
"Aku sudah mengajukan perceraian ke pengadilan, setelah itu kamu bisa keluar dari rumahku Bang," ucap Dalina kepada Zafran.
"Berani kamu ya, seharusnya kamu yang pergi karena sekarang rumah ini sudah menjadi milikku," ucap Zafran.
"Apa kamu bilang? Rumah ini adalah rumahku, rumah peninggalan orang tuaku."
"Terserah apa kamu bilang tapi dalam sertifikat rumah ini, rumah ini adalah milikku karena aku sudah mengganti kepemilikan rumah dan tanah ini atas namaku."
"Tega kamu Bang, ini satu-satunya hartaku, harta peninggalan orang tuaku."
"Terserah kamu, jika kamu ingin pisah dari aku, pergi saja dari rumah ini tapi jika kamu masih mencabut pengajuan perceraian kita, kamu boleh tinggal di sini bersamaku."
Dalina hanya bisa menangis, dadanya terasa sesak hingga dirinya kesulitan berkata-kata.
*******
"Kamu sudah siap?" tanya Gibran setelah keluar dari kamar mandi.
Saat itu Yasmin sudah selesai dengan urusannya dan dia pun sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian yang rapi.
"Siap. Kamu gak kerja?" ucap Yasmin.
"Nggak, hari ini aku izin gak masuk dulu. Kita cari rumah untuk kita tempati."
"Jangan terburu-buru, pikirkanlah dengan baik terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan."
"Keputusanku sudah bulat Yas, aku sudah siap untuk hidup bersama kamu."
"Kita nikah tanpa cinta kan? Cepat banget ya kamu memilih keputusan sebesar ini hanya dalam satu hari saja."
"Sebenarnya tidak hanya satu hari. Dari pertama kita bertemu pun aku sudah suka sama kamu tapi waktu itu aku suka sama kecantikan kamu saja dan ternyata sekarang aku malah suka sama sifat kamu dan semua yang ada dalam diri kamu. Aku benar-benar jatuh cinta sama kamu."
Yasmin tersenyum lalu memberikan pakaian Gibran yang sudah dia siapkan.
"Pakai dulu bajumu, nanti kalau lama-lama telanjang malah masuk angin lagi."
"Gak masalah. Aku udah biasa masuk angin, jangankan sekarang sudah ada istri yang pastinya mau ngurusin aku, dulu aja aku sering masuk angin."
Yasmin tertawa renyah lalu duduk lagi di tepi ranjang!
"Jadi sekarang udah gak malu lagi melihat aku pakai baju?"
"Memangnya kamu mau buka handuk kamu di situ? Aku harap tidak ya."
Gibran tersenyum lebar sambil menatap Yasmin dengan tatapan aneh.
Tanpa berlama-lama, Gibran membuka handuknya dan membiarkannya tergeletak di lantai.
"Aaah!" Reflek, Yasmin berteriak sambil menutup matanya dengan kedua telapak tangannya.
__ADS_1
"Gibran, kamu ini apa-apaan?"
"Tadi kamu bilang aku harus pakai baju, ya ini aku mau pakai baju aku lah."
"Tapi gak di depan aku juga kan, kamu gak malu apa?"
"Ngapain harus malu, kita udah nikah kan dan lagi kalau pun kamu melihat aku telanjang, kamu gak akan bereaksi apa-apa kan?"
Yasmin membalikkan tubuhnya menjadi membelakangi Gibran namun dirinya masih menutup matanya.
"Gak bereaksi gimana? Tadi aku kaget sekaligus takut."
"Ya cuma kaget dan takut, kalau aku yang melihat kamu telanjang aku bisa jadi berdiri berdua. Kalau sudah begitu, itu bahaya Yas."
"Udah belum pakai baju nya? Malah jadi mesum deh kamu."
"Udah kok. Aku udah selesai dari tadi."
"Yakin?"
"Iya." Gibran mendekati Yasmin lalu meraih tangan kanan sang istri!
Gibran meletakkan telapak tangannya di dadanya!
"G_Gibran ... jangan gini dong."
"Gak apa-apa, kamu harus latihan untuk ini." Gibran menurunkan tangan Yasmin hingga ke perutnya, dia mengucapkan telapak tangan Yasmin beberapa kali di bagian perutnya sebelum akhirnya lebih diturunkan lagi sampai bawah pusarnya.
"Jangan Gibran, aku gak mau."
"Iya gak mau juga gak apa," ucap Gibran sembari memakai bajunya!
"Ayo kita pergi sekarang? Jangan merem terus,nanti yang ada pas kamu melek udah gak ada siapa-siapa di sini." sambung Gibran lagi.
"Kemana?"
"Kemana? Kamu lupa kita akan kemana?"
"Iya, semua gara-gara kamu. Kalau sedang ketakutan aku menjadi lupa dengan apa yang mau kita lakukan."
"Astaga, sarapan lah, habis itu kita cari tempat tinggal yang layak buat kita berdua."
"Oh iya, aku lupa. Padahal perut aku sudah merasakan lapar yang amat sangat."
Gibran tertawa lalu menggandeng Yasmin untuk keluar dari kamarnya!
*******
Di kediaman Alan.
__ADS_1
"Ayesha, Papa berangkat duluan ke kantor. Nanti kamu nyusul ya," ucap Alan pada putri satu-satunya itu.
"Iya Pa, nanti setelah aku selesai sarapan aku akan menyusul."
"Ya udah, Papa duluan saja sana, Ayesha biar nyusul belakangan," ucap Maya.
"Semalam kamu beneran dari rumah Darwin dan Maria?" tanya Maya setelah suaminya pergi dari sana.
"Iya, Ma. Mama tahu gak sih, mereka itu sangat mengkhawatirkan Yasmin dan sepertinya mereka sangat menyayangi wanita itu," ucap Ayesha.
"Masa. Gibran nya ada gak di sana?"
"Gak ada, dia lagi menginap di rumah orang tuanya Yasmin. Katanya Ibunya Yasmin sedang sakit."
"Sepertinya kamu harus berjuang lebih keras lagi untuk dapetin Gibran."
"Makanya Mama bantuin aku dong."
"Bantu gimana? Selama ini Mama sudah banyak membantu kamu ya sayang."
"Iya, tapi Mama lakuin apa kek yang bisa membuat mereka benci sama Yasmin."
"Kalau pun Om Darwin dan Tante Maria membenci Yasmin kalau Gibran nya masih sayang sama dia, ya gak akan berpengaruh apa-apa sayang. Gibran itu sudah dewasa, dia tidak akan terus mengikuti keinginan orang tuanya. Sekarang giliran kamu yang bekerja keras. Kamu rebut hati Gibran dari Yasmin."
*******
"Galih, kok kamu masih di rumah? Kamu gak kuliah?" tanya Maria pada putra keduanya itu.
"Kuliah Ma, tapi siang," sahut Galih.
"Oh, Mama kira gak kuliah." Maria berjalan lagi untuk tiba di tempat tujuannya.
"Ma!" seru Galih sehingga membuat Maria menghentikan langkahnya.
Maria berbalik dan kembali menatap sang putra.
"Ada apa sayang?"
"Ma, aku ingin katakan sesuatu."
"Apa? Katakan saja Galih."
"Ma, sebenarnya ... sebenarnya ...." Galih menggantung ucapannya hingga membuat Maria penasaran.
"Galih, ada apa? Katakan saja? Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?"
"Mmmm." Galih nampak berpikir sesuatu.
"Sebenarnya ... sebenarnya." Galih merasa serba salah dengan apa yang ingin dia katakan pada Maria, ada rasa yang aneh, rasa yang seperti menahan dirinya untuk tidak mengatakan apa yang ia katakan.
__ADS_1
"Ada apa Galih? Katakan pada Mama jika kamu punya masalah.?
Bersambung