
"Kita jadi mau ke ziarah ke makam Wanda?" tanya Yasmin setelah selesai sarapan.
"Aku terserah kamu aja. Kamu yakin udah baik-baik aja?"
"Yakin dong, buktinya aku sudah bisa bikin sarapan untuk kita meski dibantuin sama kamu sih."
"Kalau kamu memang sudah merasa sehat, aku siap nganterin kamu kemana aja yang kamu mau."
"Terimakasih Mas." Yasmin tersenyum lebar saat mendengar perkataan sang suami.
"Tapi ni ya Yas, kita udah berapa bulan menikah sedikitpun aku tidak pernah mendapat apa yang seharusnya aku dapatkan."
Yasmin menatap Gibran lalu tersenyum.
"Kamu menagih hak kamu?"
"Bisa iya bisa juga iya."
"Ish, bilang aja iya, gitu aja kok repot.".
"Waktu itu kan gak jadi gara-gara kamu nya hilang."
"Kamu mau kapan?"
"Serius?" Gibran menatap Yasmin dengan mata yang tak berkedip satu kali pun.
"Iya, kenapa tidak."
"Kamu siapkan aja dirimu dulu, takutnya kamu belum sepenuhnya pulih. Aku tidak mau kamu kenapa-kenapa gara-gara si perkasa ku ini."
"Kok baru denger namanya aja aku udah ngeri ya. Aku jadi takut."
"Jangan bahas itu nanti dia bangun yang ada kita gak jadi perginya."
"Ya udah deh, aku siap-siap dulu ya." Yasmin beranjak dari duduknya dan mulai mengayunkan kakinya.
"Aku tunggu ya, sayang."
Yasmin menghentikan langkahnya lalu menoleh kebelakang menatap Gibran yang sedang menatapnya.
"Kenapa sayang, ada yang salah?" ucap Gibran.
Yasmin menggeleng pelan lalu mengigit bibir bawahnya sambil tersenyum. Ada rasa yang berbeda saat Gibran memanggilnya dengan sebutan sayang.
"Kamu manis Yas, bikin aku love."
"Manis tapi tak semanis gula. Simpan dengan baik love mu itu jangan sampai ada yang mengambilnya." Yasmin segera pergi memasuki kamarnya!
Gibran menatap kepergian Yasmin dengan senyum yang tak pernah pudar dari bibirnya.
"Ini kah cinta yang sesungguhnya? Aku sudah mendapat lampu hijau dari Yasmin tapi aku takut menyakitinya. Apa yang terjadi padaku?" gumam Gibran.
"Hey kamu, bertahan sebentar lagi saja ya. Nanti malam atau besok kita akan menerobos pertahanan sarang mu itu," gumam Gibran sembari menatap ke bawah, ke tempat sesuatu miliknya berada.
*******
"Pagi-pagi lo udah ngajak ketemuan," ucap Sonny pada Galih.
"Gue suntuk di rumah Son,"
__ADS_1
"Gue mau jalan sama Sinta."
"Lah, mau jalan sama doi kok lo malah mau ketemu gue di sini?"
"Habis gimana lagi lo teman sekaligus sahabat gue yang terbaik."
"Dah lah, lo pergi aja sana."
"Tapi lo."
"Jangan pikirin gue, pikirin nasib cinta lo kalau lo tetap di sini, Sinta akan marah nanti."
"Tapu gue lebih mementingkan lo."
Galih berdecak lalu menepuk punggung Sonny beberapa kali. "Pergi sana, jangan khawatirkan gue. Cinta lebih penting dari persahabatan, lo tahu persahabatan kita gak akan putus karena sesuatu apa pun tapi Cinta cinta akan hilang setelah ada yang menggantinya."
"Maksud lo?"
"Kalau lo tetap di sini Sinta akan marah sama lo dan nanti dia akan minta putus dari lo karena udah dapat gebetan baru. Jadi sekarang lo pergi dari sini dan temui dia."
"Gaya lo kayak orang udah berpengalaman saja."
"Sekali-kali gue memperlihatkan kedewasaan gue buar lo gak mikir kalau gue masih kecil mulu."
"Kalau gitu gue pergi ya. Bay Galih." Sonny pergi meninggalkan Galih di tempat mereka nongkrong!
*******
"Shaima hari ini kamu libur kan?" tanya Dalina pada Shaima.
"Iya kak, ada apa?"
"Biasa saja, kenapa kak?"
"Tolong jagain toko sebentar."
"Oh, boleh. Memangnya kakak mau kemana?"
"Mau ziarah ke makam Ayahnya Yasmin."
"Ya udah tapi kakak hati-hati ya."
"Terimakasih ya Shaima. Kamu bukan saudara atau pun keluargaku tapi kamu dan Ibu mau menerimaku di sini. Kalian memberikan tempat untuk aku diantara kalian dan juga di rumah ini, rumah yang seharusnya tidak untuk diriku."
"Kakak bicara apa. Kita ini keluarga, biarpun kakak udah pisah sama kak Zafran tapi kakak tetap keluarga kami."
"Jangan bicara seperti itu Dalina. Jika Ibu bersedia menerima Zafran dalam hidup Ibu kenapa Ibu tidak bisa menerima kamu?"
"Bu, Bang Zafran kan anak Ibu."
"Tepatnya anak suami Ibu. Zafran terlahir bukan dari rahim Ibu tapi dia terlahir dari rahim wanita lain yang menikah dengan suami Ibu secara diam-diam."
Zaina mulai menceritakan masa lalu yang lama dia kubur bersama dengan meninggalnya sosok suami yang dia cintai itu.
"Bu, maaf karena aku mengingatkan Ibu pada luka lama."
"Tidak Dalina. Kamu tidak mengingatkan Ibu pada luka ini karena luka ini selalu terasa sakit saat Ibu melihat Zafran."
"Kenapa Bu? Bukannya selama ini, Ibu menyayangi dia?"
__ADS_1
"Ya, Ibu memang sayang padanya hanya saja setiap melihat wajahnya, Ibu menjadi teringat pada Ibu kandung Zafran dan juga suami Ibu yang mengkhianati cinta suci Ibu."
"Maaf Bu, selama aku menikah dengan Bang Zafran, Ibu selalu meminta uang dan kemewahan dari dia. Apa itu termasuk dalam dendam Ibu pada orang tuanya Bang Zafran?"
Zaina menatap Dalina dengan tatapan tajam.
"Maaf Bu, kalau aku lancang bicara pada Ibu dan menanyakan sesuatu yang seharusnya tidak aku tanyakan."
"Kak, ceritanya panjang, kalau diceritakan gak akan selesai dalam satu hari lebih baik kita pergi sekarang."
Dalina tersenyum ke arah Shaima lalu mengangguk pelan. Dirinya tak ingin membuat Zaina semakin sedih karena mengingat masa lalu hitamnya.
*******
"Assalamu'alaikum Wanda. Aku datang untuk yang kedua kalinya, pertama aku datang karena Mas Gibran ingin mengenalkan aku ke kamu sekarang aku datang lagi tapi bukan untuk berkenalan untuk yang kedua kalinya. Aku mau minta izin sama kamu, aku ingin menjadi istri Mas Gibran yang sesungguhnya, aku ingin menjaganya dan merawatnya saat dia sakit dan aku ingin menemaninya seumur hidupnya. Aku harap kamu merestui aku," ucap Yasmin sembari memegangi nisan yang bertuliskan nama Wanda itu.
"Wanda, semoga kamu bahagia di sana, semoga tempat terbaik yang kamu tempati di sana. Aku akan berjuang untuk keadilan mu, aku akan menjebloskan Ayesha ke penjara," sambung Gibran.
Yasmin menatap Gibran yang sedang fokus menatap tanah makam itu, sebuah senyuman kecil terukir di bibir Yasmin. Dia begitu mengagumi kepribadian Gibran yang ternyata sangat perduli pada orang lain meski orang itu sudah tidak.
Setelah mengutarakan apa yang ingin mereka bicarakan pada Wanda, Yasmin dan Gibran mulai berdoa untuk Wanda.
Setelah beberapa menit, akhirnya mereka selesai dengan doanya. Gibran segera bangkit dan berdiri di sana.
"Sudah selesai, sekarang kamu mau kemana lagi?" tanya Gibran.
"Aku mau ziarah ke makam Ayah, apa boleh?"
"Tentu saja, asal kamu kuat aja."
"Kuat apanya?"
"Kuat badannya lah, jangan sampai setelah seharian penuh kita di luar pas sampai rumah kamu sakit."
"Aku pikir apa?"
"Apa? Memang apa yang kamu pikirkan?"
"Tidak ada. Ayo kita pergi."
*******
"Hai Galih, tumben sendiri teman-teman kamu mana?" tanya Kania.
"Hai Kania, iya aku sendirian. Sonny sama Sinta lagi jalan berdua."
"Oh, terus kamu? Kamu gak jalan sama pacar kamu?"
Galih tertawa kecil. "Pacarku gak ada."
"Kemana? Jangan bilang kamu LDRan."
"Pacar aku belum ditemukan, entah dia ada di mana dan entah dia udah dilahirkan atau belum. Aku tidak tahu."
Kania tertawa renyah. "Kamu ini, aku pikir pacar kamu tinggal di kota yang berbeda dengan kamu."
"Tidak. Aku belum punya pacar. Duduk sini Ka, kamu gak ada acara lain kan?"
Kania menggeleng lalu duduk di kursi bekas Sonny duduk tadi.
__ADS_1
Bersambung