
Bruk!
Ayesha yang sedang berlari kencang tiba-tiba tubuhnya terhantam mobil yang melintas di jalan itu.
Tubuh gadis berkulit putih itu terlempar beberapa meter dan sempat berguling-guling di atas aspal hingga akhirnya tubuh itu menabrak pembatas jalan dan akhirnya berhenti berguling.
Dua polisi yang mengejarnya langsung menghampiri Ayesha yang tergeletak di tepi jalan dengan tubuh bersimbah darah sedangkan pengemudi yang menabraknya langsung melarikan diri dari tempat kejadian.
"Mama," lirih Ayesha yang saat itu masih memiliki sedikit kesadaran.
"Astaga, keadaannya sangat parah. Cepat kita bawa gadis ini ke rumah sakit," ucap Reno~polisi yang bertugas melakukan penangkapan terhadap Ayesha.
Rekan Reno pun mengangguk lalu segera membawa Ayesha ke rumah sakit!
*******
"Dalina aku mohon maafkan aku, aku sadar selama ini aku sudah terlalu menyakiti dirimu dan juga Yasmin," ucap Zafran.
"Kenapa kamu baru menyadari itu sekarang Bang?"
"Dalina, aku menyesal telah menceraikan kamu."
"Aku datang untuk meminta maaf dan juga untuk mengembalikan suamimu Dalina. Aku ikhlas jika sekarang kamu dan Mas Zafran mau rujuk kembali," ucap Monik.
"Aku sudah memaafkan kalian tapi untuk kembali hidup bersama Bang Zafran, rasanya tidak mungkin. Aku tidak ingin mengulangi kehidupan penuh luka dengan suami kamu lagi," ucap Dalina pada Monik.
"Tapi Dalina, kalau saja aku tidak menggoda Mas Zafran mungkin hubungan kalian akan Baik-baik saja sampai saat ini juga, aku yang salah, aku siap menerima hukuman atas perbuatan ku."
"Tidak, kamu tidak salah Mon, aku yang salah seharusnya aku tidak berjudi di tempat itu. Mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini jika aku mendengarkan kata Dalina."
"Aku sudah memaafkan kalian, sekarang aku ingin pergi, apa kalian bisa pergi juga dari rumah ini."
"Dalina tunggu, aku ingin kita kembali seperti dulu."
"Gak bisa Bang. Sekarang kamu jalani hidupmu dengan wanita ini dan ingat, urus anakmu dengan baik."
"Baiklah kalau itu keputusanmu, aku tidak akan memaksa asalkan kamu bahagia aku juga ikut bahagia. Mendapat maaf darimu saja sudah cukup untukku."
*******
Drrt!
Drrt!
Ponsel Gibran bergetar tanda adanya telpon masuk.
Gibran menghentikan pergerakan tangannya yang sedang menyendok makanannya lalu melihat siapa yang menelponnya.
__ADS_1
Semua keluarga Gibran yang sedang makan siang di restoran itu menghentikan pergerakan tangannya dan fokus pada Gibran yang sedang menerima telpon entah dari siapa itu.
[Apa! Di rumah sakit? Kenapa?] ucap Gibran setelah mendengar berita dari orang yang menelponnya.
Yasmin dan Maria terlihat panik saat mendengar kata Rumah sakit.
[Iya-iya, saya segera ke sana ya Pak.]
Gibran langsung mematikan telponnya.
"Ayesha sudah ditemukan oleh polisi, sekarang dia di rumah sakit karena tertabrak mobil saat dia mencoba melarikan diri," jelas Gibran.
"Astaghfirullah, Mas ayo kita ke sana," ucap Yasmin.
"Ya udah ayo kita ke sana." Mereka pun langsung bergegas ke rumah sakit yang diberitahukan oleh polisi yang menelpon Gibran.
"Aku hubungi Om Alan ya," ucap Galih.
"Iya, mereka harus tahu keadaan Ayesha."
*******
"Kenapa lo senyum-senyum sendiri?" tanya Sinta pada Kania.
"Gak ada, siapa yang senyum-senyum sendiri?"
"Serius lo?"Kania menatap Sinta dengan matanya yang tak berkedip.
"Ada apa hmm?"
"Galih nembak gue," ucap Kania dengan suara lembut.
"Apa! Jadi sekarang kalian udah pacaran?"
"Gak tahu."
"Lah kok gak tahu?"
"Belum ada kejelasannya, gue belum menerima dia."
"Lo gimana sih, katanya lo suka sama Galih?"
"Gue gak tahu kenapa gue gak bisa bicara sama Galih, lidah gue terasa kaku pas tadi dia nembak gue."
"Aneh lo jadi orang."
*******
__ADS_1
Saat mereka tiba di rumah sakit, mereka berlarian memasuki rumah sakit itu.
"Itu Reno," ucap Galih sembari mengarahkan jari telunjuknya pada seorang laki-laki berseragam polisi yang berdiri di lobby rumah sakit.
"Dia yang menelpon ku tadi," ucap Gibran.
Mereka semua pun langsung menghampiri polisi muda itu!
"Ayesha masih ditangani oleh Dokter." tanpa ditanya, Reno sudah memberitahu mereka tentang Ayesha.
"Tapi dia masih bisa diselamatkan kan?" tanya Gibran.
Yasmin menatap Gibran yang terlibat begitu khawatir dengan keselamatan wanita yang sudah menculiknya itu.
"Kak, tolong hargai perasaan Yasmin," ucap Galih yang melihat adanya kekecewaan dalam diri Yasmin.
"Kami tidak tahu, tapi tadi kondisinya begitu memprihatinkan. Seluruh tubuhnya penuh luka."
"Ngakak dia gak boleh mati," ucap Gibran.
"Mas, kamu harus ikhlas lagian Dokter belum memberikan keterangan tentang Ayesha, semoga saja dia selamat," ucap Yasmin.
Maria dan Darwin tak bisa berkata apa-apa selain menatap Yasmin dengan penuh kekaguman.
Bagaimana bisa dia bersikap seperti itu padahal dirinya tahu Ayesha sudah berbuat jahat padanya.
"Yas, dia gak boleh mati dia harus merasakan hukuman negara dulu. Aku gak ikhlas kalau dia tidak merasakan siksa dunia."
"Bicara apa kamu Mas, gak baik bicara seperti itu pada orang yang sedang berjuang untuk hidupnya."
*******
"Assalamu'alaikum, Ayah, Ibu," ucap Kania yang baru tiba di rumahnya.
"Waalaikumsalam."
Kania pun segera menyalami kedua orang tuanya lalu masuk ke dalam kamarnya untuk mengganti pakaiannya!
"Bagaimana kaki-laki itu?" tanya Ayahnya Kania.
Kania menghentikan langkahnya lalu berbalik arah.
"Dia akan datang bersama orang tuanya untuk melamar aku." Dengan senyum bahagia Kania kembali melanjutkan langkahnya.
"Anak itu, bisa-bisanya langsung percaya pada laki-laki," ucap Ibunya Kania sembari menggelengkan kepalanya.
Bersambung.
__ADS_1