
Alan dan Maya berlari ke ruangan tempat Ayesha dirawat!
Di depan pintu ruangan itu ada dua orang Polisi berseragam lengkap sedang berdiri sambil berbincang dengan Galih dan Gibran sedangkan Yasmin dan Maya duduk di kursi ruang tunggu.
"Gibran, bagaimana keadaan Ayesha?" tanya Alan.
Gibran menatap Alan dan Maya. "Dia didalamnya Om, silahkan masuk. Ayesha sudah bisa ditemui kok," ucapnya.
Akan dan Maya langsung masuk ke ruangan itu dan mereka langsung melihat sosok Ayesha yang terbaring tak berdaya di atas ranjang rumah sakit.
Di sana ada Darwin yang sedang duduk di kursi yang ada di sebelah ranjang rumah sakit yang di atasnya ada Ayesha.
Perlahan Maya dan Alan berjalan mendekati Ayesha!
"Kalian sudah datang," ucap Darwin sembari bangkit dari duduknya.
"Ayesha," lirih Maya.
Air mata tak terbendung lagi saat melihat kondisi Ayesha yang memprihatinkan. Wajah cantiknya hilang karena tertutup luka dan kulit mulusnya pun tak terlihat karena tangan dan kaki Ayesha dililit perban.
"Ma, Pa maafkan aku," ucap Ayesha dengan suara yang hampir tak terdengar.
Maya tak dapat berucap apa pun hanya ada air mata yang terus mengalir di pipinya.
"Ayesha, kenapa jadi begini Nak?" Alan menyentuh kepala Ayesha dengan perlahan.
Betapa dirinya tak menyangka dengan apa yang terjadi pada putrinya saat ini. Alan adalah laki-laki yang baik yang tak pernah mengajarkan pada anaknya tentang kejahatan ataupun menyimpan dendam namun yang kini terjadi pada putrinya adalah akibat dari kejahatan yang dilakukannya.
Gibran dan Yasmin masuk ke dalam ruangan itu dan ikut bergabung dengan mereka, dibelakang Gibran, Reno dan rekannya mengikuti arah langkah Gibran dan Yasmin.
"Gibran, Yasmin maafkan aku," ucap Ayesha lirih.
Yasmin hanya mengangguk pelan sedangkan Gibran tak memberikan respon apa pun.
"Pak, kami permisi," ucap Reno pada Gibran.
"Oh iya silahkan Pak."
"Pak Polisi tunggu," ucap Maya saat Reno dan rekannya akan pergi dari ruangan itu.
"Iya Bu, ada apa?" tanya Reno.
"Tolong jangan penjarakan anak saya, tolong biarkan dia bebas."
"Maaf Bu, setelah sembuh saudara Ayesha harus tetap dipenjara."
"Tolong Pak." Maya memohon kepada Reno agar Ayesha tidak dipenjara.
"Kami hanya menjalankan tugas terkecuali Pak Gibran menarik laporannya mungkin Ayesha bisa dibebaskan."
Reno langsung berjalan keluar dari ruangan itu karena merasa tugasnya sudah selesai di sana!
Maya menatap Gibran dengan tatapan sendu lalu mulai menangis.
"Maafkan tante Gibran, maafkan Ayesha. Tolong cabut laporan kamu, jangan biarkan Ayesha dipenjara."
"Maaf Tante, aku tidak bisa. Ayesha sudah terlalu menyakiti aku, aku sudah memaafkan Ayesha tapi aku tidak bisa menarik laporan ku terhadap Ayesha. Hukum akan tetap berjalan semestinya."
"Mas–"
"Kamu boleh minta apa saja Yasmin tapi jangan meminta aku mencabut laporan ku ini," ucap Gibran memotong perkataan Yasmin yang belum selesai.
__ADS_1
Seolah tahu apa yang akan dikatakan oleh Yasmin, Gibran sudah terlebih dahulu menolaknya.
"Tante yang salah. Di sini Tante yang salah, Tante yang sudah membantu Ayesha menyingkirkan Wanda dan Tante juga yang mendukung Ayesha untuk menculik Yasmin kalau kamu mau orang yang menjahati kamu dipenjara, penjarakan saja Tante."
"Jadi kamu mengetahui semua ini? Maya, kamu tahu anak kita melakukan kejahatan dan kamu malah mendukungnya?" ucap Alan.
Betapa terkejutnya, Alan saat tahu ternyata istrinya mengetahui bahkan membantu Ayesha untuk melakukan kejahatannya.
"Maafkan aku Pa, Ayesha sangat mencintai Gibran, dia akan bunuh diri jika tidak mendapatkan Gibran. Aku terpaksa membantunya."
"Aku tidak menyangka kamu tega melakukan ini pada Gibran padahal kamu sendiri tahu keluarga mereka lah yang selalu membantu kita."
"Maaf Pa, maafkan aku." Maya terus menangis sembari memohon kemaafan dari sang suami.
"Darwin maafkan aku atas semua perbuatan istri dan anakku padamu dan juga Gibran. Aku malu pada kalian karena aku sudah gagal mendidik istri dan anakku. Aku adalah suami dan Ayah yang gagal," ucap Alan pada Darwin.
Dengan rasa malu yang begitu besar, Alan meminta maaf pada Darwin dan keluarganya, biar bagaimana pun ini adalah kesalahannya yang terlalu memanjakan Ayesha dan juga istrinya.
"Sudahlah Alan, kami semua sudah memaafkan kalian tapi seperti yang Gibran katakan kami tidak bisa mencabut laporan kami. Ayesha akan tetap dipenjara setelah dia sembuh nanti," ucap Darwin.
Alan tak dapat berucap lagi, dirinya hanya bisa menerima semua keputusan Gibran dan Darwin. Mau menolak pun tidak mungkin karena sudah terbukti Ayesha bersalah.
"Yasmin, ayo kita pulang," ucap Gibran.
Yasmin mengangguk lalu melangkah mengekor dibelakang Gibran.
*******
Di toko Dalina.
Saat itu Shaima ikut menjaga toko milik Dalina saat setelah pulang bekerja.
"Shaima, kok kamu ke sini? Ada apa?"
"Gak ada apa-apa, aku hanya ingin membantu kakak di sini dan setelah itu kita pulang bareng."
"Gak perlu membantu kakak lagian sebentar lagi tokonya mau tutup."
"Gak apa-apa kak."
Saat mereka sedang mengobrol tiba-tiba Monik datang ke toko mereka.
"Mau ngapain kamu ke sini?" tanya Shaima.
"Sst, jangan bicara kasar pada orang yang lebih tua," ucap Dalina.
"Dalina, aku kesini mau ngutang beras."
"Apa! Ngutang? Kamu punya otak gak sih? Kak Dalina ini orang yang kamu sakiti, berani-beraninya kamu ngutang di sini."
"Shaima, jangan bicara seperti itu."
"Dia ini orang jahat kak. Kenapa sih kak Dalina selalu membelanya."
Dalina tersenyum lalu mengusap lengan Shaima!
"Kejahatan tidak harus dibalas dengan kejahatan, ingat Shaima kita tidak boleh menyimpan dendam karena itu akan merusak diri kita sendiri."
Shaima hanya diam dalam hati yang kesal.
"Kamu boleh mengambil apa yang kamu butuhkan. Kamu mau apa?" tanya Dalina pada Monik.
__ADS_1
"Kalau boleh, aku mau ngambil beras dan telur."
"Boleh, sebentar ya." Dalina pun langsung menyiapkan beras dan telur seperti yang Monik minta, Dalina juga menambahkan mie instan dan juga lauk kalengan untuk Monik dan Zafran.
"Terimakasih ya, aku gak tahu harus bilang apa. Sebenarnya aku malu sama kamu tapi cuma kamu yang bisa aku mintai tolong."
"Yang lalu biarlah berlalu, kita jalani hidup kita yang sekarang. Anggap saja masa lalu kita tidak pernah ada."
"Kak Dalina gimana sih? Jadi orang jangan terlalu baik kak, yang ada kakak dimanfaatkan orang terus."
*******
Di rumah Gibran.
Gibran dan Yasmin baru tiba di rumah mereka.
Yasmin langsung masuk ke dalam kamarnya sementara Gibran memilih beristirahat di ruang keluarga.
Setelah hampir setengah jam, Gibran baru naik ke lantai dua untuk membersihkan diri!
Setibanya di kamarnya, dia melihat Yasmin yang sedang membuka bajunya satu demi satu.
Gibran tetap berdiri di ambang pintu sambil melihat Yasmin yang sedang membuka pakaiannya dengan posisi membelakanginya.
Setelah membuka bajunya, Yasmin lanjut membuka celana jeans yang dia kenakan dan tinggal menyisakan pakaian dalamnya saja.
Gibran meneguk ludahnya kasar sembari memegangi benda miliknya yang diberi nama si kuper itu dengan erat.
"Ya ampun, Yasmin ngapain buka baju di situ?" ucap Gibran dalam hatinya.
Saat Yasmin hendak membuka bra nya, dia berbalik badan untuk mengambil handuknya yang terletak di tepi ranjang.
Yasmin terkejut saat melihat Gibran yang sedang menatapnya.
"Mas! Dari kapan kamu di situ?" Yasmin nampak terkejut saat melihat Gibran yang sedang berdiri dengan tatapan yang tertuju padanya.
"Dari tadi. Dari sebelum kamu buka baju," sahut Gibran dengan santainya.
Dengan santainya Gibran berjalan menghampiri Yasmin yang terlihat gugup!
"Kamu jangan tutupi pemandangan indah ini, aku belum puas memandangnya," ucap Gibran sembari menarik handuk yang Yasmin gunakan untuk menutupi tubuhnya.
"Mas, aku malu."
"Kenapa harus malu? Hanya ada kita berdua di sini dan aku adalah suami kamu."
"Ini yang pertama kalinya bagiku."
"Ini juga yang pertama kalinya bagiku."
Gibran mulai menyentuh satu bagian sensitif milik Yasmin dan tanpa disengaja Yasmin mengeluarkan suara ******* yang membuat Gibran semakin ingin menjelajah ke tempat-tempat yang belum pernah dia temukan seumur hidupnya.
Mereka pun pertama kalinya melakukan hubungan suami istri.
Sekian lama Gibran hidup tanpa adanya wanita selain Wanda di hatinya, kini hadir Yasmin sebagai pengganti permaisuri di Kerajaan cintanya setelah Wanda tiada.
Kebahagiaan pun kini telah tiba pada kehidupan Gibran dan Yasmin.
~Tamat~
__ADS_1