
Di kediaman Alan.
Gibran duduk bersebelahan dengan Yasmin dan didepan mereka ada Alan dan seorang penghulu yang akan menikahkan mereka.
Beberapa saksi juga sudah ada di sana tidak ada lagi yang harus mereka tunggu.
"Gimana, apa ada yang masih ditunggu?" tanya Pak penghulu.
"Tidak ada Pak," sahut Ayesha dengan secepat kilat.
"Berarti bisa kita mulai ya acara penting ini?"
"Iya Pak, silahkan dimulai saja," ucap Maya.
Mereka pun memulai acara ijab kabul itu.
Alan menjabat tangan Gibran lalu mengucapkan kalimat ijab.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau saudara Gibran bin Darwin dengan anak saya yang bernama Ayesha Alanasya dengan mas kawin perhiasan seberat sepuluh gram dibayar tunai."
Alan menghentakkan tangan Gibran dengan sedikit keras.
"Saya te–"
"Hentikan!" seru Galih.
Semua orang yang ada di dalam rumah itu menoleh menatap Galih.
Gibran tersenyum lalu menarik tangannya.
"Galih, lo datang tepat waktu," ucap Gibran.
"Ada apa ini?" tanya Alan.
"Pernikahan ini tidak boleh terjadi," ucap Galih.
"Ayesha, lo mau menyerahkan diri ke polisi atau lo mau dijemput dengan paksa oleh polisi?" sambung Galih.
"Galih, apa maksud kamu?" Ayesha berpura-pura tidak mengerti dengan perkataan Galih.
"Jangan pura-pura bego lo. Lo sengaja kan menyekap Yasmin dan lo memaksa kak Gibran buat nikahin lo."
"A_apa yang kamu bicarakan ini? Aku tidak mengerti."
"Ada apa ini?" Alan semakin penasaran dan tidak mengerti dengan pembahasan mereka.
"Maaf ya Om, Tante sebenarnya aku tidak ingin menikahi Ayesha, aku hanya ingin menyelamatkan istri aku yang disekap oleh Ayesha," ucap Gibran.
"Apa?" Alan berdiri mematung seolah dirinya tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Gibran.
"Bapak-Bapak, sepertinya pernikahannya dibatalkan. Maaf karena sudah mengganggu waktu kalian semua. Silahkan tinggalkan rumah kami," ucap Maya pada beberapa orang yang akan memberikan kesaksian atas pernikahan itu.
"Gimana sih Mbak, kalau mau nikah sama yang belum punya istri dong. Masa maksa orang yang udah beristri."
"Saya tidak menyangka putri Pak Alan berlaku seperti ini padahal Pak Alan sendiri adalah orang baik dan terpandang."
__ADS_1
"Jadi perempuan gak punya harga diri banget."
Kira-kira seperti itulah perkataan beberapa orang yang berada di dalam rumah itu.
Sambil berjalan melewati Ayesha dan keluarganya, mereka berbicara mengeluarkan apa yang ada dalam hati mereka.
Sampai mereka sudah berada di luar pun masih terdengar mereka mengatai Ayesha dengan perkataan-perkataan tidak menyenangkan.
Alan hanya bisa diam dengan menahan malu yang begitu besar. Ia tak pernah menyangka Ayesha akan berbuat hal sebodoh itu.
"Jangan asal bicara kalian semua." Ayesha mencoba menyangkal semua perkataan Galih dan Gibran.
"Pa, mereka bohong. Aku gak mungkin melakukan itu, aku ini hanya seorang perempuan gak mungkin aku mengulik istrinya Yasmin," ucap Ayesha pada Alan.
"Lo gak bisa kari dari gue, lo tahu gak? Gara-gara lo, gue dicaci-maki sama kak Gibran."
"Diam kamu Galih! Diam! Kenapa kamu menceritakan berita kebohongan?"
"Sudah Ayesha, aku tidak ingin berlarut dalam masalah ini. Kamu sudah mengancamku dan sudah membuat banyak orang ketakutan. Aku akan melaporkan kamu ke polisi," ucap Gibran.
"Gak bisa, kalian gak punya bukti untuk memenjarakan aku."
"Buktinya orang-orang ini," ucap Sonny sembari menarik dua orang itu menghampiri mereka!
"Ayesha juga yang sudah menghilangkan nyawa Wanda," ucap Yasmin yang berjalan dengan tertatih untuk sampai ke dalam rumah itu.
"Yasmin," Gibran berlari menghampiri Yasmin lalu memapah Yasmin untuk tiba di sana.
Alan semakin terkejut sesaat setelah mendengar perkataan Yasmin, dia berdiri mematung dengan mulutnya yang tertutup rapat.
Entah kenapa dirinya merasakan lidahnya kaku sehingga dirinya kesulitan untuk berucap.
"Yasmin, lo jaga mulut lo ya. Lo kalau gak suka sama gue jangan begini caranya."
"Kamu sendiri yang mengatakan padaku kalau kamu yang membunuh Wanda dan kamu juga mengancam aku, kamu akan membuat aku seperti Wanda jika aku tidak melepaskan Gibran."
Galih berjalan mendekati Ayesha lalu memegangi tangannya!
"Lo harus ikut gue ke kantor polisi," ucap Galih.
"Gak mau!" Ayesha menarik tangannya hingga terlepas dari genggaman Galih.
Ayesha berlari meninggalkan rumahnya! Dirinya tidak ingin masuk ke penjara bersama dua orang suruhannya.
"Ayesha!" seru Maya.
Maya berlari mengejar Ayesha sampai ke depan rumahnya!
"Ayesha!"
Galih dan Sonny berusaha mengejar Ayesha namun tidak terkejar karena Ayesha sudah pergi jauh dengan menggunakan mobil milik Alan.
Gibran segera memapah Yasmin membawanya pergi dari rumah orang tuanya Ayesha.
Saat itu Yasmin sudah dalam keadaan lemah, secepat mungkin Gibran harus membawa Yasmin ke rumah sakit agar tidak terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan pada istrinya itu.
__ADS_1
Alan masih tak percaya dengan kejadian yang dia alami, dia masih berdiri di tempat semula sambil menahan rasa sakit di dadanya.
*******
Di tokonya, Dalina terus melamun sembari menatap foto Yasmin.
Dia, terus mengelus foto itu dengan tangannya. Air mata terus menetes dari matanya, meski Dalina sudah mencoba untuk tidak menangis tapi dirinya tidak bisa menghentikan tangisnya.
"Mbak! Mbak Dalina!" Seorang pelanggan memanggil Dalina dengan suaranya yang sedikit dinaikkan.
Dia sudah memanggil-manggil Dalina namun wanita itu tak kunjung menyahut.
Dalina tersadar dari lamunannya setelah mendengar ada seseorang yang memanggilnya.
Dalina segera mengusap air matanya lalu berjalan menghampiri pelanggannya yang berdiri tak jauh darinya!
"Eh Mbak Yuli, maaf saya kurang fokus. Mau beli apa?" ucap Dalina.
"Saya mau beli gula pasir satu kilo sama mie instannya lima ya."
Dalina mengangguk lalu segera mengambil gula dan mie yang ingin dibeli oleh pelanggan tokonya itu.
"Mbak, Yasmin belum ditemukan juga ya?" tanya wanita itu.
Orang-orang terdekatnya dan Dalina dan orang-orang yang suka berbelanja di toko milik Dalina memang mengetahui tentang hilangnya Yasmin karena itulah wanita itu menanyakan tentang Yasmin pada Dalina.
"Belum Mbak, saya gak tahu lagi harus melakukan apa untuk bisa menemukan Yasmin," ucap Dalina sembari memberikan belanjaan milik ibu itu.
"Sabar ya Mbak, semoga polisi bisa menemukan Yasmin secepatnya. Kalau gitu saya permisi dulu ya Mbak."
"Iya, silahkan. Terimakasih sudah berbelanja di sini."
Perempuan itu tersenyum ke arah Dalina. "Yang kuat ya Mbak, Mbak pasti bisa melewati cobaan ini."
Dalina mengangguk pelan lalu menatap kepergian wanita itu.
*******
Shaima duduk di sebuah tempat duduk yang ada di tepi jalan, dirinya sudah berkeliling menanyakan Yasmin namun belum menemukan titik terang juga.
"Yasmin, kamu dimana? Cepat pulang kasihan Ibumu yang selalu menangis," gumam Shaima sembari menatap foto Yasmin yang dipegangnya.
*******
"Yasmin, maaf ya aku telat nolongin kamu," ucap Gibran.
"Gak apa Mas, yang penting sekarang aku sudah selamat."
"Kita ke rumah sakit dulu sebelum kita pulang."
"Mau apa?"
"Kamu harus diperiksa Dokter dulu, aku gak mau kamu kenapa-kenapa."
"Mas, aku gak apa-apa. Aku hanya lemas saja."
__ADS_1
Gibran terus mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit terdekat dari tempat itu.
Bersambung