
Pagi hari di kediaman Darwin.
Keluarga itu sudah selesai sarapan, mereka sudah siap untuk melakukan aktivitas masing-masing.
Darwin sudah lebih dahulu berangkat ke kantornya karena dirinya ada keperluan penting pagi itu.
Saat itu di depan rumah Darwin, Galih sedang membetulkan tali sepatunya yang dia ikat kurang kencang yang membuatnya terlepas setelah dirinya beberapa kali melangkah.
"Yasmin, aku ke kantor dulu ya," ucap Gibran.
"Iya, Mas hati-hati ya."
Sementara pasangan pengantin baru itu mengobrol, Galih hanya diam sambil terus mengikatkan tali sepatunya.
"Kamu mau ke rumah orang tua kamu?"
"Iya, boleh kan?"
"Boleh dong."
"Nanti aku naik angkot aja."
"Jangan. Kamu naik taksi aja."
"Yaudah deh, aku ikut aja apa kata kamu."
Gibran tersenyum ke arah Yasmin, "aku pergi ya."
Yasmin mencium punggung tangan Gibran lalu dengan beraninya Gibran mencium kening Yasmin.
Yasmin terpaku mendapat perlakuan seperti itu dari Gibran. Barusan adalah kali pertamanya dirinya dicium oleh seorang laki-laki.
Galih yang melihat kejadian itu pun merasa tidak suka, entah kenapa dia tidak suka melihat kakaknya bermesraan dengan Yasmin. Padahal seharusnya dirinya bahagia melihat kakaknya bahagia.
"M_maaf, aku lupa," ucap Gibran yang sebenarnya dirinya mulai salah tingkah. Entah ada apa dengannya sehingga dirinya berani mencium Yasmin.
Yasmin hanya diam, tak ada kata ataupun senyuman dari bibirnya.
Gibran pun langsung masuk ke dalam mobilnya lalu mulai meninggalkan Yasmin di sana.
"Rumah kakak dimana?" tanya Galih setelah Gibran pergi.
"Di daerah xxx," sahut Yasmin.
"Kebetulan aku lewat sana. Bareng aja yuk sama aku," ucap Galih lagi dengan penuh harap.
"Gak usah, aku naik taksi aja."
"Kenapa? Kakak takut aku sakiti?"
"Bukan begitu, aku hanya takut ngerepotin kamu."
"Nggak kok, kan searah."
"Yaudah, kalau gitu tunggu ya. Aku ambil tas dulu." Yasmin pun masuk ke dalam rumah untuk mengambil tasnya!
"Ma, aku mau pulang sebentar ya. Aku mau nemuin Ibu dulu," ucap Yasmin sebelum pergi dari rumah mertuanya itu.
"Iya sayang, kamu hati-hati ya." Maria tersenyum ramah pada sang menantu.
Yasmin langsung mencium punggung tangan Mari lalu segera mengayunkan kakinya menuju pintu keluar!
"Yakin gak ngerepotin?" Yasmin bertanya lagi pada Galih.
"Nggak. Ayo masuk," ucap Galih sembari membukakan pintu mobilnya untuk Yasmin.
Yasmin tersenyum lalu segera masuk kedalam mobil Galih!
Mereka pun memulai perjalanan mereka!
*******
__ADS_1
"Pagi-pagi gini udah cemberut aja," ucap Rika pada Ayesha.
"Apaan sih lo, gue lagi pusing nih," ketus Ayesha.
"Pusing kenapa? Bukannya lo udah banyak duit, masih aja ngerasain pusing," ucap Chaca.
"Gibran nikah dengan orang lain, gue gak bisa kehilangan dia."
"Dari dulu, Gibran mulu yang lo pikirin. Sha, lo itu cantik. Cari aja lagi laki-laki lain, di luar sana masih banyak kok cowok yang tampan kayak Gibran."
"Kalian gak ngerti, gue sayang banget sama Gibran."
"Terserah lo, terus sekarang apa yang mau lo lakukan? Lo mau jadi pelakor?" ucap Chaca.
"Kalian berdua harus bantu gue untuk menyingkirkan Yasmin."
"Kita bicarakan ini nanti, sekarang gue mau kerja dulu." Rika berjalan meninggalkan Ayesha dan Chaca di tempat itu.
Ayesha dan Chaca menatap kepergian Rika dengan tanpa sepatah kata pun.
*******
"Kayaknya aku gak pantas memanggilmu kakak," ucap Galih sambil terus fokus menyetir.
"Kenapa? Kamu tidak suka padaku?" tanya Yasmin.
"Tidak. Tidak seperti itu, usia kita sama rasanya aku lebih pantas menjadi temanmu."
"Kenyataannya aku ini kakak ipar mu."
"Kenapa kamu menikah dengan kak Gibran?"
Yasmin tak menjawab, dia hanya diam dalam senyuman di bibirnya.
Tak lama Galih menghentikan mobilnya karena melihat seseorang sedang berjalan di trotoar.
"Sinta!" seru Galih.
"Sin, kamu mau ke kampus ya?" tanya Galih.
"Iya. Kenapa?"
"Masuk sini. Ayo bareng aku aja."
Sinta pun masuk ke dalam mobil Galih dan dia langsung mengenali Yasmin yang sedang asyik dengan ponselnya.
"Yasmin," ucap Sinta.
Yasmin menatap ke belakang dan langsung melihat Sinta di sana.
"Sinta." Yasmin begitu bahagia bisa bertemu dengan sahabatnya.
"Yas." Dua gadis itu saling berpegangan tangan dan saling melempar senyuman.
"Kamu kemana aja, aku kangen tahu."
"Kamu tahu aku gak bisa kemana-mana. Kenapa kamu gak pernah datang ke rumahku?" ucap Yasmin.
"Aku sibuk. Gimana? Kamu lanjut kuliah dimana?"
"Aku gak kuliah."
"Sayang banget Yas, padahal kamu pintar. Oh ya, kok kamu bisa sama Galih?"
"Dia itu kakak ipar ku," ucap Galih sebelum Yasmin menjawab pertanyaan Sinta.
"Kamu udah nikah? Kok gak ngundang aku?"
"Ceritanya panjang, nanti aku cerita kalau udah ada waktu luang untuk kita bertemu dan mengobrol banyak," ucap Yasmin.
"Kalian saling kenal. Kenal di mana?" tanya Galih.
__ADS_1
"Kami teman sejak SMP," sahut Sinta.
"Udah berapa lama gak ketemu? Kalian girang banget pas ketemu."
"Sejak kami lulus SMA. Aku sibuk kuliah sedangkan Yasmin sibuk dengan hidupnya sendiri, jadi kami tidak pernah bertemu lagi padahal ya dulu pas kami sekolah kami tuh selalu berduaan."
"Lebay deh kamu Sin."
"Bukan lebay emang dulu kita gitu kan."
"Kak Yasmin kalau mau kuliah lagi bilang aja sama kak Gibran. Dia pasti ngizinin kakak buat kuliah."
"Sekarang sudah terlambat, aku tidak ingin kuliah lagi."
"Kenapa Yas? Apa sekarang kamu sudah punya suami kaya?"
"Bukan gitu, aku gak enak aja kalau harus ngurusin kuliah dalam keadaan punya suami yang juga harus aku urus. Kamu gak ngerti Sin."
"Eh berhenti di sini aja," ucap Yasmin lagi pada Galih.
Galih pun segera menghentikan laju mobilnya.
Karena asyik mengobrol, ternyata mereka sudah sampai di jalan yang menuju rumah orang tuanya Yasmin.
"Terus kak Yasmin naik apa untuk melewati gang itu? Udah aku antar saja ya sampai rumah orang tuanya kak Yasmin."
"Gak usah, udah dekat kok. Terimakasih ya Galih." Yasmin tersenyum lalu segera keluar dari mobil itu.
Sinta melambaikan tangannya kepada Yasmin sebelum akhir mobil yang dikemudikan Galih melaju kencang!
*******
"Assalamu'alaikum!" ucap Yasmin seraya mengetuk pintu rumah orang tuanya.
Beberapa kali mengetuk pintu dan mengucapkan salam, namun Yasmin tidak mendapatkan jawaban dari dalam rumahnya.
Yasmin pun duduk di kursi yang ada di teras rumahnya untuk menunggu ibunya datang. Dalam pikirnya ibunya itu sedang keluar rumah.
"Yasmin," ucap seorang wanita kepada Yasmin.
"Bu saya mau tanya, orang tua saya pada kemana ya? Kok gak ada di rumah?"
"Ibu kamu lagi jaga toko, itu tokonya di depan sana." Ibu itu mengarahkan jari telunjuknya ke suatu tempat.
Yasmin pun mengikuti arah jari ibu itu.
"Oh itu. Terimakasih ya bu, kalau gitu saya mau menemui ibu saya dulu."
"Iya, sama-sama."
Yasmin pun segera pergi ke tempat yang diberitahukan oleh ibu itu setelah ibu itu pergi dari depan rumahnya!
******
"Sin, menurut kamu kak Yasmin itu gimana?"
"Gimana apanya? Dia itu cantik, baik, perhatian dan penuh kasih sayang sayangnya dia gak seberuntung kita."
Galih yang sedang fokus berkendara, mengalihkan pandangannya ke arah Sinta.
"Maksud kamu gimana? Dia nikah sama kak Gibran itu musibah?"
"Bukan gitu Galih, Yasmin itu tinggal sama ayah tiri. Aku pernah sekali, waktu itu Yasmin dipaksa untuk mencuci pakaian milik tetangganya. Waktu itu aku gak tahu siapa orang yang memaksa Yasmin tapi setelah beberapa hari, Yasmin bilang kalau itu adalah ayah tirinya."
"Kasihan banget kak Yasmin tapi kamu tenang aja kak Gibran gak akan ngebiarin kak Yasmin mengalami kesedihan lagi."
"Aku percaya."
"Aku suka sama teman kamu itu Sin," ucap Galih didalam hatinya.
Bersambung
__ADS_1