
"Pa, Ma, Gibran ingin menikahi aku sekarang juga," ucap Ayesha pada Alan dan Maya.
"Apa! Menikah, apa gak salah?" tanya Alan.
Raut wajah bingung dan penuh tanya terlihat dengan jelas diwajah Alan.
"Apa kamu serius Gibran? Kamu sudah punya istri," ucap Maya.
"Om, Tante, aku memang sudah punya istri tapi jujur aku mencintai Ayesha, aku ingin menikahinya hari ini juga."
"Tapi orang tua kamu?"
"Mereka tidak akan mengizinkan aku menikah dengan Ayesha jadi aku tidak memberitahu mereka tentang ini."
"Gibran, kamu tahu kan menikah itu bukanlah sesuatu yang bisa dipermainkan? Pikirkan ini terlebih dahulu," ucap Alan.
Alan merasa ragu dengan keputusan Gibran yang tiba-tiba ingin menikahi Ayesha, pasalnya beberapa bulan yang lalu dengan terang-terangan, Gibran mengakui perasaannya yang sama sekali tidak mencintai Ayesha.
Dirinya merasa ada yang salah pada Gibran kenapa tiba-tiba Gibran mengatakan bahwa dirinya mencintai Ayesha dan lagi alasan Gibran untuk tidak memberitahu Darwin dan Maria bukanlah suatu alasan yang tepat. Sebelumnya Darwin lah yang meminta Gibran untuk menikahi Ayesha tapi Gibran menolak perjodohan itu lalu bagaimana bisa sekarang keadaan berubah menjadi terbalik.
"Om, Tante, aku mohon restui aku untuk menikahi Ayesha, meski Ayesha menjadi yang kedua tapi dia lah yang pertama dan yang terakhir di hatiku," ucap Gibran.
"Pa, Ma, aku cinta sama Gibran. Tolong restui kami," ucap Ayesha.
"Galih lo udah berhasil atau belum? Jangan sampai gue beneran nikah sama cewek berhati iblis ini," batin Gibran.
"Ayesha, menjalani hubungan berumah tangga itu tidaklah mudah apalagi kamu menjadi istri kedua, itu berarti kamu menjadi istri simpanan akan banyak cobaan yang datang padamu nantinya coba kamu pikirkan lagi tentang ini?"
"Bagus Om, terus saja ulur waktunya biar aku tidak harus menikahi Ayesha," ucap Gibran didalam hatinya.
"Pa, izinkan saja mereka menikah. Mereka saling mencintai jangan sampai nanti mereka melakukan perbuatan zina," ucap Maya mencoba membujuk sangat suami.
"Bagaimana kalau menikah nya diundur, jangan hari ini. Om perlu berpikir."
Gibran hanya diam memang itulah yang dia ingin dengar dari mulut Alan.
"Gak bisa, aku mau nikah sekarang. Aku sudah menyiapkan gaun pengantin dan juga penghulunya."
"Ayesha yang Papa kamu bilang itu benar. Berikan waktu untuk Papamu berpikir dulu," ucap Gibran.
"Kalau gak nikah hari ini, aku mau bunuh diri saja."
"Jangan, jangan Ayesha. Baiklah Papa bersedia menikahkan kalian sekarang juga," ucap Alan.
Alan yang sifat putrinya pun tak bisa, menolak lagi karena takut Ayesha akan melakukan hal-hal yang bisa membahayakan dirinya dan mengancam keselamatan dirinya.
*******
Galih mencoba membuka pintu gudang yang didalamnya ada Yasmin namun pintunya terkunci yang membuatnya harus berusaha lebih keras lagi untuk membuka pintu itu.
"Dobrak aja pintunya," ucap Sonny.
"Gimana kalau Yasmin ada di balik pintu ini? Dia bisa terluka nanti," ucap Galih.
"Yasmin! Yasmin kamu ada didalam?" ucap Galih sembari mengetuk pintu itu.
"Iya, aku di dalam sini. Tolong aku, siapa pun tolong aku," ucap Yasmin dari dalam gudang itu.
__ADS_1
"Kamu mr jauhkanlah dari pintu ini karena aku akan mendobrak pintunya."
Yasmin segera menyingkir dari tempat semula dirinya duduk! "Aku sudah menjauh."
Galih dan Sonny berusaha untuk membuka pintu itu dengan paksa namun karena tindakan mereka menyebabkan keributan, dua laki-laki yang ditugaskan untuk menjaga Yasmin itu mendengar suara gebrakan itu.
Dua laki-laki itu berlari menghampiri arah suara!
"Hey, apa yang sedang kalian lakukan?" ucap salah satu dari dua laki-laki itu.
Galih dan Sonny menatap laki-laki itu.
"Kita ketahuan," ucap Sonny.
"Lo buka pintu ini biar gue yang membereskan mereka."
Sonny mengangguk pelan dan setelah itu, Galih maju beberapa langkah untuk menyerang dua laki-laki itu.
"Gue mau gadis yang ada didalam sana," ucap Galih.
"Lo gak akan bisa membawa gadis itu pergi dari sini. Dia milik bos kami."
"Bacot lo. Gue akan menghukum lo berdua."
Galih mulai berantem dengan dua laki-laki itu sedangkan Sonny masih berusaha membuka pintu itu.
"Tolong! Tolong keluarkan aku dari sini."
Mendengar ada yang akan menolongnya, membuat Yasmin kembali memiliki harapan untuk bisa lepas dari tempat itu.
Galih mulai kewalahan melawan dua orang sekaligus, Galih mulai lelah dan sudah mendapatkan beberapa luka di wajahnya.
Kini mereka menjadi imbang dengan satu lawan satu.
*******
Di kediaman Alan.
Gibran sedang berada di sebuah ruangan dengan sudah menggunakan jas rapi karena sebentar lagi dirinya akan melangsungkan ijab kabul.
"Galih, lo udah berhasil belum. Tolonglah datang tepat waktu ke sini," batin Gibran.
Gibran mulai tak tenang karena Galih belum juga memberikannya kabar tentang keberhasilan misinya.
Di ruangan lain.
Ayesha sedang berdandan didepan cermin besar itu. Raut wajah penuh kebahagiaan terlihat dengan jelas di wajah gadis itu.
"Akhirnya kamu mendapatkan Gibran jaga," ucap Maya.
"Aku sudah bilang Ma kalau aku akan berhasil."
"Mama tahu kamu pasti melakukan segala cara untuk mendapatkan Gibran. Setelah ini, apa kamu akan melepaskan Yasmin?"
"Tentu saja tidak. Aku tidak sebodoh itu Ma, bisa saja Gibran akan menceraikan aku setelah tahu Yasmin sudah aku bebaskan."
"Lalu apa yang akan kamu lakukan pada Yasmin?"
__ADS_1
"Membiarkannya membusuk di gudang itu."
Ayesha dan Maya tertawa kecil, Ibu dan anak itu sama-sama jahat dan sama-sama liciknya.
*******
Di jalanan yang banyak dilewati orang-orang, Shaima menanyakan Yasmin pada orang-orang yang dijumpainya dengan menyertakan foto Yasmin yang dipegangnya.
Setengah hari sudah, Shaima berkeliling di daerah itu namun dirinya tak juga menemukan Yasmin, tak ada satu orang pun yang mengenal atau melihat Yasmin di sekitar sana.
"Kemana lagi aku harus mencari Yasmin? Sudah banyak orang yang aku tanyai tapi tidak ada satu pun yang tahu dimana Yasmin berada," gumam Shaima sambil terus berjalan.
*******
Galih dan Sonny sudah berhasil melumpuhkan dua orang itu, Sonny mengikat mereka dengan menggunakan tali sepatunya agar mereka tidak bisa kabur sedangkan Galih segera mengambil kunci gudang itu dari saku jaket salah satu dari dua laki-laki itu lalu segera membuka pintu itu!
"Yasmin," ucap Galih saat pintunya sudah terbuka.
"Galih," lirih Yasmin.
Galih langsung menghampiri Yasmin yang tengah duduk di sudut ruangan itu.
"Yasmin, kamu tidak apa-apa? Apa yang mereka lakukan padamu?"
Yasmin menggeleng pelan namun air mata terus mengalir di pipinya.
"Ayo, kita harus pergi dari sini."
Yasmin mencoba bangkit namun kakinya tak kuat menahan berat tubuhnya.
Beberapa hari tak mendapatkan asupan nutrisi yang cukup membuat dirinya lemas dan kehilangan tenaganya.
Galih segera memangku Yasmin dan membawanya keluar dari gudang itu!
"Galih, terimakasih ya."
"Jangan berterimakasih, sudah seharusnya kan aku menyelamatkan keluargaku sendiri."
Galih terus berjalan dengan tatapan yang terus tertuju pada jalanan yang sedang dilaluinya, tak sedikitpun Galih berani menatap Yasmin, dirinya takut rasa yang dengan susah payah dia buang muncul lagi dalam dirinya.
"Sonny, bawa mereka ke mobil. Kita akan menjadikan mereka sebagai saksi dan juga tersangka. Mereka harus menerima akibat dari perbuatannya," ucap Galih.
"Tolong, tolong jangan masukkan kami ke penjara. Kami hanya di suruh."
"Jangan banyak alasan lo berdua. Kalau lo pada gak mau di penjara, ngapain melakukan kejahatan seperti ini," ucap Sonny.
"Tolong Mas, jangan bawa kami ke polisi."
"Diam. Bangun lo berdua, atau lo mau gue kunci didalam gudang itu."
"Galih, biar aku jalan sendiri saja." Merasa tidak enak hati dan takut membebani Galih dengan berat badannya, Yasmin meminta untuk berjalan sendiri.
"Gak apa-apa, aku kuat kok. Kita harus cepat sampai ke rumah Ayesha."
"Aku gak mau ke sana, aku takut."
"Kita harus ke sana untuk menggagalkan pernikahan kak Gibran dengan Ayesha. Kamu jangan takut, ada aku bersamamu."
__ADS_1
Yasmin tak berucap lagi, mungkin karena ingin menyelamatkan dirinya, Gibran menyetujui permintaan Ayesha untuk menikahinya.
Bersambung