Cinta Dalam Pernikahan Kontrak

Cinta Dalam Pernikahan Kontrak
Cinta Dalam Pernikahan Kontrak ban 15


__ADS_3

Dokter sedang memeriksa keadaan Yasmin, sedangkan Gibran hanya diam sambil terus memperhatikan Dokter itu, didalam hatinya, Gibran terus berdoa untuk kesembuhan Yasmin.


Terlihat dokter itu tersenyum lebar saat setelah selesai memeriksa kondisi Yasmin.


"Syukurlah, pasien sudah melewati masa kritisnya," ucap Dokter itu.


Gibran tersenyum lebar, hatinya merasa sangat lega setelah mendengar pernyataan Dokter.


"Alhamdulillah. Terimakasih dokter."


"Sama-sama, tapi Anda harus ingat bukan Dokter yang menyembuhkan penyakitnya, kami hanya sebagai perantara saja karena sesungguhnya Allah lah yang mengangkat segala penyakit dan penderitaan dari semua umatnya."


Gibran hanya mengangguk pelan dengan senyuman yang tak pernah pudar dari bibirnya.


"Kalau begitu saya permisi." Dokter itu segera keluar dari ruangan itu!


Gibran segera menghampiri Yasmin lalu dengan tanpa sadar, dia mencium kening Yasmin dan setelah itu menciumi tangannya sampai berkali-kali.


"Dimana aku?" tanya Yasmin dengan suara halus.


Merasakan ciuman dari Gibran, membuat Yasmin seperti sedang berada di alam mimpi bahkan dirinya merasa bahwa dirinya sudah berada di surga.


Sesaat setelah ditabrak oleh mobil Yasmin merasa dirinya tidak akan selamat. Dirinya merasa dirinya akan mati saat itu.


Gibran menatap Yasmin lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Yasmin!


"Kamu di rumah sakit. Kamu bertahan ya, aku yakin kamu bisa sembuh seperti sediakala," ucap Gibran tanpa melepaskan genggaman tangannya dari tangan Yasmin.


"Aku masih hidup?"


"Kamu masih hidup kamu masih bersamaku di dunia ini. Jangan banyak bertanya dan berpikir istirahatlah agar kamu cepat sembuh."


Yasmin tak menyahut lagi. Dia segera memejamkan matanya lagi.


*******


Di kediaman Zafran.


"Sialan. Kenapa si Yasmin sampai koma kayak gitu. Semua ini gara-gara Gibran yang gak becus jagain Yasmin," ucap Zafran.


"Bang, sudahlah. Yasmin akan sembuh," ucap Dalina.


"Sembuh kamu bilang. Bagaimana kalau Yasmin mati? Hilang sudah lahan uang kita."


"Apa maksudmu Bang?"


Dalina merasa sesak saat setelah mendengar perkataan sang suami. Dirinya pikir suaminya benar-benar perduli pada Yasmin tapi ternyata laki-laki itu hanya memikirkan uang yang dihasilkan oleh Yasmin saja.


"Kamu jadi Ibu mikir dong Dalina. Aku membesarkan Yasmin pakai uang, masa sekarang saat dia bisa menghasilkan uang, mati begitu saja."


"Astaghfirullah Bang. Aku benar-benar tidak menyangka kamu berpikir seperti ini."


"Aah! Nangis terus kerjaan kamu. Aku bosan melihat air matamu itu, aku mau pergi!" Zafran langsung pergi meninggalkan Dalina di rumahnya.

__ADS_1


Dalina menggelengkan kepalanya dengan air mata yang terus mengalir di pipinya. Dirinya sedih karena melihat putrinya yang sedang kritis di rumah sakit dan setelah sampai rumah, suaminya menambah lagi kesedihannya.


*******


Di rumah Darwin.


Maria terus menangis, baru beberapa hari dirinya mendapatkan seorang menantu namun sudah mendapatkan musibah sebesar ini.


"Ma, jangan nangis terus. Aku mau ke rumah sakit lagi untuk menemani kakak. Mama berdoalah yang terbaik untuk kak Yasmin," ucap Galih sembari mengelus punggung Maria.


"Galih, kamu hati-hati di jalan ya dan katakan pada kakakmu kalau Papa belum bisa ke rumah sakit sekarang mungkin besok pagi sebelum ke kantor, Papa akan ke sana dulu," ucap Darwin.


"Iya Pa, lagian kakak juga pasti mengerti. Dia tidak akan marah meski Papa belum bisa menjenguk kak Yasmin."


"Cepat kabari Mama kalau Yasmin sudah sadar ya."


"Iya Ma, aku pergi ya." Galih mencium tangan Maria dan Darwin secara bergantian lalu mulai bergegas pergi.


Darwin merangkul Maria yang dari tadi terus menangis! "Mama jangan nangis terus, Papa gak bisa melihat Mama kayak gini."


*******


Di rumah keluarga Ayesha.


"Dimana Ayesha?" tanya Alan ~ Papanya Ayesha pada Maya.


Maya yang sedang sibuk menyiapkan makanan untuk mereka, menghentikan pergerakan tangannya lalu menatap sang suami.


"Ada di kamarnya," sahut Maya.


"Dia lagi sedih Pa. Mobilnya hilang."


"Apa? Hilang dimana, kenapa kamu baru kasih tahu aku sekarang?"


"Pa, bilangnya juga baru tadi siang. Mana juga baru tahu barusan."


"Keterlaluan, itu mobil baru Ma. Kenapa dia begitu ceroboh. Memarkirkan mobil di tempat sembarangan."


"Jangan marahi dia Pa, kasihan anak kita."


"Udah lapor polisi belum?"


Maya tak langsung menjawab pertanyaan sang suami, dia nampak memikirkan sesuatu terlebih dahulu.


"Ma! Kok malah melamun?"


"Eh, iya Pa. Katanya tadi Ayesha sudah melaporkan ini ke polisi makanya dia pulang telat dan telat memberitahu kita."


"Ya sudah kalau sudah lapor polisi, semoga mobilnya cepat ketemu dan pelaku pencuriannya bisa tertangkap. Cepat panggil anak itu untuk makan malam, katakan padanya Papa gak akan marah padanya."


*******


Tok!

__ADS_1


Tok!


Galih membuka pintu ruangan itu setelah mengetuk pintu!


Gibran menatap ke arah pintu untuk melihat siapa yang datang.


"Galih?"


"Kak, aku akan menemani kakak di sini." Galih terus berjalan menghampiri Gibran dan Yasmin.


"Bagaimana keadaannya? Apa sudah ada perubahan?"


"Yasmin sudah melewati masa kritisnya, tadi dia juga sudah sempat bicara padaku."


"Kakak gak tanya apa Kak Yasmin mengenali atau melihat pelakunya?"


"Ya belum lah Galih. Saat ini dia belum bisa ditanya-tanya."


"Semoga kak Yasmin cepat pulih ya, kasihan Mama nangis terus."


"Iya, semoga saja ada keajaiban. Besok Yasmin udah sembuh total dan bisa langsung pulang. Lo istirahat sana, udah jam berapa ini? Besok lo harus sekolah."


"Iya, lo juga istirahat kak, besok kan lo juga harus kerja."


Gibran tersenyum lalu duduk di kursi yang ada di samping ranjang rumah sakit itu!


"Kakak istirahat di sini, lo di sana tuh. Bisa rebahan." Gibran mengarahkan jari telunjuknya ke sofa yang ada di sudut ruangan itu.


Galih tak menyahut lagi, dia berjalan ke arah sofa itu lalu menghempaskan bokongnya ke sofa itu!


Galih tak langsung tertidur, dia memainkan ponselnya karena tak ada lagi yang perlu dibicarakan dengan sang kakak, sementara itu Gibran juga masih terjaga, dia tidak bisa tertidur sebelum memastikan Yasmin benar-benar pulih.


*******


Du tempat yang jauh dari rumah sakit tempat Yasmin di rawat.


Zafran sedang bersenang-senang dengan uang yang didapat dari Gibran tadi sore.


"Kalau dipikir-pikir, gue mendapatkan banyak keuntungan dari Gibran. Jangan sampai Yasmin mati kalau dia mati, habis sudah pendapatan gue," ucap Zafran didalam hatinya.


"Mas, kenapa melamun?" tanya Monik yang sedang duduk di samping Zafran.


Zafran tersadar dari lamunannya setelah Monik mengguncangkan bahunya.


"Nggak kok Mon, Mas hanya sedang berpikir sesuatu," ucap Zafran.


Monik tersenyum sambil bergelayut manja di pangkuan Zafran.


*******


"Yasmin, aku sangat khawatir sama kamu. Aku pernah kehilangan Wanda gara-gara kecelakaan mobil yang menimpa kami berdua dan sekarang kamu harus berjuang untuk hidup karena mengalami kecelakaan mobil juga. Kasusnya memang beda tapi aku mengingat kejadian yang menimpa Wanda, aku tidak ingin ada gadis lain lagi dalam hidupku yang harus pergi karena kecelakaan mobil," ucap Gibran didalam hatinya sembari terus menatap Yasmin.


Galih tak bisa melarang Gibran untuk terus mendekati Yasmin karena menang mereka adalah pasangan suami istri. Tak bisa dipungkiri, dirinya merasa cemburu melihat Gibran yang terus menggenggam tangan Yasmin.

__ADS_1


Entah apa yang terjadi pada Galih? Mengapa dirinya merasakan hal yang tidak seharusnya.


Bersambung


__ADS_2