengan suaminya dan juga Ibunya. Saat ini mereka pasti sangat mengkhawatirkan dirinya.
"Kalian pasti khawatir padaku. Mas, aku di sini aku harap cintaku dapat memanggilmu ke sini untuk menyelamatkan aku," batin Yasmin.
Yasmin terus didalam hatinya dirinya terus berdoa agar ada seseorang yang menyelamatkan dirinya dari orang-orang yang menyekapnya.
Dirinya tak mengenal orang-orang itu, seingatnya dirinya tidak pernah memilih musuh ataupun masalah dengan orang lain.
Jika ada orang yang melukai perasaannya, Yasmin tak pernah membalasnya baginya dendam bukan lah jalan terbaik untuk mengobati luka hati maupun fisik.
Entah apa yang mereka inginkan darinya dan entah siapa orang-orang itu. Kenapa mereka menculiknya dan menyekapnya di gudang sempit dan kotor itu.
"Ibu, aku takut. Sekarang sudah semakin malam, aku takut di sini."
*******
"Ayesha, Mama mau bicara," ucap Maya.
"Bicara apa Ma?"
"Jangan di sini, nanti Papa dengar. Ayo ikut Mama." Maya berjalan menuju balkon lantai dua rumahnya agar sedikit jauh dari kamarnya yang ada di lantai utama rumahnya.
Ayesha mengekor dibelakang Maya dan sampailah mereka di balkon rumahnya.
"Apa yang kamu lakukan pada Yasmin?"
"Tidak ada. Aku ingin memberinya racun tapi aku tidak berani."
__ADS_1
"Lalu apa yang akan kamu lakukan?"
"Tidak ada, hanya menyekap Yasmin selama beberapa saat sampai Gibran setuju menikah denganku setelah itu aku akan melepaskan Yasmin."
Maya menggelengkan kepalanya lalu menarik nafasnya kasar.
"Kalau sampai kamu ketahuan, akan sangat berbahaya untukmu."
"Gak mungkin Ma, kemarin aja waktu aku menabrak Yasmin, aku gak ketahuan kan. Polisi tidak menemukan aku. Besok aku mau menemui Gibran dan memintanya untuk menikahi aku secepatnya."
"Kamu pikir segampang itu."
"Mama lihat saja nanti. Aku akan menikah dengan Gibran dalam waktu dekat."
*******
Galih baru tiba di rumahnya dan langsung ditanyai oleh Maria dan Darwin.
"Galih, gimana? Apa Yasmin sudah ditemukan?" tanya Maria saat Galih baru melangkah memasuki rumahnya.
Galih terdiam sembari menatap Maria.
"Galih, bagaimana?" sambung Darwin.
"Belum. Aku sudah mencarinya kemana-mana tapi tidak ketemu," sahut Galih.
"Astaga, kemana Yasmin itu?" Maria melemas saat tahu Yasmin ternyata belum ditemukan.
"Kasihan kak Gibran, dia pasti sangat khawatir. Aku sudah lapor polisi, semoga saja mereka cepat menemukan Yasmin."
"Galih, bukan kamu kan yang menculik Yasmin?" tanya Maria dengan nada pelan.
Sebenarnya Maria takut perkataannya akan menyinggung perasaan Galih namun dirinya harus menanyakan hal itu karena sudah mengetahui perasaan yang sebenarnya Galih rasakan pada Yasmin.
Bisa saja karena cinta, Galih nekat melakukan perbuatan yang melanggar norma-norma asusila.
Galih menatap Maria lalu menatap Darwin, tak ada raut wajah kemarahan yang ditunjukkan oleh Galih.
Dirinya sadar, dirinya menang sudah salah menaruh cinta wajar saja jika semua keluarganya menuduhnya seperti itu.
"Ma, aku memang cinta sama Yasmin tapi aku gak mungkin setega itu sama kakakku sendiri dan lagi Yasmin tidak mencintai aku bagaimana bisa aku memaksa orang yang tidak mencintai aku untuk mencintai aku," ucap Galih.
__ADS_1
"Maafkan Mama, Mama hanya ingin memastikan saja."
"Kalau aku yang menculik Yasmin, gak mungkin aku mau mencari Yasmin ke sana kemari dan gak mungkin juga aku melaporkan ini ke polisi."
"Kamu benar, lagipula Papa yakin kamu itu orang baik, gak mungkin kamu merebut kebahagiaan kakakmu," ucap Darwin.
"Pa, Ma, aku masuk dulu ya. Aku mau mandi setelah ini aku mau lanjut mencari Yasmin."
"Galih, ini sudah malam. Biarkan polisi yang bekerja," ucap Maria sembari mengelus lengan Galih.
"Gak bisa Ma, aku gak bisa tenang sebelum Yasmin ditemukan. Aku harus membuktikan sama kakak kalau bukan aku yang menculik Yasmin."
*******
Malam semakin larut, Gibran masih berada di jalanan untuk mencari Yasmin, dirinya juga sudah mendatangi tempat-tempat yang biasa didatangi oleh Yasmin namun dirinya tak menemukan istrinya itu.
Karena mengantuk, Gibran menepikan mobilnya di pinggir jalan dan tanpa terasa dirinya tertidur di dalam mobilnya.
*******
Pagi hari, Shaima sudah bersiap untuk melanjutkan pencariannya.
Pagi itu Shaima akan mendatangi Sinta untuk menanyakan Yasmin pada gadis itu.
Sebenarnya Dalina sudah bertanya pada Sinta tapi Shaima tetap akan menemui gadis itu untuk mengetahui lebih banyak lagi tentang Yasmin. Dimana Yasmin sering nongkrong dan dengan siapa saja Yasmin bergaul.
Semua harus diketahuinya agar dirinya lebih mudah untuk menemukan Yasmin.
"Kamu kan harus bekerja biar kakak saja yang mencari Yasmin," ucap Dalina.
"Aku izin untuk hari ini. Aku mau fokus nyari Yasmin dulu kak, aku gak mau dia kenapa-kenapa."
"Polisi sudah mencarinya."
"Mereka, biarlah melakukan pekerjaan mereka sedangkan aku, aku akan tetap mencari Yasmin. Bisa saja kan Yasmin bukan diculik, bisa saja Yasmin sedang menginap di rumah temannya dan ponselnya mati karena tidak dicas jadinya dia gak bisa mengabari kita."
"Terserah kamu, terimakasih sudah membantu untuk mencari Yasmin."
Shaima tersenyum lalu mengusap punggung Dalina lembut.
"Aku pergi ya kak. Doakan semoga aku berhasil."
__ADS_1
Shaima segera pergi meninggalkan Dalina di rumah itu!
Bersambung